Pk Zaid, Sanak A Ridha, dan sanak sapalanta RN n a h Abenomic Japang alun sukses salah satunyo dek karano adoh kenaikan pajak konsumsi dari 5% jadi 8% sajak April 2014. Kenaikan ko ditetapkan dek pemerintahan PM Noda dari partai demokrat nan kini kalah (des 2012).
Dan apo iyo Abenomic gagal atau indak, ancak ditanyo ka masyarakat Jepang juo. Jaweknyo pas pemilu ulang Des 2014, rakyat mamiliah baliak partai Abe Shinzo sabanyak hasil pemilu Des 2012. Jadi rakyatnyo mendukung Abenomic (tema utamo pemilu tu) Tapi mungkin itu dek rang Japang ko panyaba bana, indak suko mangultimatum pemerintah baru dalam 100 hari atau 4-5 bulan. Selain itu, Toyota membukukan keuntungan terbesar kini ko dalam sejarahnyo dan akan menaikkan gaji pokok karyawannnyo, 2 kali lipek dari kenaikan tahun lalu. Iko salah satu target Abenomic juo, tuk mendorong perusahaan menaikkan gaji nan akhirnyo akan meningkatkan balanjo nasional. Tapi kalau Japang susah ditiru, mungkin Chino nan bisa kito contoh. CMIIW, Yuan diturunkan mulai 1981 dan ekspornyo baru marayap naiak 1985. Bisa ndak kito contoh tu? Btw, pernah baco baso pimpinan Gerindra malarang anggota partainyo manyadiokan/makan indomie di posko partai. Alasannyo dek karano indomie tu "babahan barang ekspor" sadang Gerindra berplatform ekonomi kerakyatan. Mungkin iko paralu dicontoh, baso tempe dan indomie tu bukan lagi makanan murah meriah produk anak bangsa, tapi adalah makan berbahan impor nan paralu diganti jo nan lain nan asli berbahan lokal. Hanyo sajo itu paralu "revolusi ment.....". Indak jadi ambo tulis doh, takuik lo kanai berang beko....:) Btw, baliak ka pangka carito, seandainyo jin pak FMN punyo ilmu kun fayakun dan bisa mambuek dolar jadi Rp 2500 kini ko juo, apo ekonomi kito akan membaik pulo seketika dek efek langsuangnyo? Wassalam fitr lk/40/Austin TX 2015-03-23 11:24 GMT-04:00 Zaid Dunil <[email protected]>: > Sanak Fitrianto , Sanak Ahmad Ridha , dan sanak sapalanta RN n a h > > Ass ww > > Presiden Jokowi, sebelum berangkat ke China dan Jepang beberapa hari > lalu mengemukakan bahwa ‘penurunan nilai rupiah’ itu sebagai rahmat, > karena dengan nilai rupiah yang lebih rendah maka eksport kita > berpeluang untuk meningkat. Apa yang dikemukakan Presiden Jokowi itu > benar, dengan catatan komoditi yang dieksport itu adalah komoditi asli > Indonesia, dalam arti untuk komoditi eksport barang manufaktur, > bahan bakunya bukan import . Kalau bahan bakunya berasal dari import, > maka eksportir tidak akan diuntungkan oleh melemahnya nilai tukar > rupiah. Kemudian , harus juga diingat bahwa peningkatan eksport yang > terjadi sebagai akibat eksportir mengambil momentum melemahnya nilai > tukar rupiah itu, sifatnya hanya sementara. Pelemahan nilai tukar itu > secara pasti akan menaikkan harga harga, dan pasar akan membentuk > keseimbangan baru, dan dalam situasi keseimbangan baru itu keuntungan > ekportiri akan normal kembali. Jadi meningkatnya eksport karena > pelemahan rupiah itu hanya sementara sifatnya . Bagaimanapun penurunan > nilai rupiah itu tetap akan merugikan masyarakat, karena kenaikan > harga barang pasti akan berlangsung, dipicu dengan kenaikan barang > barang yang berasal dari import, dan seterusnya kenaikan itu akan > memicu kenaikan hampir semua barang kebutuhan masyarakat. > > Menjaga nilai tukar rupiah itu agar tetap stabil (relatif) adalah > tugas pokok BI. Dan nampaknya BI kurang tanggap dalam mengantisipasi > situasi perkembangan nilai tukar rupiah itu , sehingga respons Gub BI > yang disampaikan ke masyarakat hanya, “Tidak perlu kuatir dengan > kenaikan harga USD karena itu semata mata disebabkan karena ekonomi > Amerika yang menguat. Negara tetangga kita nilai mata uang mereka juga > terdepresiasi , bahkan lebih parah dari kita”. Namun menurut saya , > Pemerintah cukup “cemas” dengan situasi ini. Karenanya dikeluarkan > kebijakan kebijakan yang dimaksudkan untuk meredam semakin anjloknya > nilai rupiah, walau belum tentu berhasil. Banyak faktor yang > ikut menentukan nilai tukar itu, antara lain ; yang cukup dominan > adalah defisit berjalan dan “ekspektasi” masyarakat yang didasarkan > atas kepercayaan terhadap kebijakan kebijakan pemerintah. > Keberangkatan Presiden Jokowi ke China dan Jepang untuk mengajak China > dan Jepang meningkatkan investasi di Indonesia, kalau itu berhasil > maka realisasinya akan menambah supply valuta asing di pasar domestik > kita yang secara tidak langsung akan dapat meredam penurunan nilai > tukar rupiah lebih lanjut. > > Soal kegagalan “Abenomics” banyak faktor penyebabnya. Persaingan > barang manufaktur produk produk jepang semakin ketat, terutama dari > Korea Selatan dan Cina. Penurunan harga minyak yang begitu mendadak > ikut membuat Jepang kelimpungan, karena harga produk harus diturunkan > sementara yang sudah diproduksi semakin sulit penjualannya . Karena > itu pula penurunan nilai Yen tidak berpengaruh pada ekspor mereka, > eksport tidak meningkat. Mengatur ekonomi dan keuangan memang > ‘complicated’ setiap kebijakan yang diambil akan ada antisipasinya > oleh pengusaha dan partner dagang di LN dan mungkin saja kebijakan > yang diambil tidak tepat sasaran dan tidak mencapai tujuannya. > > Wass > > Dunil Zaid. 72. Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia, Pdg. Tingga di Jkt. > > 2015-03-23 7:22 GMT+07:00 Ahmad Ridha <[email protected]>: > > Pak Fitrianto, > > > > Apakah situasi Indonesia dapat dipadankan dengan situasi Jepang? > > Jepang mengalami deflasi berkepanjangan, sedangkan Indonesia mengalami > > inflasi terus. > > > > Masalah ekspor, Jepang sudah punya volume ekspor yang lebih tinggi dan > > industrinya tidak banyak bergantung pada bahan baku dan alat impor. > > Urutannya: perkuat industri dalam negeri, tingkatkan ekspor, barulah > > mengarahkan nilai tukar ke tingkat yang menguntungkan. Namun, apakah > > Abenomics benar menaikkan ekspor Jepang? > > > > Bagaimana dengan Indonesia? Tempe, tahu, dan terigu saja masih banyak > pakai > > bahan baku impor, Pak. Kata Pak Menteri Pertanian konsumsi mie instan > > meningkat, berarti kebutuhan impor naik pula. > > > > Ada infografis menarik tentang hubungan nilai tukar dan ekspor > > > > http://katadata.co.id/infografik/2015/03/05/rupiah-lemah-tak-pacu-ekspor > > > > Kembali ke Jepang, apakah Abenomics berhasil? > > > > > http://m.ibtimes.com/japan-recession-2014-why-abenomics-isnt-working-1743270 > > > > http://en.m.wikipedia.org/wiki/Abenomics#Results > > > > Allahu a'lam. > > > > Semoga keadaan negeri kita akan membaik. Aamiiin. > > > > Wassalaam, > > --- > > Ahmad Ridha > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
