Mankonyo kumendan sasudah pangsiun bisa mendirikan partai.

ajo

On Fri, Jul 11, 2008 at 5:59 AM, benni_inayatullah
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Informasi juga, saya dua hari ini mengikuti working group discusion
> yang menyiapkan pengambilalihan bisnis militer, menyuport (a lah
> garan bahaso awaknyo koha) Tim nasional yang ketua hariannya Pak Erry
> Riyana Hardjapamekas. Dari sekitar 1300 an perusahaan, yayasan dan
> koperasi yang dimiliki oleh TNI yang katanya digunakan untuk
> kesejahteraan prajurit ternyata yang benar2 disalurkan kepada
> prajurit sebanyak 400 Milyar setahun. Uang itu kalau dibagi rata
> kepada setiap prajurit berarti setiap prajurit hanya mendapatkan
> kurang dari 10 ribu rupiah perbulan.
>
> Bagian terbesarnya tentu didapat oleh para kumendan. Nah apakah hal
> ini juga terjadi di PLN ?
>
> salam
>
> Ben
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Informasi aja...
>> Saya pernah coba itung-itung, kalau semua pegawai PLN di Bali
> (kebetulan saya di PLN wil. Bali) tidak digaji selama satu bulan, dan
> uang nya cuma bisa membeli kebutuhan bahan bakar Bali selama 3 hari
> saja....
>> Artinya, biaya SDM itu cuma bagian kecil dari operasional PLN.
>>
>> tks
>>
>>
>>
>> Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sanak Bot,
>>
>> Kalau menurut saya, baseline nya bukan untung rugi. PLN itu dapat
> tugas menyediakan listrik, jadi sediakanlah listrik itu.
>>
>> Masalah rugi, itu cerita lain, toh biar rugi tetap bagi2 tantiem
> kan?
>>
>>  Riri
>>
>>
>>
>>
>> 2008/7/9 Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]>:
>>  Dulu, sewaktu kuliah saya berpikiran sama. Secara logika bisnis,
> PLN tidak mungkin rugi.
>> Tapi ternyata logika bisnis itu tidak berlaku di PLN.
>> BAgaimana akan untung kalau disuruh menjual listrik dibawah harga
> pokoknya.
>>  Sebagai pengetahuan saja, 1 liter Solar menghasilkan maksimal 3
> kWh. PLN diwajibkan membeli Solar ke Pertamina sesuai harga pasar
> internasional, yakni Rp. 11.000,- maka 1 kWh itu untuk modal BBMnya
> saja sudah membutuhkan uang Rp. 3.600. Sedangkan 1 kWh dijual ke
> masy. antara Rp 500 - 1380.
>>  Siapa yang mau berbisnis seperti ini?
>> Kalau mau, pemerintah tinggal meliberalisasikan listrik, harga
> listrik sesuai harga keekonomian, yang ujung2nya bukan membuat
> listrik lebih murah. Karena listrik memang mahal, punya variable
> penentu yakni harga energi primer yang fluktuatif, berbeda dengan
> pulsa hp.
>>  Tapi intinya bukan itu Bapak, Ibu, Mamak jo Bundo ambo nan di
> palanta, tapi adalah "awareness" kita semua bahwa listrik itu adalah
> kewajiban PLN untuk  menyediakan, tapi kewajiban kita juga untuk
> menggunakan sebijak mungkin karena listrik itu memang mahal.
>> Gampang saja membanding, 1 kWh cuma seharga 1 bungkus mie sedaap.
> Padahal dengan 1 kWh itu Bapak ibu sudah bisa menyetrika 3 jam.
>>  Sebelumnya, saya mohon maaf atas pelayanan rekan-rekan di PLN
> Sumbar yang mungkin tidak berkenan dan kurang memuaskan.
>>
>> Salam
>> Bot SP
>>
>>
>>
>>
>> Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Ha ha,
>>
>> PLN saya rasa adalah perusahaan yang agak2 lucu
>>
>> Dibangun dengan dana dari APBN), pasar tidak perlu dicari, pesaing
> tidak punya.
>> Kalau pelanggan melalaikan kewajiban, listrik diputus.
>> Sebaliknya, kalau penyaluran listrik yang terganggu, yang salah
> adalah debit air, atau apa saja, dan sekarang lelucon terbaru: mutu
> batubara. Pokoknya, yang namanya PLN itu ga pernah salah ...
>>
>> Tentang pesan untuk mengurangi pemborosan, he he lucu juga.
> Daripada menyuruh pelanggan mengganti lampu dengan LHE, mematikan
> lampu 2 biji semalam dst2 (kaya slogan jaman dulu), lebih baik suruh
> gedung2 bertingkat sepanjang jalan sudirman - thamrin mematikan lampu
> di ruangan yang tidak ada orangnya. Itu aja udah ga tau berapa puluh
> ribu lampu tuh ...
>>
>> Riri
>>
>>
>>
>>
>>
>> 2008/7/9 Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]>:
>>   Mau klarifikasi aja...
>> PLTA memiliki ambang batas elevasi, dan hanya memindahkan air
> (energi kinetik digunakan untuk memutar turbin), bukan menghisap,
> karena yang digunakan adalah tenaga airnya bukan airnya. Dan sampai
> saat ini PLTA masih merupakan pembangkit listrik teraman, murah dan
> ga ada polusinya. Dan PLTA memiliki standar  elevasi dan amdal.
>>  Dari PLTA yang ada di Jawa, kekeringan bukan disebabkan oleh PLTA,
> namun karena lahan tangkapan hujan berupa hutan disekitar danau/waduk/
> bendungan beralih fungsi menjadi lahan perumahan, dan industri.
>>  YAng jadi PR kita saat ini adalah bagaimana mengamankan sumber-
> sumber hulu air dari kedua danau tersebut, khsuusnya bukit dan hutan
> disekitar Singkarak dan Maninjau yang sudah banyak beralih fungsi
> menjadi lahan pertanian dan perumahan.
>>   Mudah-mudahan kondisi ini tidak berlangsung lama. Dan mohon juga
> kepada milister di rantau net, mengajak sanak saudaranya di ranah
> untk mengurangi pemakaian listrik nya yang ga  perlu:
>> - Matikan lampu yang tidak digunakan, gunakan lampu LHE (8 watt
> setara 40 watt)
>>  - Gunakan alat listrik seperlu, dan hindari peralatan yang boros
> listrik, seperti magic jar dll.
>> Dan lain-lain.Apabila beban konsumsi listrik berkurang maka defist
> juga berkurang dan tentu saja pemadaman bergilir juga dapat dikurangi.
>>   Di  Bali, Pemda sudah mengurangi pemakaian listrik dengan
> mengurangi jam nyala lampu jalan, dan khusus di kantor2 PLN Bali kami
> melakukan audit energi. Mudah-mudahan di kantor PEMDA SUmbar juga
> melakukan hal yg sama.
>>
>>   Salam
>> Bot SP
>>
>>
>> hambociek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Keterangan pendek ini sangat
> membantu pengertian masyarakat ditengah-tengah kekeliruan remang-
> remang kegelapan. Tetapi ada lagi kekhawatiran sebagai efek samping
> obat pahit 4 kali sehari ini:
>>  > Akibatnya PLN memaksimalkan PLTA MAninjau dan Singkarak
> sepanjang hari, sehingga air kedua danau itu pun cepat surut.
>>    Dahulu dalam Lapau ini pernah didiskusikan penurunan permukaan
> air danau-danau di Sumatera,  terutama Danau Maninjau, Singkarak, dan
> Toba.  Kalau pengisapan air Danau Singkarak dan Maninjau dilakukan
> terus sebagai obat penawar sementara (pahilangkan, paengah sakik
> panipu diri) apakah kita tidak khawatir nanti dengan Malapetaka Besar
> jangka panjang kehilangan suplai tenaga air di kedua danau ini?
> Daerah-daerah sekitar Danau Singkarak dan Maninjau misalnya akan
> menjadi bukit tandus seperti pemandangan kita di gambar-gambar bukit-
> bukit batu sekitar Mekah?
>>    Salam,
>>  --MakNgah
>>  Sjamsir Sjarif
>>
>> --- In [EMAIL PROTECTED], Bot S Piliang <botsosani@> wrote:
>> >
>>   > Pagi tadi, sahabat lama saya, FErri yang sekarang jadi
> pengusaha  komputer di kota Padang, tiba-tiba mengirim sms. Awalnya,
> saya merasa "surprise" karena lama tidak berhubungan dengan sahabat
> saya tersebut. Namun saya terkejut itu surut karena sms dalam bahasa
> Minang tersebut  isi begini;
>>  > "Apo pangana PLN SUmbar ko Bot, bantuak makan ubek se mamatian
> lampu, 4 kali sahari" (Apa yang dipikirkan oleh PLN Wil Sumbar ini
> Bot, seperti makan obat saja, mematikan lampu 4 kali sehari)
>>  > Kemudian saya segera menghubungi rekan saya di bagian HUMAS PLN
> Wil. Sumbar untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Ternyata alasan nya
> tepat seperti apa yang saya pikirkan, 2 Unit mesin PLTU Ombilin yang
> menjadi baseload Wil Sumbar rusak. Usut punya usut, ternyata
> kerusakan tersebut sebagai akumulasi kerusakan akibat menggunakan
> batubar akalori rendah yang terpaksa digunakan karena batubara kalori
> tinggi sudah habis di ekspor untuk emmenuhi kontrak jangkapanjang
> yang ditnda tangani beberapa tahun silam. Tragis.
>>   > Menyikpi hal ini, PLN Sumbar  kemudian mengenjot penggunaan
> PLTA Singkarak dan Maninjau serta puluhan mesin PLTD yang boros BBM
> dan sangat mahal. Air Danau Maninjau dan Singkarak pun terbatas
> hingga elevainya tidak memadai karena memang  digunakan pada Peak
> Load saja. Hasilnya, Sumatera BArat, khususnya kota PAdang harus
> menderita pemadaman bergilir.
>>  > Dan Ferri, satu diantara ratusan pengusaha kecil di Sumtera
> Barat harus menerima kerugian yang tidak sedikit. Pertanyannya
> klasik, Siapa yang salah, LAngkah apa yang dialkuakn , kemana harus
> mengadu?
>>  > Nan, masyarakat pun dengan bulat sepakat menuding PLN yang tidak
> becus, korupsi, "gadang ota" dan lain-lain. Tapi tak banyak yang "mau
> tahu" bagaimana listrik ini dibuat oleh insinyur2 PLN yang juga anak
> bangsa sendiri…
>>   > Andaikan listrik itu bisa dijual seperti menjual minyak goring,
> di buat missal, dibungkus, lalu dikirim ke seluruh di Indonesia,
> tentu pekerjaan itu akan lebih mudah. Tapi listrik adalah barang yang
> harus dibuat,  disalurkan dan disajikan kepemakai pada saat itu juga.
>>  > Mungkin sebagai gambaran saja buat milister disini, untuk
> wilayah SUMBAR sendiri, dari informasi yang saya dapat dari HUMAS PLN
> Sumbar, base load  (penyuplai dasar) untuk Sumbar adalah jaringan
> interkoneksi Sumbagsel sebesar 200 MW, dan PLTU Ombilin sebesar 160
> MW. Pada saat peak load (beban puncak, dimana waktu pemakaian listrik
> sedang tinggi2nya, biasanya jam 6 sampai 10 malam), barulah PLTA
> Singkarak dan MAninjau digunakan, hal ini dilakukan untuk menjaga
> elevasi (pasokan air keduadanau tersebut). Kalau masih belum
> tertutupi, barulah PLTD dan PLTG yang berbahan baker Minyak Solar
> (PLN membeli Solar dengan harga pasar internasional Rp. 11.000/Liter)
> dinyalakan.
>>   > Kondisi saat ini, PLTU Ombilin keluar dari system, akibat
> kerusakan pada turbin yang ternyata merupakan akumulasi penggunaan
> Batubar kalori rendah (padahal spec baubara yang digunakan untuk
> pembangkit ini adalah Batubaa kalori tinggi). Penggunan  batu bara
> kalori rendah ini dugunakan akibat langka nya batubara kalori tinggi
> yang diekspor ke Malaysia, Thailand, Australi, Jepng dan New Zealand
> guna memenuhi kontrak jangka panjang.
>>  > Akibatnya PLN memaksimalkan PLTA MAninjau dan Singkarak
> sepanjang hari, sehingga air kedua danau itu pun cepat surut.
> Sedangkan tambahan dari system interkoneksi SUMBAGSEL tidak bisa
> ditambah. Hasilnya, kekurangan/deficit daya yang cukup parah sehingga
> terjadilah pemadaman yang tidak tentu diseluruh system Sumatera Barat.
>>   >
>> > Itu informasi yang baru ambo dapat dari rekan ambo di HUMAS PLN
> Sumbar. Kebetulan ambo karajo di PLN dan mengikuti perkembangan
> krisis listrik di Ranah.
>> >
>> > Salam
>> > Bot SP
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> >
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke