Sanak ambo, Iko tambahan info satantangan walikota tu. http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.01.0058564&channel=2&mn=160&idx=160
ajoduta/61/usa On Sat, Apr 19, 2008 at 6:37 PM, <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Ajo Duta, mereka barusan sukses mengadakan festival batik bertaraf > International. Banyak kisak sukses juragan mebel ini. > Yang lain juga tetangga Solo, bupati Sragen, beliau juga sukses. Beliau yg > pertama membuat program satu pintu dlm pengurusan/perijinan. Beliau mantan > urang minyak yg berpenghasilan dolar. > Sekarang saatnya Sumatera Barat dipimpin oleh orang2 yg punya visi dan > komitment yg kuat utk memajukan kampuang. Dan bukan orang yg cari selamaik > hiduik. > > Nanang > sedang dibandara manuju BIM > Sent from my BlackBerry(R) wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network > > -----Original Message----- > From: "ajo duta" <[EMAIL PROTECTED]> > > Date: Sat, 19 Apr 2008 18:17:11 > To:[email protected] <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [EMAIL PROTECTED] Walikota Nan Paralu Dicontoh > > > Jokowi > Namanya Joko Widodo, namun masyarakat Surakarta biasa memanggilnya > Jokowi. Wali Kota ini populer di kalangan pedagang kaki lima (PKL) di > Solo, bukan karena kekuasaannya melainkan karena pendekatannya yang > simpatik dan unik. > Putra tukang kayu ini mengimpikan Solo yang bersih dan tata ruang > kota yang harmonis. Tapi, itu tidak mudah. PKL menjamur. Jumlahnya > mencapai 5.817 yang tersebar di ruang-ruang publik dan fasilitas > umum. Monumen Perjuangan 45 Banjarsari hanya terlihat puncaknya saja. > Monumen bersejarah itu tertutup kios-kios pedagang yang tak beraturan > dan kumuh. Jalan juga menyempit. > Stadion olahraga Manahan Solo, sama saja. Jumlah pedagang tidak > terkendali. Kios-kios bertebaran menutupi kemegahan stadion tersebut. > Jalan juga menjadi sempit dan tak beraturan. Pasar-pasar tradisional > juga mengalami nasib sama. Tidak tertata dengan baik. > Eksportir mebel ini ingin mengubah itu. Ia bertekad mengembalikan > kemegahan masa lalu Solo, sebagai kota indah dan tertata. Tapi, > bagaimana caranya. Menggusur pedagang yang telah bertahun-tahun > mencari nafkah di tempat-tempat itu, jelas tidak mudah. Mereka pasti > marah. > Jokowi bisa saja menggunakan alat kekuasaannya sebagai wali kota -- > seperti diperlihatkan banyak kepala daerah lain, bahkan dengan > kekerasan-- menggusur pedagang yang berjualan di tanah bukan haknya. > Apa susahnya. Buat peraturan daerah dan alat-alat kekuasaan > melaksanakannya. Tutup mata dan telinga. Selesai. > Tapi tidak. Mereka juga manusia yang berhak untuk hidup. Jokowi > mengundang mereka makan di kantornya. Ia mendengar semua keluhan, > terus mendengar sebelum menyampaikan rencananya. Berkali-kali seperti > itu, makan malam, ngobrol, dan pulang. > Setelah terus mendengar, pada pertemuan ke-57, baru Jokowi > menyampaikan rencananya memindahkan pedagang ke tempat yang > disediakan di Pasar Klithikan Notoharjo, Semanggi. Rencana itu > disertai pemberian kios secara gratis --meski sesungguhnya pedagang > tetap bayar retribusi Rp 2.500 setiap hari selama 10 tahun-- > disepakati pedagang. > Jokowi memimpin sendiri pemindahan pedagang. Ia menjadikan pemindahan > itu sebagai peristiwa budaya dan sejarah. Sebanyak 989 pedagang > diarak bersama seribu tumpeng dari Monumen Banjarsari menuju Pasar > Klithikan Notoharjo. Peristiwa Juli 2006 itu kemudian dicatat oleh > Museum Rekor Indonesia (MURI). Kini, Monumen Banjarsari bersih dan > tertata rapih. > Pendekatan manusiawi itu juga dilakukan ketika memindahkan pedagang > di Manahan. Stadion olahraga itu kini asri dengan pepohonan hijau. > Berbagai pasar tradisional --di antaranya Pasar Kembang dan Pasar > Nusukan-- yang sebelumnya kumuh, ditata menjadi menarik dan sehat. > Bahkan, setiap pedagang diberi celemek gratis. > Tak banyak kepala daerah seperti Jokowi. Wali Kota berusia 46 tahun > ini setidaknya memperlihatkan bahwa kekuasaan jauh lebih berarti > dengan wajah ramah, tidak harus garang dan menghardik. Ia juga > memperlihatkan kepedulian seorang pemimpin, di saat banyak pemimpin > lupa atas kepentingan apa sesungguhnya mereka mengejar kekuasaan itu. > Bangsa ini letih dan sedang tergeletak dalam carut-marut perlombaan > merebut kekuasaan. Dari satu pilkada ke pilkada lain, ratusan miliar > rupiah uang tidak produktif bertebaran. Setelah berkuasa, mereka > mengambil kembali uang itu dari rakyat, tak peduli rakyat meraung > kesakitan dan lapar. Jokowi mungkin tak berharap pujian --meski ia > layak menerima itu-- karena perbaikan dan pembenahan adalah > kewajiban, adalah ibadah. Kewajiban dan ibadah tidak memerlukan > pujian. > (Asro Kamal Rokan ) > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
