*Menarik terminology yang P Mochtar gunakan, **“**supremasi** kebenaran *
*dan** keadilan”.*



*Apakah kedua kata tersebut, yakni “**kebenaran & keadilan**” betul-betul
sudah dimengerti dengan baik terutama oleh para “ahli” ilmu-ilmu sosial,
terlebih oleh para “pakar” hukum yang menyandang gelar ningrat, “penegak
keadilan”?*



*Kita agaknya perlu berbangga hati jika seandainya jawabannya adalah
“sudah”, karena itu berarti bahwa sudah hidup dalam “sistem hukum yang
adil, sistem bisnis dan ekonomi yang adil, sistem politik yang adil, sistem
pendidikan yang adil, dsb dsb”. Alhamdulillah kalau memang lah baitu…*



*Namun, jika sebenarnya jawabannya “belum” atau malah “kata-kata itu tidak
dimengerti sama sekali”, apa maksud P Mochtar sebenarnya ingin mengatakan
bahwa kita hidup dalam “sistem hukum yang tidak adil, sistem bisnis dan
ekonomi yang tidak adil, sistem politik yang tidak adil, sistem pendidikan
yang tidak adil dsb dsb?”. Atau dalam, “sistem hukum yang tidak benar,
sistem bisnis dan ekonomi yang tidak benar, sistem politik yang tidak
benar, sistem pendidikan yang tidak benar, dsb dsb”.*



*Mohon pencerahan P Mochtar lebih lanjut!*

*Terima kasih!*



*Salam Z*

2015-08-27 19:09 GMT+07:00 Mochtar Naim <[email protected]>:

>
> *ISLAM, MASYARAKAT ISLAM, NEGARA ISLAM*
> *Mochtar Naim*
> *27/08/2015*
>
> *I*
> *SLAM, saat ini, muncul sebagai agama terbesar dengan penganut terbanyak
> di dunia. Islam sebagai agama tidak hanya mengatur tentang hubungan antara
> manusia dengan Tuhannya, tetapi juga antara sesama manusia, baik antara
> sesama muslim maupun juga dengan bukan muslim. Islam dalam pengaturannya
> bersifat kaffah-menyeluruh. Tidak ada yang tidak diatur oleh Islam, dunia
> dan akhirat.*
> *            Masyarakat Islam, sebaliknya, terbagi-bagi, tergantung kepada
> posisi dan kekuatannya dalam masyarakat dalam kontur sejarah, baik internal
> maupun eksternal. Ketika dia dalam keadaan lemah dan bahkan terjepit dalam
> kontur sejarah itu, dia terjajah dan di bawah kendali kekuatan eksternal.
> Dari tiga kali gelombang peradaban yang telah dan sedang dia lalui,
> gelombang pertama yang berjalan selama masa 7 abad, yakni dari lahirnya
> Islam di padang pasir Sahara di Saudi Arabia di abad ke 6 M, sampai ke
> zenitnya di abad ke 14, lalu menurun selama 7 abad pula pada gelombang
> kedua dengan tenggelamnya seluruh dunia Islam ke bawah penjajahan Barat
> yang Keristen di abad ke 14, dengan rubuhnya Baghdad dan Kordoba, yang
> berlanjut sampai selesainya Perang Dunia Kedua di pertengahan abad ke 20.
> Sekarang sejak terbebaskannya dunia dan masyarakat Islam sesudah Perang
> Dunia Kedua itu, masyarakat dan ummat Islam sedang berada pada awal dari
> periode gelombang ketiga, yaitu bangkitnya kembali ummat Islam, yang
> diperkirakan juga akan berlanjut selama 7 abad ke depan pula.*
> *            Tanda-tanda kebangkitan kembali Dunia Islam itu, tidak hanya
> karena munculnya Islam sebagai agama terbesar dengan penganut dalam jumlah
> terbesar itu, tetapi juga dengan tanda-tanda yang makin jelas dan makin
> menonjol. Sampai dengan pergantian abad, dari abad ke 20 yl ke abad ke 21
> sekarang ini, wanita muslimah sedikit yang memakai pakaian jilbab, seperti
> yang diajarkan oleh Islam itu. Tetapi sekarang, hanya dalam jangka waktu
> dua dekade saja, mayoritas terbesar dari wanita Islam, di manapun, telah
> memakai pakaian muslimah, berjilbab. *
> *Dengan pergantian pakaian, maka berganti pula yang lain-lainnya. Karena
> yang berpakaian muslimah tidak hanya perempuan dewasa, tetapi juga
> anak-anak wanita yang masih bersekolah dari SD ke SMP, SMA dan PT, terjadi
> pula pergantian sistem pendidikan.  Dari yang tadinya bagaikan rel kereta
> api yang dua sejalan tapi tak pernah bertemu, sekarang mulai menyatu antara
> sistem pendidikan umum yang sekuler dengan sistem pendidikan agama yang
> religius. Sekarang praktis tidak ada lagi sistem pendidikan yang
> benar-benar terpisah, di mana sekolah umum hanya mengajarkan mata pelajaran
> yang umum saja, dan sekolah agama, seperti pesantren, madrasah, dsb, hanya
> agama saja. *
> *Di bidang ekonomi, siapa mengira jika sistem ekonomi syariah, dan
> khususnya sistem perbankan syariah, telah menjalar ke mana-mana, praktis ke
> seluruh dunia. Di negara-negara bekas penjajah dunia Islam di Eropah,
> sistem ekonomi perbankan syariah berkembang pesat dan berjalan paralel
> dengan sistem ekonomi perbankan liberal-materialistis-kapitalistis. Hal
> yang sama juga terjadi di negara-negara Islam sendiri, tidak kurangnya juga
> di Indonesia. Di Indonesia, praktis semua bank, baik bank-bank negara
> maupun bank-bank swasta milik siapapun, di samping bank konvensional yang
> telah ada selama ini, juga muncul berdampingan bank-bank syariah. Karena
> mayoritas penduduk adalah muslim, wajar kalau sistem ekonomi syariah juga
> akhirnya memasuki bidang-bidang yang selama ini tak termasuki. Hubungan
> kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan di bidang apapun
> berangsur-angsur menggantikan hubungan yang timpang selama ini di mana yang
> kuat menguasai yang lemah. *
> *Demikian juga di bidang politik, sosial, budaya, dsb. Sistem demokrasi
> ala Barat di mana yang kuat menguasai yang lemah, dan yang minoritas yang
> kuat menguasai yang mayoritas yang lemah, karena kiblatnya pada supremasi
> kekuasaan itu, sekarang secara berangsur-angsur beralih kepada pentadbiran
> ‘musyawarah’ di mana supremasi kekuasaan beralih kepada supremasi kebenaran
> dan keadilan – seperti yang diajarkan oleh Islam. *
> *Bagaimanapun, peralihan-peralihan yang sifatnya fundamental ini
> memerlukan waktu dan peluang yang panjang ke depan. Dalam situasi seperti
> ini kita melihat betapa kelompok muslim yang meski dalam jumlah merupakan
> mayoritas, tetapi dalam kekuatan dan kekuasaan, seperti yang kita lihat
> sekarang, mereka bagai minoritas.  Seperti yang Hamka bilang, mereka
> bagaikan orang asing atau tamu di rumah sendiri.*
> *Dalam masa yang mengganjil seperti sekarang ini, kita lihat, bagaimana
> dari kelompok muslim sendiri muncul ide-ide seperti yang diungkapkan oleh
> dua kelompok organisasi besar NU dan Muhammadiyah serta gembong-gembong dan
> partai-partai yang berkiblat ke sana. Maka muncullah ide: “Islam
> Nusantara,” “Islam liberal,” “Islam terbuka,” “Islam tengah-tengah,” “Islam
> Damai,” dsb. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghindarkan diri dari
> tuduhan yang biasa dialamatkan kepada kelompok radikal yang ingin
> mendirikan Negara Islam di bumi Nusantara ini, dengan dalih bahwa kelompok
> muslim merupakan mayoritas terbesar di NKRI ini, sementara Islam
> mengharuskan adanya Negara Islam dalam masyarakat yang mayoritas
> penduduknya beragama Islam. Malaysia yang jumlah penduduk muslimnya hanya
> lebih sedikit dari separuh saja sudah menyatakan diri sebagai Negara Islam,
> apatah lagi Indonesia yang 80 % penduduknya beragama Islam.*
> *Diskrepansi seperti ini wajar terjadi karena kelompok Islam bukan saja
> terpecah-pecah tetapi juga karena mereka kendati mayoritas tetapi minoritas
> dalam kekuatan dan kekuasaan, baik di ekonomi maupun politik, dsb. Namun ke
> depan, dalam era gelombang ketiga peradaban Islam sekarang yang baru
> dimulai, tentu banyak halangan dan hambatan yang akan dilalui dan dihadapi.
> Secara paradigmatik, bagaimanapun, sudah bisa diduga dan diproyeksikan
> bagaimana perkembangannya ke masa depan. ****
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke