Pelajar Berbuat Mesum di Gedung Parkir Bukittinggi
<http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/42043-pelajar-berbuat-mesum-di-gedung-parkir-bukittinggi>[image:
PDF]
<http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/42043-pelajar-berbuat-mesum-di-gedung-parkir-bukittinggi?format=pdf>[image:
Cetak]
<http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/42043-pelajar-berbuat-mesum-di-gedung-parkir-bukittinggi?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>[image:
Surel]
<http://harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=e7bbd71fb6df154c66fb57580609fbff765beb12>Selasa,
28 Juli 2015 03:04

*HARI PERTAMA SEKOLAH*

BUKITTINGGI, HALUAN — Hari pertama masuk sekolah, sepasang pelajar di Kota
Bukittinggi digelandang ke Mako Satpol PP Bukittinggi, karena tertangkap
tangan telah berbuat mesum dalam mobil di kawasan Gedung Parkir Kota
Bukittinggi.

Mereka yang ditangkap itu adalah MR (16), yang masih berstatus pelajar di
salah satu SMA swasta di Kota Bukittinggi, serta FH (16) yang juga
berstatus pelajar di salah satu SMA negeri di Kota Bukittinggi.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada Senin (27/7) sekitar pukul 15.00 WIB.
Saat kejadian, seorang petugas gedung parkir sedang memantau ke­amanan
kemdaraan yang terparkir melalui kamera cctv atau kamera pengintai.

Namun saat melihat ada mobil sedan yang tampak bergoyang, petugas itu lalu
mendatangi mobil yang dimaksud untuk mengetahui apa yang terjadi dalam
mobil tersebut.

Petugas parkir itu terkejut, karena ketika melihat ke dalam mobil, sepasang
remaja yang sedang berpakaian seragam sekolah tampak sedang indehoi dalam
mobil.

Atas kejadian itu, petugas parkir langsung menghubungi petugas Satpol PP
dan tak lama kemudian petugas Satpol lalu menggelandang sepasang pelajar
itu ke Satpol PP untuk dimintai keterangan dan mempertanggungjawabkan
perbuatannya itu. Pasangan ini terancam dike­luarkan dari sekolah, karena
dinilai telah melakukan tindakan asusila yang memalukan dunia pendidikan di
Kota Bukittinggi.

Kasi Pelindungan Masyarakat (linmas) Satpol PP Bukittinggi, Risfatoni
mengatakan, sepasang pelaku mesum itu telah diperbolehkan pulang, setelah
diberi surat peringatan dan membuat perjanjian untuk tidak mengulanginya
kembali. Menurutnya, kedua orangtua pelaku juga telah dipanggil untuk
menjemput anaknya masing-masing.

“HP anak-anak sekarang sudah canggih, jadi bisa saja mereka lepas kontrol
dan mengakses konten negatif di internet. Ini perlu menjadi perhatian
orangtua,” tuturnya.*(h/wan)*

2015-07-24 7:02 GMT+07:00 Sjamsir Sjarif <[email protected]>:

> Berita Haluan di bawah ini perlu mendapat sorotan dan penganggulangan
> moral secara menyeluruh yang sangat berat untuk keselamatan Kampuang
> Halaman. Caruik Maruik di Ranah nan Kito Cintoi ko tidak saja terhenti di
> Tempat-tempat Wisata, tetapi tampaknya sudah meraja-lela ke mana-mana
> sehingga orang sudah terbiasa mengalami kepahitan-kepahitan telinga, mata,
> dan mata uang hampir di segala pelosok. Kata-kata yang dikeluarkan di
> tempat umum dan cara-cara keramahtamahan sudah jauh negatif; sering kita
> dengar kata-kata kotor diucapkan begitu saja di atas angkutan-angkutan dan
> tempat-tempat  umum dengan karengkang-karengkang yang memalakkan.
>
> Kalau Kerusakan Moral dan Caruik Maruik di Ranah nan Kito Cintoi ko tidak
> ditanggulangi secara serius, kita tidak tahu ke arah mana Budaya Minang
> yang diagung-agungkan selama ini akan mengarah dan menjerumus ke Jurang
> Kutukan tiada batas ...
>
> -- Nyiak Sunguik.
>
>
> Carut Marut Pariwisata Sumbar  [image: PDF]
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/haluan-kita/41955-carut-marut-pariwisata-sumbar?format=pdf>
>   [image:
> Cetak]
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/haluan-kita/41955-carut-marut-pariwisata-sumbar?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
>   [image:
> Surel]
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=10a71ea6d056ac711da15c2a5e299b8cb2739f1c>
>    Jumat,
> 24 Juli 2015 02:31
>
> *Perilaku* buruk sejumlah masyarakat di sejumlah tempat wisata di Sumbar
> semakin menjadi-jadi dan terus jadi pergunjingan wisatawan lokal, domestik
> dan asing. Bahkan kon­disi ini juga mendapat respon dari Menteri
> Peren­ca­naan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Peren­canaan Pembangunan
> Nasional (Bappenas), Adrinof Chaniago.
>
> Dalam sebuah kesempatan, Menteri Adrinof Chaniago pernah mendapati
> langsung perilaku buruk itu di sebuah objek wisata di Padang. Adrinof
> prihatin dengan perilaku sejumlah masyarakat di tanah kelahi­rannya. Bila
> tidak dicegah dan terus berkembang biak, kelak perilaku buruk tersebut akan
> menenggalamkan Sumbar sebagai salah satu daerah kunjungan wisata nasional
> dan internasional.
>
> Perilaku buruk di lokasi wisata itu amat kompleks. Mulai dari tarif masuk
> objek wisata yang tanpa tiket dan tidak jelas kepastian tarif resminya,
> biaya pungutan parkir yang selangit, harga atau tagihan menu makanan yang
> kelewat mahal, banyaknya pengamen dan pedagang asongan yang mengganggu
> kenyamanan wisatawan hingga rendahnya keramahtamahan pengelola objek wisata
> terhadap wisatawan.
>
> Untuk biaya/tarif masuk objek wisata penjaga menetapkan harga
> sesuka-sukanya. Tarif tergantung plat nomor polisi mobil/sepeda motor. Jika
> berplat nomor polisi luar Sumbar, alias selain BA, tariff yang dikenakan
> biasanya lebih tinggi. Karena biaya yang diminta lebih tinggi dari
> ketentuan resmi, maka penjaga pos masuk pun tidak lagi memperlihatkan tiket
> dan beralasan tiket  lagi dalam proses pencetakan dan lain sebagainya.
>
> Sedangkan tarif/biaya parkir juga tidak jauh beda. Jika plat nomor polisi
> kendaraan bermotor (mobil/sepeda motor) itu selain BA maka biaya yang
> dikenakan lebih besar. Di seputaran lokasi Jam Gadang dan Pasar Atas
> Bukittinggi, selama suasana Hari Raya Idul Fitri petugas parkir di situ
> meminta biaya hingga Rp20.000 per mobil. Untuk mini bus dan bus tarifnya
> lebih tinggi lagi sampai mencapai Rp50.000 per bus. Karena tidak ada
> pilihan akhirnya pengendara/wisatawan pasrah dan tetap memberikan bayaran
> sebagaimana yang diminta.
>
> Perilaku buruk lainnya terjadi di rumah makan/restoran/warung-warung
> makanan. Sebagian dari mereka mengenakan tariff menu di luar kelaziman.
> Biaya makan dua orang dengan menu yang rasanya sangat-sangat sederhana,
> ternyata jumlah tagihannya sampai mencapai Rp150.000, bahkan ada yang
> sampai Rp200.000. Padahal lazimnya hanya sekitar Rp50.000-an saja. Kondisi
> seperti ini nyaris terjadi di banyak kota-kabupaten yang punya objek wisata
> di Sumbar. Wisatawan merasa dikibuli, diperas atau bahasa Minangnya, merasa 
> *dipakuak.
> *
>
> Di beberapa tempat wisata, kenyamanan wisatawan juga terganggu oleh
> banyaknya jumlah pengamen, pedagang asongan dan pengemis. Pengamen tiba
> silih berganti. Dalam 10 menit datang pengamen, pedagang asongan dan
> pengemis yang berbeda. Mereka tak mau beranjak pergi sebelum diberi uang,
> atau dibeli produk yang ditaawarkan, meskipun sebetulnya  produk itu tidak
> diperlukan sama sekali. Tentu saja kenyamanan wisatawan menjadi sangat
> terganggu.
>
> Perilaku buruk sejumlah masyarakat di lokasi wisata jangan dibiarkan terus
> berkembang. Karena hal itu menjadi ancaman serius bagi kepariwisataan.
> Orang-orang atau wisatawan yang merasa kecewa dengan berbagai layanan di
> lokasi/objek pariwisata nanti akan melakukan kampanye negative gratis dari
> mulut ke mulut ataupun melalui media social facebook (FB), Twetter,
> Whatshap   (WA) dan lain sebagainya.
>
> Dari sederet hal yang menyebabkan maraknya perilaku buruk di lokasi objek
> wisata di Sumbar, penyebab lainnya yang tidak kalah menentukan adalah soal
> tingginya takaran sifat permisif kita. Banyak ketimpangan soal mahalnya
> ongkos parkir, tapi walikota/kapolres/Dandim/DPRD/tokoh masyarakat
> membiarkannya begitu saja. Mereka tidak pernah serius menindaknya. Begitu
> pula terhadap pungutan biaya masuk ke lokasi wisata yang dipungut seenaknya
> juga dibiarkan berlangsung terus-menerus.
>
> Terhadap pemilik/pengelola rumah makan/restoran/kedai-kedai makanan di
> lokasi objek   wisata yang menetapkan harga tinggi, jauh  di luar batas
> kelaziman juga tidak pernah ditindak dengan sungguh-sungguh. Begitu pula
> terhadap pengamen, pedagang asongan dan pengemis dan acap kali mengganggu
> kenyamanan wisatawan juga tidak ditindak dengan sanksi yang memberikan efek
> jera bagi yang bersangkutan dan juga bagi pihak lainnya. Sehingga
> masalahnya tidak terus berulang dari tahun ke tahun. Pemerintah jangan
> terlalu permisif bahkan tidak berdaya menghadapi kebiasaan buruk
> masyarakatnya. ****
>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke