Banyak Rumah Tak Layak Huni di Kota Bukittinggi 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi>

Setelah dikunjungi Pj Gubernur Sumatera Barat, Haluan memberitakan ternyata 
Bukittinggi adakah Kota Wisata Kumuh...
-- MakNgah


Banyak Rumah Tak Layak Huni di Kota Bukittinggi 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi>
 [image: 
PDF] 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi?format=pdf>
 [image: 
Cetak] 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
 [image: 
Surel] 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=0d558969a8b651e0a982a46e1f053b7bee63fd9b>
 Senin, 
09 November 2015 03:27 

Ketika meninjau lokasi dan korban banjir di Kota Bukittinggi, Pj Gubernur 
Sumbar Rey­donnyzar Moenek  kaget. Ternyata di kota wisata ini masih banyak 
terdapat rumah penduduk tak layak huni. Dia mengusulkan kepada Pemko 
Bukittinggi untuk mem­bangun rusunawa. 

*BUKITTINGGI, HALUAN — *Pj Gubernur Sum­bar Reydonnyzar Moe­nek 
di­dam­pingi Ketua DPRD Ko­ta Bukittinggi Benny Yus­rial, Kapolres dan 
Dandim 0304/Agam, meninjau lo­kasi korban banjir Bukit­tinggi yang melanda 
pe­mu­kiman warga di kawasan RT 2 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia Kecamatan 
Man­diangin Koto Selayan (MKS), Minggu (8/11). 

Pj Gubernur merasa ter­kejut ketika mendapatkan informasi peristiwa banjir 
yang melanda kota Bukit­tinggi. Sebab, di luar dugaan Kota Bukittinggi bisa 
me­nga­lami banjir ya­ng meren­dam ratusan rumah warga.

Dalam peninjauan ter­se­but, Reydonnyzar Moenek juga te­renyuh dan prihatin 
melihat korban banjir yang tinggal di rumah tak layak huni dan ka­wasannya 
kumuh.

“Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, ternyata masih ada warga kita di 
Bukittinggi yang tinggal di rumah tidak layak huni seperti saat ini,” 
“uj­ar Rey­don­n­yzar Moenek.

Menurut Pj Gubernur, se­telah berada langsung di lokasi ke­jadian dan 
melakukan in­te­grasi serta menerima masukan dari warga, ternyata kondisi 
korban banjir itu sangat me­miris­kan. Warga di RT 2 RW I Kelu­ra­han Pulai 
Anak Aia ini me­nem­pati rumah tidak layak huni yang mereka kontrak Rp250- 
Rp300 ribu per bulannya.

“Dalam satu rumah ada yang tinggal sebanyak 7 anggota ke­luarga,” kata 
Donny.

Secara spontan Reydonnyzar Moenek menelpon Kadis PU dan Bappeda Provinsi 
Sumbar, untuk bisa memprogramkan pem­ba­ngu­­nan rumah susun sewa 
(rusu­nawa) bagi korban banjir Bukit­tinggi melalui Kemen­terian 
Pe­ker­jaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Menurutnya, Pemerintah me­lalui Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen 
Pe­ker­ja­an Umum mempunyai pro­gram pem­bangunan Rusunawa untuk mem­bantu 
warga yang be­r­m­ukim di kawasan kumuh dan tidak layak huni.

“Jika Pemko Bukittinggi ber­sama masyarakat sepakat untuk pembangunan 
rusunawa tersebut, maka Pemprov Sumbar siap un­tuk memfasilitasinya. Kalau 
soal anggaran bisa kita lobi dari AP­BN melalui Ke­men­terian Peker­ja­an 
Umum dan Pe­ru­ma­han Rak­yat,” se­but Rey­donnyzar Moenek.

Pj Gubernur mengharapkan kepada Pemko Bukittinggi untuk dapat menyediakan 
lahan untuk pembangunan rusunawa. Jika ada lahan aset milik pemerintah 
daerah ataupun provinsi, alang­kah baiknya dihibahkan kepada masyarakat 
untuk pembangunan rusunawa. Sebab selama ini, yang menjadi permasalahan 
untuk pembangunan tersebut adalah ketersediaan lahan.

Untuk pembangunan rusu­nawa tersebut tentu juga di­perlu­kan kesepakatan 
antara Pemko Bukittinggi bersama masyarakat. Sebab jika masyarakat tidak 
menerima untuk dipindahkan, percuma saja Rusunawa tersebut dibangun.

Terpisah Ketua DPRD Kota Bukittinggi Benny Yusrial me­nga­­takan, terkait 
dengan do­rongan dari Pemerintah Provinsi untuk pembangunan Rusunawa bagi 
warga korban banjir, pihak­nya mencoba untuk melakukan kor­dinasi dengan 
pihak terkait dan masyarakat, terutama ma­salalah penyediaan lahan.

“Kita sangat mendukung un­tuk pembangunan rusunawa ter­sebut. Dan kita akan 
berupaya untuk mencarikan lahan untuk pem­bangunannya. Sebab di 
Bu­kit­­tinggi ada dua kelurahan yang warganya tinggal di kawasan ku­muh 
dan tidak layak huni yakni Ke­lurahan Pakan Kurai dan Tan­gah Sawah,” 
pungkas Benny. *(h/tot)*


On Friday, November 6, 2015 at 4:42:02 PM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>
>
> Bukittinggi Dikepung Banjir 
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir>
>
> Mungkin kito nan banyak indak picayo. Kalau dahulu pernah tabaiak hoax Jam 
> Gadang dilando banjir, yah itu barito barito palasu buek-buek.
> Tapi banjir nan iko iyo bana mah, indah bagarah doh.
> -- MakNgah
>
> Dari Haluan kito baco:
> Bukittinggi Dikepung Banjir 
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir>
>  [image: 
> PDF] 
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir?format=pdf>
>  [image: 
> Cetak] 
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
>  [image: 
> Surel] 
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=0a442a0fbf5639fdc88347387215bbd49617b202>
>  Sabtu, 
> 07 November 2015 02:48 
>
> *RATUSAN RUMAH TERENDAM, WARGA DIEVAKUASI*
>
> Berada di ketinggian tak menjamin kawasan Bukittinggi bebas banjir. Perlu 
> evaluasi apa yang menjadi penyebab begitu cepatnya air meluap, seiring 
> dengan tingginya curah hujan
>
> *BUKITTINGGI, HALUAN —* Ratusan warga Kota Bu­kittinggi, tepatnya di 
> kawa­san RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia, serta di kawasan RT 7 RW 1 
> Kelu­rahan Cimpago Ipuh Keca­matan Mandiangin Kota Bukittinggi dievakuasi 
> ke tempat yang aman, setelah rumah mereka terendam banjir setinggi dada 
> orang dewasa, Jumat (6/11). 
>
> Untuk RT 1 RW I Kelu­rahan Pulai Anak Aia, ada sekitar 125 Kepala 
> Kelua­rga (KK) yang tinggal di kawasan tersebut, sementara di kawasan RT 7 
> RW 1 Kelurahan Cimpago Ipuh terdapat 70 KK yang ber­mukim di kawasan itu.
>
> Menurut keterangan Su­si (39) salah seorang warga Pulai Anak Aia, genangan 
> air itu mulai memasuki rumahnya sekitar pukul 14.30 WIB. Hujan lebat tanpa 
> henti yang mulai meng­guyur Bukittinggi sekitar pukul 12.55 WIB membuat 
> genangan air itu cepat meninggi, dan pun­caknya sekitar pukul 15.00 WIB, 
> ketinggian banjir tersebut telah mencapai dada orang dewasa.
>
> “Dalam dua minggu terakhir, ini banjir ketiga yang kami alami. Pertama 
> saat malam Minggu lalu, setelah itu pada hari Rabu, dan terakhir hari Jumat 
> ini. Tapi banjir kali ini lebih parah dari yang sebelumnya,” ujar Susi.
>
> Susi mengatakan, semua pera­latan elektronik miliknya telah diselamatkan 
> ke lantai dua. Ha­nya saja, seluruh pakaian yang ada dalam lemari tidak 
> sempat dise­la­mat­kan, karena banjir juga ikut merendam lemari pakaiannya.
>
> “Air cepat sekali tingginya, sehingga tidak sempat kami menyelamatkan 
> pakaian. Kami sudah menutup rumah, agar semua barang yang ada dalam rumah 
> tidak hanyut dibawa arus, karena arusnya sangat deras sekali,” ucap Susi.
>
> Susi mengaku telah tinggal selama 30 tahun di kawasan itu. Menurutnya, 
> selama 30 tahun itu, rumahnya sudah tiga kali me­ngalami kebanjiran 
> terparah se­tinggi dada orang dewasa. “Ka­lau banjirnya setinggi tumit atau 
> betis, itu sudah tak terhitung. Sudah sering kami alami,” lanjut Susi.
>
> Sementara itu, banjir yang melanda kawasan ini membuat Badan 
> Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bukit­tinggi mengerahkan satu 
> unit perahu karet untuk mengeva­kuasi warga. Evakuasi ini diprio­ritaskan 
> bagi bayi dan anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia) dan ibu-ibu.
>
> Meski demikan, tak sedikit kalangan ibu-ibu enggan untuk dievakuasi dan 
> lebih memilih mendekam di rumah mereka ma­sing-masing, meski rumahnya 
> digenangi banjir. Mereka ber­alasan, dengan menjaga rumah, maka mereka bisa 
> mengontrol isi rumah serta barang berharga mereka, serta bisa mengawasi 
> jika ada binatang melata yang masuk rumah.
>
> Sementara untuk pria dewasa lebih tampak sibuk membantu petugas BPBD untuk 
> meng­eva­kuasi warga. Sebagian lagi pria dewasa tampak sibuk member­sihkan 
> sampah-sampah yang terbawa arus, serta tetap berupaya menyelamatkan 
> barang-barang berharga mereka.
>
> Sebenarnya, kawasan RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia dan kawasan RT 7 RW 
> 1 Kelu­rahan Cimpago Ipuh saling berse­belahan, sehingga tidak menyu­litkan 
> petugas untuk menyisir korban yang masih terjebak dalam rumah. Hanya saja, 
> deras­nya arus membuat petugas harus bekerja lebih keras lagi untuk 
> mengontrol perahu karet yang dibawa.
>
> Suyerman, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bukittinggi menyebutkan, 
> hujan lebat yang mengguyur Kota Bukittinggi dari siang hingga sore telah 
> membuat sejumlah kawasan di Kota Bukit­tinggi digenangi air.
>
> “Ada enam titik banjir yang merendam tempat ibadah dan rumah warga di Kota 
> Bukittinggi, diantaranya di kawasan Simpang Tarok, Pakan Kurai, Gurun 
> Pan­jang, Jalan Melati Simpang Sta­siun, Jangkak, serta kawasan Pulai Anak 
> Aia dan Cimpago Ipuh ini. Yang terparah memang dialami Pulai Anak Aia yang 
> bersebelahan dengan Kelurahan Cimpago Ipuh samping Ma­polsek Bukittinggi,” 
> ujar Su­yerman.
>
> Menyikapi permasalahan banjir yang terus melanda Kota Bukittinggi, 
> khususnya di ka­wasan Pulai Anak Aia dan Kelurahan Cimpago Ipuh ini, Ketua 
> DPRD Bukittinggi Benny Yusrial ketika meninjau lokasi banjir mengatakan, 
> pihaknya telah mendesak petugas PU untuk turun tangan menyelidiki penyebab 
> utama banjir tersebut.
>
> “Kami telah berkomunikasi dengan masyarakat, telah meng­himpun informasi 
> dan telah menerima aduan jika ada bangu­nan yang menghambat aliran air. 
> Tapi kami belum bisa mengklaim itu penyebabnya, karena harus diselidiki 
> terlebih dahulu. Kami sudah meminta PU untuk me­nyelidiki itu,” ujar Benny.
>
> Menurut Benny Yusrial, DPRD Bukittinggi nantinya tidak akan mentolerir 
> siapa saja yang telah membuat aliran air tidak lancar, karena menurutnya, 
> ulah orang itu telah membuat dampak yang lebih besar bagi ratusan warga di 
> kawasan Pulai Anak Aia. *(h/wan)*
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke