Maaf, numpang info ciek, mokasih CONFERENCE ON INDONESIAN FOREIGN POLICY (CIFP) 2015 12-13 June 2015 Grand Sahid Jaya Hotel, Jalan Sudirman no. 86, Jakarta
REGISTER EVENT www.cifp2015.eventbrite.com CIFP is held in order to engage a broad range of stake-holders in rich discussions on various aspects of Indonesia’s international relations: geopolitics, security, economics, business and investment, environment, defense diplomacy, diaspora, and development cooperation, among others. The conference will be held in Davos-style format, consisting of two plenary sessions and six parallel classroom sessions, which run all day. Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) organizes 25 sessions throughout the conference and aims to bring together ministers, foreign ministry officials, ambassadors, business community, journalists, opinion makers, academicians and students from across Indonesia. The followings are CIFP 2015’s sessions and list of confirmed speakers: Sessions Plenary Sessions: 08:30 – 10:15 GLOBAL TRENDS, STRATEGIC ISSUES AND BIG IDEAS INDONESIA CANNOT IGNOREINDONESIAN FOREIGN POLICY, INTERNATIONAL ENGAGEMENT AND WORLDVIEW CONCEPT IN THE JOKOWI ERA : AN UPDATE FROM FOREIGN MINISTER Parallel Sessions: 10:45 – 12.00 IS INDONESIA READY FOR THE ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) 2015? HOW READY ARE OTHER ASEAN MEMBERS FOR AEC?HOW THE WORLD LOOKS AT INDONESIA IN 2015THE CLIMATE AND ENVIRONMENTAL AGENDA UNDER THE JOKOWI ADMINISTRATION: PREPARING FOR COP21?INDONESIA INVESTMENT CLIMATE: ARE WE LOSING THE EDGE? HOW DO WE REGAIN IT?THE INCREASING ROLE OF DEFENSE DIPLOMACY IN ASIA PACIFIC: HOW DOES INDONESIA FIT IN?A DISCUSSION ON THE GLOBAL OPPORTUNITY MAP FOR INDONESIA 13:00 – 14:15 CAN INDONESIA BECOME A WORLD MARITIME POWER? HOW SOON AND HOW?MULTILATERAL DIPLOMACY: INDONESIA'S AGENDA FOR THE NEXT 5 YEARSINDONESIA’S FOREIGN POLICY BETWEEN INTERNATIONALISM, NATIONALISM, POPULISM AND XENOPHOBIAINDONESIA’S ECONOMIC DIPLOMACY: HOW DO WE SPEED UP? WHAT ARE THE CHALLENGES AND CONSTRAINTS?GARUDA AND THE DRAGON : HOW INDONESIA SHOULD BEST ENGAGE CHINA AS THE NEXT SUPERPOWERINDONESIA AND THE SOUTH CHINA SEA 14:30 – 15:45 THE CASE FOR INTERNATIONALISM: YOUTH PERSPECTIVEINDONESIA AND THE MAJOR POWERS IN THE 21ST CENTURY: WHAT IS OUR GAME PLAN?HARNESSING INDONESIA’S BRAIN POWER AND INTELLECTUAL CAPITAL: HAVE WE PROPERLY UTILIZED INTERNATIONAL RESOURCES?CAN INDONESIA’S BUSINESS AND CULTURE SUCCEED IN GOING GLOBAL?INDONESIA ISLAM AND THE WESTIDENTIFYING BLIND SPOTS IN INDONESIAN FOREIGN POLICY 16:00 – 17:15 HOW DIPLOMACY CAN CONTRIBUTE TO THE METROPOLITAN REVOLUTIONDIASPORAS, MIGRANT WORKERS, AND INDONESIA DIPLOMACYDIPLOMATIC INNOVATIONS: FRESH INITIATIVES FROM FOREIGN EMBASSIES IN INDONESIA AND INDONESIAN EMBASSIES ABROADCAN INDONESIA BECOME THE WORLD’S MAJOR TRADING POWER? WHAT DO WE NEED TO DO TO GET THERE?INDONESIA AND THE EMERGING POWERS AS A NEW FORCE IN INTERNATIONAL RELATIONSGEO-STRATEGIC SHIFTS IN THE MIDDLE-EAST AND WHAT IT MEANS FOR INDONESIA List of Confirmed Speakers H.E. Retno L. Marsudi, Minister of Foreign Affairs, Republic of IndonesiaH.E. Prof. Dr. Hasjim Djalal, Former Ambassador at-Large for the Law of the Sea and Maritime IssuesH.E. Dino Patti Djalal, Founder, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI)H.E. John Riady, Executive Dean, Universitas Pelita HarapanH.E. Jusuf Wanandi, Co-founder & Senior Advisor, CSISH.E. Dr. Rizal Sukma, Executive Director, CSISH.E. Gita Wirjawan, Chairman, Ancora InternationalH.E. Dian Triansyah Djani, Director General for America and Europe Affairs, Ministry of Foreign Affairs, Republic of IndonesiaRidwan Kamil, Mayor, City of BandungH.E. Arif Havas Oegroseno, Ministry of Foreign Affairs, Republic of IndonesiaProf. Simon SC Tay, Chairman, Singapore Institute of International AffairsProf. Jun Honna, Ritsumeikan UniversityMr. Adam Schwarz, President, Asia Group AvisorsGreg Sheridan, International JournalistSidney Jones, Senior Advisor, International Crisis GroupAgus Purnomo, Advisor, Sinarmas AgriTjokorda Nirarta Samadhi, Country Director, World Resource Institute IndonesiaSilmy Karim, Director, PT. Pindad (persero)Ted Fishman, International AuthorProf. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Deputy Secretary for Politics, Vice President’s OfficeProf. Dr. Mohtar Mas’oed, Senior Lecturer, Universitas Gadjah MadaAleksius Djemadu, Dean, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Pelita HarapanRiza Noer Arfani, Ritsumeikan UniversityEvan Laksmana, PhD Candidate, Syracuse UniversityMohammad Hanifa, Diplomat, Ministry of Foreign Affairs, Republic of IndonesiaDian SastrowardoyoPandu Manggala, Diplomat, Ministry of Foreign Affairs, Republic of IndonesiaAlanda Kariza, WEF Young Global ShapersTogi PangaribuanM. Iman Usman, WEF Young Global Shapers For further information: [email protected] Sent from my iPhone > On 26 Mei 2015, at 10.37, "'Mochtar Naim' via RantauNet" > <[email protected]> wrote: > > > BUDAYA MERANTAU ORANG MINANG > > Mochtar Naim > > Disampaikan pada Seminar Merantau, Singapore-Minangkabau Association, > kerjasama dengan Taman Warisan Melayu, > 23 Mei 2015, di Auditorium TWM, Singapore. > > * > > M > ERANTAU bagi orang Minang adalah sebuah tradisi yang membudaya dan terkait > dengan sistem sosialnya. Tradisi ini diturunkan dari generasi ke generasi > yang sudah ada sejak semula. Merantau adalah bahagian dari rite de passage, > ritus sosial yang harus dilalui oleh setiap anak muda laki-laki dalam > memasuki umur dewasanya. Karenanya berbeda sekali anak muda yang pergi > merantau dengan yang tetap tinggal di rumah di kampung, yang tidak pergi ke > mana-mana. Anak muda yang tak pergi ke mana-mana dikatakan “ongok,” tidak > lepas dari bedungan. Ada sinisme yang menyakitkan yang menyebabkan mereka tak > enak kalau tak pergi merantau. > Anak muda yang pergi merantau berupaya untuk memperlihatkan kebolehan dan > kemampuan dirinya dalam mengharungi lautan kehidupan yang penuh rintangan dan > hambatan. Mereka yang berhasil, pulanglah untuk membina rumah tangga baru, > atau tetap tinggal di rantau dengan tidak memutus hubungan ke rumah ibu, ke > ranah kampung halaman. Pulang sekali-sekali untuk memperlihatkan kebolehan > tanda berhasil di rantau sambil tak lupa meninggalkan balas jasa berupa > apapun untuk turut membangun kampung halaman. Tak sak, bahwa hampir semua > dari rumah-rumah baru, perbaikan maupun pembikinan surau, sekolah, rumah > gadang, dan apapun yang ada di kampung, sebagian besar dari dananya datang > dari rantau. Kecintaan kepada kampung halaman diperlihatkan pada persembahan > tak terpermanai dari hasil merantau itu. > Karena itulah orang Minang tak mengenal “rantau Cino” (permanent migration) > yang sekali pergi takkan pulang-pulang lagi. Kalaupun badan yang tak sampai, > minimal limpahan kasih-sayang dari rantau berupa pemberian dan pertolongan > itu tetap mengalir. Entah kalau malang dan cilaka yang dilakukan ketika masih > di kampung, sehingga merantaunya berkerat rotan tak pulang-pulang lagi. > Untuk mendorong anak-anak muda siap untuk pergi merantau, dengan memasuki > usia akil-balig mereka sudah disuruh untuk tidur di surau. Di rumah ibu hanya > untuk anak-anak perempuan yang menyiapkan diri untuk membina rumah tangga > penanti suami jika waktu berumah tangga tiba nanti. Di surau, mereka tidur > bersama sekenanya. Tidak ada kasur dan bantalpun tak mesti ada. Tikar yang > tergulung biasa dipakai keganti bantal. Mereka biasa tidur bergelung dengan > berkelumunkan hanya kain sarung sehelai. Di surau itulah mereka mendapat > pengajaran dari orang tua-tua, bagaimana menempuh hidup ini yang semua harus > dimulai dari bawah, dari tiada menjadi ada. > Di surau mereka mendapatkan latihan berkata-kata, dari hanya pandai menyimak > ke pandai berkata-kata yang enak dan menyenangkan. Makanya seni berpidato, > berpersembahan, berpepatah-petitih, bersilat-lidah, diajarkan di surau. Dan > tentu saja juga membentuk kebiasaan dari selama ini biasa bangun pagi, > sekarang, dengan tidur di surau, bangun subuh, dan shalat tidak lagi > sendiri-sendiri tetapi berjamaah. Dan merekapun diajar bersilat bela diri > untuk siap menangkis apapun yang akan terjadi dalam hidup ini. Sebagai > perintang hari merekapun diajar berandai, bersalung, berdendang, berkecapi, > entah apa lagi. > * > Tetapi sayang, sekarang, semua itu telah berlalu. Berhentinyapun juga > tiba-tiba. Siapa mengira, dengan dijawabnya tantangan PRRI tidak dengan mulut > dengan berembuk baik-baik, tetapi dengan mulut meriam yang dimuntahkan oleh > antek-antek Sukarno dari arah laut, di akhir 50an, semua menjadi berubah, dan > berubah tiba-tiba. Karena pemuda yang dicari oleh pasukan pusat itu, yang > rata-rata turut PRRI, tidurnya di surau, maka dengan sekali siraman senjata > yang diberondongkan dari tangan itu semua menjadi tersungkur. Dan dampaknya > luar biasa sekali, sehingga sejak itu tidak ada lagi pemuda yang tidur di > surau, dan tidak sampai sekarang, sampai hari ini. Paling-paling yang tidur > di surau, garin dan satu-dua laki-laki baya yang tidak lagi punya rumah bini > untuk kembali. > Anak-anak muda lelaki Minang yang tinggal di kampung sekarang rata-rata > tinggal di rumah ibu, di bilik kosong ataupun di tengah rumah berbaur dengan > anak-anak perempuan yang akan beranjak gedang. Sifat kelaki-lakiannya > sendirinya menurun dan sifat keperempuanannya kadang-kadang muncul dan > menyolok pula. Merekapun pandai pula bersolek berhias diri. Yang hilang > adalah sifat jantan kelaki-lakiannya itu. Karenanya jarang sesudah itu kita > melihat laki-laki Minang yang tampil ke depan seperti masa-masa sebelumnya. > Sebelumnya, hampir dapat dipastikan, semua laki-laki Minang yang tampil > menonjol di forum nasional di bidang apapun -- sebutlah siapapun -- adalah > hasil dari didikan dan tempaan surau. Karena di surau itulah mereka dididik > dan dilatih untuk menjadi ‘orang.’ > Bagaimanapun, yang arus merantau jalan terus. Bahkan dengan dan karena > peristiwa PRRI itu pula sekarang yang merantau tidak hanya anak laki-laki > tetapi juga perempuan. Dan bahkan ikut sekeluarga. Kampung tidak lagi aman. > Hidup tersiksa. Susah cari makan. Tidak ada lagi kebebasan dan kemerdekaan > itu betul. Makanya mereka berbondong-bondong pergi merantau, kemanapun, > terutama ke kota-kota di Sumatera lainnya dan ke Jawa di samping juga ke > Malaysia dan Singapura dan Nusantara lainnya. Ibaratnya, takut di bedil, lari > ke pangkal bedil. Dampak PRRI telah berhasil menciptakan eksodus migrasi > besar-besaran yang tiada duanya pernah terjadi dalam sejarah merantau di > Minangkabau. > Pergeseran sistem ekonomi dari bertani dan berladang di hamparan terbuka ke > non-pertanian berbagai rupa, sementara itu juga terjadi. Bumi Sumatera Barat > kebetulan dilalui oleh jejeran Bukit Barisan yang tidak menyediakan lahan > datar yang cukup luas untuk pertanian dan perladangan. Tidak ada 10 %nya. > Karenanya, dengan pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat, > sendirinya ada yang merelakan diri untuk bergerak di luar bidang pertanian, > khususnya di bidang perniagaan dan perdagangan di pasar-pasar di kota-kota, > di mana saja. Sekarang, sebutlah, kota mana di Indonesia ini yang tak ada > orang Minangnya di pasar-pasar. Hanya saja, seperti selorohan ‘rang sumando > kita, JK, yang sekarang jadi Wapres lagi, orang Minang biasanya nongol duluan > 3 meter di depan toko rang Cina di K5. > Kemerdekaan, bagaimanapun, tentu saja membawa perubahan yang berarti dari > segi peluang untuk berpendidikan. Dari hanya sekitar 3-5 % dari penduduk > pribumi di zaman kolonial yang pandai membaca dan menulis, sekarang, > resminya, sudah hampir semua tahu tulis-baca -- walau hanya sekadar tahu. > Tapi rata-rata anak-anak kita memang sudah hampir semua masuk sekolah, dari > yang rendah di dasarnya, ke yang menengah sampai ke yang tinggi sekalipun. > Dan Sumbar termasuk yang pandai memanfaatkannya. Karena itu pula pendidikan > telah menjadi faktor pendorong utama pula untuk pergi merantau dengan tujuan > untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi di luar Sumbar. Kendati > perguruan tinggi dan universitas tidak kurangnya ada di Sumbar, tapi > keinginan untuk melanjutkan sekolah ke luar, terutama ke Jawa, tak > kurang-kurangnya. > Hasilnya sendirinya kita lihat dari bertebarannya orang Minang yang > berpendidikan yang bekerja di berbagai bidang, terutama sebagai pegawai > negeri dan juga swasta, di mana saja. Karena pilihannya untuk menjadi pegawai > itu pula yang utama, yang menyebabkan orang Minang tidak banyak lagi > ditemukan di bidang swasta-usaha sendiri. Pada hal dahulunya, sampai > seperempat atau bahkan sepertiga dari jumlah anggota parlemen di pusat > berdarah Minang, walau mereka mewakili daerah yang tersebar di berbagai > daerah di Indonesia ini. Walaupun ada tetapi di bidang yang tadinya orang > Minang menonjol dan kesohor, baik sebagai penulis, pemikir, pendidik, > wartawan, da’i dan ulama, politisi, cerdik-pandai, dsb, sekarang jumlah dan > perentasenya sudah sangat jauh menurun. Diperlukan lompatan besar kembali > untuk mengulang marwah Minang sebagai kelompok pemimpin bangsa di berbagai > bidang kegiatan yang pernah tersohor itu. > Sejak PRRI di akhir 50an ke mari, Sumatera Barat telah menjadi ekstensi dari > sistem yang berlaku di NKRI, yang sifatnya birokratik, sentralistik, > sentripetalistik, feodalistik, borjuistik, dan apa lagi. Sementara, > dahulunya, orang Minang adalah penggerak dari sistem yang berlaku sebaliknya. > Mereka menjadi pelopor dari cita demokrasi, kebersamaan, egaliterianisme, > desentralisme, sentrifugalisme, dan apa lagi pula, seperti yang dulu > disuarakan oleh tokoh-tokohnya di tingkat pusat dan di manapun. Sekarang, di > Sumatera Barat sendiri sudah tidak kedengaran dan tidak terasa lagi yang > seperti itu. Paling kalau disampaikan hanya untuk didendangkan, tetapi tidak > diamalkan, karena sistem birokrasi kenegaraannya sudah sama seperti di Jawa. > Karenanya petaka-petaka sosial seperti korupsi, kolusi dan nepotisme tak > kurangnya juga berlaku di Sumbar yang merembet melalui jalur birokrasi dari > atas sampai ke bawah. > * > Merantau yang berlanjut ke zaman sekarang yang hilang dan mulai tak dirasakan > lagi adalah zest, getaran semangat atau ‘singanga’nya itu. Anak muda dan > siapapun dalam keluarga yang pergi dari rumah, entah ke mana dan untuk tujuan > apa, tak lagi dilepas dengan isakan tangis serta doa bersama dari orang tua, > mamak dan sumando, dengan makan bersama melepas anak untuk pergi jauh menuju > ‘rantau bertuah’ itu. > Dikatakan, a.l. ... Kalau anak pergi berjalan, ibu cari dunsanak cari, induk > semang cari dahulu. Mandi di hilir-hilir, menyauk di bawah-bawah. Dima bumi > dipijak, di sinan langik dijunjuang... Namun, nan di urang diiyokan, nan di > awak dilalukan juo. Takuruang nak di lua, taimpik nak di ateh. Dst, dst. Kata > bersayap! > Sekarang ini, kalau mau pergi, pergilah. Mau lama atau sebentar, mau cari > kerja, cari sekolah, atau hanya sekadar jalan-jalan, pergilah. Apalagi > sekarang mau kemanapun jalannya lempang. Sistem transportasinya mulus. Jika > perlu orangpun bisa balik hari dari kampung ke rantau ke manapun. Yang hilang > dari merantau memang adalah singanganya itu -- karena dahulu orang pergi > merantau bersakit-sakit. > Yang hilang juga dalam rumah tangga di Minang itu adalah keutuhan keluarga, > kekompakan, keseia-sekataan, yang semua dimulai dengan ‘makan bajamba’, > memperkatakan apapun yang mau dikatakan dan dimusyawarahkan. Walau dalam suku > atau kaum masih ada datuk dan penghulunya, tapi diapun, karena tak terikat > lagi dengan tanah tempat dia dulu biasa ikut pergi ke sawah, ikut menyabit > dan mengirik padi secara bersama, dia lebih banyak absennya dari ikut hadir > dalam keluarga. Apalagi, sekarang juga, tak sedikit penghulu ninik-mamak yang > juga ikut merantau. Tidak sedikit ninik mamak yang juga jadi sarjana, jadi > pamong di pemerintahan, jadi pengusaha ataupun berjualan di kaki lima, di > rantau, di mana saja, sama seperti kemenakannya pula. Diapun sekarang lebih > mengutamakan kepentingan anak-isteri daripada kemenakan yang bertebaran yang > di bawah lutut itu. > Yang terjadi lalu adalah pergeseran dari struktur keluarga, dari matriarki ke > patriarki, walau matrilininya belum berubah. Walau bapak masih tinggal > bersama dengan ibu di rumah keluarga ibu, tetapi sistem pengambilan keputusan > telah bergusur dari mamak ke bapak, terutama yang berkaitan dengan urusan > internal keluarga batih: ayah, ibu dan anak-anak. > Karenanya, di Sumatera Barat pun, bagi yang tingkat ekonominya menengah ke > atas, dari mulai mendirikan rumah tangga sudah terpasang niat sekali untuk > mendirikan atau mencari rumah sendiri, khususnya di kota. Rumah keluarga > batih yang dibangun atau disewa di kota di rantau secara psikologis-emosional > suka mengganjal karena posisi bapak di rumah itu tidak lagi sebagai sumando > tetapi kepala keluarga. Dan sistemnya beranjak dari matriarki ke patriarki -- > walau hubungan sosial secara tradisional-matrilineal dengan kampung tidak > berubah. Yang suami tiap kali pulang kampung ke rumah isteri tetap > diperlakukan sebagai sumando. > Pola merantau karenanya juga ikut berubah, dari yang tadinya berupa rite de > passage, sekarang karena kebutuhan hidup karena tidak lagi banyak yang > tersedia di kampung kalau tidak pergi merantau. Tuntutan ekonomi, pendidikan, > tantangan kehidupan dunia moderen, dan banyak lagi, telah mendorong orang > Minang untuk lebih banyak lagi pergi merantau. Bisa dipastikan bahwa yang > merantau sekarang ke mana-mana jauh lebih banyak jumlahnya dari yang tetap > bertahan di rumah, di kampung halaman, di Minangkabau. Orang Minang yang > merantau karenanya punya dua dunia, dunia di rantau dan dunia di kampung. > Hanya saja, sampai berubah polanya menjadi rantau Cina, yang dunia kampung > benar-benar ditinggalkan ...; itu yang belum. Walau dalam kenyataannya secara > fisik memang tak pernah atau jarang pulang, tetapi kontak sosial dan kontak > batin tetap dan tetap dipelihara, sekurangnya sampai peralihan generasi > terjadi. Yang menarik juga, sebagai produk dari budaya merantau ini, banyak > sudah koloni Minang yang bertebaran di mana-mana, di Sumatera sendiri, di > Nusantara, di Malaysia dan di Asia Tenggara ini. Dan di sana mereka > menanamkan benih budaya yang mereka bawa dari kampung, yaitu watak dan > sifat-sifat kebersamaan, egaliterianisme, demokrasi, duduk sama rendah, tegak > sama tinggi, dsb, dengan filosofi hidup: Adat Bersendi Syarak, Syarak > Bersendi Kitabullah (ABS-SBK), Syarak Mengata, Adat Memakai. > > *** > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim > email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
