Tapi julukan
Muazin
untuk
Ahmad Syafii Maarif
tidak bisa digabungkan dengan
julukan
Tokoh Lintas Agama

Salam
FMNS
On Jan 10, 2016 3:28 PM, "Fashridjal M. Noor" <[email protected]>
wrote:

> Ahmad Syafii Maarif dijuluki sebagai guru bangsa boleh2 saja...beliau bisa
> duduk bersama banyak guru bangsa yg lain sejak awal abad ke 20...
>
> Wahidin Sudirohusodo
> K H Ahmad Dahlan
> Abdul Muis
> St Takdir Alisyahbana
> K H Agus Salim
> Soekarno
> M Hatta
> St Syahrir
> HAMKA
> M Yamin
> Dll
> On Jan 10, 2016 2:51 PM, "Sjamsir Sjarif" <[email protected]> wrote:
>
>> Karano indak masuak dalam rujukan website tadi, cubo copas tanpa izin
>> kompas utk dibaco Rang Lapau.
>>
>> Harian Kompas
>> OPINI > DUDUK PERKARA > 80 TAHUN AHMAD SYAFII MAARIF: BUYA DI MATA SAYA
>> DUDUK PERKARA
>> 80 Tahun Ahmad Syafii Maarif: Buya di Mata Saya
>> ILHAM KHOIRI
>> Siang | 7 Juli 2015 14:48 WIB Ikon jumlah hit 3798 dibaca   Ikon komentar
>> 0 komentar
>> Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, baru
>> saja berulang tahun ke-80. Buya, demikian sapaan akrabnya, kian matang
>> sebagai guru bangsa. Dan, bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki guru
>> seperti dirinya.
>>
>> Mantan  Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif memberikan buku
>> Muazin Bangsa dari Makkah Darat kepada sejumlah tokoh yang hadir pada
>> peluncuran buku itu di Bentara Budaya, Jakarta, Jumat (3/7). Buku itu
>> merupakan biografi intelektual Ahmad Syafii Maarif dari sejumlah penulis.
>> KOMPAS/HERU SRI KUMORO
>> Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif memberikan buku
>> Muazin Bangsa dari Makkah Darat kepada sejumlah tokoh yang hadir pada
>> peluncuran buku itu di Bentara Budaya, Jakarta, Jumat (3/7). Buku itu
>> merupakan biografi intelektual Ahmad Syafii Maarif dari sejumlah penulis.
>> Sosoknya sebagai guru bangsa cukup tecermin dalam perayaan ulang tahunnya
>> yang ditandai dengan peluncuran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat
>> (Penerbit Serambi, 2015) di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (3/7). Acara itu
>> bersahaja. Karena kebetulan berlangsung saat Ramadhan, maka disediakan
>> takjil dan menu makanan untuk berbuka pada akhir acara.
>>
>> Sejumlah tokoh nasional hadir. Sebut saja, Gubernur DKI Jakarta Basuki
>> Tjahaja Purnama, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua sementara merangkap
>> anggota sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki,
>> sejarawan Anhar Gonggong, Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat
>> Driyarkara Franz Magnis-Suseno, Dewan Penyantun Centre for Strategic and
>> International Studies Harry Tjan Silalahi, dan Pemimpin Redaksi Harian
>> Kompas Budiman Tanuredjo.
>>
>> Ada juga diskusi dengan pembicara Mantan Rektor Universitas Islam Negeri
>> Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, Guru Besar Etika Komunikasi Politik
>> Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Alois A Nugroho, dan Wakil Ketua
>> Muhammadiyah Disaster Management Center Rahmawati Husein.
>>
>> Para tokoh itu berasal dari beragam latar belakang. Ada pemimpin
>> parlemen, politisi, pemimpin KPK, agamawan, akademisi, peneliti, aktivis
>> perempuan, pemimpin organisasi keagamaan, penerbit, dan pemimpin media.
>> Keberagaman mereka mewakili spektrum pengakuan yang luas kepada Buya.
>>
>> Hal itu ditunjukkan ketika sebagian tokoh itu memberikan testimoni.
>> Begitu juga saat pembahasan buku itu dalam diskusi. Meski disampaikan dalam
>> bermacam komentar, semuanya sama-sama menahbiskan Buya sebagai guru bangsa
>> yang tak lelah menyerukan pentingnya mengacu pada moral publik.
>>
>> Sebagai guru, Buya tak segan membagi ilmu kepada publik, baik lewat
>> ceramah, tulisan-tulisan di buku, opini, atau komentarnya di media cetak.
>> Lebih dari itu, dia juga tampil memberikan teladan yang mengamalkan ilmu
>> yang dibicarakannya itu dalam kehidupan sehari-hari. Guru dalam pengertian
>> sosok yang patut digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh) sungguh lekat
>> secara otentik pada figurnya.
>>
>> Dan, keguruannya itu dia abdikan untuk bangsa Indonesia. Bangsa dalam
>> arti luas, yaitu seluruh tumpah darah negeri ini. Bukan untuk satu
>> golongan, kelompok, suku, atau agama tertentu. Sosoknya mewakili seorang
>> ulama-intelektual yang sekaligus juga bangsawan, dalam pengertian figur
>> yang sungguh-sungguh memikirkan dan bekerja untuk bangsa.
>>
>> Persentuhan dengan Buya
>>
>> Sebagai pewarta harian Kompas, saya mulai mewawancarai Buya sebagai
>> narasumber sejak tahun 2004 saat saya mengawali bekerja di harian ini.
>> Persentuhan itu berlangsung secara sporadis hingga sekarang. Semoga catatan
>> sekilas ini bisa lebih mengenalkan sosoknya.
>>
>> Wawancara pertama saya dengan Buya berlangsung di Bandara Adisutjipto,
>> Yogyakarta, tahun 2004, pukul 06.00. Kebetulan Buya hendak bepergian ke
>> luar kota pagi itu sehingga meminta bertemu di ruang tunggu bandara pada
>> pagi itu, beberapa saat sebelum terbang. Tak mau kehilangan momen, sehabis
>> subuh, saya serta-merta menderu dengan motor ke situ.
>>
>> Di bandara, Buya sudah siap. Saya masih ingat, beliau mengenakan batik
>> warna coklat dengan motif biru yang bersahaja. Senyumnya mengembang saat
>> melihat saya datang. Saya langsung bertanya soal budaya di Yogyakarta,
>> topik yang sejak awal saya sodorkan.
>>
>> Buya menekankan pentingnya menjaga Yogyakarta sebagai kota "industri
>> pemikiran" yang memberikan sumbangan gagasan bagi kemajuan bangsa.
>> Pemikiran dilahirkan para akademisi, budayawan, seniman, dan negarawan yang
>> ditopang banyak perguruan tinggi, kantong seni budaya, lembaga keagamaan,
>> dan kelompok masyarakat.
>>
>> Kota Yogyakarta kian menarik karena sejarah keberpihakan almarhum Sri
>> Sultan Hamengku Buwono IX kepada Republik Indonesia. Itu artinya, sejak
>> awal Yogyakarta memang memihak "keindonesiaan".
>>
>> Namun, belakangan, sebagaimana kota-kota lain, kota ini juga dirasuki
>> nilai hedonisme. Untuk mengantisipasinya, masyarakat Yogyakarta perlu
>> mengukuhkan kembali nilai-nilai luhur budaya. Saat bersamaan, agama harus
>> difungsikan secara benar sehingga menjiwai perilaku manusianya.
>>
>> "Jangan jadikan agama sebagai retorika politik sehingga sering terjadi
>> perang ayat, bahkan Tuhan pun dibajak. Tuhan tidak tersinggung, tetapi geli
>> melihat kelakuan hambanya yang tidak senonoh itu," tuturnya tegas.
>>
>> Hasil wawancara itu diterbitkan di halaman pertama edisi khusus suplemen
>> Kompas untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, 3 Maret 2004. Buya kami pilih
>> sebagai narasumber karena merupakan tokoh bangsa yang tinggal di Yogyakarta.
>>
>> Guru Besar  Filsafat Unika Atma Jaya Alois A Nugroho, cendekiawan Muslim
>> Komaruddin Hidayat, dan Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center
>> Rachmawati Husein (kiri ke kanan) menjadi pembahas dalam diskusi saat
>> peluncuran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat, di Bentara Budaya,
>> Jakarta, Jumat (3/7). Buku tersebut merupakan biografi intelektual Ahmad
>> Syafii Maarif dari sejumlah penulis.
>> KOMPAS/HERU SRI KUMORO
>> Guru Besar Filsafat Unika Atma Jaya Alois A Nugroho, cendekiawan Muslim
>> Komaruddin Hidayat, dan Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center
>> Rachmawati Husein (kiri ke kanan) menjadi pembahas dalam diskusi saat
>> peluncuran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat, di Bentara Budaya,
>> Jakarta, Jumat (3/7). Buku tersebut merupakan biografi intelektual Ahmad
>> Syafii Maarif dari sejumlah penulis.
>> Setelah itu, saya lama tidak bersentuhan dengan Buya karena saya
>> ditugaskan sebagai wartawan daerah di Palembang, Sumatera Selatan. Sekitar
>> 2,5 tahun di kota pempek, saya lantas kembali ke Jakarta sebagai wartawan
>> budaya di Kompas Minggu. Sesekali saya kembali bersentuhan dengan Buya.
>> Namun, persinggungan lebih kerap terjadi saat saya ditugaskan menjadi
>> wartawan politik dan giat meliput isu-isu kebangsaan dan keagamaan.
>>
>> Buya adalah salah satu narasumber penting untuk isu-isu terkait
>> toleransi, kebinekaan, politik moral, juga korupsi. Setiap kali bangsa ini
>> dirundung masalah pelik, kami merasa perlu meminta pandangan Buya untuk
>> membantu memetakan persoalan seraya mendorong jalan keluar. Pandangannya
>> selalu jernih, tajam, kritis, otentik, simpel, terbuka, apa adanya, berdiri
>> di atas semua kelompok, dan menawarkan solusi.
>>
>> Gerakan moral
>>
>> Pada ujung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Buya bersama
>> sejumlah tokoh lintas agama melontarkan kritik keras karena pemimpin negara
>> dianggap hanya berwacana yang baik-baik, tetapi minim aksi nyata untuk
>> memperbaiki keadaan.
>>
>> Para tokoh lintas agama meminta Yudhoyono sungguh-sungguh memenuhi sumpah
>> dan janjinya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, terutama bagi
>> rakyat miskin dan terpinggirkan. "Ini gerakan moral, sama sekali tidak ada
>> urusannya dengan menjatuhkan siapa atau menaikkan siapa," kata Buya, di
>> Jakarta, Februari 2011 itu.
>>
>> Pada April 2011, saya menonton pemutaran perdana film biografi masa kecil
>> Buya, Si Anak Kampoeng, hasil besutan sutradara Damien Dematra di Jakarta.
>> Buya ikut menonton bersama sejumlah sahabatnya.
>>
>> Film ini mengisahkan perjalanan awal tokoh yang lahir pada 31 Mei 1935
>> itu saat menimba ilmu di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Ini menjadi pijakan
>> penting sebelum dia hijrah ke Yogyakarta, melanjutkan studi S-2 di
>> Universitas Ohio, dan S-3 di Universitas Chicago di Amerika Serikat.
>>
>> Film itu hendak berpesan, anak muda jangan gampang berputus asa, tetapi
>> terus berjuang untuk mencapai cita-cita. Seusai pemutaran, penonton
>> menyalami dan beberapa orang melontarkan pujian. Buya justru merendah,
>> "Wah, saya tidak sehebat itu."
>>
>> Salah satu gagasan Buya adalah mengembangkan pemahaman keislaman dalam
>> bingkai keindonesiaan. Dalam sebuah diskusi di kantor pusat Muhammadiyah di
>> Menteng, Jakarta, dia mengingatkan umat Islam bahwa sila-sila dalam
>> Pancasila merupakan pintu masuk membumikan semangat Islam di Indonesia.
>> Umat Islam tidak perlu lagi memperjuangkan gagasan negara Islam, yang
>> justru akan mengganggu kesepakatan pendiri bangsa. Itu karena toleransi
>> merupakan ajaran penting Islam.
>>
>> Buya mengajak umat Islam di Indonesia untuk menyadari bahwa nilai-nilai
>> Islam telah diserap dalam Pancasila. Karena itu, tidak perlu memformalkan
>> nilai agama itu dalam bentuk syariat atau khilafah Islam. Karena itu pula,
>> dia mengecam kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam, tetapi
>> menghalalkan kekerasan, seperti dalam bentuk teror yang mengorbankan banyak
>> orang, termasuk kaum Muslim sendiri.
>>
>> "Teror dilakukan orang yang terpinggirkan dan berani mati. Orang yang
>> tidak berani hidup, beraninya mati. Mereka tidak punya tawaran untuk
>> memperbaiki keadaan," katanya suatu ketika.
>>
>> Buya selalu mengingatkan bahwa Indonesia yang majemuk ini merupakan
>> anugerah Tuhan. Kita perlu merawatnya dengan memelihara dan saling
>> menghargai di tengah kebinekaan suku, agama, budaya, dan bahasa.
>>
>> Gagasan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil Empu Tantular dari Kerajaan
>> Majapahit telah ditetapkan sebagai prinsip bangsa Indonesia dan tertera
>> dalam lambang negara. Jika negara lemah atau kurang peduli,
>> kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki hati nurani dan akal sehat harus
>> terus tampil memperjuangkan cita-cita kerukunan dalam kebinekaan itu.
>>
>> Semangat ini juga diajarkan dalam agama-agama. "Islam mengajarkan,
>> manusia diciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan
>> bersuku-suku, untuk saling mengenal. Pengenalan ini juga berarti bertukar
>> kebudayaan," katanya.
>>
>> "Pluralisme menyebabkan masyarakat dapat hidup bersama dengan damai.
>> Orang ateis pun harus diberi hak hidup di muka bumi. Sebaiknya orang
>> beriman, tetapi tidak boleh dipaksa, dan mereka harus tunduk pada
>> konstitusi bangsa," katanya pada suatu diskusi di Jakarta, November 2012.
>>
>> Saat Pemilu Presiden 2014, saat sebagian orang ingin menampilkan diri
>> netral, Buya justru memperlihatkan pemihakan. Saat itu, kompetisi antara
>> dua pasangan calon presiden-calon wakil presiden, yaitu Joko Widodo-Jusuf
>> Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, sangat sengit. Joko Widodo
>> (Jokowi) menjadi korban fitnah keji yang memainkan isu suku, agama, ras,
>> dan antargolongan (SARA). Geram dengan cara kampanye kotor itu, Buya
>> mengkritiknya secara keras.
>>
>> BERITA TERKAIT
>>
>> Muazin dari Makkah DaratKonten premiumCetak | 3 Juli 2015
>> Kesalehan karena KebebasanKonten premiumCetak | 4 Juli 2015
>> "Ada kampanye najis dengan mengatakan Jokowi bukan Muslim dan memilihnya
>> kafir," katanya. Buya juga menemukan ada indikasi keterlibatan negara
>> melalui gubernur, bupati, dan wali kota untuk memenangkan capres tertentu
>> melalui instruksi sampai ke tingkat akar rumput, persis praktik Orde Baru.
>> Saat bersamaan, terjadi juga politik uang yang masif. Akibat dari semua
>> itu, terjadi polarisasi yang tajam.
>>
>> "Pemihakan unsur-unsur negara dalam pilpres kepada pasangan tertentu
>> tidak saja merusak demokrasi, tetapi lebih-lebih telah merendahkan martabat
>> negara," ujarnya.
>>
>> Pemihakan atas nilai
>>
>> Pemihakan Buya dalam pemilu sebenarnya adalah pemihakan atas nilai, yaitu
>> bagaimana mendorong proses pemilihan yang adil, sehat, dan demokratis. Tak
>> terlihat nafsu untuk memburu jabatan. Buktinya, saat ditawari jabatan
>> sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) seusai pemilu,
>> Buya memilih tidak menerimanya.
>>
>> Atas tawaran itu, dia mengirim pesan pendek. "Baru saja Cecep Sutiawan,
>> deputi SDM Sekneg, telp minta kesediaan saya untuk jadi anggota Wantimpres.
>> Jawaban saya, saya sudah pernah jadi anggota DPA dulu. Sekarang saya sudah
>> tua, mohon dicari yang lebih muda. Maarif."
>>
>> Meski berpeluang duduk di jabatan yang menarik, Buya memilih tetap di
>> luar. Dengan begitu, dia tetap bebas mengutarakan pandangannya, termasuk
>> mengkritik pemerintahan Jokowi. Namun, jika merasa perlu, dia kadang juga
>> hadir ke Istana untuk memberikan masukan langsung kepada Presiden, tanpa
>> harus menjadi Wantimpres.
>>
>> Lihat saja ketegangan politik saat pengajuan Budi Gunawan sebagai calon
>> kepala Polri. Presiden Jokowi secara mengejutkan mengajukan Budi ke DPR dan
>> DPR menyetujuinya. Namun, sebagian publik menolak karena sosok tersebut
>> ditetapkan KPK sebagai tersangka korupsi. Apalagi, sebelumnya sosok itu
>> juga santer diberitakan sebagai salah satu perwira polisi yang memiliki
>> rekening gendut.
>>
>> Di tengah kontroversi itu, Buya bersama sejumlah tokoh menjadi tim
>> pemberi masukan kepada Presiden. Tim ini mendesak Presiden untuk mencari
>> sosok calon kepala Polri yang bersih dari permasalahan hukum. Sebelum
>> Jokowi resmi berbicara, Buya menyatakan, Budi Gunawan tak akan dilantik
>> sebagai kepala Polri, sebagaimana aspirasi sebagian rakyat. Memang akhirnya
>> nama Budi ditarik dan diganti Badrodin Haiti yang kini jadi Kepala Polri.
>>
>> Aktivitas Buya dalam isu kepala Polri tidak terlepas dari kegiatannya
>> dalam gerakan pemberantasan korupsi. Dia dikenal lantang mengecam para
>> pejabat yang korup akibat kehidupannya terlalu konsumtif, rakus, dan
>> pragmatis.
>>
>> "Sebagian pejabat sudah rabun ayam, hanya melihat yang dekat-dekat saja.
>> Kepentingan bangsa dan negara tidak singgah dalam otaknya. Mereka
>> menggunakan kekuasaan untuk memperoleh benda dan kesenangan, seperti hidup
>> di tengah fatamorgana," katanya pada Oktober 2013.
>>
>> KPK termasuk lembaga yang mendapat perhatian besar Buya. Baginya, inilah
>> satu-satunya lembaga penegak hukum yang masih dipercaya dan menjadi harapan
>> publik untuk menegakkan hukum, khususnya memerangi korupsi. Karena itu,
>> dalam banyak kesempatan, Buya menganjurkan pemerintah, termasuk Presiden
>> Jokowi, untuk menjaga KPK sebagai amanat reformasi untuk membersihkan virus
>> korupsi yang menggerogoti negeri ini.
>>
>> Bahasa kiasan Melayu
>>
>> Tak hanya soal isi, Buya juga sering kreatif dalam berbahasa, khususnya
>> menyajikan diksi yang jitu. Ketika menggambarkan harapan yang sulit
>> dipenuhi, misalnya, dia mengatakan, "Jangan minta tanduk kepada kuda."
>>
>> Mengomentari kelompok yang memaksakan kebenarannya sendiri sambil
>> menyesatkan kelompok lain yang berbeda pandangan, Buya menyebut, "Mereka
>> itu merasa benar di jalan yang sesat." Kali lain, dia ungkapkan kalimat
>> "jangan jadikan politik sebagai mata pencarian" untuk mengkritik para
>> politisi yang lebih berjibaku mencari keuntungan pribadi ketimbang
>> memperjuangkan aspirasi rakyat.
>>
>> Bagi wartawan, kalimat-kalimat semacam itu sungguh menarik karena
>> membantu untuk membuat lead (kalimat pembuka tulisan), bahkan judul berita.
>> Kalimat-kalimat Buya, yang sebagian lahir dari tradisi kiasan bahasa
>> Melayu, menyegarkan bahasa Indonesia, juga bahasa media yang terlalu rutin
>> sehingga menjemukan.
>>
>> Atas semua itu, maka Kompas memberikan anugerah Cendekiawan Berdedikasi
>> kepada Buya dan empat tokoh lain saat ulang tahun Kompas ke-48 pada 2013.
>> Ini semacam pengukuhan atas berbagai penghargaan yang pernah dia terima
>> sebelumnya, baik secara formal maupun informal, dari masyarakat. Dia
>> berharap anugerah itu bisa mendorong kemajuan bangsa. "Mari kibarkan
>> bendera optimisme di tengah gelembung pesimisme saat ini," katanya.
>>
>> Optimisme itu pula yang kental terasa pada peluncuran buku dan diskusi di
>> Bentara Budaya Jakarta, pekan lalu. Pada ulang tahunnya ke-80, Buya Syafii
>> Maarif hadir sebagai sosok yang menumbuhkan harapan bagi kemajuan peradaban
>> bangsa ini. Selamat ulang tahun, Buya, sang guru bangsa.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>>   1. Email besar dari 200KB;
>>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>   3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Google Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke