Assalamu'alaikum Wr. Wr. Pak DZ n.a.h. 1. Tahun 2010 Karim Consulting (dimotori Adiwarman Karim, salah seorang ahli keuangan syariah) mempublikasikan hasil survei nasional terhadap karakter nasabah bank di Indonesia. Hasilnya ada 3 kelompok, yakni:
A. Conventional Loyalist (CL). B. Syariah Loyalist (SL). C. Floating Mass Market (FMM). CL adalah nasabah yang murni alergi berurusan dengan bank syariah (BS), baik dari kalangan non-muslim maupun muslim. Mereka tak punya satupun rekening BS, semua hanya di BK. Jumlahnya sekitar 30 %. SL adalah kebalikannya, hanya mau menabung di BS, tidak mau di bank konvensional (BK). Kalau diminta hanya menabung di satu BS, mereka akan memilih di Bank Muamalat, dan tidak di BS lain, kenapa? Karena menurut mereka, hanya BM yang relatif murni lahir tanpa riba, sementara BS lain yang punya induk BK mendapatkan modal mereka dari bank induk yang mengelola riba. Jumlah SL ini sekitar 12-14 %. Segmen SL ini yang sangat "Fatwa minded". Baik dari MUI, Muhammadiyah, atau organisasi Islam internasional lainnya. Sementara FMM adalah nasabah yang punya rekening kombinasi. Ada di BK, punya juga di BS. Ini yang terbanyak, antara 50-60 %. Yang jadi fokus promosi BS adalah kategori terakhir, karena kelompok CL mau dilakukan promosi seperti apapun mereka bergeming. Tidak akan mau membuka rekening di BS. Sementara kelompok SL justru sebaliknya, hampir tanpa promosi pun, mereka tetap akan mengutamakan BS. (Sebenarnya ambo melihat kondisi ini persis seperti teori "Art of War"-nya Sun Tzu, yang membuat formulasi 10:80:10, di mana 10% orang akan menentang (against) sebuah pemerintahan/pemimpin, tak peduli sebaik apapun pemimpin/pemerintahan itu, dan 10% orang akan selalu setuju dengan sebuah pemerintahan/pemimpin, sebobrok apa pun pemerintahan itu. Sisanya yang 80% itulah yang "going where the wind blows" dan menjadi medan perebutan). Tahun 2012, Karim Consulting mempertajam kategori FMM dengan memasukkan sisi spiritual ke dalam dua kelompok: "low spiritual" dan "high spiritual". Kelompok FMM yang "low spiritual" disebut RATIONALIST. Meski mereka punya rekening baik di BK dan BS, namun dalam memutuskan penggunaan sebuah produk perbankan, mereka mengesampingkan sentimen agama/Islam. Yang menjadi prioritas adalah sejauh mana benefit dari rekening yang mereka punyai itu. Jika menguntungkan di BK, mereka akan gunakan BK. Tetapi jika ada tawaran lebih menguntungkan untuk produk sejenis di BS, mereka akan memilih BS. Kelompok FMM yang "high spiritual" disebut UNIVERSALIST. Kondisi awal mereka sama seperti Rationalist, yakni punya rekening di BK dan BS, namun pengambilan keputusan mereka dalam menggunakan produk perbankan pada rekening yang mereka miliki lebih cenderung pada kecenderungan agama, sentimen keislaman, baik yang sedang terjadi di tingkat nasional maupun dunia internasional. Jadi mereka tidak "seekstrem" Syariah Loyalist, tapi juga tidak terlalu "profit oriented" seperti Rationalists, apalagi Conventional Loyalists. Dilihat dari jumlah rekening BS, jika pada 2012 ada sekitar 12-13 juta rekening BS, maka pada akhir tahun lalu ada sekitar 18+ juta rekening BS. Artinya, terjadi peningkatan pemilikan rekening BS yang cukup tinggi. Jika kembali pada asumsi bahwa kelompok Conventional Loyalists tetap tak akan pernah membuka rekening BS seumur hidup mereka, maka peningkatan rekening BS itu terjadi dari dua jalur: - Kelompok Syariah Loyalists yang meningkatkan jumlah rekening BS mereka (misalnya dari cuma punya 1 rekening menjadi 3-4 rekening), atau - Kelompok Floating Mass Market (baik Rationalists maupun Universalists) yang menambahkan rekening BS mereka tersebab beragam pertimbangan dan kebutuhan. 2. Soal "Hedging Syariah" -- disebut Al Tahawwuth -- yang dikhawatirkan Pak DZ akan menimbulkan akan ada kontra terhadap fatwa itu, dan Pak DZ perkirakan belum akan terlaksana 2 tahun ke depan, saya tidak tahu kemungkinan kontra itu akan muncul dari mana. Barangkali pak DZ punya info lebih jelas? Sabtu kemarin saya sempat bicara dengan Dr. Irfan Syauqi Beik, salah seorang yang menggodok fatwa Al Tahawwuth itu, dan sudah dipublikasikan bersama oleh DSN MUI bersama OJK, sejauh ini belum ada tanda-tanda ada sikap kontra terhadap fatwa yang sudah lama ditunggu para pengusaha ini. Fatwa al tahawwuth ini terbagi ke dalam 3 jenis: - Transaksi Lindung Nilai Sederhana (*'aqd al tahawwuth al basith*) - Transaksi Lindung Nilai Kompleks (*'aqd al tahawwuth al murakkab)* *- *Transaksi Lindung Nilai Melalui Bursa Komoditi Syariah (*'aqd al tahawwuth fi suq al sil'ah)* Apakah dalam waktu 2 tahun masih belum akan bisa diterapkan seperti prediksi Pak DZ? Wallahu a'lam. Tetapi kalau pernyataan Direktur Perbankan Syariah OJK, Dani Gunawan, yang ikut dalam konperensi pers Fatwa Al Tahawwuth, awal April lalu, bisa dijadikan pegangan, dia bilang bahwa seluruh perampungan peraturan dan surat edaran pasca fatwa terbit akan diselesaikan dalam waktu dekat, sehingga pada MUSIM HAJI TAHUN INI aturan "hedging syariah" ini bisa diterapkan. http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/15/04/02/nm6et2-ojk-janji-tindak-lanjuti-fatwa-emhedgingem-dsnmui Kalau target ini bisa dilakukan OJK, tentu akan lebih baik dan meningkatkan penggunaan BS, terutama dari kelompok FMM di atas, khususnya dari kalangan pengusaha. 3. Memang bagi para bankir (atau mantan bankir) seperti Pak DZ, angka pertumbuhan 0,6 % pertahun itu belum memadai sebagai sebuah industri perbankan. Akan tetapi dalam konteks keuangan syariah, kita tahu bahwa keuangan syariah (Islamic finance, atau lebih luasnya lagi, Islamic economics), terdiri dari dua kaki. Kaki pertama adalah Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di mana BS termasuk di dalamnya, selain asuransi syariah, reksadana syariah, dll. Sementara kaki kedua adalah Lembaga Bisnis Syariah (LBS) yang lebih bergerak di sektor riil (hotel syariah, restoran syariah, dll). Jika aktivitas LBS ini tumbuh secara signifikan, maka dampak positifnya terhadap LKS dan BS juga akan terasa. Contohnya sekitar 10-15 tahun silam ketika gaya hidup (khususnya kuliner) mendapat sokongan bank-bank penerbit kartu kredit. Sejumlah restoran kelas atas yang menyasar para eksekutif muda bekerja sama dengan sejumlah bank dengan memberikan diskon besar jika makan di resto A, B, C, D dengan menggunakan kartu kredit X, Y, Z dengan diskon bahkan bisa sampai 30-40% dari harga F&B normal. Sehingga akibatnya, muncul nasabah baru di bank X, Y, Z semata-mata untuk mendapatkan kartu kredit mereka agar bisa menikmati diskon besar yang ditawarkan resto tertentu. Ini sebetulnya tantangan bagi BS untuk bekerja sama dengan LBS dalam program-program lebih riil yang memberikan kemudahan bagi nasabah. Di sisi lain, perbedaan antara BS di Indonesia dengan BS di Malaysia, Iran, atau Arab Saudi adalah BS di Indonesia masih mengandalkan retail dan produk-produk yang bersifat murabahah (profit + margin) yang paralel dengan kredit konsumtif dalam perbankan konvensional, sementara BS di luar Indonesia dibangun dengan fondasi sebagai investment banking dan corporate banking, yang juga secara tak langsung berkaitan dengan mata uang mereka yang lebih kuat dari IDR. Jika porsi investment banking dan corporate banking terhadap BS ini bisa lebih diperkuat di Indonesia, dengan salah satu caranya melibatkan LBS di atas, maka potensi pertumbuhan itu masih ada. Buktinya adalah Malaysia yang sudah mematok Target 2020 bahwa market share BS mencapai 40% dari kondisi sekarang sekitar 25%. Artinya dalam 5 tahun ke depan mereka akan mendongkrak peningkatan share sebanyak 15% atau sekitar 3 persen setahun, alias 5 kali dari angka pertumbuhan rata-rata BS di Indonesia yang hanya 0,6 %. Malaysia bisa melakukan itu karena fondasi BS mereka sudah pada investment banking dan corporate banking, bukan pada retail banking seperti di sini. Jadi juga tidak semata-mata pada sentimen agama karena di sana berlaku hukum Islam, melainkan karena jiwa keislaman itu yang sudah mewujud lebih nyata dari masyarakat, dan pebisnis mereka terutama, untuk menjadikan BS sebagai investment & corporate banking layaknya terhadap bank konvensional di masa silam. Jadi dengan kata lain, Pak DZ betul, bahwa BS di Indonesia akan sangat lambat perkembangannya ke depan jika hanya mengandalkan strategi seperti selama ini, tanpa mereka melihat bagaimana cara BS berkembang di LN, khususnya Malaysia sebagai negara tetangga terdekat, dan dengan jumlah muslim jauh lebih sedikit, namun dengan postur BS yang jauh lebih kuat dari Indonesia. Fatwa al-tahawwuth (hedging syariah) yang baru diumumkan ini, semoga bisa membuat BS lebih bersifat corporate banking yang lebih signifikan. Allahu a'lam. Wassalam, ANB * * * Pada 2 Mei 2015 10.23, Zaid Dunil <[email protected]> menulis: > Sanak ANB , zanak ZA serta sanak sapalanta RN n a h > > Ass ww > > Memang dalam memberikan pendapat teradap sesuatu masalah, akurasi > waktu begitu juga angka pertumbuhan seharusnya merrujuk pada data > pendukung yang benar. Dalam pokok masalah yang dibahas ini saya > menulis spontan, dan berdasarkan ingatan saya saja dan ternyata tidak > tepat Teentang pangsa Bank Syariah Malaysua yang saya kemukakan > sebesar 10 % itu cukup signifikan perbedaana karena angka seharusnya > 20 %. Namun kesimpulan saya diakhir uraian tetap tidak berubah, > karena yang dibahas itu adalah konteksnya Indonesia. Pertumbuhan Bank > Syariah Malaysia hanya sebagai ilustrasi dan ilustrasi yang saya > gambarkan itu menjadi kurang relevan. > > Kalimat :” .... yang kita anggap produknya haram .... “ Sebenarnya > penekanannya bukan kepada objek bahwa bunga itu sungguh sungguh > haram. Fatwa fatwa yang sanak Akmal kemukakan itu benar semua. > Rujukannya bahwa bunga itu haram tidak diragukan lagi. Tapi itu bagi > mereka yang kadar imannya tebal. Mereka patuh pada fatwa MUI dan fatwa > fatwa lainnya. Berapa banyak mereka yang patuh itu ? Cerminan yang > mendekati barangkali adalah mereka yang memindahkan dananya dari bank > konvensional ke perbankan syariah setelah mengetahui fatwa tersebut. > Berapa banyak ? Menurut saya jumlah nya tidak signifikan dibandingkan > dengan mereka yang tetap ber bank di bank konvensional itu walaupun > tahu bahwa ada fatwa tentang bunga itu haram. Karena mereka yang > tetap menympan dana dan menyalurkan keuangannya di bank konvensional > masih menilai fatwa iru sebagai “ anggapan”. Dalam pandangan mereka > masalah bunga haram itu masih debatable. Karenanya komentar miring > mereka tentang fatwa bahwa bunga bank itu haram : “ Itu kan menurut > MUI” Dalam konteks itulah saya menggunakan kalimat itu. Tipisnya iman > yang didasarkan kepentingan keuangan/keuntungan bisnis mungkin > menjadi alasan (pribadi) mengabaikan fatwa fatwa yang benar itu. > Realita saat ini seperti itu. > > Tentang Fatwa DKN Yang membolehkan Hedging di bank syariah, saya kira > perwujudannya tidak akan dengan serta merta. Teknis nya perlu > dipersiapkan, Bank Syariah belum siap dengan transaksi itu. > Melaksanakan transaksi itu perlu pengetahuan dan pelatihan. Membentuk > unit kerjanya , dan Juga apakah ada nasabahnya. Ingat bahwa bank itu > bersaing dalam segala hal, dan bisakah bank syariah menggaet nasabah > yang sudah biasa menyalurkan transaksi Hedgingnya di Bank Konvensional > kemudian pindah ke Bank Syariah ? Saya perkirakan belum akan > terlaksana dalam 2 ke depan . Tapi baguslah kalau DKN sudah lebihn ” > maju “ dalam melihat persoalan Maysir ini. Namun saya masih khawatir > akan ada kontra terhadap fatwa itu. Bukankan syariah tidak boleh di > “perjual belikan “ ? Atau disesuaikan dengan suatu kepentingan > tertentu ? > > Soal pertumbuhan pangsa bank syariah dari tahun ke tahun. Pertumbuhan > itu nampak signifikan kalau dilihat sejak dari NOL (awal pendirian > Bank Muamalat) , tapi kalau diperhatikan kurun waktu 5 tahun > terakhir(2007 s/d 2012) hanya meningkat 3 % selama lima tahun atau > rata rata hanya 0,6 % pertahun. Pertumbuhan pangsa yang 0,6 % per > tahun itu relatif belum mamadai. Sebenarnya BI sadar bahwa perbankan > syariah perlu ada usaha ekstra untuk meningkatkan peranan (pangsa > pasar) sehingga kebijakan yang dibuat BI terakhir untuk tidak lagi > mengeluarkan izin bagi bank baru kecuali bank syariah. Kebijakan yang > menguntungkan bank syariah ini ternyata tidak efektif juga karena > peminat bisnis perbankan dari luar bisa menerobosnya dengan cara > membeli bank kecil yang sudah ada dan membesarkannya. Akibatnya pangsa > bank Syariah tetap keteter dalam memperbesar perannya dalam perbankan > nasional. > > Wass > Dunil Zaid, 72.Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia Pdg. Tingga di Jkt. > > 2015-05-02 6:05 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>: > > Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pak Zorion, > > > > Betul bahwa saat ini BS hanya pelengkap sistem keuangan di negara kita, > baru > > sekitar 5% dari bisnis perbankan nasional. Yang 95% masih dipegang bank > > konvensional (BK). Tetapi seperti dalam jawaban saya untuk Pak Dunil > Zaid, > > terlihat ada pertumbuhan signifikan. Jika Desember 2007, pangsa BS baru > 1,8 > > % (BK 98,2 %), maka akhir tahun lalu pangsa BK mengecil menjadi 95% > karena > > ada kenaikan pangsa BS menjadi 5%. Tren ini akan terus naik karena bisnis > > keuangan syariah global juga akan terus naik. Jika tahun lalu menembus > USD 2 > > triliun, tahun ini diprediksi bisa mencapai USD 2,5 triliun, yang > imbasnya > > tentu juga akan terjadi di Indonesia sebagai salah satu negara QISMUT > > (Qatar, Indonesia, Saudi Arabia, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki) > selain > > Iran yang saat ini memiliki pangsa pasar terbesar. > > > > > http://mysharing.co/2015-aset-keuangan-syariah-global-lampaui-25-triliun-dolar/ > > > > BS hanya merupakan salah satu instrumen dari Lembaga Keuangan Syariah > (LKS), > > selain asuransi syariah, reksadana syariah, dsb. Sementara sisi lain yang > > dari keuangan syariah yang lebih memiliki bisnis riil adalah Lembaga > Bisnis > > Syariah (LKS) seperti hotel syariah, restoran halal, RS syariah, salon > > syariah muslimah, MLM syariah, destinasi wisata syariah (di mana Sumbar > > termasuk 1 dari 9 provinsi tujuan wisata syariah yang ditetapkan > > Kemenparekraf tahun lalu). Semua ini akan mendorong makin luasnya > > produk-produk BS digunakan sehingga pangsa BS di Indonesia pun diprediksi > > akan melebihi 5%. > > > > Apalagi kalau kita melihat pasar sukuk (Islamic bond) dunia yang kini > mulai > > banyak diterapkan oleh negara-negara non-muslim (negara bagian > Saxony-Anhalt > > di Jerman sudah memulainya pada 2004). Tahun lalu Inggris dan Luxemburg > > bersaing untuk menjadi pusat keuangan syariah di Eropa. Di AS, bank > kelima > > terbesar Goldman Sach juga sudah menerbitkan sukuk perdana senilai US$ > 500 > > juta pada September 2014. Di Asia, Hongkong, Tokyo dan terakhir Seoul > pada > > mid-2014 sudah mengumumkan diri sebagai "international hub of Islamic > > economics in Asia". Bayangkan! Mereka non-muslim tapi bersemangat sekali > > menjadi pemain utama keuangan syariah dunia. > > > > Awal April lalu selama dua pekan, para mahasiswa S1 kampus ambo (Tazkia > > University College of Islamic Economics di Sentul City) mengadakan > > kunjungan/study tour ke Manchester dan Glasgow melihat aktivitas > perkuliah > > ekonomi Islam di sana, yang semakin banyak diikuti mahasiswa non-muslim. > > > > Ambo sendiri memperkirakan Islamic economics ini, bukan hanya BS, akan > > menjadi "The Fourth Wave", setelah "Three Waves" sebelumnya yang > disebutkan > > Alvin Toffler menguasai dunia: era pertanian, era industri, dan era > > informasi/digitalisasi. Arus keempat yang sedang terbentuk dan akan > menjadi > > arus utama dunia adalah ekonomi Islam. Bahkan Gereja Katolik melalui Paus > > Benediktus secara terbuka menyatakan ekonomi Islam memiliki landasan > moral > > yang jauh lebih baik dari kapitalisme Barat, dan karena itu tak goyah > > terkena dampak krisis 2008: > > > > > http://www.worldfinance.com/home/news/vatican-praises-ethical-sharia-banking > > > > Arus ini akan kian membesar, terlepas apakah muslim Indonesia akan > bersedia > > ikut di dalamnya atau tidak. > > > > Kalau muslim Indonesia setengah hati dalam mempraktikkan bank syariah, > > jangan kaget jika 5-10 tahun lagi pusat keuangan syariah di Asia selain > > Malaysia, bukan Indonesia melainkan Korea Selatan. > > > > Padahal kalau kita menengok sejarah, apa yang diinisiasi HOS > Tjokroaminoto > > lewat Serikat Dagang Islam seabad silam adalah apa yang terjadi sekarang > > melalui geliat keuangan syariah. > > > > Gharar, riba dan maysir bukanlah -- meminjam istilah Pak Zorion -- > sebagai > > "keterbatasan prinsip" yang membuat BS tak berkembang. Justru ketiga hal > itu > > yang membuat usaha menjadi berkah, karena dalam ajaran Islam manusia > bukan > > hanya mengejar profit seperti dalam ekonomi konvensional, melainkan > falah = > > profit + berkah. > > > > Kejayaan Islam kembali (ada yang menyebut "Hukum 7 Abad" yakni 7 abad > > pertama Islam berjaya, 7 abad kedua mundur, dan 7 abad ketiga yang > dimulai > > saat ini kembali berjaya) menurut saya bukan datang dari khilafah, > melainkan > > dari menguatnya peran ekonomi Islam. > > > > Wassalam, > > > > ANB > > > > > > > > Pada 1 Mei 2015 00.48, Zorion Anas <[email protected]> menulis: > >> > >> Aslkm ww pak ZD, > >> Menarik uraian bapak. Bank Syariah (BS) hanya pelengkap sistem keuangan > di > >> negara kita, Tidak bisa diharapkan memainkan peran utama dalam sistem > >> keuangan negara karena keterbatasan prinsip tadi. Karena unsur2 > >> > >> Perniagaan atas barang-barang yang haram, > >> Bunga (ربا riba), > >> Perjudian dan spekulasi yang disengaja (ميسر maisir), serta > >> Ketidakjelasan dan manipulatif (غرر gharar) > >> > >> Laba bank syariah sekitar 3000-400 milyar setahun. Bandingkan dengan > laba > >> bank konvensional 2000 triliun. Andaikata seluruh unit syariah bank > >> konvensional dimerger, mungkin hanya bisa membuat sebuah bank syariah > >> sebesar BTN. Jadi bank syariah cukup sebagai pelengkap pelaku keuangan > >> dengan segmen tertentu khususnya warga muslim dan non muslim yg mau dgn > >> sistem bagi hasil. > >> > >> Saya sendiri dulu punya 2 rekening tabungan bank syariah. Akhirnya saya > >> tutup karena biaya bulanan yang signifikan. Sekarang hanya punya 1 > rekening > >> bank konvensional. Ternyata kenaikan biaya rekening bank mempengaruhi > unsur > >> inflasi yang cukup berwujud. Salam > >> > >> > >> 2015-05-01 0:04 GMT+07:00 Zaid Dunil <[email protected]>: > >>> > >>> Sanak Ahmad Ridha, Sanak Akmal, Pak MM serta sanak sapalanta RN n a h > >>> > >>> Ass ww > >>> > >>> Masalah awal yang dibahas adalah komentar pak JK yang mengatakan , > >>> istilah Arab menghambat sistem keuangan Syariah di Indonesia. Pak JK > >>> boleh saja ngomong seperti itu, karena kenyataannya istilah di bank > >>> syariah itu memang banyak istilah dalam bahasa Arab baik dalam menamai > >>> produk maupun transaksi yang bagi awam kadang sulit dibahami. Lebih > >>> lebih bagi mereka yang terbiasa dengan istilah di Bank Konvensional. > >>> Sebenarnya masalahnya tidak di istilah saja. Rata rata Bank Syariah > >>> itu trasaksinya masih sedikit , banknya kecil, dan kegiatannya > >>> terbatas (dibandingkan Bank Konvensional). Bisnis yang besar , yang > >>> memerlukan dana triliunan dan transaksi lintas negara belum mampu atau > >>> kalau ada belum nbanyak yang ditangani oleh Bank Syariah. Transkasi > >>> import dan eksport belum berkembang. Hampir semua bank besar di > >>> Indonesia mempunyai Unit Syariah . Lihatlah berapa besar saham bank > >>> itu dalam membentuk Unit Syariah yang dinamakan Bank Syariah tersebut. > >>> Umumnya tidak sampai 10 % dari Modal Bank induknya. Dan karena Bank > >>> Syariah adalah anak anak perusahaan dari Bank Besar (kecuali Bank > >>> Muamalat) , maka bisnis bisnis besar sudah otomatis ditangani oleh > >>> induknya yaitu Bank Konvensional . > >>> > >>> Pemerintah dengan meminjam tangan BI selama ini sudah berusaha , untuk > >>> mengembangkan perbankan syariah , dan nampak outlet Perbankan syriah > >>> itu bertebaran di mana mana. Tapi bagaimana dengan omzetnya ? Ternyata > >>> pangsa pasarnya setelah lebih dari 3o tahun sejak dimulainya sampai > >>> saat ini pangsa pasarnya baru sekitar 5 % dari pangsa Perbankan > >>> Nasional. Dengan kata lain Bank Konvensional yang kita anggap > >>> produknya haram itu menguasai 95 % pangsa perbankan tanah air > >>> Indonesia. Malaysia yang mulai lebih awal dari kita, sampai sekarang > >>> pangsa pasar Bank Islam disana juga baru sekitar 10 %, padahal negara > >>> itu Dasar Negaranya adalah Islam. > >>> > >>> Lalu dimana letak masalahnya . > >>> > >>> Nampaknya mensyariahkan bisnis itu tidak gampang. Apa yang dalam > >>> bisnis dianggap hal biasa , kalau dihadapkan pada syariah dia > >>> tergolong haram. > >>> > >>> Contoh : Dalam siuasi sekarang, jelas kalau perrtumbuhan ekonomi > >>> sedang menurun. Tanda tandanya adalah, ekonomi Cina yang selama ini > >>> selalu tumbuh sekitar 10 % saat belakang an ini hanya tumbuh sekitar 7 > >>> %. Indonesia yang beberapa tahun belakanagn tumbuh sekitar 6 % mulia > >>> melambat menjadi 5 % dan diprediksi bakal lebih rendah dari itu. Hal > >>> ini bisa berakibat luas. Investor (termasuk asing) yang pinjam di Luar > >>> dalam bentuk dollar dan kemudian menanam investasi di Indonesia (tentu > >>> sebagian besar ) dalam rupiah, melihat bahwa ke depan ekonomi akan > >>> menurun, penjualannya akan menurun, laba akan menurun dan nilai > >>> investasinya juga akan menurun. Logis saja kalau dia berusaha agar > >>> tidak semakin merugi . Karena itu dalam menjaga kewajibannya untuk > >>> membayar hutang di Luar Negeri , dia mengamankan kewajibannya untuk > >>> membayar hutang yang dalam dollar itu dengan cara Hedging, artinya dia > >>> membeli dollar dengan harga sekarang namun dia menerima dollarnya > >>> diwaktu yang akan datang sesuai dengan jatuh tempo hutangnya. Artinya > >>> dia mengamankan dirinya agar tidak membeli dolar untuk bayar hutang > >>> diwaktu yang akan datang pada saat dollar harganya sudah tinggi. > >>> Bisakah itu di lakukan di Bank Syariah ?. Jelas tidak bisa , karena > >>> trasaksi seperti itu tergolong Maysir (Mengandung spekulasi) dan > >>> tergolong Haram di Bank Syariah. Transaksi itu jamak saja di Bank > >>> Konvensional, dan nilai transasinya besar. Jadi di Bank syariah, > >>> transaksi import eksport sulit untuk berkemvang, karena transaksi > >>> Valas itu sebagian besarnya mengandung unsur Maysir itu. > >>> > >>> Hal lain yang tergolong mendasar adalah. Bank syariah tidak boleh > >>> menetapkan nominal keuntungan termasuk persetase pembagian keuntungan > >>> kepada penabung, deposan atau pemilik dana dimuka. Artinya pembagian > >>> keuntungan atas dana yang disimpan di Bank Syariah ditetapkan setelah > >>> perhitunganLaba Rugi bank. Bagi sebagian kalangan tertentu (Pengusaha) > >>> hal ini dianggap sebagai ketidak pastian, karena kalau Bank Rugi, > >>> pemilik dana itu tidak memperoleh apa apa. Padahal cara itu sesuaI > >>> syariah, Bank dalam bertransaksi tidak boleh menetapkan keuntungan > >>> atau balas jasa di awal. Karena itu mendahului ketetapan Yang Maha > >>> Kuasa (Allah SWT) . > >>> > >>> Bagaimanapun Bank Syariah harus tunduk pada ketentuan Syariah yang > >>> ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional yang kemudiann di jabarkan oleh > >>> Bank Indonesia dengan Peraturan bank Indonesia serta Surat Edaran Bank > >>> Indonesia. > >>> > >>> Kesimpulan saya, komentar Pak JK sebagian mungkin benar tapi beliau > >>> belum melihat kalau ada permasalahan struktural yang membuat bank > >>> Syariah sulit berkompetisi dengan Bank Konvensional > >>> > >>> Wass > >>> Dunil Zaid, 72. Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia, Pdg. Tingga di Jkt > >>> > >>> 2015-04-30 20:32 GMT+07:00 Ahmad Ridha <[email protected]>: > >>> > Mak MM***, memang perbankan syariah di Indonesia belum sempurna > karena > >>> > pelakunya banyak dan ditambah pula permasalahan ekonomi cukup > kompleks > >>> > sehingga ada poin-poin perbedaan pendapat. Namun, dengan segala > >>> > kekurangan > >>> > tersebut, saya pribadi berharap bahwa penggunaan rekening di bank > >>> > syariah > >>> > dapat dicatat sebagai upaya untuk menghindari riba. Upaya lain saya > >>> > termasuk > >>> > saya berupaya untuk selalu membayar penuh tagihan Hasanah Card yang > >>> > saya > >>> > gunakan. > >>> > > >>> > Allahu a'lam. > >>> > > >>> > 2015-04-30 20:14 GMT+07:00 Muchwardi Muchtar < > [email protected]>: > >>> >> > >>> >> Kutiko ambo manulih di laptop ko, alah anam baleh komentar nan > >>> >> mancigok di > >>> >> palanta ko saputa "bank syariah". Kasadonyo sabana mantap dan > >>> >> mancerahkan > >>> >> buek komunitas r@ntaunet nan "lai tapanggia kalbunyo". > >>> >> > >>> >> Cuma ciek sajo tanyo ambo bake sia sajo di palanta ko nan namuah > >>> >> mambantu > >>> >> ambo manjawaok basarato manjalehkan lika liku parmainan perbankan di > >>> >> nagari > >>> >> pancasila nan BUKAN BERDASARKANSYARIAH ISLAM ko. > >>> >> > >>> >> Apokoh kasadonyo "bank islami" (samacam bank syariah, bank muamalat) > >>> >> di > >>> >> nagari awak ko, ujuang-ujuangnyo diatur dek "aturan main" Bank > >>> >> Indonesia? > >>> >> Soalnyo ketentaun perundang-undangan di nagari awak ko engahruskan > >>> >> kasado > >>> >> bank di nagari awak tunduak ka BI, kan? > >>> >> > >>> >> Kalau iyo BI nan manjadi iduak angkang sagalo bank (syariah & > >>> >> muamalat) di > >>> >> nagari awak ko, kan samo sajo ujuang-ujuangnyo balaku sistem riba > atau > >>> >> bungo > >>> >> babungo ateh pitih awak nan disimpan di bank (anak jawi BI tu? > >>> >> > >>> >> Saaik ko ----taruih tarang---- ambo iyo baru ciek bank syariah nan > >>> >> ambo > >>> >> pakai manyimpan (deposito). Insha Allah awal Mei'15 bisuak ambo > >>> >> kamamindahan > >>> >> sagalo bantuak rekening / tabuangan nan alah puluahan tahun tampaik > >>> >> gaji/ > >>> >> upah/ pensiun/ honor parkir. > >>> >> > >>> >> Tarimo kasih Dunsanak kasadonyo, nan sacaro indak Sanak singajo alah > >>> >> bahasia (saketek banyaknyo) mambari pancerahan bake kami nan salamo > ko > >>> >> tabuai di kalamakan dan kaharaman bungo simpanan kami tabuangan bank > >>> >> konvensional. > >>> >> > >>> >> Salam........................., > >>> >> mm*** > >>> >> > >>> >> Pada 30 April 2015 19.28, Ronald P Putra <[email protected]> > >>> >> menulis: > >>> >>> > >>> >>> Batua Da Akmal, yg di ambo Hasanah Card.. > >>> >>> > >>> >>> Wassalam > >>> >>> Ronad > >>> >>> > >>> >>> On Apr 30, 2015 5:39 PM, "Akmal Nasery Basral" < > [email protected]> > >>> >>> wrote: > >>> >>>> > >>> >>>> typo: … dan Hasanah Card (BNI Card) … mukasuiknyo: … dan Hasanah > >>> >>>> Card > >>> >>>> (BNI Syariah). > >>> >>>> > >>> >>>> Pada 30 April 2015 17.38, Akmal Nasery Basral < > [email protected]> > >>> >>>> menulis: > >>> >>>>> > >>> >>>>> Bu Isna, > >>> >>>>> satau ambo ado Syariah Gold Card (CIMB Niaga Syariah) dan Hasanah > >>> >>>>> Card > >>> >>>>> (BNI Card). Mungkin ado pulo nan lainnyo. Barangkali sanak Ronald > >>> >>>>> nan karajo > >>> >>>>> di bank bisa menambahkan. > >>> >>>>> > >>> >>>>> > >>> >>>>> Wassalam, > >>> >>>>> > >>> >>>>> ANB > >>> >>>>> > >>> >>>>> > >>> >>>>> Pada 30 April 2015 17.35, Isna Huriati <[email protected]> > >>> >>>>> menulis: > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> Batanyo lo ciek, > >>> >>>>>> Adokah bank Syariah nan mangaluakan kartu kredit Syariah, > Syariah > >>> >>>>>> Mandiri dan Muamalat indak mangaluakan, antahkok dalam waktu nan > >>> >>>>>> sabulanko. > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> wassalam > >>> >>>>>> Isna > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> On 4/30/2015 4:44 PM, Ronald P Putra wrote: > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> Menyambut sanak Ahmad Ridha :-) > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> Saya punya dua rekening aktif di dua bank syariah, satu kartu > >>> >>>>>> kredit > >>> >>>>>> syariah, satu di bank konvensional krn utk keperluan payroll. > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> Wassalam > >>> >>>>>> Ronald > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> On Apr 30, 2015 4:17 PM, "Ahmad Ridha" <[email protected]> > >>> >>>>>> wrote: > >>> >>>>>>> > >>> >>>>>>> 2015-04-30 13:41 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral > >>> >>>>>>> <[email protected]>: > >>> >>>>>>> > >>> >>>>>>>> Coba intip dompet masing-masing (terutama yang kaya dan banyak > >>> >>>>>>>> pakai > >>> >>>>>>>> kartu debit dan kredit). Dari setumpuk rekening yang dimiliki, > >>> >>>>>>>> berapa > >>> >>>>>>>> rekening bank syariah yang dimiliki? > >>> >>>>>>>> > >>> >>>>>>>> Ada yang mau menjawab dengan sukarela, sekadar sebagai > ilustrasi > >>> >>>>>>>> bersama? > >>> >>>>>>>> > >>> >>>>>>> > >>> >>>>>>> Pak Akmal, berhubung belum ada yang menyambut, saya coba > memulai. > >>> >>>>>>> Saat ini semua rekening aktif saya ada di bank syariah. > >>> >>>>>>> Kemungkinan bulan > >>> >>>>>>> depan akan ada satu rekening bank konvensional yang otomatis > >>> >>>>>>> dibuatkan bagi > >>> >>>>>>> semua pagawai untuk keperluan transfer gaji. Rencananya nanti > >>> >>>>>>> akan > >>> >>>>>>> difasilitasi opsi untuk kliring otomatis tiap bulan. Saya tidak > >>> >>>>>>> berencana > >>> >>>>>>> mengendapkan uang di rekening bank konvensional. > >>> >>>>>>> > >>> >>>>>>> Wassalaam, > >>> >>>>>>> -- > >>> >>>>>>> Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad > >>> >>>>>>> Hamim > >>> >>>>>>> (l. 1400 H/1980 M) > >>> >>>>>>> -- > >>> >>>>>>> . > >>> >>>>>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di > >>> >>>>>>> tempat > >>> >>>>>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> >>>>>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> >>>>>>> =========================================================== > >>> >>>>>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> >>>>>>> * DILARANG: > >>> >>>>>>> 1. Email besar dari 200KB; > >>> >>>>>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> >>>>>>> 3. Email One Liner. > >>> >>>>>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di > http://goo.gl/MScz7) > >>> >>>>>>> serta mengirimkan biodata! > >>> >>>>>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> >>>>>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> >>>>>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email > lama > >>> >>>>>>> & > >>> >>>>>>> mengganti subjeknya. > >>> >>>>>>> =========================================================== > >>> >>>>>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > >>> >>>>>>> keanggotaan > >>> >>>>>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> >>>>>>> --- > >>> >>>>>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > >>> >>>>>>> Google Grup. > >>> >>>>>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari > grup > >>> >>>>>>> ini, kirim email ke [email protected]. > >>> >>>>>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi > >>> >>>>>>> https://groups.google.com/d/optout. > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> -- > >>> >>>>>> . > >>> >>>>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di > >>> >>>>>> tempat > >>> >>>>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> >>>>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> >>>>>> =========================================================== > >>> >>>>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> >>>>>> * DILARANG: > >>> >>>>>> 1. Email besar dari 200KB; > >>> >>>>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> >>>>>> 3. Email One Liner. > >>> >>>>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di > http://goo.gl/MScz7) > >>> >>>>>> serta mengirimkan biodata! > >>> >>>>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> >>>>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> >>>>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email > lama > >>> >>>>>> & > >>> >>>>>> mengganti subjeknya. > >>> >>>>>> =========================================================== > >>> >>>>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > >>> >>>>>> keanggotaan > >>> >>>>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> >>>>>> --- > >>> >>>>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > >>> >>>>>> Google > >>> >>>>>> Grup. > >>> >>>>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari > grup > >>> >>>>>> ini, > >>> >>>>>> kirim email ke [email protected]. > >>> >>>>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi > >>> >>>>>> https://groups.google.com/d/optout. > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> > >>> >>>>>> -- > >>> >>>>>> . > >>> >>>>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di > >>> >>>>>> tempat > >>> >>>>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> >>>>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> >>>>>> =========================================================== > >>> >>>>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> >>>>>> * DILARANG: > >>> >>>>>> 1. Email besar dari 200KB; > >>> >>>>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> >>>>>> 3. Email One Liner. > >>> >>>>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di > http://goo.gl/MScz7) > >>> >>>>>> serta mengirimkan biodata! > >>> >>>>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> >>>>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> >>>>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email > lama > >>> >>>>>> & > >>> >>>>>> mengganti subjeknya. > >>> >>>>>> =========================================================== > >>> >>>>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > >>> >>>>>> keanggotaan > >>> >>>>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> >>>>>> --- > >>> >>>>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > >>> >>>>>> Google > >>> >>>>>> Grup. > >>> >>>>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari > grup > >>> >>>>>> ini, > >>> >>>>>> kirim email ke [email protected]. > >>> >>>>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi > >>> >>>>>> https://groups.google.com/d/optout. > >>> >>>>> > >>> >>>>> > >>> >>>> > >>> >>>> -- > >>> >>>> . > >>> >>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di > >>> >>>> tempat > >>> >>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> >>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> >>>> =========================================================== > >>> >>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> >>>> * DILARANG: > >>> >>>> 1. Email besar dari 200KB; > >>> >>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> >>>> 3. Email One Liner. > >>> >>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) > >>> >>>> serta > >>> >>>> mengirimkan biodata! > >>> >>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> >>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> >>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama > & > >>> >>>> mengganti subjeknya. > >>> >>>> =========================================================== > >>> >>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > >>> >>>> keanggotaan > >>> >>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> >>>> --- > >>> >>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > >>> >>>> Google > >>> >>>> Grup. > >>> >>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup > >>> >>>> ini, > >>> >>>> kirim email ke [email protected]. > >>> >>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi > >>> >>>> https://groups.google.com/d/optout. > >>> >>> > >>> >>> -- > >>> >>> . > >>> >>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di > tempat > >>> >>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> >>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> >>> =========================================================== > >>> >>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> >>> * DILARANG: > >>> >>> 1. Email besar dari 200KB; > >>> >>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> >>> 3. Email One Liner. > >>> >>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) > >>> >>> serta > >>> >>> mengirimkan biodata! > >>> >>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> >>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> >>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > >>> >>> mengganti subjeknya. > >>> >>> =========================================================== > >>> >>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan > >>> >>> di: > >>> >>> http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> >>> --- > >>> >>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > >>> >>> Google > >>> >>> Grup. > >>> >>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup > >>> >>> ini, > >>> >>> kirim email ke [email protected]. > >>> >>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi > https://groups.google.com/d/optout. > >>> >> > >>> >> > >>> >> -- > >>> >> . > >>> >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di > tempat > >>> >> lain > >>> >> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> >> =========================================================== > >>> >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> >> * DILARANG: > >>> >> 1. Email besar dari 200KB; > >>> >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> >> 3. Email One Liner. > >>> >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) > >>> >> serta > >>> >> mengirimkan biodata! > >>> >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > >>> >> mengganti subjeknya. > >>> >> =========================================================== > >>> >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan > >>> >> di: > >>> >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> >> --- > >>> >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > Google > >>> >> Grup. > >>> >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup > ini, > >>> >> kirim email ke [email protected]. > >>> >> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi > https://groups.google.com/d/optout. > >>> > > >>> > > >>> > > >>> > > >>> > -- > >>> > Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim > >>> > (l. 1400 H/1980 M) > >>> > > >>> > -- > >>> > . > >>> > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat > >>> > lain > >>> > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> > =========================================================== > >>> > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> > * DILARANG: > >>> > 1. Email besar dari 200KB; > >>> > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> > 3. Email One Liner. > >>> > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) > serta > >>> > mengirimkan biodata! > >>> > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > >>> > mengganti subjeknya. > >>> > =========================================================== > >>> > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan > >>> > di: > >>> > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> > --- > >>> > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di > Google > >>> > Grup. > >>> > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup > ini, > >>> > kirim > >>> > email ke [email protected]. > >>> > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout > . > >>> > >>> -- > >>> . > >>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat > >>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >>> =========================================================== > >>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >>> * DILARANG: > >>> 1. Email besar dari 200KB; > >>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >>> 3. Email One Liner. > >>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) > serta > >>> mengirimkan biodata! > >>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > >>> mengganti subjeknya. > >>> =========================================================== > >>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan > di: > >>> http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >>> --- > >>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > >>> Google Grup. > >>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > >>> kirim email ke [email protected]. > >>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > >> > >> > >> > >> > >> -- > >> Zorion Anas > >> (+62)085811292236 > >> [email protected], [email protected] > >> > >> -- > >> . > >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat > lain > >> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > >> =========================================================== > >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > >> * DILARANG: > >> 1. Email besar dari 200KB; > >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > >> 3. Email One Liner. > >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > >> mengirimkan biodata! > >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > >> mengganti subjeknya. > >> =========================================================== > >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan > di: > >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ > >> --- > >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > >> Grup. > >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > >> kirim email ke [email protected]. > >> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > > > > > > -- > > . > > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat > lain > > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > > =========================================================== > > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > > * DILARANG: > > 1. Email besar dari 200KB; > > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > > 3. Email One Liner. > > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > > mengirimkan biodata! > > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > > mengganti subjeknya. > > =========================================================== > > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > --- > > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim > > email ke [email protected]. > > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
