Sanak sapalanta Rantau Net  n a h

Ass ww

Sisi gelap ekonomi kita

Dalam 7 (tujuh) point kritik atau masukan SBY yang disampaikan pada
tanggal `10 Juni 2016 yang lalu kepada Presiden Jokowi terdapat  hal
yang mengkhawatirkan tentang social ekonomi rakyat. .Ada tujuh isu
yang disampaikan sebagai kritik kepada Pemerintahan Jokowi-Jk.

Dalam isu kedua dikemukakan tentang kondisi sosial-ekonomi rakyat,
terutama kalangan bawah, atas lemahnya perekomian saat ini.
Dikemukan oleh SBY :

“Dari apa yang kita lihat di kalangan masyarakat, kelompok ekonomi
lemah saat ini memang memiliki kesulitan dalam mencukup kebutuhan
sehari-harinya, karena daya beli yang menurun. Secara statistik,
terjadi penurunan pendapatan per orang dari tahun 2014 ke tahun 2015
yang lalu sebesar Rp 2.150.000. Tahun 2016 ini bisa lebih rendah lagi.
Sementara, di lapangan tercermin juga menurun tajamnya pembelanjaan
masyarakat (household consumption). Itulah sebabnya ketika terjadi
lonjakan harga daging sapi dan gula, rakyat menjerit karena memang
berat bagi mereka. Disamping lemahnya daya beli, meskipun angka
pengangguran berkurang, mencari lapangan pekerjaan juga tidak mudah
ketika perusahaan-perusahaan melakukan PHK dan tidak membuka
lapangan-kerja-baru”.

Kita tahu bahwa pendapatan per orang atau pendapatan per capitan itu
adalah cerminan pendapatan rakyat Indonesia rata rata dalam setahun.
Angka itu adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB)  dibagi  dengan
jumlah penduduk Indonesia secara rata pada tahun yang bersangkutan.
Ditambahkan oleh SBY bahwa kecendrungan pada tahun 2016 juga akan
terjadi penurunan lagi. Itu artinya kalau tahun 2916 pendapatan
percapita turun lagi, maka dalam dua tahun pemerintahan Jokowi rakyat
Indonesia semakin tergerus penghasilannya. Rakyat bukannya bertambah
kaya melainkan bertambah miskin.    SBY tentu tidak sembarang
berbicara, pernyataannya tentu saja didukung data.  Pemerintahan
Jokowi mulai memegang kemudi Pemerintahan RI pada tahun 2014, setelah
memenangkan pertarungan Pilpres berdasarkan keputusan Mahkamah
Konstitusi. Jelas kalau penurunan pendapatan perkapita itu terjadi
dalam era pemerintahannya.

Ada masalah lain yang sering kurang disadari , bahwa angka pendapatan
perkapita itu bukanlah cerminan kesejahteraan yang nyata bagi rakyat.
Karena distribusi pendapatan yang nyata di republic tercinta ini amat
timpang.  PDB per kapita bukanlah  alat ukur yang riil untuk Indonesia
karena penduduk Indonesia memiliki karakteristik ketidak setaraan yang
tinggi dalam distribusi pendapatan. Berdasarkan data  tahun 2015 ada
kesenjangan antara statistik dan kenyataan karena kekayaan 43.000
orang terkaya di Indonesia (yang mewakili hanya 0,02% dari total
penduduk Indonesia) setara dengan 25% PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang
terkaya di Indonesia setara dengan 10,3% PDB (yang merupakan jumlah
yang sama dengan kombinasi harta milik kelompok 60 juta orang
termiskin di Indonesia). Angka-angka ini mengindikasikan konsentrasi
kekayaan yang besar untuk kelompok elit yang kecil. Terlebih
lagi,kesenjangan distribusi pendapatan ini diperkirakan akan semakin
timpang atau semakin tinggi atau dengan kata lain, jurang antara yang
kaya dengan yang miskin akan semakin lebar di masa mendatang.

Pada awalnya, Bank Dunia memproyeksikan Indonesia akan mencapai
batasan 3.000 dollar AS pada tahun 2020 namun negara ini telah
mencapai level ini satu dekade lebih awal. Pertumbuhan PDB yang tinggi
di zaman Rezim Orde Baru, selama Suharto berkuasa mencapai rata rata
pertumbuhan hamper 7 % selama 32 tahun  telah   mempercepat
peningkatan pendapatan per kapita Indonesia sehingga Indonesia
melompat masuk kategori kelompok negara dengan pendapatan perkapita
US$ 3.000 (kelompok negara dengan pendapatan menengah bawah). Angka
pertumbuhan 7 % itu tidak pernah tercapai lagi semenjak Suharto
berhentri menjadi Presiden. Sebabnya bukan semata mata karena
pengelolaan dalam negeri, ada pengaruh resesi dan gejolak di tingkat
global juga.  PDB per kapita Indonesia telah meningkat secara stabil
pada tahun 2000-an dan setelahnya dengan pertumbuhan rata rata sebesar
4,8 % pertahun. Posisi PDB perkapita terakhir sbb :

PDB per Kapita (dalam USD)   2014  :   3,492  dan tahun 2015  :   3.3.71

Jokowi tampaknya amat gencar dalam membangun infra struktur dimana
mana. Tentu dengan harapan infra struktur itu akan memancing .
investasi, dan investasi akan meningkatkan PDB dan ekonomi akan tumbuh
lebih baik. Itu memang harapan yang logis. Tapi siapakan nanti yang
lebih diuntungkan oleh infra strukturb yang dibangun itu ? Pada
tingkat pertama tentu saja adalah para elit yang berpendapatan tinggi
itu. Merekalah yang punya uang dan merekalah yang akan ber inestasi
dan merekalah nanti yang akan lebih meningkat penghasilannya.
Berikutnya adalah investor asing yang menanamkan modalnya di
Indonesua, terutama yang menilai bahwa investasi di Indonesia
menguntungkan karena infra strukturnya mendukung. Setelah itu tentu
saja Negara juga diuntungkan dengan peningkatan pajak yang diperoleh
sebagai akibat keuntungan perusahaan perusahaan yang berinvestasi
tersebut. Baru terakhir , tenaga kerja  yang terlibat  dalam proses
pelaksanaan pada industry/manufaktur  sebagai tenaga kerja pada usaha
usaha yang dibuat oleh para investor itu. Dan biasanya  tenaga kerja
lah yang memperoleh porsi paling kecil dari kue investasi itu. Saking
kecilnya banyak kalangan yang menganggap mereka hanya sebagai kuli
saja di negeri sendiri. Ada yang menggambarkan lebih ekstrim, bahwa
fungsi tenaga kerja itu hanya seperti “kayu untuk memasak nasi orang
lain”. Apapun konotasi negatif tetang nasib tenaga kerja, namun
bekerja tetap lebih baik daripada mereka menambah barisan
pengangguran.

Kita mengejar peningkatan PDB melalui pembangunan infra strukur dimana
mana   dan yang paling menikmati peningkatan PDB itu tentu saja para
elit yang berpendapatan super tinggi itu.

 Bisakah pemerintahan Jokowi memperbaiki konstelasi distribusi
pendapatan agar pendapatan per kapita  tidak hanya angka statistik
belaka ?. Malainkan pendapatan riil yang dinikmati rakyat secara
hampir merata pada tingkat pendapatan yang rasional, sehingga tenaga
kerja Indonesia tidak lagi hanya sebagai tenaga kerja yang murah ?

Kalau itu ada tanda tanda akan terjadi selama kekuasaan pemerintahan
Jokowi ini  , saya tidak akan malu malu beralih memilih Jokowi pada
Pilpres yang akan datang.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke