Tapi julukan Muazin untuk Ahmad Syafii Maarif tidak bisa digabungkan dengan julukan Tokoh Lintas Agama
Salam FMNS On Jan 10, 2016 3:28 PM, "Fashridjal M. Noor" <[email protected]> wrote: > Ahmad Syafii Maarif dijuluki sebagai guru bangsa boleh2 saja...beliau bisa > duduk bersama banyak guru bangsa yg lain sejak awal abad ke 20... > > Wahidin Sudirohusodo > K H Ahmad Dahlan > Abdul Muis > St Takdir Alisyahbana > K H Agus Salim > Soekarno > M Hatta > St Syahrir > HAMKA > M Yamin > Dll > On Jan 10, 2016 2:51 PM, "Sjamsir Sjarif" <[email protected]> wrote: > >> Karano indak masuak dalam rujukan website tadi, cubo copas tanpa izin >> kompas utk dibaco Rang Lapau. >> >> Harian Kompas >> OPINI > DUDUK PERKARA > 80 TAHUN AHMAD SYAFII MAARIF: BUYA DI MATA SAYA >> DUDUK PERKARA >> 80 Tahun Ahmad Syafii Maarif: Buya di Mata Saya >> ILHAM KHOIRI >> Siang | 7 Juli 2015 14:48 WIB Ikon jumlah hit 3798 dibaca Ikon komentar >> 0 komentar >> Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, baru >> saja berulang tahun ke-80. Buya, demikian sapaan akrabnya, kian matang >> sebagai guru bangsa. Dan, bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki guru >> seperti dirinya. >> >> Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif memberikan buku >> Muazin Bangsa dari Makkah Darat kepada sejumlah tokoh yang hadir pada >> peluncuran buku itu di Bentara Budaya, Jakarta, Jumat (3/7). Buku itu >> merupakan biografi intelektual Ahmad Syafii Maarif dari sejumlah penulis. >> KOMPAS/HERU SRI KUMORO >> Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif memberikan buku >> Muazin Bangsa dari Makkah Darat kepada sejumlah tokoh yang hadir pada >> peluncuran buku itu di Bentara Budaya, Jakarta, Jumat (3/7). Buku itu >> merupakan biografi intelektual Ahmad Syafii Maarif dari sejumlah penulis. >> Sosoknya sebagai guru bangsa cukup tecermin dalam perayaan ulang tahunnya >> yang ditandai dengan peluncuran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat >> (Penerbit Serambi, 2015) di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (3/7). Acara itu >> bersahaja. Karena kebetulan berlangsung saat Ramadhan, maka disediakan >> takjil dan menu makanan untuk berbuka pada akhir acara. >> >> Sejumlah tokoh nasional hadir. Sebut saja, Gubernur DKI Jakarta Basuki >> Tjahaja Purnama, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua sementara merangkap >> anggota sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki, >> sejarawan Anhar Gonggong, Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat >> Driyarkara Franz Magnis-Suseno, Dewan Penyantun Centre for Strategic and >> International Studies Harry Tjan Silalahi, dan Pemimpin Redaksi Harian >> Kompas Budiman Tanuredjo. >> >> Ada juga diskusi dengan pembicara Mantan Rektor Universitas Islam Negeri >> Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, Guru Besar Etika Komunikasi Politik >> Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Alois A Nugroho, dan Wakil Ketua >> Muhammadiyah Disaster Management Center Rahmawati Husein. >> >> Para tokoh itu berasal dari beragam latar belakang. Ada pemimpin >> parlemen, politisi, pemimpin KPK, agamawan, akademisi, peneliti, aktivis >> perempuan, pemimpin organisasi keagamaan, penerbit, dan pemimpin media. >> Keberagaman mereka mewakili spektrum pengakuan yang luas kepada Buya. >> >> Hal itu ditunjukkan ketika sebagian tokoh itu memberikan testimoni. >> Begitu juga saat pembahasan buku itu dalam diskusi. Meski disampaikan dalam >> bermacam komentar, semuanya sama-sama menahbiskan Buya sebagai guru bangsa >> yang tak lelah menyerukan pentingnya mengacu pada moral publik. >> >> Sebagai guru, Buya tak segan membagi ilmu kepada publik, baik lewat >> ceramah, tulisan-tulisan di buku, opini, atau komentarnya di media cetak. >> Lebih dari itu, dia juga tampil memberikan teladan yang mengamalkan ilmu >> yang dibicarakannya itu dalam kehidupan sehari-hari. Guru dalam pengertian >> sosok yang patut digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh) sungguh lekat >> secara otentik pada figurnya. >> >> Dan, keguruannya itu dia abdikan untuk bangsa Indonesia. Bangsa dalam >> arti luas, yaitu seluruh tumpah darah negeri ini. Bukan untuk satu >> golongan, kelompok, suku, atau agama tertentu. Sosoknya mewakili seorang >> ulama-intelektual yang sekaligus juga bangsawan, dalam pengertian figur >> yang sungguh-sungguh memikirkan dan bekerja untuk bangsa. >> >> Persentuhan dengan Buya >> >> Sebagai pewarta harian Kompas, saya mulai mewawancarai Buya sebagai >> narasumber sejak tahun 2004 saat saya mengawali bekerja di harian ini. >> Persentuhan itu berlangsung secara sporadis hingga sekarang. Semoga catatan >> sekilas ini bisa lebih mengenalkan sosoknya. >> >> Wawancara pertama saya dengan Buya berlangsung di Bandara Adisutjipto, >> Yogyakarta, tahun 2004, pukul 06.00. Kebetulan Buya hendak bepergian ke >> luar kota pagi itu sehingga meminta bertemu di ruang tunggu bandara pada >> pagi itu, beberapa saat sebelum terbang. Tak mau kehilangan momen, sehabis >> subuh, saya serta-merta menderu dengan motor ke situ. >> >> Di bandara, Buya sudah siap. Saya masih ingat, beliau mengenakan batik >> warna coklat dengan motif biru yang bersahaja. Senyumnya mengembang saat >> melihat saya datang. Saya langsung bertanya soal budaya di Yogyakarta, >> topik yang sejak awal saya sodorkan. >> >> Buya menekankan pentingnya menjaga Yogyakarta sebagai kota "industri >> pemikiran" yang memberikan sumbangan gagasan bagi kemajuan bangsa. >> Pemikiran dilahirkan para akademisi, budayawan, seniman, dan negarawan yang >> ditopang banyak perguruan tinggi, kantong seni budaya, lembaga keagamaan, >> dan kelompok masyarakat. >> >> Kota Yogyakarta kian menarik karena sejarah keberpihakan almarhum Sri >> Sultan Hamengku Buwono IX kepada Republik Indonesia. Itu artinya, sejak >> awal Yogyakarta memang memihak "keindonesiaan". >> >> Namun, belakangan, sebagaimana kota-kota lain, kota ini juga dirasuki >> nilai hedonisme. Untuk mengantisipasinya, masyarakat Yogyakarta perlu >> mengukuhkan kembali nilai-nilai luhur budaya. Saat bersamaan, agama harus >> difungsikan secara benar sehingga menjiwai perilaku manusianya. >> >> "Jangan jadikan agama sebagai retorika politik sehingga sering terjadi >> perang ayat, bahkan Tuhan pun dibajak. Tuhan tidak tersinggung, tetapi geli >> melihat kelakuan hambanya yang tidak senonoh itu," tuturnya tegas. >> >> Hasil wawancara itu diterbitkan di halaman pertama edisi khusus suplemen >> Kompas untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, 3 Maret 2004. Buya kami pilih >> sebagai narasumber karena merupakan tokoh bangsa yang tinggal di Yogyakarta. >> >> Guru Besar Filsafat Unika Atma Jaya Alois A Nugroho, cendekiawan Muslim >> Komaruddin Hidayat, dan Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center >> Rachmawati Husein (kiri ke kanan) menjadi pembahas dalam diskusi saat >> peluncuran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat, di Bentara Budaya, >> Jakarta, Jumat (3/7). Buku tersebut merupakan biografi intelektual Ahmad >> Syafii Maarif dari sejumlah penulis. >> KOMPAS/HERU SRI KUMORO >> Guru Besar Filsafat Unika Atma Jaya Alois A Nugroho, cendekiawan Muslim >> Komaruddin Hidayat, dan Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center >> Rachmawati Husein (kiri ke kanan) menjadi pembahas dalam diskusi saat >> peluncuran buku Muazin Bangsa dari Makkah Darat, di Bentara Budaya, >> Jakarta, Jumat (3/7). Buku tersebut merupakan biografi intelektual Ahmad >> Syafii Maarif dari sejumlah penulis. >> Setelah itu, saya lama tidak bersentuhan dengan Buya karena saya >> ditugaskan sebagai wartawan daerah di Palembang, Sumatera Selatan. Sekitar >> 2,5 tahun di kota pempek, saya lantas kembali ke Jakarta sebagai wartawan >> budaya di Kompas Minggu. Sesekali saya kembali bersentuhan dengan Buya. >> Namun, persinggungan lebih kerap terjadi saat saya ditugaskan menjadi >> wartawan politik dan giat meliput isu-isu kebangsaan dan keagamaan. >> >> Buya adalah salah satu narasumber penting untuk isu-isu terkait >> toleransi, kebinekaan, politik moral, juga korupsi. Setiap kali bangsa ini >> dirundung masalah pelik, kami merasa perlu meminta pandangan Buya untuk >> membantu memetakan persoalan seraya mendorong jalan keluar. Pandangannya >> selalu jernih, tajam, kritis, otentik, simpel, terbuka, apa adanya, berdiri >> di atas semua kelompok, dan menawarkan solusi. >> >> Gerakan moral >> >> Pada ujung pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Buya bersama >> sejumlah tokoh lintas agama melontarkan kritik keras karena pemimpin negara >> dianggap hanya berwacana yang baik-baik, tetapi minim aksi nyata untuk >> memperbaiki keadaan. >> >> Para tokoh lintas agama meminta Yudhoyono sungguh-sungguh memenuhi sumpah >> dan janjinya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, terutama bagi >> rakyat miskin dan terpinggirkan. "Ini gerakan moral, sama sekali tidak ada >> urusannya dengan menjatuhkan siapa atau menaikkan siapa," kata Buya, di >> Jakarta, Februari 2011 itu. >> >> Pada April 2011, saya menonton pemutaran perdana film biografi masa kecil >> Buya, Si Anak Kampoeng, hasil besutan sutradara Damien Dematra di Jakarta. >> Buya ikut menonton bersama sejumlah sahabatnya. >> >> Film ini mengisahkan perjalanan awal tokoh yang lahir pada 31 Mei 1935 >> itu saat menimba ilmu di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Ini menjadi pijakan >> penting sebelum dia hijrah ke Yogyakarta, melanjutkan studi S-2 di >> Universitas Ohio, dan S-3 di Universitas Chicago di Amerika Serikat. >> >> Film itu hendak berpesan, anak muda jangan gampang berputus asa, tetapi >> terus berjuang untuk mencapai cita-cita. Seusai pemutaran, penonton >> menyalami dan beberapa orang melontarkan pujian. Buya justru merendah, >> "Wah, saya tidak sehebat itu." >> >> Salah satu gagasan Buya adalah mengembangkan pemahaman keislaman dalam >> bingkai keindonesiaan. Dalam sebuah diskusi di kantor pusat Muhammadiyah di >> Menteng, Jakarta, dia mengingatkan umat Islam bahwa sila-sila dalam >> Pancasila merupakan pintu masuk membumikan semangat Islam di Indonesia. >> Umat Islam tidak perlu lagi memperjuangkan gagasan negara Islam, yang >> justru akan mengganggu kesepakatan pendiri bangsa. Itu karena toleransi >> merupakan ajaran penting Islam. >> >> Buya mengajak umat Islam di Indonesia untuk menyadari bahwa nilai-nilai >> Islam telah diserap dalam Pancasila. Karena itu, tidak perlu memformalkan >> nilai agama itu dalam bentuk syariat atau khilafah Islam. Karena itu pula, >> dia mengecam kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam, tetapi >> menghalalkan kekerasan, seperti dalam bentuk teror yang mengorbankan banyak >> orang, termasuk kaum Muslim sendiri. >> >> "Teror dilakukan orang yang terpinggirkan dan berani mati. Orang yang >> tidak berani hidup, beraninya mati. Mereka tidak punya tawaran untuk >> memperbaiki keadaan," katanya suatu ketika. >> >> Buya selalu mengingatkan bahwa Indonesia yang majemuk ini merupakan >> anugerah Tuhan. Kita perlu merawatnya dengan memelihara dan saling >> menghargai di tengah kebinekaan suku, agama, budaya, dan bahasa. >> >> Gagasan Bhinneka Tunggal Ika yang diambil Empu Tantular dari Kerajaan >> Majapahit telah ditetapkan sebagai prinsip bangsa Indonesia dan tertera >> dalam lambang negara. Jika negara lemah atau kurang peduli, >> kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki hati nurani dan akal sehat harus >> terus tampil memperjuangkan cita-cita kerukunan dalam kebinekaan itu. >> >> Semangat ini juga diajarkan dalam agama-agama. "Islam mengajarkan, >> manusia diciptakan laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan >> bersuku-suku, untuk saling mengenal. Pengenalan ini juga berarti bertukar >> kebudayaan," katanya. >> >> "Pluralisme menyebabkan masyarakat dapat hidup bersama dengan damai. >> Orang ateis pun harus diberi hak hidup di muka bumi. Sebaiknya orang >> beriman, tetapi tidak boleh dipaksa, dan mereka harus tunduk pada >> konstitusi bangsa," katanya pada suatu diskusi di Jakarta, November 2012. >> >> Saat Pemilu Presiden 2014, saat sebagian orang ingin menampilkan diri >> netral, Buya justru memperlihatkan pemihakan. Saat itu, kompetisi antara >> dua pasangan calon presiden-calon wakil presiden, yaitu Joko Widodo-Jusuf >> Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, sangat sengit. Joko Widodo >> (Jokowi) menjadi korban fitnah keji yang memainkan isu suku, agama, ras, >> dan antargolongan (SARA). Geram dengan cara kampanye kotor itu, Buya >> mengkritiknya secara keras. >> >> BERITA TERKAIT >> >> Muazin dari Makkah DaratKonten premiumCetak | 3 Juli 2015 >> Kesalehan karena KebebasanKonten premiumCetak | 4 Juli 2015 >> "Ada kampanye najis dengan mengatakan Jokowi bukan Muslim dan memilihnya >> kafir," katanya. Buya juga menemukan ada indikasi keterlibatan negara >> melalui gubernur, bupati, dan wali kota untuk memenangkan capres tertentu >> melalui instruksi sampai ke tingkat akar rumput, persis praktik Orde Baru. >> Saat bersamaan, terjadi juga politik uang yang masif. Akibat dari semua >> itu, terjadi polarisasi yang tajam. >> >> "Pemihakan unsur-unsur negara dalam pilpres kepada pasangan tertentu >> tidak saja merusak demokrasi, tetapi lebih-lebih telah merendahkan martabat >> negara," ujarnya. >> >> Pemihakan atas nilai >> >> Pemihakan Buya dalam pemilu sebenarnya adalah pemihakan atas nilai, yaitu >> bagaimana mendorong proses pemilihan yang adil, sehat, dan demokratis. Tak >> terlihat nafsu untuk memburu jabatan. Buktinya, saat ditawari jabatan >> sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) seusai pemilu, >> Buya memilih tidak menerimanya. >> >> Atas tawaran itu, dia mengirim pesan pendek. "Baru saja Cecep Sutiawan, >> deputi SDM Sekneg, telp minta kesediaan saya untuk jadi anggota Wantimpres. >> Jawaban saya, saya sudah pernah jadi anggota DPA dulu. Sekarang saya sudah >> tua, mohon dicari yang lebih muda. Maarif." >> >> Meski berpeluang duduk di jabatan yang menarik, Buya memilih tetap di >> luar. Dengan begitu, dia tetap bebas mengutarakan pandangannya, termasuk >> mengkritik pemerintahan Jokowi. Namun, jika merasa perlu, dia kadang juga >> hadir ke Istana untuk memberikan masukan langsung kepada Presiden, tanpa >> harus menjadi Wantimpres. >> >> Lihat saja ketegangan politik saat pengajuan Budi Gunawan sebagai calon >> kepala Polri. Presiden Jokowi secara mengejutkan mengajukan Budi ke DPR dan >> DPR menyetujuinya. Namun, sebagian publik menolak karena sosok tersebut >> ditetapkan KPK sebagai tersangka korupsi. Apalagi, sebelumnya sosok itu >> juga santer diberitakan sebagai salah satu perwira polisi yang memiliki >> rekening gendut. >> >> Di tengah kontroversi itu, Buya bersama sejumlah tokoh menjadi tim >> pemberi masukan kepada Presiden. Tim ini mendesak Presiden untuk mencari >> sosok calon kepala Polri yang bersih dari permasalahan hukum. Sebelum >> Jokowi resmi berbicara, Buya menyatakan, Budi Gunawan tak akan dilantik >> sebagai kepala Polri, sebagaimana aspirasi sebagian rakyat. Memang akhirnya >> nama Budi ditarik dan diganti Badrodin Haiti yang kini jadi Kepala Polri. >> >> Aktivitas Buya dalam isu kepala Polri tidak terlepas dari kegiatannya >> dalam gerakan pemberantasan korupsi. Dia dikenal lantang mengecam para >> pejabat yang korup akibat kehidupannya terlalu konsumtif, rakus, dan >> pragmatis. >> >> "Sebagian pejabat sudah rabun ayam, hanya melihat yang dekat-dekat saja. >> Kepentingan bangsa dan negara tidak singgah dalam otaknya. Mereka >> menggunakan kekuasaan untuk memperoleh benda dan kesenangan, seperti hidup >> di tengah fatamorgana," katanya pada Oktober 2013. >> >> KPK termasuk lembaga yang mendapat perhatian besar Buya. Baginya, inilah >> satu-satunya lembaga penegak hukum yang masih dipercaya dan menjadi harapan >> publik untuk menegakkan hukum, khususnya memerangi korupsi. Karena itu, >> dalam banyak kesempatan, Buya menganjurkan pemerintah, termasuk Presiden >> Jokowi, untuk menjaga KPK sebagai amanat reformasi untuk membersihkan virus >> korupsi yang menggerogoti negeri ini. >> >> Bahasa kiasan Melayu >> >> Tak hanya soal isi, Buya juga sering kreatif dalam berbahasa, khususnya >> menyajikan diksi yang jitu. Ketika menggambarkan harapan yang sulit >> dipenuhi, misalnya, dia mengatakan, "Jangan minta tanduk kepada kuda." >> >> Mengomentari kelompok yang memaksakan kebenarannya sendiri sambil >> menyesatkan kelompok lain yang berbeda pandangan, Buya menyebut, "Mereka >> itu merasa benar di jalan yang sesat." Kali lain, dia ungkapkan kalimat >> "jangan jadikan politik sebagai mata pencarian" untuk mengkritik para >> politisi yang lebih berjibaku mencari keuntungan pribadi ketimbang >> memperjuangkan aspirasi rakyat. >> >> Bagi wartawan, kalimat-kalimat semacam itu sungguh menarik karena >> membantu untuk membuat lead (kalimat pembuka tulisan), bahkan judul berita. >> Kalimat-kalimat Buya, yang sebagian lahir dari tradisi kiasan bahasa >> Melayu, menyegarkan bahasa Indonesia, juga bahasa media yang terlalu rutin >> sehingga menjemukan. >> >> Atas semua itu, maka Kompas memberikan anugerah Cendekiawan Berdedikasi >> kepada Buya dan empat tokoh lain saat ulang tahun Kompas ke-48 pada 2013. >> Ini semacam pengukuhan atas berbagai penghargaan yang pernah dia terima >> sebelumnya, baik secara formal maupun informal, dari masyarakat. Dia >> berharap anugerah itu bisa mendorong kemajuan bangsa. "Mari kibarkan >> bendera optimisme di tengah gelembung pesimisme saat ini," katanya. >> >> Optimisme itu pula yang kental terasa pada peluncuran buku dan diskusi di >> Bentara Budaya Jakarta, pekan lalu. Pada ulang tahunnya ke-80, Buya Syafii >> Maarif hadir sebagai sosok yang menumbuhkan harapan bagi kemajuan peradaban >> bangsa ini. Selamat ulang tahun, Buya, sang guru bangsa. >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari >> Google Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >> > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
