Sabana " barek " isi surek.... saluang se nan kamanyampaikan
 E Dt Marajo nan Tuo
 

    Pada Kamis, 7 Januari 2016 13:14, Aryandi MM <[email protected]> menulis:
 

 Selasa, 05 Januari 2016Tertibkan Orgen Tunggal, Selamatkan Moral Kemenakan!


Sebuah Surat Terbuka Untuk Walikota Pariaman
            Aku hanya seorang gadis kecil yang coba menulis sesuatu padamu yang 
pantasnya ku panggil Mamak, bukan, Pak. Surat ini bukan suatu bentuk 
pembangkangan, kagadang-gadangan atau sok mengajari pandeka basilek. Sepuluh 
jari kemenakan susun beserta kepala, memohon maaf apabila ada kata-kata 
kemanakan yang patut dibimbing ini yang tidak enak Mamak baca.            
Mamak, disini aku ingin berbicara tentang orgen tunggal di Pariaman. Kemenakan 
kecilmu ini kini telah beranjak dewasa, hingga ketika aku menyaksikan orgen 
tunggal yang menampilkan biduannya berpakaian minim, seolah-olah aku yang 
sedang ditelanjangi, ditonton dan dijadikan objek tertawa licik para lelaki 
yang puas menatapnya. Aku malu!            Hingga sebelum acara itu usai aku 
sudah lebih dulu pergi karena terbayang apa yang akan aku saksikan selanjutnya. 
Ya, seperti yang sudah-sudah, seperti yang sama-sama diketahui, seperti yang 
sudah mulai dimaklumi, para biduan wanita itu akan melecuti beberapa bagian 
pakaiannya lebih minim lagi, lebih terbuka lagi, lebih memancing hawa nafsu 
lagi, lalu mereka bersama pemuda-pemuda bahkan mamak-mamak yang tengah mabuk 
akan berpesta pora. Bergoyang seolah lupa siapa mereka. Apa kedudukan mereka. 
Seorang mamak akan lupa memberi contoh yang baik pada kemenakannya. Pemuda yang 
masih sekolah lupa akan apa tanggungjawabnya esok pagi. Dan itu berlangsung 
hingga pukul empat pagi. Hampir mendekati subuh. Dan hal tersebut digelar 
diruang terbuka.            Maka akan sangat miris lagi ketika pagi-pagi 
beberapa bocah usia sekolah dasar menceritakan perihal apa yang dilihatnya dari 
gelaran orgen tunggal semalam yang ditontonnya itu pada teman sebayanya. 
Menceritakan bagaimana terbukanya pakaian biduan-biduan wanitanya. Menyebutkan 
nama-nama orang kampungnya yang mabuk berat malam itu, dan menceritakan 
siapa-siapa saja yang memeluk biduan wanita seraya memberi beberapa lembar uang 
saweran. Miris! Bocah sekecil itu menurutku hanya boleh bercerita tentang 
bagaimana ia menyelesaikan PR Matematikanya semalam. Bukan bercerita tentang 
tontonan tak pantas yang disuguhkan kakaknya, ayahnya, mamak-mamaknya dan 
tetangga-tetangganya.            Lebih miris lagi ku saksikan di kota ini, 
nasionalisme pemudanya hanya sebatas gelaran orgen tunggal. Mereka menanti 
datangnya hari peringatan kemerdekaan demi berpesta dengan orgen tunggal  
dengan goyangan eotis lengkap dengan minuman keras, lalu acara itu dikemas 
dengan tajuk ALEK PEMUDA. Apa dengan  begitu mereka akan tahu bagaimana 
perjuangan para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan mungkin lagu wajib 
Indonesia raya saja mereka tak tahu. Mereka lebih hafal judul lagu dangdut 
koplo yang membuat goyangan mereka semakin asyik dan malam mereka semakin 
panas. Toh kemerdekaan bagi mereka adalah sebatas bebas bermabuk-mabukan dan 
bebas menikmati aurat yang dipertontonkan.            Aku bukan ahli agama, 
Mamak. Tapi yang aku tahu mengumbar aurat itu berdosa. Meliuk-liukan badan 
dengan pakaian super pendek itu berdosa. Melelang harga diri dengan beberapa 
lembar rupiah yang diserukan dengan pengeras suara itu amat berdosa. Minuman 
keras itu berdosa. Bukankah oranng Minang terkenal dengan adat istiadat dan 
agamanya? Lalu kenapa Pariaman kini seolah menjadi Pantura jilid dua?           
 Aku teringat himbauan “Maghrib mengaji” yang Mamak serukan dulu. Lalu kenapa 
tak bisa mamak buat himbauan “Pariaman bebas orgen tunggal”? Jikapun rumah 
orang baralek dan alek pemuda harus dihibur orgen tunngal, kenapa tak tegas 
tegakkan aturan orgen tunggal hanya boleh hingga pukul dua belas malam saja 
dengan menjunjung tinggi adat kesopanan dan nilai agama?            Aku yang 
bodoh ini menangkap adanya pergeseran nilai di ranah yang begitu ku sanjung 
ini, Mamak. Jika dulu kemenakan segan bertemu mamak di lapau, kini kemanakan 
dan mamak duduk bersama bermain domino. Bahkan menonton orgen dilokasi yang 
sama dengan kelakuan yang sama. Begitu sedih aku mendapati hal tersebut. 
Seolah-olah Minang kabau kini tak lagi bisa dijadikan panutan. Seolah-olah 
nilai-nilai kesopanan dipertaruhkan demi tameng “hiburan”.            
Lakukanlah sesuatu, Mamak! Anggaplah biduan wanita itu, pemuda-pemuda itu dan 
anak-anak kecil yang gemar menonton orgen tunggal itu adalah 
kemenakan-kemanakanmu juga yang pantas Mamak ajari hal-hal baik dan Mamak 
lindungi dari segala yang tercela. Tak ku minta biduan-biduan seksi itu lantas 
berbaju kurung, Mamak, setidaknya buat mereka lebih menghargai badan mereka 
sendiri. Jjika tidak bisa mamak buat pemuda-pemuda itu kembali ke Surau, 
setidaknya buat mereka kembali ke rumah orang tuanya lebih awal. Aku menulis 
surat terbuka ini bukan berangkat dari resahku sendiri. Namun dari resahnya 
Bundo Kanduang oleh dunia yang tak lagi “talok diaja”. Aku sadar benar, Mamak 
bukanlah orang yang patut dipersalahkan. Ada orang tua, niniak mamak, dan urang 
tuo di kampung-kampung yang harusnya lebih paham menjaga anak kemenakannya. 
Tapi bolehkah aku memohon, Mamak? Datanglah ke lapau-lapau tiap kampung itu, 
temuai tiap niniak mamaknya, beritahu mereka apa yang seharusnya mereka 
lakukan. Ingatkan mereka jikalau lupa. Berbincang-bincanglah di lapau dengan 
mereka, sebagaimana biasa Mamak lakukan di masa-masa kampanye dulu.             
Aku mohon diri mengakhiri surat ini, Mamak. Aku masih harus memeriksa hasil 
ulangan anak didikku yang mengerjakan ulangan dengan mata terkantuk-kantuk ulah 
orgen tunggal ‘bahoyak’ dikampung mereka semalam….                              
                                                                              
Netri Olala…
Netri Yeni di 
06.15http://netriolala.blogspot.co.id/2016/01/2016-pariaman-harus-bebas-orgen-tunggal.html?m=1--
 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
 1. Email besar dari 200KB;
 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
 3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.


  

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke