*5.760 Ton Pakan Mengendap di Danau Maninjau Setiap Tahun* 
Rabu, 7 September 2016 19:58 WIB 
Pewarta : Yusrizal
Ikan mati mulai mengapung di Danau Mininjau dan menimbulkan bau menyengat. 
Lubuk Basung, (*Antara Sumbar*) - Sebanyak 5.760 ton pakan ikan mengendap 
di dasar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, setiap tahun 
akibat pemberian pakan secara berlebihan yang dilakukan petani.

"Pakan ini mengendap ke dasar danau setelah petani memberikan pakan secara 
berlebihan setiap harinya. Diperkirakan sekitar ratusan ribu ton pakan ikan 
mengendap di dasar danau semenjak keramba jaring apung pada tahun 1990," 
kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Agam Ermanto di Lubuk 
Basung, Rabu.

Ia mengatakan kebutuhan pakan ikan dengan merek konfik, chinta, marbar, dan 
bintang untuk 17.226 petak keramba jaring apung sekitar 19.200 ton setiap 
tahun atau setiap minggu sekitar 400 ton.

Diperkirakan sekitar 30 persen atau 5.760 ton pakan ikan ini mengendap ke 
dasar danau.

Dengan kondisi ini, katanya, maka danau akan tercemar yang mengakibatkan 
ikan akan mati secara mendadak setelah oksigen berkurang diperairan itu.

Ini yang terjadi beberapa minggu lalu yang mengakibatkan sekitar 3.100 ton 
ikan mati secara mendadak, katanya.

"Perusahaan harus bertangung jawab terhadap pencemaran ini dengan cara 
memberikan bantuan alat penyedot pakan ikan di dasar danau," katanya.

Untuk mengatasi pencemaran itu, DKP Agam telah mengimbau petani agar 
membuat keramba jaring apung ramah lingkungan dengan tiga lapis.

Pada lapis pertama dengan jenis ikan nila, lapis kedua ikan majalaya dan 
lapisan ketiga ikan patin.

"Ikan ini akan memakan seluruh pakan yang diberikan petani sehingga pakan 
tidak akan terbuang," tegasnya.

Selain itu, petani juga mengurangi pemberian pakan ikan dari 10 kilogram 
perhari menjadi lima kilogram perhari.

Sementara itu, Koordinator Wali Nagari se-Kecamatan Tanjung Raya, Nazirudin 
mengatakan pemerintah harus melarang mobil dengan ukuran besar masuk ke 
Tanjung Raya untuk membawa pakan ikan dan membatasi bambu untuk bahan baku 
keramba jaring apung masuk ke Tanjung Raya.

"Apabila ini dilakukan, maka harga pakan akan naik dan tidak ada keramba 
jaring apung yang baru, sehingga jumlah keramba dan pencemaran akan 
berkurang," katanya.

Selama ini, masyarakat Tanjung Raya setiap bulan melakukan gotong royong 
untuk membersihkan Danau Maninjau dari limbah rumah tangga, limbah pakan 
ikan dan enceng gondok.

"Ini bentuk komitmen masyarakat dalam menyelamatkan danau vulkanik itu dari 
pencemaran," ujarnya. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2016

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke