Berkunjung ke Perpustakaan Bung Hatta di Puncak Bukit Gulai Bancah 

PadangKini.com | Minggu, 20/4/2008, 12:12 WIB


BUKITTINGGI--Di puncak bukit Gulai Bancah, pinggiran Kota Bukittinggi, 
Perpustakaan Proklamator Bung Hatta itu berdiri kokoh dan megah. Karena 
letaknya di atas bukit, dari gedung perpustakaan baru ini kita bisa memandang 
Kota Bukittinggi dan Gunung Merapi yang menjulang di belakangnya. Dari 
ketinggian bukit ini, angin juga bertiup cukup kencang.

Perpustakaan berlantai dua seluas 4.840 meter persegi ditambah basement 2.167 
meter persegi ini berdiri di atas tanah seluas 6.500 meter persegi, persis 
terletak di samping  Kantor Wali Kota Bukittinggi. Gedung perpustakaan ini 
terletak di utara Kota Bukittinggi sekitar 3 km dari Jam Gadang yang sering 
dijadikan landmark kota Bukittinggi. Letaknya di atas bukit membuat gedung 
modern ini terlihat megah. 

Nama Bukit Gulai Bancah sendiri adalah nama kampung yang ada di kaki bukit. 
Gulai Bancah dilekatkan ke nama kampung itu karena di masa lalu saat ada 
upacara pelantikan penghulu hujan turun begitu deras, sehingga gulai yang 
sedang terjerang diatas kuali tumpah dan membuat  becek atau bancah dalam 
bahasa Minang. 

Pepustakaan Bung Hatta sendiri baru diresmikan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono 21 September 2007. Perpustakaan nasional ini setara dengan 
Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar. Pembangunannya menelan biaya 
Rp34,73 miliar. Sebanyak 24,73 miliar berasal dari APBN, Rp5 miliar dari APBD 
Sumatra Barat dan Rp5 miliar dari APBD Kota Bukittinggi. 

Gedung pustaka baru  yang megah ini dindingnya dipenuhi puluhan jendela kaca 
yang tinggi. Angin pegunungan yang bertiup kencang mengalir dari sisi-sisi 
jendela masuk ke seluruh ruang. Semilir angin ini dapat dirasakan pengunjung 
yang sedang duduk menikmati buku di ruang baca.

Memasuki Perpustakaan Bung Hatta kita akan disambut patung perunggu setengah 
dada Sang Proklamator Bung Hatta karya Nyoman Nuarta. Patung itu berdiri di atas
kolam yang terletak di depan pintu masuk. Di atasnya  dibuat shelter beratap 
bagonjong seperti rumah adat Minangkabau dalam kemasan yang lebih modern. Ini 
dimaksudkan untuk menampilkan tradisi Minangkabau masih melekat pada bangunan 
ini. 

Konsep lay-out bangunan Perpustakaan Bung Hatta mengambil analogi dari bentuk 
buku setengah terkembang atau terkembang 45 derajat yang menggambarkan 
perpustakaan terkait erat dengan buku sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. 
Bagian depan bangunan merupakan sumbu buku dan mengembang ke belakang sebagai 
personifikasi buku yang terkembang.

Dengan konsep lay-out buku ini membuat ruang-ruang yang terbentuk tidak seperti 
ruang-ruang pada umumnya yang  biasanya berbentuk kotak atau persegi.  Bila 
ditelusuri secara ruang, kita akan mengalami pengalaman ruang yang dramatis dan 
kasual.

Oleh arsiteknya, Zarwin Nizar, pintu utama dijadikan titik utama yang paling 
menarik dari perpustakaan. Pintu utama ynag dilengkapi kolam berbentuk bundar 
dengan patung perunggu Bung Hatta di tengahnya sekaligus sebagai titik tolak 
yang menghubungkan 
massa bangunan dengan bangunan sekitarnya, seperti taman perpustakaan dan 
kantor Wali Kota Bukittinggi yang ada di seberang taman.

Dari pintu masuk utama, di lantai satu seluas 2.164 meter persegi terdiri dari 
beberapa ruang baca dan ruang peminjaman yang dipenuhi rak buku. Mulai dari 
ruang baca umum, ruang baca anak-anak, hingga ruang baca grup. Dari ruang 
lantai satu ini ada tangga dan lift ke lantai basement. Ruang lantai satu dan 
basement ini dibuat terbuka sehingga aktivitas pengunjung yang membaca di 
basement terlihat dari lantai satu. 

Di lantai satu dan basement pada dindingnya terdapat puluhan jendela kaca yang 
tebal dan bening. Jendela yang tinggi itu terpasang dari lantai basement hingga 
lantai satu sehingga menimbulkan kesan terbuka. Cahaya matahari juga leluasa 
masuk menyinari ruang-ruang perpustakaan tanpa harus menghidupkan lampu. Dari 
luar
bisa terlihat sejumlah orang yang sedang membaca di lantai satu atau basement.

Uniknya jendela-jendela kaca yang tinggi yang terkesan jendela mati itu 
sebenarnya bukan jendela mati, karena dipasang dengan jarak 10 sentimeter dari 
dinding bagian dalam sehingga mampu menangkap angin. Angin yang memang kencang 
bertiup di sekeliling ruangan yang ada di atas bukit itu leluasa menyelinap 
dari sisi-sisi jendela dan masuk ke ruangan. Walau tidak menggunakan AC, udara 
tetap sejuk, bahkan angin
pegunungan yang menyelinap dari setiap sisi jendela terasa semilirnya.

Pada lantai basemant yang luasnya 2.222 meter per segi ini  juga masih diisi 
ruang baca, ruang teater mini, ruang buku langka, penjilidan, dan kantor. 
Selain itu juga terdapat toilet, termasuk toilet orang cacat dan musala. Di 
lantai dua paling atas yang luasnya 1.421 meter bujur sangkar terdapat ruang 
serbaguna yang luas.

Selain gedung perpustakaan, bagian yang menarik di lokasi Perpustakaan Bung 
Hatta ini adalah taman perpustakaan yang ada di depan gedung perpustakaan yang 
menghubungkan antara perpustakaan dan Kantor Wali Kota Bukittinggi. Taman 
perpustakaan itu dipersiapkan sebagai sarana penunjang perpustakaan, karena itu
dilengkapi dengan  kafetaria, taman untuk membaca, dan ruang teater terbuka.

Plaza Taman Bung Hatta adalah area terbuka untuk publik. Keberadaannya 
mengakomodir segala kebutuhan fungsi bangunan yang ada di sekitarnya.

Di taman ini berdiri 12 pilar setinggi enam meter. Konsep taman ini mewakili 
makna-makna tertentu yang ada kaitanya dengan Bung Hatta. Tanggal kelahiran 
Bung Hatta 12 Agustus 1902, menjadi simbolis dari 12 pilar, 8 titik lampu pada 
dasar kolam, dan 19 pijakan dan bentuk angka 02 pada lengkungan tangga. 

Selain itu terdapat dinding yang rencananya untuk dinding mural yang menyimpan 
momen perjuangan bangsa Indonesia. Namun dinding mural itu belum selesai 
dibuat. Kesemua elemen tersebut memberikan pengalaman ruang tersendiri bagi 
masyarakat tentang pemaknaan ruang. 

Kepala Perpustakaan Faisal Datuk Indo Nan Panjang mengatakan, sejak diresmikan 
pustaka ini setiap hari dikunjungi 600 orang, umumnya pelajar di Bukittinggi 
maupun dari luar Bukittinggi. 

"Mungkin mereka tertarik dengan kemegahan gedung pustaka yang baru ini karena 
lebih luas dan nyaman dibandingkan yang lama," kata Faisal. Saat ini Pustaka 
Bung Hatta memiliki koleksi sekitar 36.500 judul atau  52.000 eksemplar buku. 
(yanti)


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke