MakNgah dan sanak sapalanta yang ambo hormati, ambo tambahkan saketek 
keterangan sbb :
 
Memang ada beberapa pertanyaan besar tentang kehadiran Belanda ke Minangkabau, 
mengingat selama ini Belanda/VOC hanya memanfaatkan Bandar Padang dan beberapa 
titik di pesisir barat Sumatera lainnya untuk persinggahan dan simpul niaga 
perdagangan. Belanda maupun sebelumnya Inggris tidak pernah berniat untuk masuk 
ke ‘darat’ (pedalaman), karena memahami sifat dan karakter masyarakat Minang 
pada khususnya.
 
Perjalanan ke ‘darat’ sebenarnya dimulai oleh Raffles pada 16-30 Juli 1818 
mengunjungi Pagaruyung, dan atas permintaan kaum adat akhirnya ditempatkan 100 
serdadu di Simawang. Pada masa itu gerakan Paderi memang sedang hebatnya, dan 
dengan menempatkan Inggris di Simawang diharapkan dapat menstabilisasi kondisi 
di Tanah Datar pada khususnya. Di mata dunia pada saat itu ada kecurigaan bila 
Raffles sedang menggalang dukungan dan membangun poros Sumatera – Singapura 
bila kelak Sumatera akan diserahkan kembali kepada Belanda.
 
Pada 13 Agustus 1814 disusun perjanjian untuk penyerahan jajahan dari Inggris 
kepada Belanda, dan mulai dijalankan di Jawa pada tahun 1816, dan di Sumatera 2 
tahun kemudian. Pada bulan Mei 1818 Padang diserahkan kepada Belanda, dan pada 
tanggal 22 Mei 1819 bendera Belanda baru berkibar di Padang.
 
Permintaan agar Belanda masuk ke darat sebenarnya datang dari Tuanku Suruaso, 
Raja Tangsir Alam, dan Sutan Kerajaan Alam. Sekembalinya Tuanku Suruaso dan 12 
serdadu Belanda dari peninjauan ke Simawang, dilaporkan bila: “semua kampung 
yang tidak dikuasai oleh Paderi, suka takluk kepada Gubernemen, akan menurut 
semua perintah Gubernemen nanti, seperti yang sudah dilakukan oleh penduduk 
pesisir. Mereka sedia menguatkan dengan sumpah untuk membantu Belanda memerangi 
Lintau dan Paderi. Mereka hanya meminta 100 serdadu Belanda dan dua pucuk 
meriam untuk menundukkan seluruh Minangkabau”.
 
Permintaan ini diteruskan oleh Residen du Puy ke Betawi, dan dengan kebimbangan 
dijawab dengan pertanyaan : pertama, apakah betul Kerajaan Minangkabau telah 
ditaklukkan seluruhnya oleh Paderi; kedua, apakah keuntungan bagi Gubernemen 
jika tanah itu di bawah kekuasaannya?
 
Pada tanggal 10 Februari 1821 Tuanku Suruaso dan 14 penghulu adat “menyerahkan” 
Minangkabau kepada Belanda melalui perjanjian, yang secara pendeknya berbunyi 
sebagai berikut : “Penghulu-penghulu Minangkabau menyerahkan Pagaruyung, Sungai 
Tarab dan Suruaso, serta daerah Kerajaan Minangkabau selebihnya kepada Belanda 
jika Belanda berjanji akan menduduki Simawang dengan 100 serdadu di bawah 
komando opsir-opsir Belanda”.
 
Seminggu kemudian Simawang diduduki oleh 100 serdadu Belanda dan 2 pucuk 
meriam. Dan 2 bulan kemudian (28 April 1821) kontak senjata pertama (first 
blood) Belanda – Paderi terjadi melalui serangan ke Sulit Air.
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Wed, 8/13/08, hambociek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: hambociek <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Periuk Api, ... devide et empera
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 13, 2008, 7:46 AM

Tapi, senjata yang paling ampuh adalah maadu-domba awak-sasamo-awak, 
mamacah balah, devide et empera! Iko dilakukan indak sajo di Maso 
Paderi sajo, tapi taruih-trauik sampai parang-parang barikuiknyo, 
baiak di Kampuang Awak, Aceh atau di mano sajo di Dunia ko. Caro ko 
ditaruihkan oleh ahliwaris panguasa, baiak jaleh-jaleh atau diam-
diam, sampai kini...

Dakek di mato sejarah awak, kanalah PRRI, dakek di maso awak caliak 
lah Afghanistan, Iraq, dan sabanta lai Iran ...

--Nyit Sungut

--- In [EMAIL PROTECTED], Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> .... 
> Keunggulan persenjataan selalu menjadi faktor penentu dalam setiap 
peperangan. Pada waktu Perang Aceh di penghujung abad 19 telah mulai 
dikenal persenjataan modern, yaitu bedil Beaumont, yang 
mengakibatkan perang dapat berlangsung lebih lama. Bedil Beaumont 
ini memasukkan amunisi dari belakang, bukan selama ini dari depan, 
sehingga dapat digunakan untuk menembak lebih cepat. Pada waktu 
Perang Dunia II, beberapa teknologi perang digelar, seperti kapal 
induk, kapal selam, amphibious tractor, hingga bom atom. 
>  
> Wassalam,
> -datuk endang



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke