o Mantun sanak..

dalam kato lain murik malawan guru mah yo, yo baitu sanak, kalau 
guru takanciang tagak nan murik jan kanciang balari pulo tapi 
diajaan guru tu baliak baa caro takanciang.

jadi nan konkrit selah sanak. apo nan kasanak pabuek jo isu iko. 
apokoh ba koar2 kito di milih ko lai ka ado efeknyo ? nan ambo sanak 
buek se surek langsung ka duo urang tu nan manyatokan keberatan. 
atau buek pulo surek pembaca di koran-koran Sumbar tu. baru kongkrit 
tu sanak. nan labian rancak lai langsuang buek pangaduan ka DPRD 
Sumbar.

baa gak ati ?

--- In [EMAIL PROTECTED], Boby Lukman <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Sanak Ikshan...ambo jawek juo lah snek postingan sanak ko...
> 
> ambo berada pada posisi sebagai mantan wartawan nan dalam 
pengalaman sarto ilmu nan ambo pelajari tamasuak dari Zaili itu 
sendiri yang dulunyo adalah bos ambo. (ambo pernah ampek tahun di 
Padang Ekspres tu) bahwa menjadi wartawan adalah pekerjaan 
profesional. 
> 
> Kami di kalangan wartawan memegang teguh Etika bahwa wartawan 
harus berimbang dan bebas dari kepentingan...batua kecek sanak soal 
sia na awak nan ka manyuruah gamawan tu untuak mamecat Zaili...
> 
> Sakali lagi ambo hanya mengkiritis apa yang telah 
dilakukan...kalau gamawan manarimo ancak bana kalau indak ndak lo 
ba'a doh...ambo masih masih peduli dengan kampuang ko..dan 
kepentingan ambo adalah sebagai sesama wartawan dan sesama orang 
yang peduli kepada kampung halaman untuk mengingatkan Zaili bahwa 
pilihannya untuk menerima jabatan itu adalah salah. paliang indak, 
tidak tepat dilakukan oleh wartawan.
>   
> Dan baliak soal Zaili terima atau tidak saran ambo kembali ka 
inyo...
> 
> ---------------
> 
> Iko ado saketek tulisan soal wartawan dan indipendensi
> 
> Benarkah Bila Wartawan Dekat Pejabat?
> 
> Terima kasih untuk email Anda. Saya kebetulan sering berpikir soal 
pertanyaan Anda, selama tiga atau empat tahun terakhir ini: "Benar 
atau salah seorang wartawan dekat dengan kekuasaan?" Saya juga 
seorang wartawan, seperti Anda, yang sering harus wawancara orang-
orang berkuasa. Saya juga beberapa kali ditawari ini dan itu. Entah 
sekedar dimintai pendapat atau ditraktir makan. Atau ditawari 
jabatan. Entah masuk partai, jadi penasehat, menulis pidato dan 
sebagainya. Biasanya saya sopan menolak. 
> 
> Saya lalu membaca buku-buku penting dalam jurnalisme. Bahkan dalam 
rangka mencari jawaban yang akurat, saya mengambil inisiatif 
menterjemahkan buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan 
Tom Rosenstiel ke Bahasa Indonesia. Buku ini cukup populer. 
Judulnya, Sembilan Elemen Jurnalisme. Kini sudah cetakan ketiga.
> 
> Prinsipnya, menurut buku itu, wartawan harus independen dari nara 
sumber mereka. Independensi ini mutlak diperlukan agar si wartawan 
bisa meliput dengan tenang serta membuat penilaian dengan tanpa 
beban.
> 
> Independensi ini terutama penting dari aktor-aktor berkuasa, 
termasuk politisi, jenderal, birokrat dan pengusaha. Namun wartawan 
juga harus independen dari orang-orang biasa, yang kekuasaannya 
relatif kecil, a.l. pedagang kaki lima, tukang becak, penduduk desa, 
warga kota dan sebagainya. Namun biasanya ini bukan masalah. 
> 
> Bill Moyers, host acara televisi "Bill Moyers on PBS" 
mengatakan, "I had to learn all over again that what's important for 
the journalist is not how close you are to power but how close you 
are to reality."
> 
> Lebih penting untuk wartawan buat dekat dengan realitas daripada 
dekat dengan kekuasaan.
> 
> Ketika menemani Bill Kovach berjalan ke Medan, Surabaya, 
Jogjakarta, Bali dan Jakarta pada Desember 2003, saya sempat tanya 
kepadanya, "Apa elemen terpenting dari sembilan elemen jurnalisme 
untuk wartawan Indonesia?"
> 
> Kovach tak ragu menjawab, "Independensi." Kovach melihat bahaya 
paling besar untuk kebebasan pers, yang baru muncul di Indonesia 
sesudah Presiden Soeharto mundur Mei 1998, adalah kedekatan wartawan 
dengan penguasa. 
> 
> Kesimpulan saya tidaklah perlu buat wartawan untuk "dekat" dengan 
kekuasaan. Saya percaya makin bermutu jurnalisme dalam suatu 
masyarakat, makin bermutu pula masyarakat itu. Kalau kita mau mutu 
masyarakat kita meningkat, kita harus belajar "dekat" dengan realita 
masyarakat. Terima kasih.
> 
> Andreas Harsono
> ========================
> 
> 
>       
> >



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke