Adi dunsanak kasadonyo,

Sayangnya mayoritas pejabat kita, bukan hanya di Sumbar, masih menggunakan 
pendekatan pola lama. Maunya sentralisasi terus... Manajemen modern justru 
sudah harus membuka diri dan mengambil sebanyak mungkin ide dan masukkan dari 
"luar lingkaran"... Orang2 di "inner circle" biasanya sudah terlalu sibuk dg 
rutinitas, sehingga akhirnya agak kesulitan berpikir "out of the box"...
 
 Kalau saat ini yang "terbaca", mudah-mudahan ambo salah, kalau suatu ide bukan 
"terlihat" keluar dr pejabat ybs, takuik bana inyo ka "taimpik talen". Takuik 
bana inyo akan kahilangan wibawa dan popularitas. Padahal, semakin dia jaga 
jarak dg sub-layernya (bisa dg rakyat, bisa dg Tingkat dibawahnya, bisa jg dg 
para perantaunya, dstnya), bisa berarti semakin besar lobang yang dia gali 
untuk dirinya sendiri... Di era Global World ini, Nobody will be a big hero 
without encouraging and empowering others...!! 
 
 Pendekatan Manajemen Moderen, justru sebaliknya. Piramid itu tidak meruncing 
keatas. Tapi ujung yang paling runcing tsb justru ada dibawah dan melebar 
keatas. Artinya bahwa "si ujung" tsb justru harus memfasilitasi dan 
meng-encourage dan meng-empower (apo bhs awaknyo ko...?) para sublayernya agar 
semua potensi mereka bisa keluar dan mereka bisa "ngebut" untuk berbuat sesuai 
obyektif yang telah ditetapkan bersama. Kalau punya wawasan cukup dan tahu cara 
memenej nya dengan baik, percayalah, "si ujung" tsb akan otomatis terangkat 
sendiri popularitasnya... Barabuik urang nan punyo hati nurani tulus nanti 
untuk mempromosikannya utk jabatan yg lebih tinggi lagi... Ambo yakin banyak 
nan labiah ahli di milis-milis awak ttg ilimu nan ciek iko... A good manager is 
a good facilitator...!
 
 Jokowi inilah salah satunya... Skrg kita semua ingin menceritakan hasil Jokowi 
yang mau mendengarkan 'orang kecil' ini ke semua pihak. Ajo Duta pasti tidak 
dibayar utk mempromosikan Jokowi ini. Kenal aja kagak... Contoh lain, lihat 
saja si Nanang yang tunggang tunggik ke Sawahlunto krn Wako nya mau 
mendengarkan masukkan dan dukungan dari luar...! Dan suka atau tidak suka, para 
Pejabat sukses ini, mereka semua berlatar belakang bukan dari birokrat...! Yang 
satu berlatar belakang manajemen Multi National Company dan satunya lagi 
sebelumnya adalah Pebisnis alias Saudagar atau bisa gabungan dari keduanya...!
 
 Jadi artinya apa...?? Silahkan lah ditaruihkan...:)
 
 Sah sah saja kalau ada yang tidak sependapat dan mohon maaf atas opini pribadi 
ini. Terima kasih.
 
 Wassalam,
 Nofrins/47+

ajo duta <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sanak ambo,
 Iko tambahan info satantangan walikota tu.
  
 
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.01.0058564&channel=2&mn=160&idx=160
   
 ajoduta/61/usa
  
      

 On Sat, Apr 19, 2008 at 6:37 PM, <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
Pak Ajo Duta, mereka barusan sukses mengadakan festival batik bertaraf 
International. Banyak kisah sukses juragan mebel ini.
 Yang lain juga tetangga Solo, bupati Sragen, beliau juga sukses. Beliau yg 
pertama membuat program satu pintu dlm pengurusan/perijinan. Beliau mantan 
urang minyak yg berpenghasilan dolar.

Sekarang saatnya Sumatera Barat dipimpin oleh orang2 yg punya visi dan 
komitment  yg kuat utk memajukan kampuang. Dan bukan orang yg cari selamaik 
hiduik.
 
Nanang
sedang dibandara manuju BIM
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network
  
 
-----Original Message-----
From: "ajo duta" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sat, 19 Apr 2008 18:17:11
To:[email protected]
 Subject: [EMAIL PROTECTED] Walikota Nan Paralu Dicontoh


Jokowi
Namanya Joko Widodo, namun masyarakat Surakarta biasa memanggilnya Jokowi. Wali 
Kota ini populer di kalangan pedagang kaki lima (PKL) di Solo, bukan karena 
kekuasaannya melainkan karena pendekatannya yang simpatik dan unik.

Putra tukang kayu ini mengimpikan Solo yang bersih dan tata ruang
kota yang harmonis. Tapi, itu tidak mudah. PKL menjamur. Jumlahnya mencapai 
5.817 yang tersebar di ruang-ruang publik dan fasilitas umum. Monumen 
Perjuangan 45 Banjarsari hanya terlihat puncaknya saja.

Monumen bersejarah itu tertutup kios-kios pedagang yang tak  beraturan dan 
kumuh. Jalan juga menyempit. Stadion olahraga Manahan Solo, sama saja. Jumlah 
pedagang tidak terkendali.  Kios-kios bertebaran menutupi kemegahan stadion 
tersebut.
Jalan juga menjadi sempit dan tak beraturan. Pasar-pasar tradisional
juga mengalami nasib sama. Tidak tertata dengan baik.

Eksportir mebel ini ingin mengubah itu. Ia bertekad mengembalikan
 kemegahan masa lalu Solo, sebagai kota indah dan tertata. Tapi,
bagaimana caranya. Menggusur pedagang yang telah bertahun-tahun
mencari nafkah di tempat-tempat itu, jelas tidak mudah. Mereka pasti
marah.

Jokowi bisa saja menggunakan alat kekuasaannya sebagai wali kota 
 seperti diperlihatkan banyak kepala daerah lain, bahkan dengan
kekerasan-- menggusur pedagang yang berjualan di tanah bukan haknya.

Apa susahnya. Buat peraturan daerah dan alat-alat kekuasaan
melaksanakannya. Tutup mata dan telinga. Selesai. Tapi tidak. Mereka juga 
manusia yang berhak untuk hidup. Jokowi mengundang mereka makan di kantornya. 
Ia mendengar semua keluhan, terus mendengar sebelum menyampaikan rencananya. 
Berkali-kali seperti
itu, makan malam, ngobrol, dan pulang.

 Setelah terus mendengar, pada pertemuan ke-57, baru Jokowi
menyampaikan rencananya memindahkan pedagang ke tempat yang
disediakan di Pasar Klithikan Notoharjo, Semanggi. Rencana itu
disertai pemberian kios secara gratis --meski sesungguhnya pedagang tetap bayar 
retribusi Rp 2.500 setiap hari selama 10 tahun--
disepakati pedagang. 

Jokowi memimpin sendiri pemindahan pedagang. Ia menjadikan pemindahan itu 
sebagai peristiwa budaya dan sejarah. Sebanyak 989 pedagang diarak bersama 
seribu tumpeng dari Monumen Banjarsari menuju Pasar Klithikan Notoharjo. 
Peristiwa Juli 2006 itu kemudian dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). 

Kini, Monumen Banjarsari bersih dan tertata rapih. Pendekatan manusiawi itu 
juga dilakukan ketika memindahkan pedagang
di Manahan. Stadion olahraga itu kini asri dengan pepohonan hijau.
Berbagai pasar tradisional --di antaranya Pasar Kembang dan Pasar
Nusukan-- yang sebelumnya kumuh, ditata menjadi menarik dan sehat.  Bahkan, 
setiap pedagang diberi celemek gratis.

Tak banyak kepala daerah seperti Jokowi. Wali Kota berusia 46 tahun
ini setidaknya memperlihatkan bahwa kekuasaan jauh lebih berarti
dengan wajah ramah, tidak harus garang dan menghardik. Ia juga
 memperlihatkan kepedulian seorang pemimpin, di saat banyak pemimpin lupa atas 
kepentingan apa sesungguhnya mereka mengejar kekuasaan itu.

Bangsa ini letih dan sedang tergeletak dalam carut-marut perlombaan
merebut kekuasaan. Dari satu pilkada ke pilkada lain, ratusan miliar
 rupiah uang tidak produktif bertebaran. Setelah berkuasa, mereka
mengambil kembali uang itu dari rakyat, tak peduli rakyat meraung
kesakitan dan lapar. Jokowi mungkin tak berharap pujian --meski ia
layak menerima itu-- karena perbaikan dan pembenahan adalah
 kewajiban, adalah ibadah. Kewajiban dan ibadah tidak memerlukan
pujian.

(Asro Kamal Rokan )








       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke