Terkait Kebakaran Hutan, Presiden Perlu Tegur LSM Penghasut
Minggu, 25 Oktober 2015 20:28
Terkait Kebakaran Hutan, Presiden Perlu Tegur LSM Penghasut
KOMPAS.com/Indra Akuntono
Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo perlu mengingatkan
lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk lebih bermartabat dalam
menyampaikan pesan lingkungan di Indonesia. Pasalnya, selama ini, LSM
lingkungan hanya mempertontonkan pola berfikir dan bertindak hipokrit.

“Mereka (LSM) hanya menjadi pemicu kekacauan berfikir dan penghasut
kerusuhan ditengah masyarakat yang sedang kebingungan menghadapi
bencana kebakaran hutan yang belum teratasi hingga kini,” kata
Pengamat Lingkungan dan Kehutanan Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc di
Jakarta, Minggu (25/10/2015).

Pernyataan senada disampaikan anggota Komisi IV Fraksi Golkar Firman
Subagyo. Firman berpendapat, kegagalan pengelolaan kolaboratif Taman
Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau dan Tanjung Puting di Kalimantan
oleh WWF sudah cukup menjadi bukti buruknya kinerja LSM di Indonesia.
Ricky menambahkan, dalam konteks bencana kebakaran hutan yang sedang
melanda Indonesia, sebaiknya para "pahlawan-hipokrit" tersebut harus
mundur dari panggung manapun karena hanya memperkeruh suasana. Bahkan
Presiden perlu mengingatkan birokratnya berhati-hati terhadap bisikan
dan segera keluar dari lingkaran setan pemikiran dan tekanan para
"pahlawan-hipokrit" itu.

Ricky yang juga Ketua Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata
dan Jasa Lingkungan Fakultas Kehutanan IPB mengungkapkan, persoalan
terbesar LSM di Indonesia yaitu soal kecerdasan dan ketulusan mereka
dalam berjuang.“Adalah akan teruji jika mereka bisa “mencabut rambut
dalam tepung"; rambutnya harus tidak boleh putus dan tepungnya harus
tidak boleh menjadi terburai berantakan.”

Tanpa ketulusan, jangan salahkan jika ada anak bangsa menempatkan LSM
lingkungan sebagai pengkhianat bangsa yang menjual isu lingkungan dan
kemiskinan untuk memperkaya diri dan tidak memperhatikan kepentingan
bangsa yang lebih besar.

Menurut dia, sikap hipokrit terlihat ketika kebanyak LSM hanya
menampilkan data yang mereka anggap sahih untuk menyuarakan
kepentingan para “godfather” yang menyusui kehidupan mereka sejak
lebih 20 tahun lalu.

Di sisi lain, kita juga perlu mempertanyakan dan meminta
pertanggungjawaban kinerja mereka selama yang mengklaim berjuang untuk
kepentingan lingkungan. “Coba cek, sudah berapa dana negara, dana
swasta dan CSR yang sudah dipercayakan kepada mereka untuk digunakan
dalam mewujudkan tata nilai lingkungan yang mereka suarakan sejak 20
tahun lalu. Minta juga bukti fisik dari semua kinerja dengan
menunjukkan wilayah serta kualitas hasil pekerjaan mereka,” kata
Ricky.



Ricky mengatakan, semua pihak boleh mempertanyakan sudah berapa banyak
kucuran dana asing yang mereka peroleh untuk memperkaya diri dengan
cara menjual isu lingkungan dan kemiskinan rakyat.

Bahkan, perusahaan yang saat ini sedang tersudut dan "dikorbankan"
tentunya harus berani mengungkapkan berapa banyak dana CSR yang
kucurkan kepada LSM. “Korporasi juga perlu meminta meminta
pertanggungjawaban moral kepada LSM lingkungan terutama atas
terjadinya kebakaran hutan pada areal dan masyarakat yang mereka
bina,” kata Ricky.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mengingatkan, pemerintah
harus memberi rasa aman kepada semua pihak dalam penyelesaian kasus
kebakaran hutan.

Menurut Herman, upaya yang bisa dilakukan pemerintah diantaranya
melalui peningkatan persektif anggaran di Kementerian LHK untuk
perbaikan tata kelola hutan.

Menurut Herman, alokasi APBN sebesar Rp 6,3 triliun untuk mengawasi
hutan seluas 124 juta hektare tidak memadai. Jika dibagi, rata-rata
hanya sebesar Rp 52.500 dana yang dialokasikan per hektar. “Bagaimana
pemerintah mempunyai kemampuan untuk mengawasi hutan dan mencegah
kebakaran dengan anggaran yang minim,” kata Herman Khaeron (rls)




Pada tanggal 26/10/15, Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:
> Assalammualaikum Wr Wb Dunsanak sapalanta Yml
>
> Iko ado tulisan tantang asok
>
> http://pekanbaru.tribunnews.com/2015/10/25/terkait-kebakaran-hutan-presiden-perlu-tegur-lsm-penghasut?
>
> Salam
>
> Hanifah
>
> Pada tanggal 26/10/15, Maturidi Donsan <[email protected]> menulis:
>> Apo mamiliah lo asok ko, tampek nan kanyo raok ?
>>
>> Sabagian Jawa  dll tak kanai doh, samintarao di Sumatra jo Kalimantan tak
>> nyo amuah pai doh.
>>
>> Angin pun ndak adok (ditampek ambo Duri), biasonyo bulan berber ko hujan
>> jo
>> badai taruih.
>>
>> Apo iko nan dokatokan ELNINO tu
>>
>>
>> Maturidi
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>>   1. Email besar dari 200KB;
>>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>   3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Google Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim
>> email ke [email protected].
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke