Malin Kundang, Mualim Kondang
Oleh
Indra J Piliang *)  

Bagi masyarakat Minangkabau, Pariaman tidak termasuk dalam kategori ranah 
(luhak). Ada tiga luhak di Minangkabau, yakni Luhak Lima Puluh Kota, Luhak Agam 
dan Luhak Tanah Datar. Pariaman hanyalah rantau terdekat dari Luhak Nan Tigo. 
Kawasan Lembah Anai, misalnya, adalah perbatasan antara Darek dengan Rantau 
dalam cerita-cerita tambo. Sehingga muncul istilah, ikue darek, kapalo rantau. 
Kalaupun kini mobil bebas lalu lalang setiap hari, tidak demikian di zaman 
saisuak. Buktinya, terdapat Bukit Tambun Tulang di sekitar Lembah Anai, yakni 
kawasan tempat para parewa dan pandeka mempertaruhkan nyawa sebelum memasuki 
kawasan paling rimba dari bumi Pariaman. 

Namun, dalam kaitannya dengan agama Islam, Pariaman adalah wilayah pertama yang 
ditempati oleh Syech Burhanuddin, ulama asal Aceh yang dipercaya sebagai 
pembawa agama Islam ke Minangkabau. Makam Syech Burhanuddin bertempat di Ulakan 
yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Padang Pariaman. 

Karena itu pula, Pariaman dikenal sebagai pusat dari nama-nama yang terkait 
dengan Syech Burhanuddin. Ada perguruan tinggi yang membawa nama ini, yakni 
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syech Burhanuddin. Selain itu ada juga Sekolah 
Tinggi Ilmu Ekonomi Sumatera Barat. Keduanya terletak di Kota Pariaman. 
Keberadaan nama Syech Burhanuddin itulah yang menempatkan image bahwa 
masyarakat Pariaman adalah masyarakat relegius, terutama dikaitkan dengan 
tarekat Syattariyah.  

Di masa kecil, saya sering mendengar pembicaraan soal tarekat demi tarekat ini. 
Tidak jarang orang-orang di Pariaman menuntut ilmu (mengaji) ke tempat-tempat 
lain. Perdebatan tentang hubungan manusia dengan Allah SWT berlangsung di 
banyak surau, terutama setelah semua orang tidur. Karena saya tinggal di 
Kampuang Tangah, Lansano, Sikucur Selatan, tentu ada perasaan bahwa orang yang 
tinggal di Pariaman jauh lebih maju dari kami. Kemajuan itu dilihat dari 
peralatan yang dimiliki dan dipakai, seperti kendaraan, telepon, sampai 
televisi. 

Saya semakin mengenal Kota Pariaman ketika masuk SMA 2 Pariaman (1988-1991). 
Sama sekali tidak ada perasaan minder dari sisi ilmu pengetahuan, selain saya 
berasal dari keluarga berkekurangan. Jarang saya memiliki baju yang layak untuk 
dipakai dalam kegiatan non sekolah. Saya memasak sendiri di rumah kos, bersama 
Sahrul Chaniago, sesama jurusan Fisika yang kini jadi sahabat saya. Pagi ke 
pasar membeli kentang dan ikan asin, lalu memasaknya. Sepatu hanya satu, itupun 
sobek dengan merk Dragon Fly. 

Di akhir pekan saya kembali ke Kampuang Tangah, Kecamatan V Koto Kampuang 
Dalam. Terkadang, sungai banjir, sehingga terpaksa menunggu air surut selama 
berjam-jam. Tidak ada jembatan penyeberangan. Kalaupun ada ban bekas, itupun 
yang memiliki tidak banyak orang. Kampung ibu saya memang baru dimasuki listrik 
pada tahun 2002 lalu, kemudian memiliki jembatan gantung tahun 2008. 
Alhamdulillah, sekarang sudah ada jembatan permanen, dibangun atas bantuan 
Kerajaan Oman pasca gempa bumi hebat 2009. 

*** 

Studi etnografis dan antropologis bisa saja membawa kita kepada mitos yang 
negatif. Salah satunya adalah sosok yang bernama Malin Kundang. Yang namanya 
mitos, hampir tidak ada yang bisa menyebutkan angka tahun kemunculan tokoh ini. 
Yang anak-anak tahu – dan kini anak-anak itu sudah berkepala empat juga seperti 
generasi saya – adalah Malin Kundang Anak Durhaka. Emaknya seorang pencari kayu 
api. Zaman pencari kayu api belum berakhir sampai kini, terutama di daerah 
pegunungan. Yang mungkin makin sulit adalah mencari emak-emak yang mencari kayu 
api di area pesisir. 

Dari kisahnya, orang-orang tahu – bahkan hingga Mama Dedeh dalam satu acara 
televisi – betapa Malin Kundang adalah anak yang sama sekali lupa akan ibunya 
yang miskin dan berkain buruk. Ia datang dengan wajah bak pangeran ke kampung 
halaman, dengan membawa seroang istri yang cantik, kapal besar, makanan enak, 
hingga intan permata dan kain sutra. Ia adalah seorang pedagang yang berhasil. 
Keberhasilannya itulah yang membuat ayah mertuanya membekalinya dengan kapal 
besar untuk kembali ke kampung halamannya. 

Padahal, ketika memutuskan untuk menjadi anak kapal di usia mudanya, ia perlu 
membeli baju sederhana dari hasil berjualan kayu emaknya. Emaknya tak tahan 
melihat anaknya begitu ingin bepergian dengan kapal besar, merantau ke negeri 
orang. Ia bisa menyelinap ke dalam kapal. Hampir tak pernah ada kisah antara ia 
pergi dan ia pulang itu. Bagaimana nasibnya di kapal? Kenapa ia bisa tiba-tiba 
saja menjadi begitu kaya-raya di zaman yang sudah masuk berkemajuan? Ia juga 
bukan seorang ahli silat ataupun parewa yang memiliki tubuh tahan panas dan 
api. Ia pekerja biasa yang bermodalkan kejujuran dan kecekatan. Tak mungkin 
pula ia “membunuh” seseorang, hingga bisa menjadi orang nomor satu di kapal, 
yakni menjadi Nahkoda. 

Yang orang tahu, Malin Kundang jadi batu, ketika terlalu dekat dengan laut dan 
menjadi saudagar muda yang memiliki kapal layar besar. Akibat perangainya yang 
buruk, Malin Kundang tidak hanya menjadi durhaka kepada ibunya, tetapi juga 
durhaka kepada alam Minangkabau secara luas. Batu Malin Kundang membawa 
masyarakat Minangkabau menjadi bermusuhan dengan laut yang membawa kebudayaan 
asing, berupa lupa pada bundo kanduang. Ia dikutuk oleh ibunya, sehingga tak 
bisa lagi meminta maaf kepada ibunya dan meminta ampun kepala Allah SWT. Dari 
namanya, Malin, tentu orang tahu bahwa itu adalah aksara Arab.

Seyogianyalah mitos itu diruntuhkan atau ditafsirkan ulang. Tidak semua laut 
bisa membawa seseorang menjadi Malin Kundang. Pembangunan area yang berdekatan 
dengan laut, dengan visi maritim yang jelas, adalah cara untuk memecah batu 
Malin Kundang yang membebani mentalitas manusia Minangkabau. Yang pasti, Malin 
Kundang sebelum menjadi Nahkoda, tentulah sudah menjadi mualim kapal yang 
kondang. Saking kondangnya, seorang saudagar phinisi dari Bugis menjadikannya 
sebagai menantu. 

Lagi pula, tidak ada satu ayatpun dalam kitab-kitab suci yang menceritakan 
bahwa manusia bisa menjadi batu. Betul, ada cerita betapa Nabi Adam terbuat 
dari tanah liat dan Nabi Isa AS mampu menghidupkan orang mati dengan ekor 
lembu. Bahkan, ummat nabi-nabi yang membangkang seperti Fir’aun (ummat Nabi 
Musa AS), atau ummat Nabi Luth, ummat Nabi Nuh, hingga ummat nabi-nabi lainnya, 
tak pernah berubah menjadi batu, pohon atau yang lain. Mereka mengalami 
kematian ala manusia, terkena penyakit, diterjang air bah, ataupun tertimbun 
gempa. 

Kalaupun ada yang menjadi batu, tentunya manusia-manusia penghuni Kota Pompeii 
akibat meletusnya Gunung Vesuvius. Mereka menjadi batu akibat terkena lava 
cair. Tak mustahil juga, batu di Air Bangis adalah endapan dari letusan gunung 
berapi di sekitar pantai. Tapi, endapan dari gunung berapi yang mana? Tidak 
mungkin juga Plato sampai menulis tentang sebuah negeri yang disebut sebagai 
Atlantis dengan ciri-ciri yang banyak disebut berada di kepulauan Indonesia. 
Teori-teori gempa tektonik ataupun letusan gunung berapi lebih masuk akal, 
ketimbang seseorang bisa dikutuk menjadi batu, beserta seluruh penumpang kapal 
dan sekaligus kapal-kapalnya. Kutukan sebesar apa yang bisa menjadikan itu? 

***

Karena lahir di Kota Pariaman, saya mengetahui kota ini dari ayah saya, 
Boestami Datuak Nan Sati. Ayah bekerja di kantor Bupati Padang Pariaman (waktu 
itu masih meliputi Kota Pariaman dan Kabupaten Kepulauan Mentawai). Ayah 
berasal dari Luhak Tanah Datar, tepatnya Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto. 
Sebagai pegawai negeri, ayah di mata saya memiliki ilmu pengetahuan yang luas. 
Bacaan Intisari menjadi makanan wajib kami, begitu juga siaran radio BBC 
Inggris dan ABS Australia. Pengetahuan saya dibentuk dari apa yang dibaca dan 
didengar oleh ayah saya. 

Kota Pariaman dalam ingatan masa kecil saya masih dipenuhi oleh rimbunnya pohon 
baguak (gnetum gnemon, family gnetaceae). Selain itu, pohon ceri (kersen) dan 
tebu. Halaman rumah masih melewati jembatan kecil melintasi selokan yang berawa 
dan berair coklat. Memang sudah ada bioskop Garuda. Ci Ayang dan Ci Elok, dua 
panggilan tante (etek) dari pihak Datuak Nullah – keluarga sesuku --, mengajak 
saya menonton di bioskop itu. Sebagai anak kecil, saya tentu ketakutan melihat 
ada kereta api besar hendak melindas, sehingga saya sembunyi di balik bangku.   

Di Pariaman dulu masih banyak kuda bendi, sebagai ciri khas mengangkut orang 
dari dan ke pasar di dekat tepi laut. Inilah ciri yang mulai hilang di Kota 
Pariaman. Kuda bendi ini dihiasi dengan beragam bendera, apabila menjelang 
Tujuh Belasan atau Tabuik Piaman. Dengan kemajuan yang kini ada di Kota 
Pariaman, kuda bendi ini tidak lagi menjadi sesuatu yang khas, sebagaimana juga 
terjadi di kota-kota lainnya. Saya tidak tahu, sejak kapan kuda ini menjadi 
bagian yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Pariaman, lalu kenapa sekarang 
malah mulai hilang. Barangkali karena aspek perlindungan atas hewan yang mulai 
meningkat, tetapi lebih banyak lagi akibat kendaraan bermotor yang jadi 
pemandangan keseharian. 

Laut adalah wilayah yang terasa jauh, bahkan ketika saya lahir di Pariaman dan 
sekolah di tingkat SMA. Sama sekali tidak ada keakraban antara manusia dengan 
laut. Sampai sekarang, banyak orang di luar Pariaman masih menganggap pantai 
Pariaman sebagai WC terpanjang di dunia. Dulu, Bupati Anas Malik (1980-1990) 
memberantasnya, dengan cara razia setiap pagi dan senja. Bupati ini juga rajin 
menangkap hewan ternak yang lepas, lalu membawanya ke halaman kantor bupati. 

*** 

Dengan luas wilayah 73,36 kilometer persegi, Kota Pariaman termasuk sebagai 
kota kecil di Indonesia. Menurut sensus 2010, jumlah penduduk Kota Pariaman 
hanya 79.043 jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. 
Keunikan lain, hanya ada 6 (enam) kota di pantai barat Sumatera, yaitu Kota 
Banda Aceh, Kota Sibolga dan Kota Gunung Sitoli (Sumut), Kota Pariaman dan Kota 
Padang (Sumbar) dan Kota Bengkulu. 

Rantai atau sabuk enam kota di Pantai Barat Sumatera itu menarik dijadikan 
sebagai panggung Indonesia ke Lautan Hindia. Sebelum Selat Malaka dipenuhi 
kapal, perjalanan dari Eropa ke Amerika dan Australia melewati pantai barat 
Sumatera. Bahkan, penulis terkenal Karl May-pun pernah singgah di Teluk Bayur, 
Padang. Banyak penjelajah dan penulis asing yang singgah di kota-kota pelabuhan 
di pantai barat Sumatera di abad-abad lampau, termasuk dari Eropa, India, China 
dan Arab. 

Merasa jauhnya masyarakat kota, termasuk Kota Pariaman, terhadap laut juga 
terjadi secara regional, ketika perhatian ke pantai barat Sumatera terlalu 
minim. Maritim masih dianggap sebagai bukan bagian dari proses modernisasi 
Indonesia, juga bukan masa depan umat manusia. Visi pembangunan kota dan pantai 
menjadi penting, apalagi menjadi kota pantai. Semacam waterfront city yang 
memang jadi tujuan berakhir pekan secara nyaman di pelbagai negara maju di 
dunia. 

Apabila di masa lalu Kota Pariaman masih dikenal sebagai daerah yang memiliki 
banyak rawa, termasuk lokasi SMA 2 Pariaman di Rawang (rawa), maka kini keadaan 
itu semakin sedikit. Dengan posisi strategis di pinggir pantai, Pariaman bisa 
menjadikan laut sebagai teman, termasuk sebagai area transportasi laut ke Kota 
Padang – apalagi ke Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman – 
ataupun ke Agam dan Pasaman Barat. Sabuk alam yang sudah disusun rapi itu, 
tinggal dimanfaatkan dan dimaksimalkan bagi kepentingan masyarakat ke depan. 

Tak perlu lagi mitos baru dilahirkan, guna mengusik ketenangan masyarakat 
Pariaman. Yang jelas, dengan pemberhentian Archandra Piliang sebagai Menteri 
Energi dan Sumber Daya Mineral, masyarakat nasional dan internasional sudah 
tahu betapa Pariaman tak pernah sebetulnya melahirkan Malin Kundang. Hanya 
saja, ketika masyarakat menerima para perantau yang berhasil dari luar: ia 
mengalami banyak kendala, sehingga tak mampu lagi menghadapi dengan cara 
berpikir yang ia terima dari rantau itu.

*) Anggota Tim Quality Assurance (Penjamin Kualitas) Reformasi Birokrasi 
Nasional Republik Indones

Sent from my iPad

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke