Penyakit DBD di Batam Makin Mengkwatirkan Dibaca: *18* kali Senin,23 Mei 2016 - 02:53:57 WIB [image: Penyakit DBD di Batam Makin Mengkwatirkan] Ilustrasi.
*Batam, Haluan* — Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam sangat mengkwatirkan dan perlu di waspadai. Karena dalam waktu empat bulan terahir sudah 11 orang tewas akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam melalui Puskesmas di 12 Kecamatan terus memantau perkembangan kesehatan masyarakat, dan memberikan penyuluhan. Namun kasus gigitan nyamuk aedes aegypti terus meningkat. Untuk itu Dinkes terus peringatkan masyarakt agar membuat Juru Pemantau Jentik (Jumantik) setiap pemukiman warga. “Jumantik merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan dalam mencegah penyakit berbahaya tersebut,” ujar Sri Rupiati Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyebaran Lingkungan (P3PL) Dinkes Batam, Minggu (22/5) Menurut Sri, penerapan Jumantik di pemukiman bisa diterapkan kepada anak-anak yang punya peran aktif. Disamping memantau kebersihan rumah, juga bisa mengawasi langsung genangan-gendangan air, tempat nayamuk berkembang biak. Sehingga Jumantik bisa melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin setiap saat. “Jangan biarkan air hujan tergenang di pemukiman. Karena nyamuk aedes aegepti berkembang biak secara cepat,” tegasnya. Sehingga Jumantik bisa diterapkan di perumahan selain di kediaman masyarakat. Disamping itu masyarakat yang lupa menerapkan 3 M plus yaitu menutup, menguras dan menimbun. “Menutup rapat tempat penampungan air untuk memberantasi nyamuk bertelur. Menguras secara rutin mengganti tempat air seperti bak mandi maupun kolam ikan. Menimbun kaleng atau wadah-wadah kosong yang menjadi sumber penyabaran nayamuk,” pungkasnya.* (h/hr)* On Sunday, May 22, 2016 at 2:21:13 PM UTC-7, Sjamsir Sjarif wrote: > > Silek Lanyah Jadi Suguhan Pengunjung > Dibaca: *19* kali > Senin,23 Mei 2016 - 03:02:42 WIB > [image: Silek Lanyah Jadi Suguhan Pengunjung] PERMAIAN Silat lumpur kini > menjadi suguhan kepada tamu yang datang ke Padang Panjang. (IWAN DN) > > *PADANG PANJANG, HALUAN *— Di antara sederetan *silek* Minangkabau, > seperti silat kumango, silat lintau, sitaralak, sungai patai, pasaman, > ternyata ada satu silat di Padang Panjang, namanya silat kubu gadang. > > Warga setempat menyebut “silek lanyah” atau silat lumpur. Bermain silat > ini di dalam sawah yang lanyah (berlumpur), kini menjadi suguhan kepada > tamu yang datang. > > “Bila berkunjung ke Dusun Kubu Gadang, Kelurahan Ekor Lubuk, Padang > Panjang Timur, tepat di tepi jalan Kampung Kubu Gadang, ada sawah yang > tidak di tanami seluas lapang bola voli. Di sana pesilat muda akan > menunjukkan kebolehannya kepada tamu,” kata Walikota Padang Panjang, > Hendri Arnis melalui Kabag Humas Setdako, Ampera Salim di ruang kerjanya, > beberapa waktu lampau. > > Silat lanyah atau bersilat dalam lumpur ini, pernah tampil di rubrik > seribu kata Majalah Tempo. Waktu itu, ada kunjungan beberapa tamu pejabat > tinggi dari Jakarta ke Padang Panjang. Mereka juga didampingi beberapa > wartawan foto. Rombongan itu, sempat melihat pesilat muda yang melayang, > terbang menghayun kaki, menendang dalam sawah berlumpur. > > “Setiap penonton pasti berdecak kagum melihatnya. Mereka tidak hanya > bermain tangan kosong. Tapi, juga memakai pisau senjata tajam. Datanglah ke > Padang Panjang, jika ingin melihat langsung,” kata Ampera Salim > > Dari keterangan yang diperoleh, “Silek Lanyah” merupakan *Silek Tuo* asli > Rang Kubu Gadang, Padang Panjang. “Silek” atau silat merupakan seni tradisi > beladiri turun-temurun yang ada di Minangkabau. > > Tradisi inilah yang kemudian kembali gencar diangkat masyarakat Desa > Wisata Kubu Gadang, Padang Panjang, setelah sempat mati suri beberapa > waktu. Berdasarkan sejarah kesenian lokal, silek ini sudah sangat akrab > melekat dengan sendi kehidupan masyarakat Kubu Gadang, Kelurahan Ekor > Lubuk, Kecamatan Padang Panjang Timur. > > “Kota Padang Panjang juga merupakan daerah asal salah seorang guru besar > *silek > tuo* perempuan di Minangkabau bernama “Inyiak Upiak Palatiang” yang > konon di saat berusia seabad lebih, ternyata masih piawai bersilat dengan > lincah hingga penghujung hayatnya,” ujarnya *(h/one)* > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
