Dulu, sewaktu kuliah saya berpikiran sama. Secara logika bisnis, PLN tidak 
mungkin rugi. 
Tapi ternyata logika bisnis itu tidak berlaku di PLN.
BAgaimana akan untung kalau disuruh menjual listrik dibawah harga pokoknya.
Sebagai pengetahuan saja, 1 liter Solar menghasilkan maksimal 3 kWh. PLN 
diwajibkan membeli Solar ke Pertamina sesuai harga pasar internasional, yakni 
Rp. 11.000,- maka 1 kWh itu untuk modal BBMnya saja sudah membutuhkan uang Rp. 
3.600. Sedangkan 1 kWh dijual ke masy. antara Rp 500 - 1380.
Siapa yang mau berbisnis seperti ini?
Kalau mau, pemerintah tinggal meliberalisasikan listrik, harga listrik sesuai 
harga keekonomian, yang ujung2nya bukan membuat listrik lebih murah. Karena 
listrik memang mahal, punya variable penentu yakni harga energi primer yang 
fluktuatif, berbeda dengan pulsa hp.
Tapi intinya bukan itu Bapak, Ibu, Mamak jo Bundo ambo nan di palanta, tapi 
adalah "awareness" kita semua bahwa listrik itu adalah kewajiban PLN untuk 
menyediakan, tapi kewajiban kita juga untuk menggunakan sebijak mungkin karena 
listrik itu memang mahal.
Gampang saja membanding, 1 kWh cuma seharga 1 bungkus mie sedaap. Padahal 
dengan 1 kWh itu Bapak ibu sudah bisa menyetrika 3 jam.
Sebelumnya, saya mohon maaf atas pelayanan rekan-rekan di PLN Sumbar yang 
mungkin tidak berkenan dan kurang memuaskan.

Salam
Bot SP



Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ha ha,

PLN saya rasa adalah perusahaan yang agak2 lucu

Dibangun dengan dana dari APBN), pasar tidak perlu dicari, pesaing tidak punya. 
Kalau pelanggan melalaikan kewajiban, listrik diputus.
Sebaliknya, kalau penyaluran listrik yang terganggu, yang salah adalah debit 
air, atau apa saja, dan sekarang lelucon terbaru: mutu batubara. Pokoknya, yang 
namanya PLN itu ga pernah salah ...
 
Tentang pesan untuk mengurangi pemborosan, he he lucu juga. Daripada menyuruh 
pelanggan mengganti lampu dengan LHE, mematikan lampu 2 biji semalam dst2 (kaya 
slogan jaman dulu), lebih baik suruh gedung2 bertingkat sepanjang jalan 
sudirman - thamrin mematikan lampu di ruangan yang tidak ada orangnya. Itu aja 
udah ga tau berapa puluh ribu lampu tuh ...
 
Riri





2008/7/9 Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]>:
 Mau klarifikasi aja...
PLTA memiliki ambang batas elevasi, dan hanya memindahkan air  (energi kinetik 
digunakan untuk memutar turbin), bukan menghisap, karena yang digunakan adalah 
tenaga airnya bukan airnya. Dan sampai saat ini PLTA masih merupakan pembangkit 
listrik teraman, murah dan ga ada polusinya. Dan PLTA memiliki standar elevasi 
dan amdal. 
 Dari PLTA yang ada di Jawa, kekeringan bukan disebabkan oleh PLTA, namun 
karena lahan tangkapan hujan berupa hutan disekitar danau/waduk/bendungan 
beralih fungsi menjadi lahan perumahan, dan industri.
YAng jadi PR kita saat ini adalah bagaimana mengamankan sumber-sumber hulu air 
dari kedua danau tersebut, khsuusnya bukit dan hutan disekitar Singkarak dan 
Maninjau yang sudah banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan perumahan.
 Mudah-mudahan kondisi ini tidak berlangsung lama. Dan mohon juga kepada 
milister di rantau net, mengajak sanak saudaranya di ranah untk mengurangi 
pemakaian listrik nya yang ga  perlu:
- Matikan lampu yang tidak digunakan, gunakan lampu LHE (8 watt setara 40 watt)
- Gunakan alat listrik seperlu, dan hindari peralatan yang boros listrik, 
seperti magic jar dll.
Dan lain-lain.Apabila beban konsumsi listrik berkurang maka defist juga 
berkurang dan tentu saja pemadaman bergilir juga dapat dikurangi.
 Di Bali, Pemda sudah mengurangi pemakaian listrik dengan mengurangi jam nyala 
lampu jalan, dan khusus di kantor2 PLN Bali kami melakukan audit energi. 
Mudah-mudahan di kantor PEMDA SUmbar juga melakukan hal yg sama.

 Salam
Bot SP


hambociek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Keterangan pendek ini sangat membantu 
pengertian masyarakat ditengah-tengah kekeliruan remang-remang kegelapan. 
Tetapi ada lagi kekhawatiran sebagai efek samping obat pahit 4 kali sehari ini:
 > Akibatnya PLN memaksimalkan PLTA MAninjau dan Singkarak sepanjang hari, 
 > sehingga air kedua danau itu pun cepat surut. 
  Dahulu dalam Lapau ini pernah didiskusikan penurunan permukaan air 
danau-danau di Sumatera, terutama Danau Maninjau, Singkarak, dan Toba.  Kalau 
pengisapan air Danau Singkarak dan Maninjau dilakukan terus sebagai obat 
penawar sementara (pahilangkan, paengah sakik panipu diri) apakah kita tidak 
khawatir nanti dengan Malapetaka Besar jangka panjang kehilangan suplai tenaga 
air di kedua danau ini? Daerah-daerah sekitar Danau Singkarak dan Maninjau 
misalnya akan menjadi bukit tandus seperti pemandangan kita di gambar-gambar 
bukit-bukit batu sekitar Mekah?
  Salam,
 --MakNgah
 Sjamsir Sjarif
 
--- In [EMAIL PROTECTED], Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
 > Pagi tadi, sahabat lama saya, FErri yang sekarang jadi pengusaha  komputer 
 > di kota Padang, tiba-tiba mengirim sms. Awalnya, saya merasa "surprise" 
 > karena lama tidak berhubungan dengan sahabat saya tersebut. Namun saya 
 > terkejut itu surut karena sms dalam bahasa Minang tersebut isi begini; 
 > "Apo pangana PLN SUmbar ko Bot, bantuak makan ubek se mamatian lampu, 4 kali 
 > sahari" (Apa yang dipikirkan oleh PLN Wil Sumbar ini Bot, seperti makan obat 
 > saja, mematikan lampu 4 kali sehari)
> Kemudian saya segera menghubungi rekan saya di bagian HUMAS PLN Wil. Sumbar 
> untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Ternyata alasan nya tepat seperti apa yang 
> saya pikirkan, 2 Unit mesin PLTU Ombilin yang menjadi baseload Wil Sumbar 
> rusak. Usut punya usut, ternyata kerusakan tersebut sebagai akumulasi 
> kerusakan akibat menggunakan batubar akalori rendah yang terpaksa digunakan 
> karena batubara kalori tinggi sudah habis di ekspor untuk emmenuhi kontrak 
> jangkapanjang yang ditnda tangani beberapa tahun silam. Tragis.
 > Menyikpi hal ini, PLN Sumbar  kemudian mengenjot penggunaan PLTA Singkarak 
 > dan Maninjau serta puluhan mesin PLTD yang boros BBM dan sangat mahal. Air 
 > Danau Maninjau dan Singkarak pun terbatas hingga elevainya tidak memadai 
 > karena memang digunakan pada Peak Load saja. Hasilnya, Sumatera BArat, 
 > khususnya kota PAdang harus menderita pemadaman bergilir.
 > Dan Ferri, satu diantara ratusan pengusaha kecil di Sumtera Barat harus 
 > menerima kerugian yang tidak sedikit. Pertanyannya klasik, Siapa yang salah, 
 > LAngkah apa yang dialkuakn , kemana harus mengadu?
> Nan, masyarakat pun dengan bulat sepakat menuding PLN yang tidak becus, 
> korupsi, "gadang ota" dan lain-lain. Tapi tak banyak yang "mau tahu" 
> bagaimana listrik ini dibuat oleh insinyur2 PLN yang juga anak bangsa sendiri…
 > Andaikan listrik itu bisa dijual seperti menjual minyak goring, di buat 
 > missal, dibungkus, lalu dikirim ke seluruh di Indonesia, tentu pekerjaan itu 
 > akan lebih mudah. Tapi listrik adalah barang yang harus dibuat,  disalurkan 
 > dan disajikan kepemakai pada saat itu juga.
> Mungkin sebagai gambaran saja buat milister disini, untuk wilayah SUMBAR 
> sendiri, dari informasi yang saya dapat dari HUMAS PLN Sumbar, base load 
> (penyuplai dasar) untuk Sumbar adalah jaringan interkoneksi Sumbagsel sebesar 
> 200 MW, dan PLTU Ombilin sebesar 160 MW. Pada saat peak load (beban puncak, 
> dimana waktu pemakaian listrik sedang tinggi2nya, biasanya jam 6 sampai 10 
> malam), barulah PLTA Singkarak dan MAninjau digunakan, hal ini dilakukan 
> untuk menjaga elevasi (pasokan air keduadanau tersebut). Kalau masih belum 
> tertutupi, barulah PLTD dan PLTG yang berbahan baker Minyak Solar (PLN 
> membeli Solar dengan harga pasar internasional Rp. 11.000/Liter) dinyalakan.
 > Kondisi saat ini, PLTU Ombilin keluar dari system, akibat kerusakan pada 
 > turbin yang ternyata merupakan akumulasi penggunaan Batubar kalori rendah 
 > (padahal spec baubara yang digunakan untuk pembangkit ini adalah Batubaa 
 > kalori tinggi). Penggunan  batu bara kalori rendah ini dugunakan akibat 
 > langka nya batubara kalori tinggi yang diekspor ke Malaysia, Thailand, 
 > Australi, Jepng dan New Zealand guna memenuhi kontrak jangka panjang.
> Akibatnya PLN memaksimalkan PLTA MAninjau dan Singkarak sepanjang hari, 
> sehingga air kedua danau itu pun cepat surut. Sedangkan tambahan dari system 
> interkoneksi SUMBAGSEL tidak bisa ditambah. Hasilnya, kekurangan/deficit daya 
> yang cukup parah sehingga terjadilah pemadaman yang tidak tentu diseluruh 
> system Sumatera Barat.
 > 
> Itu informasi yang baru ambo dapat dari rekan ambo di HUMAS PLN Sumbar. 
> Kebetulan ambo karajo di PLN dan mengikuti perkembangan krisis listrik di 
> Ranah.
> 
> Salam
> Bot SP


         
 
 




  
 

       
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke