Senin, 28-April-2008, ( Koran Tokoh )
KETIKA pelajaran sastra menciut di sekolah dan kemudian diam-diam
nyaris menghilang, nama Chairil Anwar masih bertahan. Seorang guru bertanya
kepada muridnya.
Siapa Chairil Anwar?
Pelopor Angkatan 45, Pak.
Apa karyanya?
Aku.
Bagus! Kita harus selalu ingat pada tokoh-tokoh kita yang sudah berjasa,
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan
pahlawan-pahlawannya.
Murid itu mengangkat tangan.
Jadi Chairil Anwar itu pahlawan, Pak?
Guru terkejut.
Apa?
Jadi Chairil Anwar itu pahlawan, Pak?
Guru itu tak sempat menjawab, karena bel berbunyi. Pertanyaan tidak terjawab.
Guru buru-buru harus masuk ke kelas lain yang sudah menanti. Murid juga tidak
terlalu peduli terhadap pertanyaannya sendiri.
Dua puluh tahun kemudian, ketika sudah tidak lagi menjadi guru, pertanyaan itu
terkenang kembali.
Jadi Chairil Anwar itu pahlawan, Pak?
Bekas guru yang sekarang dipanggil Pak Amat oleh para tetangganya itu
tertegun. Muridnya yang dulu bertanya itu entah sudah jadi apa di negeri ini.
Mungkin menduduki jabatan penting atau tercampak ke bawah jembatan. Siapa tahu
sudah almarhum. Tetapi, pertanyaannya begitu menggoda.
Untung dulu bel berbunyi, jadi aku punya alasan untuk cepat-cepat pergi,
curhat Amat pada Ami ketika mengenang kejadian itu.
Kenapa? Bapak takut mengatakan Chairil Anwar itu pahlawan?
Ya.
Mengapa?
Habis dalam sajaknya yang berjudul 'Aku' itu, Chairil kan mengatakan: aku ini
binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang. Ya kan?
Betul.
Makanya! Mosok binatang jalang pahlawan!
Ya kalau Bapak motongnya di situ yang keluar hanya binatang jalangnya. Tetapi,
kan masih ada lanjutannya ......., biar peluru menembus kulitku, bisa dan luka
kan kubawa berlari, berlari hingga hilang pedih peri.
Dan, aku mau hidup seribu tahun lagi!
Lho, ternyata Bapak hapal juga!
Ya dong. Bapak juga dulu sering ikut lomba deklamasi meskipun kalah terus.
Bapak selalu pakai sajak 'Aku'-nya si Chairil Anwar itu.
Mengapa?
Karena semangat.
Memang sajak itu awalnya bernama Semangat.
O ya? Bapak juga suka Chairil karena dia bilang: biar sakit, pedih peri karena
luka dan bisa akibat tertembak, dia akan terus lari karena mau hidup seribu
tahun lagi.
Kirain Bapak suka karena dia bilang dirinya binatang jalang!
Lho itu kan hanya perumpamaan, Ami. Binatang jalang itu liar dan tidak mau
takluk. Artinya dia mau bebas dan merdeka. Chairil Anwar dengan sajak itu
menyerukan agar kita jangan mau dijajah, kita harus bebas menentukan hidup kita
sendiri. Berjuang membentuk negara yang merdeka dan berdaulat. Jadi dengan
sajak itu, sebenarnya Chairil Anwar sudah ikut berjuang merebut kemerdekaan.
Kalau begitu dia pejuang?
Ya iyalah! Berjuang itu kan tidak hanya pakai senjata. Pakai kata-kata juga
boleh..
Ya sudah, Chairil Anwar pahlawan dong!
Amat tertegun. Ami lalu pergi ke kampus.
Wah Bu, aku baru saja dikursus anakmu bagaimana menjadi guru, kata Amat
kemudian di dapur pada istrinya.
Mosok? Sudah berani dia mengajari Bapak?
Ya! Coba dulu aku mengatakan begitu kepada muridku, pasti lain jadinya!
Mengatakan apa?
Bahwa pelajaran sastra tidak akan jadi hanya pelajaran menghapal tahun
kelahiran dan kematian, tidak hanya menghapal judul-judul buku, tetapi
pembelajaran pada pemikiran-pemikiran para pujangga tentang berbagai masalah
kehidupan. Chairil Anwar itu bukan binatang jalang, tetapi mewakili suara
rakyat yang ingin merebut kemerdekaan dari penjajahan 3,5 abad!
Memang begitu kan, Pak!
Amat tercengang.
Lho Ibu tahu itu?
Ya iyalah! Tahu saja!. Mosok tidak. Kalau nenek-nenek kita dulu bercerita, kan
juga begitu! Aku selalu mendengarkan cerita nenek meskipun ceritanya itu
diulang-ulang. Karena bukan ceritanya itu yang penting tetapi
nasihat-nasihatnya. Ngapaian pengarang-pengarang itu ngarang, kayak tidak ada
kerjaan lain, kan karena dia ingin membukakan pikiran kita. Bukan ceritanya
tetapi pesan-pesan di balik cerita itu yang penting!
Amat takjub.
Kalau begitu memang bukan sastranya yang tidak berguna, tetapi gurunya yang
tidak tahu apa dan bagaimana mengajarkan apa sastra itu, seperti aku dulu! kata
Amat.
Lalu Amat mengunjungi tetangganya yang masih aktif mengajar. Setelah
salam-salaman, Amat langsung saja menyerang.
Menurut Bu Lanus, Chairil Anwar pahlawan bukan?
Bu Lanus guru sebuah SMA swasta itu tertawa.
Pahlawan? Bukan! Chairil Anwar itu sastrawan, Pak Amat.
Betul. Tetapi, dia kan sudah ikut berjuang menentang penjajahan?
Mosok? Saya belum pernah membaca Chairil Anwar itu ikut berjuang. Di mana Pak?
Malah saya dengar matinya karena rajasinga.
Muka Amat merah.
Berjuang kan tidak harus angkat senjata, Bu! Chairil kan sudah menulis
'Diponegoro', 'Persetujuan dengan Bung Karno', 'Cerita buat Dien Tamaela',
'Krawang Bekasi'. Itu sumbangan pada perjuangan kemerdekaan di masa revolusi.
Dia sudah memelopori kita untuk memerdekakan jiwa, bebas, sehingga punya
jatidiri seperti sekarang ini! Ibu mengajar apa di sekolah?
Sastra.
Pantesan!
Lho kok pantesan?
Amat tak bernafsu lagi melanjutkan percapakan, langsung pulang.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---