Assalamu'alaikum wr.wb.


Lai kanamuah masyarakat marubah budaya hiduik nyo dari rumah di ateh tanah,
jadi tingga di rumah susun tu?
Karano gengsi urang Minang ko gadang ma. Jiko tingga di rumah susun, arti
nyo Pemda harus manyadiokan pulo di lokasi rumah susun tu, ruangan
serbaguna nan cukuik laweh untuak penghuni rusun nan akan maadokan alek
atau nan kamalangan. Karano indak ka mungkin di rumah susun bisa managak an
tenda bantuak rumah di ateh tanah do. Masalah di rumah susun ko banyak,
karano ateh, bawah, suok jo kida itu rumah urang lain. Biaso nyo yang acok
tajadi, jamuran (pakaian dan dalaman yang jatuah), kendaraan yang diparkir
acok hilang, aia yang ketek aliran nyo, sarok yang dibuang suko-suko hati,
dll.


Salam

Reza

2015-11-09 6:24 GMT+07:00 Sjamsir Sjarif <[email protected]>:

> Banyak Rumah Tak Layak Huni di Kota Bukittinggi
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi>
>
> Setelah dikunjungi Pj Gubernur Sumatera Barat, Haluan memberitakan
> ternyata Bukittinggi adakah Kota Wisata Kumuh...
> -- MakNgah
>
>
> Banyak Rumah Tak Layak Huni di Kota Bukittinggi
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi>
>  [image:
> PDF]
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi?format=pdf>
>  [image:
> Cetak]
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44879-banyak-rumah-tak-layak-huni-di-kota-bukittinggi?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
>  [image:
> Surel]
> <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=0d558969a8b651e0a982a46e1f053b7bee63fd9b>
>  Senin,
> 09 November 2015 03:27
>
> Ketika meninjau lokasi dan korban banjir di Kota Bukittinggi, Pj Gubernur
> Sumbar Rey­donnyzar Moenek  kaget. Ternyata di kota wisata ini masih banyak
> terdapat rumah penduduk tak layak huni. Dia mengusulkan kepada Pemko
> Bukittinggi untuk mem­bangun rusunawa.
>
> *BUKITTINGGI, HALUAN — *Pj Gubernur Sum­bar Reydonnyzar Moe­nek
> di­dam­pingi Ketua DPRD Ko­ta Bukittinggi Benny Yus­rial, Kapolres dan
> Dandim 0304/Agam, meninjau lo­kasi korban banjir Bukit­tinggi yang melanda
> pe­mu­kiman warga di kawasan RT 2 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia Kecamatan
> Man­diangin Koto Selayan (MKS), Minggu (8/11).
>
> Pj Gubernur merasa ter­kejut ketika mendapatkan informasi peristiwa banjir
> yang melanda kota Bukit­tinggi. Sebab, di luar dugaan Kota Bukittinggi bisa
> me­nga­lami banjir ya­ng meren­dam ratusan rumah warga.
>
> Dalam peninjauan ter­se­but, Reydonnyzar Moenek juga te­renyuh dan
> prihatin melihat korban banjir yang tinggal di rumah tak layak huni dan
> ka­wasannya kumuh.
>
> “Sudah 70 tahun Indonesia merdeka, ternyata masih ada warga kita di
> Bukittinggi yang tinggal di rumah tidak layak huni seperti saat ini,”
> “uj­ar Rey­don­n­yzar Moenek.
>
> Menurut Pj Gubernur, se­telah berada langsung di lokasi ke­jadian dan
> melakukan in­te­grasi serta menerima masukan dari warga, ternyata kondisi
> korban banjir itu sangat me­miris­kan. Warga di RT 2 RW I Kelu­ra­han Pulai
> Anak Aia ini me­nem­pati rumah tidak layak huni yang mereka kontrak Rp250-
> Rp300 ribu per bulannya.
>
> “Dalam satu rumah ada yang tinggal sebanyak 7 anggota ke­luarga,” kata
> Donny.
>
> Secara spontan Reydonnyzar Moenek menelpon Kadis PU dan Bappeda Provinsi
> Sumbar, untuk bisa memprogramkan pem­ba­ngu­­nan rumah susun sewa
> (rusu­nawa) bagi korban banjir Bukit­tinggi melalui Kemen­terian
> Pe­ker­jaan Umum dan Perumahan Rakyat.
>
> Menurutnya, Pemerintah me­lalui Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen
> Pe­ker­ja­an Umum mempunyai pro­gram pem­bangunan Rusunawa untuk mem­bantu
> warga yang be­r­m­ukim di kawasan kumuh dan tidak layak huni.
>
> “Jika Pemko Bukittinggi ber­sama masyarakat sepakat untuk pembangunan
> rusunawa tersebut, maka Pemprov Sumbar siap un­tuk memfasilitasinya. Kalau
> soal anggaran bisa kita lobi dari AP­BN melalui Ke­men­terian Peker­ja­an
> Umum dan Pe­ru­ma­han Rak­yat,” se­but Rey­donnyzar Moenek.
>
> Pj Gubernur mengharapkan kepada Pemko Bukittinggi untuk dapat menyediakan
> lahan untuk pembangunan rusunawa. Jika ada lahan aset milik pemerintah
> daerah ataupun provinsi, alang­kah baiknya dihibahkan kepada masyarakat
> untuk pembangunan rusunawa. Sebab selama ini, yang menjadi permasalahan
> untuk pembangunan tersebut adalah ketersediaan lahan.
>
> Untuk pembangunan rusu­nawa tersebut tentu juga di­perlu­kan kesepakatan
> antara Pemko Bukittinggi bersama masyarakat. Sebab jika masyarakat tidak
> menerima untuk dipindahkan, percuma saja Rusunawa tersebut dibangun.
>
> Terpisah Ketua DPRD Kota Bukittinggi Benny Yusrial me­nga­­takan, terkait
> dengan do­rongan dari Pemerintah Provinsi untuk pembangunan Rusunawa bagi
> warga korban banjir, pihak­nya mencoba untuk melakukan kor­dinasi dengan
> pihak terkait dan masyarakat, terutama ma­salalah penyediaan lahan.
>
> “Kita sangat mendukung un­tuk pembangunan rusunawa ter­sebut. Dan kita
> akan berupaya untuk mencarikan lahan untuk pem­bangunannya. Sebab di
> Bu­kit­­tinggi ada dua kelurahan yang warganya tinggal di kawasan ku­muh
> dan tidak layak huni yakni Ke­lurahan Pakan Kurai dan Tan­gah Sawah,”
> pungkas Benny. *(h/tot)*
>
>
> On Friday, November 6, 2015 at 4:42:02 PM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>
>>
>> Bukittinggi Dikepung Banjir
>> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir>
>>
>> Mungkin kito nan banyak indak picayo. Kalau dahulu pernah tabaiak hoax
>> Jam Gadang dilando banjir, yah itu barito barito palasu buek-buek.
>> Tapi banjir nan iko iyo bana mah, indah bagarah doh.
>> -- MakNgah
>>
>> Dari Haluan kito baco:
>> Bukittinggi Dikepung Banjir
>> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir>
>>  [image:
>> PDF]
>> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir?format=pdf>
>>  [image:
>> Cetak]
>> <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
>>  [image:
>> Surel]
>> <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=0a442a0fbf5639fdc88347387215bbd49617b202>
>>  Sabtu,
>> 07 November 2015 02:48
>>
>> *RATUSAN RUMAH TERENDAM, WARGA DIEVAKUASI*
>>
>> Berada di ketinggian tak menjamin kawasan Bukittinggi bebas banjir. Perlu
>> evaluasi apa yang menjadi penyebab begitu cepatnya air meluap, seiring
>> dengan tingginya curah hujan
>>
>> *BUKITTINGGI, HALUAN —* Ratusan warga Kota Bu­kittinggi, tepatnya di
>> kawa­san RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia, serta di kawasan RT 7 RW 1
>> Kelu­rahan Cimpago Ipuh Keca­matan Mandiangin Kota Bukittinggi dievakuasi
>> ke tempat yang aman, setelah rumah mereka terendam banjir setinggi dada
>> orang dewasa, Jumat (6/11).
>>
>> Untuk RT 1 RW I Kelu­rahan Pulai Anak Aia, ada sekitar 125 Kepala
>> Kelua­rga (KK) yang tinggal di kawasan tersebut, sementara di kawasan RT 7
>> RW 1 Kelurahan Cimpago Ipuh terdapat 70 KK yang ber­mukim di kawasan itu.
>>
>> Menurut keterangan Su­si (39) salah seorang warga Pulai Anak Aia,
>> genangan air itu mulai memasuki rumahnya sekitar pukul 14.30 WIB. Hujan
>> lebat tanpa henti yang mulai meng­guyur Bukittinggi sekitar pukul 12.55 WIB
>> membuat genangan air itu cepat meninggi, dan pun­caknya sekitar pukul 15.00
>> WIB, ketinggian banjir tersebut telah mencapai dada orang dewasa.
>>
>> “Dalam dua minggu terakhir, ini banjir ketiga yang kami alami. Pertama
>> saat malam Minggu lalu, setelah itu pada hari Rabu, dan terakhir hari Jumat
>> ini. Tapi banjir kali ini lebih parah dari yang sebelumnya,” ujar Susi.
>>
>> Susi mengatakan, semua pera­latan elektronik miliknya telah diselamatkan
>> ke lantai dua. Ha­nya saja, seluruh pakaian yang ada dalam lemari tidak
>> sempat dise­la­mat­kan, karena banjir juga ikut merendam lemari pakaiannya.
>>
>> “Air cepat sekali tingginya, sehingga tidak sempat kami menyelamatkan
>> pakaian. Kami sudah menutup rumah, agar semua barang yang ada dalam rumah
>> tidak hanyut dibawa arus, karena arusnya sangat deras sekali,” ucap Susi.
>>
>> Susi mengaku telah tinggal selama 30 tahun di kawasan itu. Menurutnya,
>> selama 30 tahun itu, rumahnya sudah tiga kali me­ngalami kebanjiran
>> terparah se­tinggi dada orang dewasa. “Ka­lau banjirnya setinggi tumit atau
>> betis, itu sudah tak terhitung. Sudah sering kami alami,” lanjut Susi.
>>
>> Sementara itu, banjir yang melanda kawasan ini membuat Badan
>> Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bukit­tinggi mengerahkan satu
>> unit perahu karet untuk mengeva­kuasi warga. Evakuasi ini diprio­ritaskan
>> bagi bayi dan anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia) dan ibu-ibu.
>>
>> Meski demikan, tak sedikit kalangan ibu-ibu enggan untuk dievakuasi dan
>> lebih memilih mendekam di rumah mereka ma­sing-masing, meski rumahnya
>> digenangi banjir. Mereka ber­alasan, dengan menjaga rumah, maka mereka bisa
>> mengontrol isi rumah serta barang berharga mereka, serta bisa mengawasi
>> jika ada binatang melata yang masuk rumah.
>>
>> Sementara untuk pria dewasa lebih tampak sibuk membantu petugas BPBD
>> untuk meng­eva­kuasi warga. Sebagian lagi pria dewasa tampak sibuk
>> member­sihkan sampah-sampah yang terbawa arus, serta tetap berupaya
>> menyelamatkan barang-barang berharga mereka.
>>
>> Sebenarnya, kawasan RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia dan kawasan RT 7
>> RW 1 Kelu­rahan Cimpago Ipuh saling berse­belahan, sehingga tidak
>> menyu­litkan petugas untuk menyisir korban yang masih terjebak dalam rumah.
>> Hanya saja, deras­nya arus membuat petugas harus bekerja lebih keras lagi
>> untuk mengontrol perahu karet yang dibawa.
>>
>> Suyerman, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bukittinggi menyebutkan,
>> hujan lebat yang mengguyur Kota Bukittinggi dari siang hingga sore telah
>> membuat sejumlah kawasan di Kota Bukit­tinggi digenangi air.
>>
>> “Ada enam titik banjir yang merendam tempat ibadah dan rumah warga di
>> Kota Bukittinggi, diantaranya di kawasan Simpang Tarok, Pakan Kurai, Gurun
>> Pan­jang, Jalan Melati Simpang Sta­siun, Jangkak, serta kawasan Pulai Anak
>> Aia dan Cimpago Ipuh ini. Yang terparah memang dialami Pulai Anak Aia yang
>> bersebelahan dengan Kelurahan Cimpago Ipuh samping Ma­polsek Bukittinggi,”
>> ujar Su­yerman.
>>
>> Menyikapi permasalahan banjir yang terus melanda Kota Bukittinggi,
>> khususnya di ka­wasan Pulai Anak Aia dan Kelurahan Cimpago Ipuh ini, Ketua
>> DPRD Bukittinggi Benny Yusrial ketika meninjau lokasi banjir mengatakan,
>> pihaknya telah mendesak petugas PU untuk turun tangan menyelidiki penyebab
>> utama banjir tersebut.
>>
>> “Kami telah berkomunikasi dengan masyarakat, telah meng­himpun informasi
>> dan telah menerima aduan jika ada bangu­nan yang menghambat aliran air.
>> Tapi kami belum bisa mengklaim itu penyebabnya, karena harus diselidiki
>> terlebih dahulu. Kami sudah meminta PU untuk me­nyelidiki itu,” ujar Benny.
>>
>> Menurut Benny Yusrial, DPRD Bukittinggi nantinya tidak akan mentolerir
>> siapa saja yang telah membuat aliran air tidak lancar, karena menurutnya,
>> ulah orang itu telah membuat dampak yang lebih besar bagi ratusan warga di
>> kawasan Pulai Anak Aia. *(h/wan)*
>>
>> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke