Pokok-Pokok Pikiran Soal Kereta Api dan Pariwisata Sumbar

Oleh Nofrins Napilus

PadangKini.com; Selasa, 22/4/2008, 23:11 WIB

  <http://www.padangkini.com/foto/kolom/Kolom-Nofrins.jpg> 

ASET Kereta Api di Sumatera Barat merupakan 'aset raksasa' Sumatera Barat yang 
nilainya triliunan rupiah. Terdiri dari belasan lokomotif, puluhan gerbong, dan 
lebih dari 200 km panjang rel dan prasarana lainnya dengan 1.000 orang karyawan 
yang saat ini terpaksa disubsidi dari pusat.

Tetapi sudah hampir 5 tahun ini jadi 'aset tidur' yang tidak produktif. Kecuali 
lintas Indarung-Teluk Bayur sepanjang 17 Km dan ke Pariaman. Jika bunga 
pinjaman bank 10 persen per tahun saja dengan aset triliunan tersebut, bisa 
diperkirakan berapa besar sebetulnya kita kehilangan peluang setiap bulannya. 
Tidak semua provinsi memiliki aset sebesar Sumbar ini.
Kereta api di Sumbar pernah berjaya cukup lama dan telah berjasa besar dalam 
mengangkat perekonomian Sumatera Barat yang dulu lebih dikenal dengan sebutan 
'Mak Itam'.

Sampai-sampai membuat nostalgia bagi masyarakat Sumbar yang tak pernah 
habis-habisnya. Jaringan rel kereta api di Sumatera Barat sangat unik dengan 
adanya 'rel kereta bergigi' yang ukuran ini di dunia saat ini hanya tinggal di 
Swiss dan Sumatera Barat saja. 
Sumatera Barat memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa. 
Tidak hanya untuk skala Indonesia, tetapi juga di dunia. Hampir semua orang 
mengakui hal ini.

Bentangan rel tersebut ternyata melalui obyek-obyek wisata utama di Sumbar. 
Membelah kehijauan alam hutan hujan tropis Lembah Anai dan menyisir pinggiran 
Danau Singkarak sepanjang 19 km.

Sulit mencari bandingannya dimana pun di dunia ini. Bagi yang lahir, besar, dan 
tinggal di Sumatera Barat, mungkin hal ini bukan lagi sesuatu yang dianggap 
luar biasa.

Industri pariwisata merupakan satu-satunya potensi terbesar untuk bisa 
meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) Sumatera Barat lebih berarti.

Industri Pariwisata merupakan industri yang lebih demokratis, karena hampir 
semua lapisan dan segmen masyarakat akan mendapat keuntungan jika pariwisata 
berkembang baik. Sejauh itu didukung peraturan yang lebih jelas dan lebih tegas.

Mungkin perlu kita pelajari bagaimana negara tetangga kita yang cukup kental 
nilai-nilai keagamaannya dalam menerapkan peraturan sehingga pariwisata di sana 
bisa jadi primadona dan akhirnya mereka lebih dikenal di dunia internasional.

Bagi yang memahaminya, industri pariwisata adalah 'industri jasa raksasa' di 
dunia. Misalkan wisatawan datang ke Sumbar untuk 3 hari 2 malam saja, membayar 
hotel, makan, jalan-jalan, belanja, dan membeli oleh-oleh, setidaknya Rp2 juta 
uang wisatawan tersebut akan 'tinggal' di Sumatera Barat di luar tiket pesawat.

Jika jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 1 juta orang per tahun, 
diperkirakan minimal Rp2 triliun akan menjadi income Sumatera Barat. Dengan 
asumsi tersebut, tidak heran banyak negara sekarang berlomba-lomba berpromosi 
besar-besaran secara lebih serius dengan pendekatan blue print dan marketing 
strategy yang piawai untuk mendorong peningkatan ekonominya melalui industri 
pariwisata ini.

Bisa dibayangkan kenapa pariwisata menjadi income nomor dua setelah industri 
manufacturing di Malaysia. Jumlah wisatawan masuk ke negara kecil tetangga kita 
ini pada 2006 jumlahnya 16 juta orang per tahun! Penduduk Malaysia hanya 23 
juta. Wisatawan masuk ke Perancis 70 juta orang per tahun! Penduduk Perancis 
hanya 60 juta orang.

Kembali ke asumsi kasar di atas, mari kita berhitung berapa besarnya income 
mereka per tahun? Industri apa yang bisa menyaingi pemasukkan sebesar dan 
selebar ini?
Adanya kepedulian dari masyarakat perantau dan masyarakat di Sumbar yang 
tergabung dalam organisasi non-profit Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar 
(MPKAS) yang bertujuan untuk mendorong dan menghidupkan serta mengoptimalkan 
kereta api dan pariwisata di Sumatera Barat. Semua biaya dan dana untuk 
aktivitas organisasi sampai terbang bolak-balik ke Sumbar sekalipun, 
dikeluarkan dari kantong pribadi masing-masing anggota secara sukarela.

Dasarnya hanya satu: 'kepedulian'. Mereka terdiri dari kaula muda, profesional, 
eksekutif, sesepuh, dan tidak hanya berasal dari suku Minangkabau saja, tetapi 
juga dari Jawa, Sunda, Batak, Bali, sampai Amerika, Australia, Australia, dll.

Keprihatinan mereka hanya satu, melihat pengalaman selama ini: "sekali jaringan 
kereta api dimatikan, akan amat sulit menghidupkannya kembali". Harapan besar 
lainnya adalah, jika loko uap bisa dihidupkan kembali, itu akan jadi 'madu' 
untuk menarik wisatawan dunia ke Sumatera Barat.

Sensasinya akan sangat luar biasa dampaknya untuk mengangkat citra Sumatera 
Barat di mata dunia pariwisata nantinya. Para 'penggila' Kereta Api di seluruh 
dunia yang ribuan jumlahnya, selalu berburu dan berkeliling rutin secara 
reguler ke berbagai belahan dunia untuk menikmati keunikan-keunikan seperti ini.

Mereka secara tidak langsung nanti bisa jadi free marketing agents kita ke 
dunia international untuk promosi pariwisata Sumatera Barat.
MPKAS bersama PT KAI Sumbar dan 30 orang pecinta KA yang tergabung dalam IRPS 
(Indonesian Railways Preservation Society/ www.irps.or.id 
<http://www.irps.co.id/> ) pada 2 Desember 2006 melakukan uji coba bersama dari 
Padang ke Padang Panjang dengan KA Wisata.

Rute Padang Panjang ke Solok belum bisa dilalui karena ada beberapa tempat 
bantalannya sudah sangat kritis dan belum aman untuk dilalui.

Sebanyak 30 orang kawula muda dan beberapa eksekutif profesional yang tergabung 
di IRPS, juga dengan biaya dari kantong pribadi masing-masing, telah datang ke 
Sumatera Barat untuk melihat dan mencoba membantu apa yang dapat dan mampu 
mereka lakukan demi KA.

Di Lembah Anai, Novaprima, koordinator rombongan IRPS mengatakan, "Ada apa 
dengan Sumbar Pak, alamnya begini indah yang belum ada apa-apanya dibanding 
daerah saya di Jawa, tetapi kereta apinya kok disia-siakan begitu saja, ya?"

Dari hasil perjalanan bersama MPKAS, IRPS dan KAI Sumbar ini, menghasilkan 
salah satu foto yang sangat terkenal di situs interaktif www.west-sumatra.com 
<http://www.west-sumatra.com/>  dengan judul "Aku Hidup Lagi...".

Foto ini juga dijadikan billboard besar di jalan keluar Bandara Interansional 
Minangkabau, "Selamat Datang Di Sumatera Barat, Kereta Api Wisata Menanti Anda" 
yang sampai saat ini pada kenyataannya belum terealisir.

Di Jakarta, setiap kami mencetak foto ini di studio foto, selalu orang-orang 
tidak bisa menahan diri dan bertanya: "Ini foto diambil di negara mana, Pak...? 
Pemandangannya bagus sekali...". Dan selalu kami jawab bahwa ini di Indonesia 
dan itu Sumatera Barat. Dan selalu masih sulit bagi mereka langsung percaya 
begitu saja....

Bulan lalu di Paris salah satu travel agent terbesar Perancis juga menanyakan 
keberadaan KA Wisata ini setelah melihat foto tersebut. Mereka berminat untuk 
membuat paket perjalanan ke Sumbar asalkan termasuk dengan KA Wisata ini juga. 
Karena ini akan menambah minat dan nilai jual paket yang akan mereka tawarkan 
nantinya.

Dari talk show interaktif di TVRI, radio-radio swasta, baik di Sumbar maupun di 
Jakarta, umumnya masyarakat menyatakan dukungannya terhadap akan diluncurkannya 
KA Wisata ini. Mereka sudah rindu akan suara "cus... cuss..." Mak Itam yang 
sudah lama hilang dari bagian kehidupan mereka sehari-hari, apalagi kalau loko 
uap bisa hidup lagi.

Demikian juga masukkan dari para operator pariwisata seperti yang tergabung di 
ASITA. Tamu-tamu mereka umumnya yang datang ke Sumbar selalu menanyakan kapan 
mereka bisa mencoba KA melalui Lembah Anai tersebut, karena foto-fotonya sudah 
beredar di internet, ada beberapa email yang menanyakan bagaimana cara pesan 
tiket KA Wisata di Sumbar tersebut.

Ibu Meutia Hatta tahun lalu juga ikut mendukung KA Wisata dan pengecetan 
Jembatan Tinggi Anai agar lebih 'eye catching' dan menyarankan adanya festival 
rakyat di sekitar jembatan tersebut pada saat pembukaan atau penutupan proses 
pengecatannya nanti.

Bapak Emil Salim sangat mendukung karena kemacetan kendaraan mobil sudah tidak 
bisa dihindarkan lagi pada akhir minggu dan hari besar lainnya, terutama menuju 
Bukittinggi, serta dukungan-dukungan lainnya.

MPKAS juga telah beberapa kali menghadap Dirjen Perkeretaapian Departemen 
Perhubungan untuk isu KA Wisata dan KA Sumbar secara keseluruhan. Terakhir pada 
Maret 2007 lalu MPKAS bersama Gubernur Sumatera Barat Bapak Fauzi Gamawan 
menghadap ke Dirjen Perkeretaapian, Departemen Perhubungan di Jl. Medan Merdeka 
Barat, Jakarta.

Pak Dirjen (waktu itu masih dijabat Bapak Soemino) berjanji akan membantu 
membangkitkan kembali Kereta Api di Sumatera Barat. Gubernur diminta membuat 
surat resmi dari Pemda Sumbar ke Dephub RI. Gubernur juga menyampaikan secara 
terbuka di situ tentang peranan moril MPKAS dalam rangka membantu mendorong dan 
mengoptimalkan KA di Sumbar.

Sekarang melalui jaringan internet (milis dan situs interaktif), MPKAS telah 
mampu membangun jaringan kepedulian ke seluruh dunia dengan hasil nyata. Untuk 
tahap awal dalam menyelamatkan KA Sumatera Barat, berupaya menempatkannya 
sebagai 'ikon' atau 'mascot' Pariwisata Sumatera Barat. Sehingga Gubernur pun 
akhirnya telah mencanangkan KA Wisata sebagai salah satu Unggulan Pariwisata 
Sumatera Barat.

Menurut Gubernur, Presiden dan Wakil Presiden pun juga mendukung inisiatif ini. 
Artinya sudah hampir dari 1 tahun lalu.
Pada 8 April 2007 lalu Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah dijadwalkan akan 
meresmikan dimulainya KA Wisata ini. Tetapi musibah gempa besar datang sebulan 
sebelumnya, 6 Maret 2007.

Sekali lagi juga tertunda akibat gempa berikutnya pada 12 September 2007. 
Walaupun hampir semua rel dalam kondisi baik, 2 lokasi agak terganggu, tetapi 
perlu dilakukan perbaikan bantalan rel dan jembatan di beberapa tempat demi 
keamanan.

Telah disepakati oleh para perantau Minangkabau yang tergabung di internet dan 
digulirkan ke seluruh dunia, juga direspon positif oleh Gubernur Sumbar, bahwa 
akan diadakan Pulang Basamo Sedunia 2008 oleh perantau dengan menggunakan ikon 
atau maskot KA Wisata tersebut.

Di Amerika Serikat mereka sudah mencetak 10.000 buah brosur dan ratusan poster 
yang disebar ke banyak negara dimana salah satu acaranya adalah naik KA Wisata 
ini. Promosi dan "ajakan untuk siapa saja" oleh para perantau ini juga didukung 
dengan Pameran Foto-foto Pariwisata Sumbar di KBRI Paris, KBRI Washington, dan 
rencananya dalam waktu dekat sedang dijajaki di KBRI Sydney, serta di beberapa 
kota di negara-negara tersebut.

Ajakan "Visit West Sumatra 2008" ini, ditujukan tidak hanya sekedar untuk 
perantau Minang. Tetapi 'untuk siapa saja': urang sumando, temen-teman, dan 
kolega-kolega bule mereka lainnya. MinangUSA sebagai inisiator Pulang Basamo 
2008 ini telah mencatat 198 orang yang menyatakan akan ikut rombongan ini.

Walaupun akhirnya pesertanya akan sangat relatif jumlahnya, tetapi 
proses-proses dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan untuk Pulang Basamo 2008 
ini di seluruh dunia sudah merupakan promosi pariwisata gratis tersendiri untuk 
Pemda Sumatera Barat. Secara tidak langsung, para perantau telah ikut serta 
ambil peranan mempromosikan Pariwisata Sumatera Barat secara sukarela dan 
swadana.

Sebaliknya, besar harapan kita dari perantau agar Pemda Sumbar juga 
'memanfaatkan' momentum ini untuk melakukan perbaikan-perbaikan internal, 
terutama fasilitas publik seperti WC Umum, dan lain-lain, termasuk kenyamanan 
pentingnya untuk menghargai tamu-tamu yang datang ke Sumbar.

Untuk mendukung agar KA Wisata sampai ke Sawahlunto ini bisa direalisasikan, 
pada Januari 2007 Gubernur bersama jajaran Pemda Kabupaten dan Kota yang 
dilalui Kereta Api, sudah memberikan komitmennya untuk mendukung perbaikan 
'bantalan rel dan jembatan' KA dengan mengadakan kesepakatan akan menanggung 
sebagian biaya yang diperlukan.

Sekali lagi, karena musibah gempa besar tahun lalu, semua dana yang telah 
dianggarkan tersebut dialihkan untuk membantu korban bencana. Semoga Gubernur, 
pada tahun Anggaran 2008 bersedia mengkoordinir komitmen tersebut kembali agar 
KA Wisata segera terealisir.

Terakhir Oktober 2007 lalu, Bapak Wakil Presiden juga telah memberikan 
perhatian yang sangat besar terhadap KA ini ketika melakukan peninjauan ke 
Indarung-Teluk Bayur. Beliau langsung menelepon Menteri Perhubungan untuk 
ditindaklanjuti.

Menurut kami, sebaiknya kita di Sumbar juga melakukan sesuatu dan menunjukkan 
keseriusan kita terhadap optimalisasi KA ini. Jika ini berjalan baik, kita 
harapkan agar Bapak Presiden ataupun Wakil Presiden bersedia meresmikannya 
nanti. Karena tujuan utamanya adalah 'publikasi besar' buat promosi program KA 
Wisata ini. Kalau pun belum bisa satu kali seminggu, satu bulan sekali pun, 
sudah cukup bagus untuk memulainya.

Mungkin juga telah sama-sama kita sadari bahwa tidak semua provinsi bisa 
memiliki sarana kereta api. Lengkap dengan keindahan alam dan kekayaan budaya 
luar biasa karunia dan amanah dari Allah SWT seperti di Ranah Minangkabau ini. 
Sehingga sekali lagi MPKAS meghimbau semua pihak untuk mendukung KA Wisata ini 
sebagai langkah awal menghidupkan kembali dan "revitalisasi" KA di Sumbar agar 
jangan sampai mati dan hilang begitu saja.

Kalau ini terjadi, kami khawatir kapan Pemda Sumbar akan mampu bangkit lagi dan 
menyediakan uang triliunan rupiah untuk membangun jaringan sarana dan prasarana 
KA ini lagi. APBN sekalipun belum tentu akan begitu saja mau mengucurkan 
dananya ke Sumbar. Dan apa kata dunia nanti kepada kita jika ini sampai 
terjadi...?

Sebagai hasil menghadap ke Dirjen Perkeretaapian Maret 2007, pada Maret 2008 
kita sudah dapat konfirmasi bahwa untuk mendukung KA Wisata Sumbar akan 
mendapat 5 tambahan gerbong baru produksi PT INKA senilai total Rp15 miliar. 
Gerbong akan diterima langsung di Sumbar tanpa keluar ongkos angkut lagi. 
Diperkirakan gerbong-gerbong tersebut akan dikirim Juli 2008.

Percepatan penambahan kendaraan bermotor yang melalui jalan raya, bukan main 
dahsyatnya. Sehingga kata-kata 'macet' juga bukan istilah aneh lagi di Sumatera 
Barat, khususnya di akhir minggu atau hari-hari libur nasional.

Kalau sekitar hari-hari Lebaran, dari Padang ke Bukittinggi bisa mencapai 7 
jam. Sumatera Barat dengan kontur yang penuh berbukit-bukit, akan kesulitan 
untuk menambah dan melebarkan jalan raya...! Sehingga jalur Kereta Api sudah 
saatnya untuk segera dioptimalkan untuk membantu mengurangi kepadatan lalu 
lintas.

Agar masyarakat dan wisatawan bisa melakukan perjalanan dengan tepat waktu. 
Bapak Emil Salim sudah sering menyampaikan hal senada di beberapa forum tentang 
hal ini.

Bapak Gamawan Fauzi, Januari 2007 lalu pernah melontarkan ide pembangunan 
'Light Monorail' di Padang dan Bukittinggi. MPKAS sangat mendukung hal ini. 
Karena Light Monorail ini cukup ditopang tiang-tiang besi sederhana saja 
sehingga investasinya tidak besar, seperti di sekitar area pelabuhan Sydney.

Misalnya untuk di Padang bisa dipasang dari UNP, sepanjang Pantai Padang, masuk 
kota sampai Pasar Raya, dan seterusnya. Di Bukittinggi dipasang mulai dari 
Padang Luar, masuk kota, Ngarai, memutar masuk kota dan arah Hotel Pusako, dan 
kembali ke Padang Luar.

Untuk Bukittinggi ini akan sangat membantu. Agar yang datang dari luar kota 
cukup parkir kendaraan mereka di Padang Luar, lalu naik Monorail ke dalam kota 
dan check-in di hotel-hotel berdekatan. Naik monorail bisa sekalian menikmati 
indahnya pemandangan tanpa memikirkan kemacetan jalan raya. Bayangkan jika 
Kereta Api dari BIM bisa langsung masuk ke stasiun Bukittinggi lalu dilanjutkan 
dengan Monorail.

Awal Februari 2008 lalu, Metro TV sampai merasa perlu meliput dan menyiarkan 
aktivitas MPKAS ini di acara favorit Metro TV, yaitu OASIS. Bersamaan dengan 
liputan Metro TV ini, sekaligus kita ekspose secara terbuka adanya 'Gerbong 
Kepresidenan' yang interiornya dari kayu dan sofanya berlapis kulit.

Gerbong ini dulu dipakai oleh Almarhum Soeharto untuk inspeksi Indarung-Teluk 
Bayur. Setelah liputan dari Metro TV ini, akhirnya banyak mengalir dukungan- 
moril dari berbagai pihak, termasuk dari berbagai media nasional. Dan ini 
sangat berarti bagi perkembangan dunia perkeretaapian dan pariwisata Sumbar 
nantinya.

Dari Direksi PT KAI kami selalu mendapat informasi bahwa KAI sekarang sering 
diundang Pemda Sumbar terkait intensifnya Pemda Sumbar mencari dan menarik 
investor asing untuk Pembangunan Jalan Tembus Kereta Api dari Solok ke Indarung 
sepanjang 22 Km melalui terowongan yang cukup panjang. Rencana jalan tembus ini 
sudah merupakan rencana lama KAI dengan Semen Padang yang tertunda.

Untuk menggugah Pemda Sumbar, MPKAS pernah mempresentasikannya pada 1 Desember 
2006 di Kantor Gubernur, Jl. Sudirman Padang yang dihadiri Sekdaprov Sumbar, 
Kadishub, Kadisbudpar, Kepala BAPPEDA, kepala-kepala Kantor Pariwisata yang 
dilalui kereta api, dan kawan-kawan media lokal Sumbar.

Jika jalan tembus ini berhasil, disamping akan membuka peluang dan 
mengoptimalkan Pelabuhan Teluk Bayur, itu akan membantu mengurangi 'repotnya' 
PT Semen Padang mengurus sekitar 1.200 truk yang keluar masuk setiap hari di 
Indarung yang mengangkut batubara dan Semen. Truk-truk berat ini juga yang 
memacetkan dan menghancurkan sebagian besar jalan raya di Sumbar. Sehingga 
anggaran perawatan jalan raya meningkat tinggi.

Terakhir, kami dari MPKAS dan MAPPAS (Masyarakat Peduli Pariwisata Sumbar yang 
lahir setelah MPKAS) sebagai 'duo peduli Sumbar' juga mencoba mensosialisasikan 
usulan program 'menuju masyarakat pariwisata kelas dunia' dengan judul 'Ampek 
Rancak, Limo Lamak Bana'.

Konsep ini masih sangat terbuka untuk didiskusikan dan diubah jika diperlukan. 
Tujuannya untuk mencoba menghimbau secara bertahap untuk lebih meningkatkan 
lagi dan sama-sama memulai membiasakan diri bagaimana menyambut tamu secara 
lebih baik dan 'lebih berkelas' lagi. 
Isinya 'Ampek Rancak, Limo Lamak Bana' itu adalah:

(1) Welcoming People. Agar lebih membiasakan diri lagi menyambut dan 
mempersilahkan tamu dengan lebih hormat.

(2) Appreciation/Thanksful. Agar lebih membiasakan diri dengan ringan 
menyampaikan terima kasih untuk mengapresiasi usaha dan tindakan tamu kita 
walau kecil sekalipun. Setidaknya mereka sudah mau datang dan berkunjung ke 
'rumah kita'.

(3) Apologize. Agar lebih membiasakan diri menyampaikan kata maaf, walaupun 
hal-hal kecil yang mungkin dirasa belum memuaskan tamu kita, sehingga 
menimbulkan perasaan nyaman dan hangat bagi tamu.

(4) Calculating. Agar lebih mencoba menghitung dampak jangka panjang agar tidak 
terjadi inkosistensi dan kenaikan harga tiba-tiba yang mengagetkan para tamu 
kita atau menghitung dampak tindakan-tindakan kita terhadap kemungkinan harapan 
kembalinya tamu kita ke 'rumah kita' lagi nantinya.

Karena jika mereka mau kembali, pasti mereka akan bawa uang lebih besar lagi ke 
rumah kita untuk dibelanjakan. Juga berhitung tentang kemungkinan tamu yang 
tidak nyaman akan dengan mudahnya bercerita dan melempar isu melalui 
milis-milis di internet.

Satu orang menulis, bisa ribuan orang sekaligus membacanya. Bayangkan kalau 
mereka teruskan lagi cerita ketidaknyamanan tersebut. 

(5) Keep Smiling Face. Berusaha selalu ramah dan tersenyum kepada siapa pun 
untuk membangun hubungan-hubungan yang lebih baik dan membuat 'memory' yang 
tidak terlupakan akan keramahan dan kehangatan sambutan kita di mata para 
tamu-tamu kita.

Kenapa pendekatan ini kita sosialisasikan juga? Karena kita ingin wisatawan 
agar mau kembali dan berulang-ulang berkunjung ke Sumbar karena terkesan dengan 
masyarakatnya yang berbudaya tinggi dan memiliki alam yang luar biasa indahnya.

Semoga semua usaha kita secara bersama-sama ini bermanfaat bagi masyarakat 
banyak. Semoga jasa besar Almarhum Bapak Chaidir N. Latief, mantan Ketua Umum 
MPKAS, yang telah merintis dengan gigih tanpa kenal lelah membangun kepedulian 
terhadap KA dan pariwisata di Sumbar ini tidak sia-sia begitu saja.

Akhirul kalam, MPKAS sekali lagi menghimbau Pemda Sumbar, Pemkab dan Pemko 
Sumbar yang dilalui rel KA agar segera urun rembuk lagi untuk meneruskan 
kembali niat dan komitmen yang telah disepakati 3 Januari 2007 lalu di Kantor 
Gubernur Sumbar.


* Penulis Sekretaris Jenderal MPKAS (Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera 
Barat). Informasi lebih lanjut silakan buka .  
<http://www.mpkas.west-sumatra.com/> www.mpkas.west-sumatra.com


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke