Dd Zd n.a.h
Sato ambo saketek PDB Ekonomi dalam cengkraman taipan, naiknya turunnya PDB, tetap saja rakyat susah Diorek-orek kasar, 43 000 orang dari 250 juta rakyat Indonesia menikmati 25 % PDB, kalau begitu penikmat mewah ini, bisa hidup mewah dengan 8 juta-an perhari sementara yang 249 juta orang hidup hanya dengan sekitar Rp 4. 000 perhari. Mungkin ini salah biarlah dibetulkan bagi yang ahli. Inilah kepincangan yang oleh sebagian elit mau dipertahankan. Lonjakan harga Kebetulan saran pak SBYbertepatan bulan puasa, tapi kenaikan harga sudah rutin setiap bulan puasa (masuk, sedang, mungkin sesudahnya) harga selalu naik. Kalau umat islam memang puasa (menahan segala bentuk hawa nafsu termasuk makan minum), konsumsi baik kuantitas maupun kualitas mestinya turun, tapi malah naik. Mungkin umat islam harus introspeksi diri. Mengenai pengangguran Untuk mengatasi pengangguran apa tidak sebaiknya sektor pertanian yang digiatkan. Dari data BPS, lapangan pertanian paling banyak menyerap tenaga kerja –data BPS terlampir. Juga menurut BPS, tenaga menengah kebawah sudah mulai banyak kembali ke desa, karena lapangan pekerjaan dikota mengehendaki tenaga pendidikan yang lebih tinggi (tenaga murah). Tenaga turun ke desa ini tepat sekali kalau disambut dengan kegiatan pertanian. Rakyat miskin yang tak punya lahan harus dibagikan tanah oleh negara sesuai dengan jatah transmigrasi. Dengan merobah kebijakan masa lalu, agar tanah itu tetap pada petaninya, tanah harus dengan sertifikat hak garap turun temurun agar tidak pindah tangan, tidak lagi hak milik, bila penggarap punah, tanah kembali ke negara. Negara harus memelihara tanah untuk rakyat, tidak lagi memberikan dengan boros kepada pengembang untuk gedung-gedung bertingkat yang menelan lahan produksi dan mematikan mata air maupun kepada investor perkebunan/pertanian yang menghabiskan lahan untuk rakyat. Kalau tanah masih dikuasi pemodal/investor, rakyat akan tetap jadi buruh, siklus kesulitan mencarikan lapangan pekerjaan akan terjadi berkepanjangan. Mudah-mudahan pemerintah menggiatkan sektor pertanian dengan rakyat sebagi pelakunya. Agar ketimpangan 8 juta per 4 ribu itu tidak berlanjut. Hal lain yang penting lagi, pemerintah jangan membanjiri rakyat dengan barang impor yang menyedot tabungan rakyat. Wass, Maturidi (L/77) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
