HILANG NAGARI HILANGLAHMINANGKABAU ITUMochtar Naim2 Des 2015 |
| A | DA banyak cara yang bisa dilakukanuntuk menaikkan penghasilan dari Sumatera Barat dan rakyatnya. Mengganti Nagariuntuk kembali lagi menjadi Desa adalah satu cara yang gampang tapi “bodoh”sekali. Yang dijual adalah “harga diri” itu sendiri, hanya karena inginmendapatkan tambahan bantuan dari pusat. Harga diri itu justeru terletak pada namadan wujud dari Nagari itu sendiri. Hilang Nagari hilanglah “rono” dan kebesaranNagari yang melambangkan Minangkabau itu sendiri. Sendirinya hilanglah pula martabatdan marwah harga diri dan kebesaran Minangkabau dan orang Minang itu. Pada hal UUD1945, khususnya Pasal 18A ayat (1) dan Pasal18B ayat (1) dan (2), dan undang-undangtentang pemerintahan terendah di RI ini memberi peluang kepada daerah-daerahsetingkat desa untuk tetap mempertahankan nama adatnya, seperti Nagari diSumatera Barat dan Minangkabau itu. Pasal 18B ayat (1) secara tegas mengatakan:“Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yangbersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.”Sementara ayat (2) dari Pasal 18B yang sama mengatakan: “Negara mengakui danmenghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-haktradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakatdan prinsip NKRI yang diatur dalam undang-undang.” Hanya karena jumlah Nagari yang ada sekarang tidaksebanyak Desa yang bisa digelembungkan itu, supaya duitnya bisa banyak masukdari pusat, maka kita, seperti yang disepakati oleh kedua cagub dan cawagub yangakan berhadapan di Pilkada 9 Des ini, mau saja merubah Nagari menjadi Desa kembaliseperti yang pernah kita lakukan di zaman Gubernur Harun Zain yl itu. Pada halada banyak cara yang bisa kita lakukan dalam mendapatkan inkam yang banyak bagidaerah Sumbar dan bagi rakyat sendiri. Pertama, dengan pertambahan penduduk setiap tahunnya,yang sekarang telah berkali lipat dari yang sebelumnya, wajar kalau Nagaripunditingkatkan jumlahnya. Misalnya, untuk sebagian besar Nagari yang penduduknyatelah berlipat dua atau lebih, sekarang jumlah Nagari itu dimekarkan menjadiberlipat dua atau lebih, seimbang dengan jumlah Jorong yang ada. Yang pentingadat dan ikatan adat di Nagari yang baru yang dimekarkan dari Jorong yang adasebelumnya, tidak rusak dan tidak berubah. Dia tetap adalah Nagari denganketentuan-ketentuan adatnya yang sama dan tidak berubah. Apalagikita mengenal ada Nagari “gadang,” ada Nagari “ketek.” Contoh di selingkarBukittinggi saja, kita mengenal ada Nagari gadang: Sungai Pua, Banuhampu, AmpekAngkek, Tilatang-Kamang, Ampek Koto, dsb. Sekarang Nagari Sungai Pua itu telahberkembang menjadi Nagari Batu Palano, Sariak, Sungai Pua, yang kesemuanyamenjadi Kecamatan Sungai Pua. Nagari Banuhampu berkembang menjadi 7 Nagari:Kubang Putiah, Ladang Laweh, Taluak IV Suku, Padang Lua, Cingkariang, SungaiTanang dan Pakan Sinayan, yang kesemuanya menjadi Kecamatan Banuhampu. Punbegitu juga dengan Ampek Angkek, Tilatang Kamang, Ampek Koto. Bisa dan mungkin, sertadimungkinkan. Dan itu terjadi dan telah terjadi. Kenapa pula kita lalu harusmenggantikannya kembali menjadi Desa – agar duit banyak masuk -- sepertikesalahan yang sama yang telah kita lakukan sebelumnya. Bukankah itu “bodoh”dan bahkan “goblok” namanya, dengan mengulangi kesalahan yang sama untuk keduakalinya. Belum pula kalau kita berusaha meningkatkan inkam Nagaridengan merombak dan merubah sistem dan struktur ekonomi Nagari dari yangseadanya seperti selama ini menjadi Ekonomi Koperasi Nagari ber Syariah dengansistem manajemen dan teknologi moderen, seperti yang diinginkan oleh Pasal 33UUD1945 yang disyariahkan itu. Dengan membangun Ekonomi Koperasi Syariah di Nagari itu, kitajuga mengikuti cara dan belajar banyak dari negara-negara di Timur Jauh:Jepang, Korea dan Cina, yang mendasarkan ekonominya bergerak dan berkembangdari bawah, dari desa, yang sekarang ketiganya telah melejit menjadi negaramaju, besar dan moderen di dunia ini. Arahkan Sumatera Barat dengan budaya Minangkabaunya itu sepertiyang dilakukan di ketiga negara maju di Timur Jauh yang basisnya adalah ekonomikoperasi di tingkat terbawah itu. Dan itu juga yang dilakukan sekarang di Malaysia,Vietnam dan Thailand. Mari kita juga ikuti cara yang dilakukan di tiga NegaraAsean itu. Semua ini kita capai tentu saja dengan merubah “mindset”yang bodoh yang ada sekarang dengan mindset yang pintar dan cekatan seperticontoh-contoh yang diperlihatkan oleh negara-negara di Timur Jauh dan Aseanitu. Mari kita bekerjasama berbuat untuk itu dan ke arah itu. Danmari kita perlihatkan kebolehan kita dalam membangun Nagari dan ranah yang kitacintai ini.*** Wassalam, MN, 03/12/15 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
