ANDAI DIA PERCAYA
Oleh : K Suheimi
Hal-hal kecil dan hampir tiap hari kita alami. Berbicara soal kesabaran dan
tata tertib mengendara, Kisah-kisah seperti ini sangat menarik hati’
Hari ini saya dengar suara Adi yang khas menyentuh dan menyejukkan, dia
membacakan bahan dan ceritra yang telah di olah Yanti. Kisah ini sangat
menyentuh dan menarik, Ingin saya ceritrakan juqa pada pembaca saya yang setia.
Agar kita sama-sama berbagi.
Ceritranya sederhana, bahannya berasal dari Meidi. Meidi sedang melanjutkan
pendidikan pasca sarjananya di UNP. Dia suka sekali membongkar-bongkar
internet. Banyak ceritra menarik dan penuh makna yang didapatnya , Seperti hari
ini dia bertutur tentang Keledai. Ceritra inilah yang akan saya sampaikan pada
pembaca dalam kolom Resonansi Jiwa.
Memang sulit sekali membuat orang lain mempercayai pihak lain, walaupun untuk
hal-hal yang sederhana,, Soal lampu rem misalnya, jika ia menyala, itu pasti
pertanda bahwa ada hambatan di depan,, Maka sudah sepantasnya, si belakang
mengikuti si depan , karena depanlah yang tengah menjadi imam , melihat dengan
mata kepala sendiri, dan yang paling menguasai data dan informasi,,
Tapi karena azasnya sudah tidak dipercayai , maka otoritas ini sering dianggap
sepi,, Saat itu, aku yang mestinya paling berhak untuk mengerti bahwa di depan
ada becak yang hendak menyeberang,, Biarlah ia lewat, karena bebannya berat
amat,, Kalau ia harus berhenti dan menggejot dari awal lagi, tentu repot
sekali,,
Tapi keputusanku ini ternyata cuma membuat mobil di belakang itu salah paham,,
Baru saja aku menginjakkan rem , klaksonnya sudah menyalak dengan galaknya,,
Tapi keputusan telah ditetapkan, dan si tukang becak telah mengambil jalan,,
Hanya si mobil belakang ini juga telah membulatkan hati: memilih menyalipku
katimbang ikut berhenti,, Maka yang terjadi ....terjadilah,,
(Smasshhhh... preeennggngngg)
selanjutnya ia harus kaget setengah mati ketika becak itu nongol begitu saja di
depan mobilnya, lalu ia menginjak rem sekuat yang ia bisa,, Tabrakan keras
memang tidak terjadi ... tapi sekadar ciuman bumper... telah membuat sang becak
terguling,, Muatan buahnya yang menggunung berhamburan ke sekujur jalan,,
Sebagai kecelakaan si becak tentu bukan hal yang aneh , tapi buah-buah yang
berhamburan itu benar-benar telah menjadi provokasi tersendiri,,
Jalanan macet seketika, Si mobil yang tadi dibelakangku hanya bisa pucat pasi,,
sepertinya ia seorang lelaki yang terpelajar, tapi saat itu sudah berubah
menjadi orang dogol,, Posisi mobilnya secara mencolok mengatakan bahwa dialah
biang keladi kemacetan ini, sehingga semua pihak kini menudingnya,, Dan abang
becak yang terkapar ini entah belajar teori drama dari mana, membangun
sensasi,, Ia membiarkan saja becaknya telentang,, Ia sendiri dengan ketenangan
seorang jagoan, memilih bangkit dan berjalan menghampiri si pengemudi dan
langsung menghajarnya,,
Cerita selanjutnya bukan urusanku lagi, tapi tak sulit merekonstruksi ending
insiden ini,, Betapa tidak enak membayangkan pengemudi mobil tadi, seorang yang
tampak terpelajar, bertampang bersih, tapi cuma jadi bahan olok-olok lingkungan
dan dipukuli abang becak lagi,, Padahal, jika ia mau sedikit bersabar, dan
terpenting, mau mempercayaiku untuk ikut berhenti, musibah ini tentu tidak akan
terjadi,, Tapi begitulah memang keadaan di negeriku, orang lain tak pernah
dibiarkan menjadi imam, walau ia memang tengah memegang otoritas yang
sesungguhnya,,
Inilah kenapa kita selalu terdorong main klakson kepada mobil yang ada di
depan,, Itulah kenapa dalam hal antre, leher kita cenderung terjulur demikian
panjang untuk selalu gatal menginterogasi keadaan di depan,, Padahal di depan
itu sering tidak terjadi apa-apa,, Kemacetan itu masih baik-baik saja,, Sekeras
apapun klakson ini kita ledakkan, kita tetap saja akan macet jika waktu lancar
memang belum tiba,, Pada gilirannya, antrean pasti akan bergerak maju dengan
caranya sendiri,, Jika semua masih terhenti, pasti karena masih ada persoalan,,
Tapi biarlah itu persoalan yang di depan,, Kita di belakang sini, tinggal
mempercayai,, Berat memang, tapi inilah ongkos hidup bersama,, Harus ada
semacam tebusan sebagai ongkos kepercayaan,,
classy people , ketidaksabaran membayar ongkos yang mahal. inilah yang membuat
hidup kita sering dilanda kekacauan,, Para imam, pemimpin, dan pihak yang di
depan itu, memang bisa saja menyelewengkan kepercayaan, kita boleh kecewa tapi
tak perlu trauma,, Karena untuk hidup bersama, manusia memang butuh saling
percaya,, Soal bahwa sesekali kita tertipu, tidak usah diherankan pula,, Siapa
yang bisa membebaskan diri dari nasib sial? , Rasanya tak ada kecuali Tuhan,,,
Untuk itu ingin saya petikkan sebuah Firman suci Nya dalam Al Qur'an surat
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan
dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka
memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. 2:75)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---