JAKARTA -- Busra calon Gubernur Sumatera Barat jelang Pimilihan Umum Kepala
Daerah (Pilkada) serentak Desember 2015 terus bermunculan. Selain nama-nama
yang sudah santer dibicarakan dan dimunculkan oleh daerah, dari Jakarta
(kalangan perantau) pun mulai memunculkan sejumlah nama. Salah satunya
adalah nama mantan Dirjen Otonomi Daerah, Prof. Djohermansyah Djohan, MA,
yang difavoritkan untuk memimpin Ranah Minang lima tahun ke depan.

Secara spontan, Gubernur Sumbar 1987-1997 dan Menteri Agraria/Kepala BPN
Kabinet Reformasi, Drs. Hasan Basri Durin ketika dihubungi pekan lalu,
menyebut nama Djohermansyah Djohan sebagai salah satu figur yang dianggap
mampu menjawab persoalan Sumatera Barat terkini dalam pengelolaan tata
pemerintahan, termasuk menghadapi tantangan masa depan dengan akan
berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Menurut Hasan, persoalan Sumbar saat ini adalah tata kelola pemerintahan
yang mengalami kemunduran, soal kemasyarakatan dan budaya, termasuk
hubungan ranah dengan rantau, dan tantangan global dengan akan
diberlakukannya MEA 2015. Karena itu, Hasan menyebut tiga nama yang pantas
didukung semua pihak untuk menjadi Gubernur, yaitu mantan Direktur Jenderal
Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri, Djohermansyah Djohan, atau dua
nama lainnya, masing-masing mantan Walikota Padang Syahrul Udjud dan mantan
Ketua Kadinda Sumbar H. Basril Djabar.

“Dari nama-nama yang sudah mengapung, saya lebih melihat tiga figur itu
yang akan mampu menjawab kondisi terkini dan tantangan Sumatera Barat.
Tokoh Minang lainnya di Jakarta juga saya dengar begitu,” kata Hasan
menegaskan.

Ketika disebutkan bahwa partai lebih berperan dalam menentukan siapa yang
akan menjadi calon kepala daerah, Hasan tidak menampiknya. Namun mantan
pamong karier ini mengingatkan ego partai jangan sampai mengorbankan
kepentingan daerah. “Lihat kondisi Sumbar yang sedang terperosok jauh
ketimbang daerah tetangga dan provinsi lain di Indonesia. Saya pikir,
Sumbar sangat butuh seorang pemimpin yang memahami persoalan mendasar
masyarakat saat ini dan tantangan Sumatera Barat ke depan, bukan sekedar
omongan saja,” kata Gubernur yang berhasil menghantarkan Sumbar meraih
penghargaan Prajojana Parasamnya Purnakarya Nugraha itu.

Dimunculkannya nama Djohermansyah Djohan adalah karena beliau adalah
seorang ahli pemerintahan yang diharapkan mampu menata kembali pemerintahan
di Ranah Minang yang sedang terpuruk. Sedang nama Syahrul Udjud dan Basril
Djabar, menurut Hasan Basri Durin adalah  karena kedua tokoh ini lebih
memahami kondisi masyarakat yang perlu kembali dibangkitkan untuk mampu
menghadapi tantangan.

“Saya tidak melihat dari sisi umur, karena mereka sudah di atas kepala
enam, tetapi kita harus realistis melihat kebutuhan seorang pemimpin.
Seorang Gubernur di Sumbar itu bukan hanya menjadi sekedar bisa menjadi
pemimpin untuk orang Sumatera Barat, tetapi adalah presidennya orang Minang
se dunia,” kata Hasan.

*Arsitek Otonomi Daerah*

Prof. DR. Djohermansyah Djohan, MA, bukan hanya seorang ahli pemerintahan
sebagai menjadi guru besar di Institut Pemerintahan  Dalam Negeri (IPDN)
yang sekaligus sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi
Kepamongprajaan dan merupakan lulusan terbaik sarjana IIP tahun 1984. Akan
tetapi, selain merupakan Ketua Tim sejumlah UU, seperti UU Pemda No.23
Tahun 2014, UU Pilkada, RUU Daerah Otonomi Baru, dan RUU Percepatan
Pembangunan Daerah Kepulauan, Djohermansyah Djohan juga pernah menjadi
Deputi Sekretaris Wapres Bidang Politik (2005-2010) dan Direktur Jenderal
Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (2010-2014), dan saat ini masih
menjadi Anggota Panitia Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Kementerian Dalam
Negeri. Djo –demikian panggilan akrab Djohermasyah Djohan—merupakan salah
seorang arsitek Otonomi Daerah.

Putra Kelahiran Padang, 21 Desember 1954 ini, pernah ditunjuk oleh Mengadri
Gamawan Fauzi menjadi Pejabat Gubernur Riau dan sukses menyelenggarakan
pemilihan gubenur pada akhir 2013 silam. Sebelumnya, Djohermansyah Djohan
pernah bertugas di Padangpanjang sebagai Kepala Seksi Perekonomian Desa
(1978-1981), kemudian pengabdi di APDN Bukittingi selebum akhirnya diangkat
menjadi Kepala Bagian Penerangan dan Pemberitaan, Biro Humas Kantor
Gubernur Sumbar (1988-1989). (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke