.: GAW Bukit Kototabang :. <https://gawkototabang.wordpress.com/> 

   - Home <https://gawkototabang.wordpress.com/>
   - Tentang Kami <https://gawkototabang.wordpress.com/tentang_kami/>
   - Staf <https://gawkototabang.wordpress.com/staf/>
   - MegaSains <https://gawkototabang.wordpress.com/megasains/>
   - Data <https://gawkototabang.wordpress.com/data/>
   - Instrumentasi <https://gawkototabang.wordpress.com/instrumentasi/>
   - Afiliasi <https://gawkototabang.wordpress.com/afiliasi/>
   - Kontak Kami <https://gawkototabang.wordpress.com/kontak_kami/>
   - FAQs <https://gawkototabang.wordpress.com/faqs/>
   - Buku Tamu <https://gawkototabang.wordpress.com/buku_tamu/>

Tentang Kami 

Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang (*Global Atmosphere Watch*) 
terletak di Pulau Sumatera, Indonesia (0° 12′ 07″ LS – 100° 19′ 05″ BT). 
Stasiun ini berjarak 17 km arah Utara kota Bukittinggi  dan lebih kurang 
120 km Utara kota Padang yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Barat. 
Stasiun yang berada di area terpencil ini terletak di daerah ekuatorial 
pada ketinggian 864,5 m di atas permukaan laut dan 40 km dari garis pantai 
bagian Barat. Arah angin berasal dari Selatan-Tenggara (Desember sampai 
Mei) atau Utara-Barat Laut (Mei sampai Oktober). Temperatur bervariasi dari 
16 sampai 25°C dengan variasi yang sangat kecil dan kelembaban relatif 
biasanya lebih dari 80%. Fasilitas yang tersedia meliputi bangunan yang 
cukup luas yang menyediakan ruang kantor, ruang rapat, dan laboratorium. Di 
area atap seluas 300 m2, inlet udara dan beberapa peralatan radiasi dan 
meteorologi dipasang. Stasiun ini dapat dicapai dari jalan kecil yang 
tertutup untuk publik dan berjarak beberapa kilometer dari sebelah Barat 
jalan utama antara kota Padang dan Medan. Vegetasi yang mengelilingi area 
(30 km) sebagian besar berupa hutan tropis.

Stasiun ini merupakan bagian dari sistem monitoring dan riset yang 
dikoordinasi oleh World Meteorological Organization (WMO). Secara resmi 
mulai beroperasi sejak tanggal 7 Desember 1996 sebagai salah satu unit 
kerja dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun 
Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang merupakan salah satu stasiun di 
daerah ekuatorial yang penting dalam program pengamatan atmosfer secara 
global karena secara umum pengukuran kondisi atmosfer dan kualitas udara di 
daerah ini sangat terbatas.

Ada tiga program pengamatan yang dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer 
Global Bukit Kototabang, yaitu :

   1. Pengamatan Gas Rumah Kaca
   2. Pengamatan Kualitas Udara
   3. Parameter Fisis Atmosfer


* Pengamatan Gas Rumah Kaca*

Secara alami, atmosfer kita mengandung beberapa gas yang diklasifikasikan 
sebagai gas rumah kaca. Gas-gas tersebut menyebabkan efek yang disebut 
dengan efek rumah kaca yang dapat menjaga bumi tetap hangat sehingga cocok 
untuk tempat tinggal makhluk hidup. Akan tetapi, aktivitas manusia setelah 
era revolusi industri menyebabkan perubahan perubahan pada komposisi alami 
gas rumah kaca di atmosfer. Konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih 
menyebabkan semakin banyak panas yang diserap oleh atmosfer dan menyebabkan 
peningkatan suhu udara di bumi atau yang kita kenal sebagai pemanasan 
global.

Menurut Protokol Kyoto, ada enam gas yang dikelompokkan sebagai gas rumah 
kaca, yaitu: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrous oksida (N2O), 
hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), dan sulfur heksafluorida (SF
6). Empat dari enam gas tersebut telah diukur di Bukit Kototabang, yaitu: CO
2, CH4, N2O, dan SF6 selama periode waktu 2004-2011. Pengukuran gas rumah 
kaca di Bukit Kototabang merupakan hasil kerjasama antara BMKG dan NOAA 
Amerika Serikat. Saat ini, pengukuran gas rumah kaca yang dilakukan secara 
monitoring di Bukit Kototabang adalah CO2 dan CH4 yang merupakan kerjasama 
antara BMKG, MeteoSwiss, dan Empa.

*Pengamatan Kualitas Udara*

Secara umum, kualitas udara diukur dengan mengamati apakah konsentrasi 
parameter pencemaran udara yang terukur lebih tinggi atau lebih rendah 
daripada Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Pemerintah menetapkan 
nilai ISPU untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan masyarakat. Walaupun 
pemerintah telah menetapkan ISPU, ada beberapa kelompok orang yang masih 
rentan terhadap pencemaran udara, seperti anak-anak, lansia, penderita 
penyakit paru-paru dan jantung, yang akan terpengaruh oleh pencemaran udara 
lebih dahulu walaupun konsentrasi pencemaran udara yang terukur masih lebih 
rendah daripada ISPU. Ada 5 komponen pencemar udara yang dimasukkan dalam 
ISPU, yaitu: karbon monoksida (CO), ozon permukaan (O3), aerosol PM10, 
oksida nitrogen (NOx), dan sulfur dioksida (SO2). Stasiun Pemantau Atmosfer 
Global Bukit Kototabang telah mengukur kelima parameter tersebut.

*Parameter Fisis Atmosfer*

Temperatur udara merupakan salah satu dampak langsung dari perubahan iklim. 
Konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih di atmosfer menyebabkan lebih 
banyak panas yang diserap atmosfer yang menyebabkan peningkatan temperatur 
permukaan bumi. Selain temperatur udara, curah hujan juga merupakan unsur 
cuaca, merupakan jumlah air hujan yang diterima oleh bumi, yang 
diprediksikan juga akan berubah. Perubahan jumlah curah hujan yang diterima 
juga diikuti oleh penurunan jumlah total hari hujan di dalam satu tahun. 
Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang mengukur kedua parameter 
ini, disamping pengukuran tekanan, arah dan kecepatan angin, serta 
kelembaban udara.


On Monday, October 26, 2015 at 5:52:26 AM UTC-7, Sjamsir Sjarif wrote:
>
> BMKG: Udara Bukittinggi dan Agam Masih Level Berbahaya 
>
> in Agam <http://hariansinggalang.co.id/category/daerah/agam/>, Bukittinggi 
> <http://hariansinggalang.co.id/category/daerah/bukittinggi/>, Headline 
> <http://hariansinggalang.co.id/category/headline/> 1 jam ago 
> [image: Kondisi kabut asap di Bukittiggi (gindo)] 
> <http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2015/08/Snapshot_8.png>
>
> Kondisi kabut asap di Bukittiggi (gindo)
>
> *PADANG –* Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun 
> GAW Koto Tabang, Kabupaten Agam, melaporkan kualitas udara di Kota 
> Bukittinggi, Kabupaten Agam dan sekitarnya masih dalam level berbahaya.
>
> Berdasarkan pantauan konsentrasi PM10 pada pukul 07.00 WIB di daerah 
> tersebut, kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kadar 
> pencemaran 447 ug/m3 dan termasuk kategori berbahaya.
>
> Kasi Meteorologi BMKG GAW Koto Tabang, Budi Satria mengatakan, pantauan 
> terakhir satelit Terra & Aqua pada 26 Oktober pukul 06.00 WIB terdapat 129 
> titik panas yang tersebar di Pulau Sumatera.
>
> Titik panas saat ini 123 titik di Sumatera Selatan (Sumsel) dan enam titik 
> di Jambi.
>
> “Jumlah ini berkurang dari minggu lalu 22 Oktober yang sempat mencapai 547 
> titik,” kata dia.
>
> Berkurangnya titik panas di Pulau Sumatera tidak berpengaruh pada kualitas 
> udara pada Senin (25/10), karena titik panas dalam dua hari terakhir 
> banyak. *(aci)*
>
>
> On Monday, October 26, 2015 at 5:47:52 AM UTC-7, Sjamsir Sjarif wrote:
>>
>> 8 Kabupaten dan Kota di Sumbar Liburkan Siswa Akibat Asap 
>>
>> in Headline <http://hariansinggalang.co.id/category/headline/>, Sumbar 
>> <http://hariansinggalang.co.id/category/daerah/> 2 jam ago 
>> [image: Ilustrasi (antara foto)] 
>> <http://hariansinggalang.co.id/wp-content/uploads/2015/09/libur.jpg>
>>
>> Ilustrasi (antara foto)
>>
>> *PADANG –* Delapan kabupaten dan kota di Sumbar sekolah akibat semakin 
>> pekatnya kabut asap.
>>
>> “Laporan yang kita terima dari kabupaten/kota, sudah delapan yang 
>> meliburkan siswanya,” kata Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Syamsulrizal, 
>> Senin (26/10).
>>
>> Daerah tersebut yakni Kabupaten Dharmasraya, Limapuluh Kota, Sijunjung, 
>> Padang Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman serta 
>> Kota Padang.
>>
>> Sekolah yang diliburkan adalah untuk tingkat PAUD, TK dan SD, kecuali 
>> untuk Kabupaten Dhamasraya. Khusus untuk Dhamasraya, semua sekolah hingga 
>> tingkat SMA diliburkan karena kualitas udara sangat tidak sehat.
>>
>> “Lama libur bisa berbeda antar daerah karena kondisi kabut asap berbeda 
>> dan berfluktuatif pada masing-masing daerah,” katanya. *(yose)*
>>
>>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke