Kalau saya tidak salah, inti makalah pak MN ini adalah dahulu Minangkabau itu baik, sekarang sudah merosot. Saya setuju. Apa belum saatnya diadakan pengkajian ( riset) ttg faktor penyebab perubahan sosial ( social change) ini utk selanjutnya menyusun kebijakan yg tepat utk memperbaikinya? Wassalam, SB. Pada tanggal 26 Mei 2015 19:34, "'Ambiar Lani' via RantauNet" < [email protected]> menulis:
> Assamualaikum waeahmatullahi wabarakatuh. > > Terima kasih banyak atas kiriman tulisan ini, semoga menjadi ibadah bagi > penulisnya. > > Wassalam: > > Ambiar Lani > Bekasi 17124. > > > > On Tuesday, May 26, 2015 10:38 AM, 'Mochtar Naim' via RantauNet < > [email protected]> wrote: > > > > *BUDAYA MERANTAU ORANG MINANG* > > *Mochtar Naim* > > *Disampaikan pada Seminar Merantau, Singapore-Minangkabau Association, > kerjasama dengan Taman Warisan Melayu, * > *23 Mei 2015, di Auditorium TWM, Singapore. * > > *** > > M > ERANTAU bagi orang Minang adalah sebuah tradisi yang membudaya dan > terkait dengan sistem sosialnya. Tradisi ini diturunkan dari generasi ke > generasi yang sudah ada sejak semula. Merantau adalah bahagian dari *rite > de passage, *ritus sosial yang harus dilalui oleh setiap anak muda > laki-laki dalam memasuki umur dewasanya. Karenanya berbeda sekali anak muda > yang pergi merantau dengan yang tetap tinggal di rumah di kampung, yang > tidak pergi ke mana-mana. Anak muda yang tak pergi ke mana-mana dikatakan “ > *ongok*,” tidak lepas dari bedungan. Ada sinisme yang menyakitkan yang > menyebabkan mereka tak enak kalau tak pergi merantau. > Anak muda yang pergi merantau berupaya untuk memperlihatkan kebolehan dan > kemampuan dirinya dalam mengharungi lautan kehidupan yang penuh rintangan > dan hambatan. Mereka yang berhasil, pulanglah untuk membina rumah tangga > baru, atau tetap tinggal di rantau dengan tidak memutus hubungan ke rumah > ibu, ke ranah kampung halaman. Pulang sekali-sekali untuk memperlihatkan > kebolehan tanda berhasil di rantau sambil tak lupa meninggalkan balas jasa > berupa apapun untuk turut membangun kampung halaman. Tak sak, bahwa hampir > semua dari rumah-rumah baru, perbaikan maupun pembikinan surau, sekolah, > rumah gadang, dan apapun yang ada di kampung, sebagian besar dari dananya > datang dari rantau. Kecintaan kepada kampung halaman diperlihatkan pada > persembahan tak terpermanai dari hasil merantau itu. > Karena itulah orang Minang tak mengenal “rantau Cino” *(permanent > migration)* yang sekali pergi takkan pulang-pulang lagi. Kalaupun badan > yang tak sampai, minimal limpahan kasih-sayang dari rantau berupa pemberian > dan pertolongan itu tetap mengalir. Entah kalau malang dan cilaka yang > dilakukan ketika masih di kampung, sehingga merantaunya berkerat rotan tak > pulang-pulang lagi. > Untuk mendorong anak-anak muda siap untuk pergi merantau, dengan memasuki > usia akil-balig mereka sudah disuruh untuk tidur di surau. Di rumah ibu > hanya untuk anak-anak perempuan yang menyiapkan diri untuk membina rumah > tangga penanti suami jika waktu berumah tangga tiba nanti. Di surau, mereka > tidur bersama sekenanya. Tidak ada kasur dan bantalpun tak mesti ada. Tikar > yang tergulung biasa dipakai keganti bantal. Mereka biasa tidur bergelung > dengan berkelumunkan hanya kain sarung sehelai. Di surau itulah mereka > mendapat pengajaran dari orang tua-tua, bagaimana menempuh hidup ini yang > semua harus dimulai dari bawah, dari tiada menjadi ada. > Di surau mereka mendapatkan latihan berkata-kata, dari hanya pandai > menyimak ke pandai berkata-kata yang enak dan menyenangkan. Makanya seni > berpidato, berpersembahan, berpepatah-petitih, bersilat-lidah, diajarkan di > surau. Dan tentu saja juga membentuk kebiasaan dari selama ini biasa bangun > pagi, sekarang, dengan tidur di surau, bangun subuh, dan shalat tidak lagi > sendiri-sendiri tetapi berjamaah. Dan merekapun diajar bersilat bela diri > untuk siap menangkis apapun yang akan terjadi dalam hidup ini. Sebagai > perintang hari merekapun diajar berandai, bersalung, berdendang, berkecapi, > entah apa lagi. > * > Tetapi sayang, sekarang, semua itu telah berlalu. Berhentinyapun juga > tiba-tiba. Siapa mengira, dengan dijawabnya tantangan PRRI tidak dengan > mulut dengan berembuk baik-baik, tetapi dengan mulut meriam yang > dimuntahkan oleh antek-antek Sukarno dari arah laut, di akhir 50an, semua > menjadi berubah, dan berubah tiba-tiba. Karena pemuda yang dicari oleh > pasukan pusat itu, yang rata-rata turut PRRI, tidurnya di surau, maka > dengan sekali siraman senjata yang diberondongkan dari tangan itu semua > menjadi tersungkur. Dan dampaknya luar biasa sekali, sehingga sejak itu > tidak ada lagi pemuda yang tidur di surau, dan tidak sampai sekarang, > sampai hari ini. Paling-paling yang tidur di surau, garin dan satu-dua > laki-laki baya yang tidak lagi punya rumah bini untuk kembali. > Anak-anak muda lelaki Minang yang tinggal di kampung sekarang rata-rata > tinggal di rumah ibu, di bilik kosong ataupun di tengah rumah berbaur > dengan anak-anak perempuan yang akan beranjak gedang. Sifat > kelaki-lakiannya sendirinya menurun dan sifat keperempuanannya > kadang-kadang muncul dan menyolok pula. Merekapun pandai pula bersolek > berhias diri. Yang hilang adalah sifat jantan kelaki-lakiannya itu. > Karenanya jarang sesudah itu kita melihat laki-laki Minang yang tampil ke > depan seperti masa-masa sebelumnya. Sebelumnya, hampir dapat dipastikan, > semua laki-laki Minang yang tampil menonjol di forum nasional di bidang > apapun -- sebutlah siapapun -- adalah hasil dari didikan dan tempaan surau. > Karena di surau itulah mereka dididik dan dilatih untuk menjadi ‘orang.’ > Bagaimanapun, yang arus merantau jalan terus. Bahkan dengan dan karena > peristiwa PRRI itu pula sekarang yang merantau tidak hanya anak laki-laki > tetapi juga perempuan. Dan bahkan ikut sekeluarga. Kampung tidak lagi aman. > Hidup tersiksa. Susah cari makan. Tidak ada lagi kebebasan dan kemerdekaan > itu betul. Makanya mereka berbondong-bondong pergi merantau, kemanapun, > terutama ke kota-kota di Sumatera lainnya dan ke Jawa di samping juga ke > Malaysia dan Singapura dan Nusantara lainnya. Ibaratnya, takut di bedil, > lari ke pangkal bedil. Dampak PRRI telah berhasil menciptakan eksodus > migrasi besar-besaran yang tiada duanya pernah terjadi dalam sejarah > merantau di Minangkabau. > Pergeseran sistem ekonomi dari bertani dan berladang di hamparan terbuka > ke non-pertanian berbagai rupa, sementara itu juga terjadi. Bumi Sumatera > Barat kebetulan dilalui oleh jejeran Bukit Barisan yang tidak menyediakan > lahan datar yang cukup luas untuk pertanian dan perladangan. Tidak ada 10 > %nya. Karenanya, dengan pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat, > sendirinya ada yang merelakan diri untuk bergerak di luar bidang pertanian, > khususnya di bidang perniagaan dan perdagangan di pasar-pasar di kota-kota, > di mana saja. Sekarang, sebutlah, kota mana di Indonesia ini yang tak ada > orang Minangnya di pasar-pasar. Hanya saja, seperti selorohan ‘rang sumando > kita, JK, yang sekarang jadi Wapres lagi, orang Minang biasanya nongol > duluan 3 meter di depan toko rang Cina di K5. > Kemerdekaan, bagaimanapun, tentu saja membawa perubahan yang berarti dari > segi peluang untuk berpendidikan. Dari hanya sekitar 3-5 % dari penduduk > pribumi di zaman kolonial yang pandai membaca dan menulis, sekarang, > resminya, sudah hampir semua tahu tulis-baca -- walau hanya sekadar tahu. > Tapi rata-rata anak-anak kita memang sudah hampir semua masuk sekolah, dari > yang rendah di dasarnya, ke yang menengah sampai ke yang tinggi sekalipun. > Dan Sumbar termasuk yang pandai memanfaatkannya. Karena itu pula pendidikan > telah menjadi faktor pendorong utama pula untuk pergi merantau dengan > tujuan untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi di luar Sumbar. > Kendati perguruan tinggi dan universitas tidak kurangnya ada di Sumbar, > tapi keinginan untuk melanjutkan sekolah ke luar, terutama ke Jawa, tak > kurang-kurangnya. > Hasilnya sendirinya kita lihat dari bertebarannya orang Minang yang > berpendidikan yang bekerja di berbagai bidang, terutama sebagai pegawai > negeri dan juga swasta, di mana saja. Karena pilihannya untuk menjadi > pegawai itu pula yang utama, yang menyebabkan orang Minang tidak banyak > lagi ditemukan di bidang swasta-usaha sendiri. Pada hal dahulunya, sampai > seperempat atau bahkan sepertiga dari jumlah anggota parlemen di pusat > berdarah Minang, walau mereka mewakili daerah yang tersebar di berbagai > daerah di Indonesia ini. Walaupun ada tetapi di bidang yang tadinya orang > Minang menonjol dan kesohor, baik sebagai penulis, pemikir, pendidik, > wartawan, da’i dan ulama, politisi, cerdik-pandai, dsb, sekarang jumlah dan > perentasenya sudah sangat jauh menurun. Diperlukan lompatan besar kembali > untuk mengulang marwah Minang sebagai kelompok pemimpin bangsa di berbagai > bidang kegiatan yang pernah tersohor itu. > Sejak PRRI di akhir 50an ke mari, Sumatera Barat telah menjadi ekstensi > dari sistem yang berlaku di NKRI, yang sifatnya birokratik, sentralistik, > sentripetalistik, feodalistik, borjuistik, dan apa lagi. Sementara, > dahulunya, orang Minang adalah penggerak dari sistem yang berlaku > sebaliknya. Mereka menjadi pelopor dari cita demokrasi, kebersamaan, > egaliterianisme, desentralisme, sentrifugalisme, dan apa lagi pula, seperti > yang dulu disuarakan oleh tokoh-tokohnya di tingkat pusat dan di manapun. > Sekarang, di Sumatera Barat sendiri sudah tidak kedengaran dan tidak terasa > lagi yang seperti itu. Paling kalau disampaikan hanya untuk didendangkan, > tetapi tidak diamalkan, karena sistem birokrasi kenegaraannya sudah sama > seperti di Jawa. Karenanya petaka-petaka sosial seperti korupsi, kolusi dan > nepotisme tak kurangnya juga berlaku di Sumbar yang merembet melalui jalur > birokrasi dari atas sampai ke bawah. > * > Merantau yang berlanjut ke zaman sekarang yang hilang dan mulai tak > dirasakan lagi adalah *zest*, getaran semangat atau *‘singanga’*nya itu. > Anak muda dan siapapun dalam keluarga yang pergi dari rumah, entah ke mana > dan untuk tujuan apa, tak lagi dilepas dengan isakan tangis serta doa > bersama dari orang tua, mamak dan sumando, dengan makan bersama melepas > anak untuk pergi jauh menuju ‘rantau bertuah’ itu. > Dikatakan, a.l. ... Kalau anak pergi berjalan, ibu cari dunsanak cari, > induk semang cari dahulu. Mandi di hilir-hilir, menyauk di bawah-bawah. > Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang... Namun, nan di urang > diiyokan, nan di awak dilalukan juo. Takuruang nak di lua, taimpik nak di > ateh. Dst, dst. Kata bersayap! > Sekarang ini, kalau mau pergi, pergilah. Mau lama atau sebentar, mau cari > kerja, cari sekolah, atau hanya sekadar jalan-jalan, pergilah. Apalagi > sekarang mau kemanapun jalannya lempang. Sistem transportasinya mulus. Jika > perlu orangpun bisa balik hari dari kampung ke rantau ke manapun. Yang > hilang dari merantau memang adalah singanganya itu -- karena dahulu orang > pergi merantau bersakit-sakit. > Yang hilang juga dalam rumah tangga di Minang itu adalah keutuhan > keluarga, kekompakan, keseia-sekataan, yang semua dimulai dengan *‘makan > bajamba’, *memperkatakan apapun yang mau dikatakan dan dimusyawarahkan. > Walau dalam suku atau kaum masih ada datuk dan penghulunya, tapi diapun, > karena tak terikat lagi dengan tanah tempat dia dulu biasa ikut pergi ke > sawah, ikut menyabit dan mengirik padi secara bersama, dia lebih banyak > absennya dari ikut hadir dalam keluarga. Apalagi, sekarang juga, tak > sedikit penghulu ninik-mamak yang juga ikut merantau. Tidak sedikit ninik > mamak yang juga jadi sarjana, jadi pamong di pemerintahan, jadi pengusaha > ataupun berjualan di kaki lima, di rantau, di mana saja, sama seperti > kemenakannya pula. Diapun sekarang lebih mengutamakan kepentingan > anak-isteri daripada kemenakan yang bertebaran yang di bawah lutut itu. > Yang terjadi lalu adalah pergeseran dari struktur keluarga, dari matriarki > ke patriarki, walau matrilininya belum berubah. Walau bapak masih tinggal > bersama dengan ibu di rumah keluarga ibu, tetapi sistem pengambilan > keputusan telah bergusur dari mamak ke bapak, terutama yang berkaitan > dengan urusan internal keluarga batih: ayah, ibu dan anak-anak. > Karenanya, di Sumatera Barat pun, bagi yang tingkat ekonominya menengah ke > atas, dari mulai mendirikan rumah tangga sudah terpasang niat sekali untuk > mendirikan atau mencari rumah sendiri, khususnya di kota. Rumah keluarga > batih yang dibangun atau disewa di kota di rantau secara > psikologis-emosional suka mengganjal karena posisi bapak di rumah itu tidak > lagi sebagai sumando tetapi kepala keluarga. Dan sistemnya beranjak dari > matriarki ke patriarki -- walau hubungan sosial secara > tradisional-matrilineal dengan kampung tidak berubah. Yang suami tiap kali > pulang kampung ke rumah isteri tetap diperlakukan sebagai sumando. > Pola merantau karenanya juga ikut berubah, dari yang tadinya berupa *rite > de passage, *sekarang karena kebutuhan hidup karena tidak lagi banyak > yang tersedia di kampung kalau tidak pergi merantau. Tuntutan ekonomi, > pendidikan, tantangan kehidupan dunia moderen, dan banyak lagi, telah > mendorong orang Minang untuk lebih banyak lagi pergi merantau. Bisa > dipastikan bahwa yang merantau sekarang ke mana-mana jauh lebih banyak > jumlahnya dari yang tetap bertahan di rumah, di kampung halaman, di > Minangkabau. Orang Minang yang merantau karenanya punya dua dunia, dunia di > rantau dan dunia di kampung. > Hanya saja, sampai berubah polanya menjadi rantau Cina, yang dunia kampung > benar-benar ditinggalkan ...; itu yang belum. Walau dalam kenyataannya > secara fisik memang tak pernah atau jarang pulang, tetapi kontak sosial dan > kontak batin tetap dan tetap dipelihara, sekurangnya sampai peralihan > generasi terjadi. Yang menarik juga, sebagai produk dari budaya merantau > ini, banyak sudah koloni Minang yang bertebaran di mana-mana, di Sumatera > sendiri, di Nusantara, di Malaysia dan di Asia Tenggara ini. Dan di sana > mereka menanamkan benih budaya yang mereka bawa dari kampung, yaitu watak > dan sifat-sifat kebersamaan, egaliterianisme, demokrasi, duduk sama rendah, > tegak sama tinggi, dsb, dengan filosofi hidup: Adat Bersendi Syarak, Syarak > Bersendi Kitabullah (ABS-SBK), Syarak Mengata, Adat Memakai. > > *** > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
