"Kumayah" ko iyo baru sakaliko ambo mandanga, kato2ko memang paralu 
dilestarikan jo memperkenalkan ka generasi mudo. 
Salam
Is St Marajo 39+
www.cimbuak.net
Kampuang nan jauah dimato dakek dijari

KUMAYAH 

 Oleh : Yusrizal KW
Diberi modal untuk berdagang, sudah disewakan pula toko, hasilnya 
mengecewakan. Kadang toko itu buka, kadang tutup. Akhirnya bangkrut. 
Bapaknya bilang, "Pajatu kumayah!" Trus, ketika dinasehati "kumayah" itu 
tidak baik, ia acuh tak acuh saja. Ketika kepada ayahnya dia minta diberi 
uang untuk ikut kursus teknisi komputer, hasilnya tetap tidak memadai. 
Hanya bisa mengetik yang sebelumnya dia sudah bisa. Ketika disuruh 
memperbaiki, atau menginstal, ia bilang belum bisa. Ternyata, dia sering 
tidak ikut pelajaran praktik di tempat kursus. Ketika bapaknya kebetulan 
bertemu dengan guru kursusnya, dapat pula kesimpulan, anaknya itu memang 
"kumayah". Kata "kumayah" saya dapat dari Kamus Umum Bahasa Minangkabau 
Indonesia, yang disusun oleh H. Abdul Kadir Usman Dt. Yang Dipatuan, 
terbitan Anggrek Media. Kata itu ternyata sepadan, atau kurang lebih 
memiliki spirit yang sama dengan kata: cuai, cayah, cupai, saeme. Kata itu 
bisa berarti: suka mengabaikan hal penting, tidak serius, setengah hati, 
baik dalam mendengarkan pelajaran, mengerjakan sesuatu atau menunaikan 
sesuatu yang diniatkan sebelumnya. Ungkapan lainnya: Tidak sepenuh hati, 
kurang total. Semangatnya tidak menggebu-gebu. 
Maka, kembali kepada si bapak yang kecewa kepada anaknya tadi, kalau dia 
memaki anaknya dengan kata "kumayah",  maka bisa begini terdengarnya: 
"Waang indak tau diuntuang. Waang kumayah, cayah, cuai, cupai, saeme. Lai 
jaleh dek waang, bahabih bana den mambiayai, indak ka manjadi bagai doh...." 
(Kamu tidak tahu diuntung. Tidak serius. Ada jelas olehmu. Habis-habisan 
pun saya membiayai, tidak bakalan jadi deh....). Itu kalau sangat emosional, 
marah dalam naik darah. Kalau yang bijaksana, "Nak, jangan 
setengah-setengah kalau melakukan sesuatu. Cuai, cupai, saeme itu tidak 
baik." 
Kata "kumayah" saat ini, mungkin tak terlalu akrab di telinga orang 
Minang. Kata itu sudah terdengar teramat jarang dituturkan orang awak. 
Paling yang sering kita dengar saudara kembar dari kata itu, "cayah...." 
Kata cayah, tampaknya lebih sering kita dengar, seakan, dia menjadi wakil 
bagi kata kumayah, cuai, cupai dan saeme...." Tetapi. Kehadiran kata cayah, 
walau dalam kamus yang menjadi sumber kata ini, artinya setengah hati, 
keseharian kita mendapatkan kata cayah dalam artian remeh, kurang etis, 
remeh temeh tampaknya. Setelah disigi arti dan makna semua kata dari 
"kelompok" kata yang di kamus diartikan (bisa) searti, ada tautan 
tersiratnya. Orang cayah, remeh temeh, karena dia tak sepenuh hati 
memahami hal yang berkaitan dengan etika diri, sosial serta segala sesuatu 
yang menuntut hal yang positif. 
Kata-kata Minang yang terkutip dalam tulisan ini, memberi inspirasi, bisa 
saja begitu, untuk kita memainkan arti atau makna. Misalnya kita bisa saja 
mengangguk, kalau seseorang datang mengatakan, "Hei bung, kata itu hadir 
memiliki amanah. Kalau dia diucapkan pengarang puisi, amanahnya tentu beda 
dengan amanah yang diucapkan oleh seorang pejabat...." Kalau pengarang puisi 
mungkin bisa saja berkata, bulan kumayah di langit, melihat hatimu 
cuai..., tapi pejabat bisa saja akan pakai kata kumayah dengan antusias, 
"Jangan setengah-setengah jadi dari pada pengarang puisi. Kalau dari pada 
itu terjadi, maka pengarang puisi akan menjadi dari pada kumayah. Nah, 
kalau ingin jadi dari pada penyair yang hebat, jangan kumayah!" Hahaha! 
Kadang, saya menemukan gurauan hangat pada kata, sebagaimana saya 
menemukan dia teronggok untuk diucapkan dengan nada sedih, ungkapan dari 
hati, dituturkan dengan sangat intelek dan sebagainya. Kata "kumayah", 
kata yang mungkin saat ini sepi dari penutur Minang. Tetapi, arti, makna 
kata itu, untuk menegaskan ada realita atau ada contoh atau bukti orang 
yang "tidak sepenuh hati" mendengar, memaknai, mengerjakan sesuatu yang 
diamanahkan, dipercayakan, masih kita dengar tanpa kehilangan: Jangan 
setengah-setengah. Kalau mesti menyangkut hati, harus sepenuh hati. Kalau 
menyangkut semangat, harus menggebu-gebu. Kalau menyangkut belajar harus 
tekun. Kalau menyangkut sedekah harus iklas (iklas juga merupakan jawaban 
dari sepenuh hati). Kalau menyangkut pemberantasan korupsi? Nah ini dia: 
kita melihat masih kumayah! Payah! 
http://www.padangekspres.co.id/content/view/4267/59/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke