Kalu mau organisasi yang tepat harus berbentuk Koperasi, hanya saja sifat orang kita yang mau maju sendiri sendiri adalah problem. Di Jawa koperasi Batik maju sampai omsetnya ber milyar rupiah. Saya diceritakan oleh seorang bekas aktifis bidang ekonomi Muhamadiah yang sudah survey keseluruh daerah Jawa, bahkan Jepang, Singapure dan Asia lain. Mereka kuat karena Koperasi, misalnya koperasi pembuat pintu Mobil dll. jadi mereka memiliki usaha itu. Koperasi dibuat dalam kelomopk misalnya setiap 10 orang , kalau satu orang meminjam duit semua anggota menganilisa keperluan peminjaman, baru dapat pinjaman kalau mereka setuju semua, dengan kata lain mereka bertanggung jawab atas pencicilan utang tersebut.

Isna Huriati

On 5/21/2016 9:17 AM, 'asmiyakob' via RantauNet wrote:
Apa bedanya Minang Mart dgn alfa/indo mark??? Tetap sama2 jadi pesaing dgn 
kedai2 tradisional, apakah ini solusi untuk kesejahteraan rakyat Minang??? Coba 
dikaji lagi deh saya rasa gak ada bedanya lho cuma ganti nama doang terkecuali 
punya konsep yg berbeda dan menguntungkan untuk pengusa2 kedai2 kecil selama 
ini ygada di desa2. Salam buat bpk2 semua.

Asmi Yakob
Jkt 65thnJkt 65thn</div>
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Mochtar Naim [email protected] [surau]" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 21 May 2016 02:08:09
To: RantauNet Group<[email protected]>; Mas'oed ABIDIN<[email protected]>; Asmun Sjueib<[email protected]>; Nasir Zulhasril<[email protected]>; Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo<[email protected]>; BADRUL MUSTAFA<[email protected]>; Lies Suryadi<[email protected]>; Anggun Gunawan<[email protected]>; Alfitri FISIP<[email protected]>; Harlizon MBAu<[email protected]>; Dr. Gusti ASNAN<[email protected]>; Edy Utama<[email protected]>; Mohcholilbaridjambek<[email protected]>; Amri AZIZ<[email protected]>; Basri 
Mangun<[email protected]>; Mestika Zed<[email protected]>; Drs Sjafnir Aboe NAIN<[email protected]>; Facebook Groups<[email protected]>; yahoogroups<[email protected]>; Azmi Dt Bgd Abu<[email protected]>; Yahoo!<[email protected]>; Prof Dr Taufik ABDULLAH<[email protected]>; Prof. Dr Azyumardi AZRA<[email protected]>; Prof Dr Djohermansyah DJOHAN<[email protected]>; Ilhamy Elias<[email protected]>; Miko Kamal<[email protected]>; Fasli JALAL<[email protected]>; Irman 
Gusman<[email protected]>; Chairil Anwar<[email protected]>; Emil Habli HasanNaim<[email protected]>; Herlina Hasan Basri<[email protected]>; Feraldi W. Loeis<[email protected]>; Zulhendri Chaniago<[email protected]>; Jusril Jamarin<[email protected]>; Jafrinur Jafrinur<[email protected]>; Dr. Saafroedin BAHAR<[email protected]>; Ir. Raja Ermansyah YAMIN<[email protected]>; Nurmatias Zakaria<[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; Novesar62<[email protected]>; Dr. Herwandi 
WENDY<[email protected]>; Arief Rangkayo Mulia<[email protected]>; Bunda Nismah<[email protected]>; Elfitra Baikoeni<[email protected]>; Kardimatus Suheimi<[email protected]>; yahoogroups<[email protected]>; Khairul Jasmi<[email protected]>; Novizar Zen<[email protected]>; Prof.Dr Emil SALIM<[email protected]>; Muslim Kasim<[email protected]>; Ambiar Lani<[email protected]>; Yuliasma Muluk<[email protected]>; M. ABDUH<[email protected]>; Amelia Naim Indrajaya<[email protected]>; Abdurrahman 
Aman<[email protected]>; Opinihaluan<[email protected]>; Meuthia Suyudi<[email protected]>; Sjamsir_sjarif<[email protected]>; Darman - MOENIR<[email protected]>; OBS Saldi<[email protected]>; Eri Bagindo Rajo<[email protected]>; Gebuminang Pusat<[email protected]>; Riri Chaidir<[email protected]>; S. SURYADI<[email protected]>; Zizie Fauzan<[email protected]>; WiNda AmeLia<[email protected]>; Sutan Sinaro<[email protected]>; Susi Moeis<[email protected]>; Rahim Jabbar<[email protected]>; 
Asmardi Arbi<[email protected]>; Nina Rivai<[email protected]>; Herman Jambak<[email protected]>; Ajoduta<[email protected]>; Datuk Endang<[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; Facebook Groups<[email protected]>; Rizal Ramli<[email protected]>; Zuriyati Ati<[email protected]>; Revrisond Baswir<[email protected]>; Facebook Groups<[email protected]>; Mahyudin Al Mudra<[email protected]>; Yeyen Kiram<[email protected]>; Elvira Naim<[email protected]>; 
Kasim Musliar<[email protected]>; Dutamardin Umar<[email protected]>; Asril Tanjung<[email protected]>; Wannofri Samry<[email protected]>; Chaca Mesyarah<[email protected]>; Tata Marnarita<[email protected]>; Indra J. Piliang<[email protected]>; Imsa Us<[email protected]>; Zukri Saad<[email protected]>; Midawati Unand<[email protected]>; Sylvia Tajuddin Jaelani<[email protected]>; Hanifah Daman<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [surau] 1000 Minang Mart [1 Attachment]

1000 MINANG MART

INILAH YANG DITUNGGU-TUNGGU

SELAMA INI


Mochtar Naim

20 Mei 2016


|
|


|  G

   |

UBERNUR IRWAN PRAYITNO padaawal masa kerja keduanya ini akhirnya tampil dengan 
sebuah gagasan rencanakerja yang sangat menjanjikan. Gagasan ini terasa sangat 
tepat karena telahdidahului oleh usaha melarang masuknya mart-mart seperti 
Indomart dan Alfamartmasuk ke Sumbar yang sifatnya kapitalistik dan membunuh 
usaha-usaha mini bisnisritel pewarungan kerakyatan di seluruh Indonesia.  
Apalagi dalam upaya melaksanakan usaha mini bisnisritel berbasis kerakyatan ini 
dikaitkan pula dengan upaya kerjasama dengan BankNagari sebagai pemasok dana 
permodalan. Syukur-syukur, dan memang diharapkan,kalau juga diikuti oleh 
bank-bank lainnya, khususnya bank-bank syariah, baikbank-bank syariah negara 
maupun swasta.

             Ada bagusnya kalau Minang Mart yang mau dikembangkan itu,sifatnya 
menyeluruh, tidak hanya tersebar di kota-kota tetapi juga di setiapNagari di 
Sumbar. Minimal ada satu Minang Mart di setiap Nagari, yang 
kapasitasnyadisesuaikan dengan kapasitas kebutuhan konsumptif di Nagari itu.  
Bukan mustahil, bahkan, kalau ide 1000 MinangMart dengan nama yang bisa 
berbagai ini juga berkembang ke rantau manapun yangbanyak dimasuki oleh para 
perantau Minang, baik di Indonesia ini maupun diKawasan Nusantara lainnya, 
termasuk Malaysia, Brunai, Sabah, dsb.

             Yang diperlukan tidak lain adalah “4K”: Kemauan, Kerjakeras, 
Kejujuran dan Kerjasama antara sesama, serta bimbingan yang kuat dariPemda 
sendiri. Seperti yang telah disampaikan oleh Gubernur Irwan akan komitmendari 
Pemda Sumbar untuk menjadikan bisnis ritel pewarungan dengan nama MinangMart 
ini sebagai pertaruhan akan keberhasilan maupun kegagalan dari PemdaSumbar ke 
masa depan, begitupun mestinya rakyat Sumbar sendiri, baik yang diranah maupun 
yang di rantau di mana saja di dunia ini. Kita sudah lihat sendiribagaimana 
kerjasama antara pemerintah dan rakyatnya, baik yang di ranah maupundi rantau, 
dari ketiga raksasa Dunia Kuning: Jepang, Korea dan Cina, sekarangini mampu 
merebut dunia bisnis dan industri di seluruh dunia. Semua itu dimulaitidak lain 
dari “4 K” itu: Kemauan, Kerja keras, Kejujuran dan Kerjasama.

Kemauan, Kerjakeras, Kejujuran dan Kerja sama inilah yang perlu kita kembangkan 
di bumibertuah Minangkabau ini, yang dahulu pernah kita sanjung-sanjung 
karenamemiliki unsur-unsur budaya yang kita perlukan itu, tetapi yang sekarang 
telahmeluncur habis sampai ke tingkat ketiga dari bawah dalam ukuran 
keberhasilan diIndonesia dan Nusantara ini. Munculnya ide mau menciptakan 
Sumbar menjadi DIM(Derah Istimewa Minangkabau) tujuannya tidak lain adalah itu; 
tidak hanyasekedar memasukkan ideologi ABS-SBK ke dalam program pembangunan 
Pemda Sumbar,tetapi sekaligus sebagai kekuatan hukumnya dengan menjadikan Pemda 
Sumbar inimenjadi Provinsi DIM itu, seperti halnya dengan ke empat provinsi 
lainnya yangsudah menjadi Daerah Istimewa itu, yaitu Aceh, Yogya, Papua dan DKI 
Jakarta.Kalau jadi, Sumbar akan menjadi yang ke lima dari 34 provinsi yang ada 
di NKRIini. Dan peluang ini dibukakan oleh UUD1945 sendiri, khususnya Pasal 18 
B.Tinggal kita memanfaatkan peluang yang dibukakan itu, justru 
untukmengembalikan Sumbar dengan budaya Minangkabaunya yang sudah terperosok 
jauhini kembali kepada marwah dan nama baik yang pernah diembannya itu.

Denganmenjadikan Provinsi Sumbar menjadi Provinsi DIM itu, nilai budaya ABS-SBK 
itutidak hanya sekadar disebut-sebut seperti selama ini tetapi benar-benar 
menjadipatokan hukum dengan kekuatan hukum, seperti halnya hukum 
danperundang-undangan negara yang berlaku di ranah Minang sendiri. Artinya, 
adatdan agama Islam di bumi Minangkabau dijadikan sebagai sumber kekuatan 
hukumyang bisa menghitam-memutihkan di semua sisi kehidupan, baik di 
pemerintahanmaupun di masyarakat sendiri.

Kembali keide penciptaan 1000 Minang Mart yang dilancarkan oleh Gubernur Irwan 
itu,pengalaman menyesakkan nafas dari usaha Koperasi Nagari di masa lalu 
yangmanajemennya dikuasai dan dikendalikan oleh pejabat pemerintah di Kecamatan 
danNagari yang merupakan sumber KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), dihapus 
dandigantikan oleh manajeman koperasi yang bersih dan rasional, yang 
meluludikendalikan oleh rakyat sendiri. Minang Mart dan mart-mart lainnya yang 
bermunculandari rakyat sendiri, seluruhnya dikelolakan dengan prinsip “ekonomi 
kerakyatanberbasiskan koperasi syariah” di Nagari dan di mana saja. Cita-cita 
koperasi BungHatta yang kita perkaya dengan konsep ekonomi syariah kerakyatan, 
insya Allahakan kita munculkan bersama di ranah leluhur kita sendiri, 
Minangkabau, dankita kembangkan ke manapun di tanah air kita ini, dan di 
manapun, dengan kitamenjadikan Sumbar menjadi Provinsi DIM yang kerkekuatan 
hukum dan bercorakOtonomi Daerah.

Semoga Allahswt membukakan peluang dengan ma’unah dan mau’izhahNya, amin! ***


On Thursday, April 28, 2016 5:22 PM, Mochtar Naim <[email protected]> wrote:
  SUMATERA THAWALIB PARABEKMelirik ke Cara Pesantren di Jawa Menghimpun Dana  
Mochtar Naim28 April 2016
|  S  |

EBAGAI sesama mantan AnggotaDPD dan MPR RI, saya banyak mengikuti sepak terjang 
dari KH Mahmud Ali Zaindari Pasuruan, Jawa Timur, yang mengayomi sebuah 
pesantren di Pasuruan, JawaTimur.  Di pesantren itu semuasantri-pelajar, serta 
para orang tua, para guru dan para pegawai pesantren diikut-sertakandalam usaha 
menghimpun dana bagi pengelolaan pesantren dalam bentuk usahaekonomi pesantren 
yang sifatnya produktif. Semua apapun usaha yang digerakkandi lingkungan 
pesantren, termasuk usaha penyediaan makanan dan minuman sertakebutuhan buku, 
alat-alat tulis, pakaian, dll bagi para santri yang tinggal diasrama dan di 
luarpun, diusahakan oleh usaha ekonomi pesantren itu. Usahaekonomi pesantren 
itu diusahakan secara terorganisasi berbentuk badan hukumbercorak PT ataupun 
Koperasi Syariah Pesantren.            PT atau Koperasi Syariah Pesantren ini 
mengembangkanusaha perekonomian produktif di bidang-bidang yang potensial bisa 
dikembangkandi lingkungan geografis pesantren, yang arealnya bisa di manapun di 
provinsiJatim, baik di bidang pertanian-perkebunan, perikanan, peternakan, 
industrirumah tangga ataupun industri bisnis mikro dan menengah-makro 
sekalipun.  Dari informasi yang diberikan, usahaperekonomian produktif yang 
digerakkan dan dikelolakan di pesantren itu totalassetnya sudah mencapai 
miliaran rupiah, sehingga wang sekolah santri bisaditekan sampai ke tingkat 
yang relatif sangat rendah dan murah, sementara gajiguru dan kebutuhan material 
pengelolaan sekolah ditingkatkan. Hal yang samajuga berlaku di banyak pesantren 
di Jawa.*Semua itubisa ditiru oleh sekolah-sekolah swasta, termasuk madrasah 
dan pesantren yangjuga berkembang di Sumbar dan di manapun di Indonesia ini. 
Saya sendiri sudahpernah membawakannya ke ketua pengurus harian sekolah 
Thawalib Parabek, yangsaya kebetulan juga duduk di dalamnya, tetapi disambut 
dengan dingin dan takmenyelera. Pada hal saya sudah berkunjung sebelumnya ke 
Wali Nagari SungaiTanang, bersebelahan dengan Parabek, menanyakan prospek 
kerjasama pengelolaanbisnis air minum kemasan, kerjasama dengan Sumatera 
Thawalib Parabek, yangdisambut dengan entusias dan positif.Saya tuliskancerita 
ini di sini untuk mendapatkan respons dan reaksi dari kita-kita yangmengurus 
sekolah Sumatera Thawalib Parabek, dan semua sekolah-sekolah 
danmadrasah-madrasah serta pesantren-pesantren swasta di manapun di ranah 
Minang diSumatera Barat. Mari, kitabelajar dari contoh-contoh bagus dari 
manapun datangnya. Uthlubul ‘ilma walau bish shîn. Ke Cinapun kita dihasung 
untukmencari ilmu oleh agama kita sendiri. ***Wassalam, Mochtar 
NaimKompInhutani, Blok M5, Ciputat, Tangsel. HP: 0813 1719 8778. 
Email:[email protected]  Ref: KHMahmud Ali Zain, HP: 0812 3300 421, Email: 
[email protected]



--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
 1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke