GULO SAKA

 

Oleh : Ir. Jupardi

 

 

Ketika saya dalam perjalanan dari
Kota Padang menuju Kota Bukit Tinggi selepas istirahat siang di Sate Mak
Syukur, sopir  yang baru 3 hari bekerja
sama saya menawarkan sebuah ajakan untuk mampir dikampungnya yang terletak 
dilereng
Gunung Merapi tepatnya dusun Bukik Batabuah Canduang, Kecamatan Ampek Angkek,
Kabupaten Agam-Sumatera Barat. 

 

“Ada yang menarik Pak di kampung saya, pemandangan  dari Bukik Batabuah menuju 
lembah
dibawahnya  dengan sawah ladang serta
sungai-sungai kecil didasar lembah sangat indah jika melepaskan pandangan dari
arah rumah saya”  Doni begitu nama
sopir saya ini berpromosi kepada saya, lalu Doni juga bercerita bahwa orang
tuanya mempunyai ladang tebu serta pengolahan tebu menjadi Gulo Saka (Indonesia
: Gula Jawa/Gula Tebu) diproses dengan cara-cara tradisional.

 

Ajakan ini tentu sangat menarik
bagi saya dan membuat rasa penasaran “bagaimana
sih cara membuat gulo saka tersebut”
apalagi Doni bercerita tebunya digiling dengan memanfaatkan tenaga kerbau. 
Menjelang
masuk Kota Bukit Tinggi kami belokan mobil kea rah lereng gunung merapi, jalan
menuju Bukit Batabuah cukup sempit dan sisi kanan arah kekaki gunung
jurang-jurang yang terjal tapi dengan mobil 4WD kami bisa menempuhnya ditambah
lagi cuaca yang cukup bersahabat, seandainya hujan maka badan jalan yang masih
tanah liat cukup licin dan kami harus berpikir bukan dua atau tiga kali lagi
untuk menempuhnya  tapi sebaiknya jika
tidak mau mengambil resiko jangan coba-coba meneruskan perjalanan sampai ke 
ladang
tebu masyarakat. 

 

Akhirnya kami sampai diujung
jalan terakhir yang berada diantara ladang tebu masyarakat, Mobil saya pakir
lalu sejenak saya berdiri dibibir jurang menghadap lembah-lembah serta dataran 
kearah
kota Bukit Tinggi, Subhanallah begitu indahnya bentangan alam yang saya lihat
setiap sapuan mata saya kesegala penjuru terhampar sawah, ladang, kebun sayur
mayur, anak sungai  dengan air yang
bening, pincuran dengan gemercik air yang menimpa bebatuan, kabut tipis yang
melayang manja, udara sejuk yang membelai sekujur tubuh membuat kita terpana
dan terpesona.

 

Saya meneruskan perjalanan menuju
tempat orang tua  Doni menyusuri jalan
setapak diantara lorong-lorong tanaman tebu, persis ditengah ladang tebu di
Bukit Batabuah disanalah pondok tempat membuat gulo saka keluarga Doni.  Saya 
disambut oleh orang tua Doni  dengan ramah, mereka kaget kok tiba-tiba
anaknya yang baru 3 hari meninggalkan 
kampung merantau ke Pekanbaru dan menjadi sopir saya sekarang berada
dihadapannya. Doni memperkenalkan saya kepada kedua orang tuanya serta sanak
saudaranya yang bekerja di pondok tersebut sambil menjelaskan kenapa kami
sampai disini. Sebagai pelepas dahaga kami disuguhi tebu yang telah dikupas dan
dipotong-potong kecil,mmm…cukup lelah rasanya gigi memamah tebu  tapi rasanya 
memang manis dan kaya kandungan
air.

 

Selesai menikmati beberapa potong
tebu saya coba mengitari setiap sudut pondok, mulai dari area terbuka tempat
tebu digiling sampai pondok yang  beratap
dan berdindng dimana terdapat tungku tempat memasak air tebu yang nantinya
menjadi gulo saka. Proses membuat gulo saka dari tebu dilakukan secara
tradisional dan manual. Tebu-tebu yang telah cukup umur dengan diameter
rata-rata 5 cm ditebang lalu  dibersihkan
dari kotoran yang menempel di batang tebu tersebut. Tebu-tebu tersebut sebelum
digiling atau diperas airnya terlebih dahulu dibelah menjadi 2 atau  4 bagian 
tergantung besar kecilnya diameter
tebu.

 

Nah yang paling unik adalah tebu
ini digiling dengan memanfaatkan tenaga kerbau 
dengan alat sederhana berupa dua buah silinder yang berputar dengan
mengalihkan tenaga kerbau yang bergerak membentuk lingkaran dengan diameter
sekitar 5 meter. Diantara celah dua silinder baja ini yang terletak dipusat
lingkaran inilah potongan tebu tadi dimasukan, secara otomatis seiring dengan
pergerakan kerbau tebu tadi akan terjepit dan diperas oleh kedua tabung
silinder tadi, begitu seterusnya sampai tebu tadi tidak mengeluarkan air lagi
atau sudah menjadi ampas.

 

Pusing berputar ?..kelihatannya
begitu yang dirasakan oleh kerbau yang menempuh jalan  yang sama berputar-putar 
membentuk lingkaran,
4 atau 5 kali putaran kerbau tersebut berhenti sejenak dan tuannya juga
memaklumi membiarkan kerbau tersebut berdiri ditempat sambil sekali-kali kerbau
tersebut mendenguskan napasnya. Salah satu mensiasati kerbau ini jangan terlalu
pusing maka matanya ditutup dengan kaca mata yang terbuat dari tempurung kelapa
lalu kaca mata ini ditutup lagi dengan kain.

 

Air tebu hasil perasan ditampung
dibawah silinder lalu dialirkan ketungku didalam pondok. Setelah penuh wajan
dengan air tebu yang nantinya dimasak, sementara si kerbau bisa istirahat
sejenak. Air tebu harus segera dimasak tidak boleh ditampung terlalu lama ini
akan berakibat terjadi fermentasi (Minang: aia tabu jadi asam) tentunya gulo 
saka
sebagai produk akhir akan menurun kualitas baik dari segi rasa maupun dari segi
penampilan fisiknya.

 

Sementara air tebu dimasak diatas
tungku yang berbahan bakar kayu serta ampas tebu, kerbau istirahat sejenak kaca
mata antik dilepas, saya pikir si kerbau yang tadinya sedikit nanar sekarang
pemandangannya terasa lepas ditambah lagi dihadapannya tersedia makanan segar
berupa pucuk dan daun tebu serta rumput gajah yang segar. Betapa lahapnya
kerbau ini menyantap hidangan lezat tersebut dia tidak peduli lagi dengan
“pasangannya” berupa kayu yang selalu menempel dikuduknya seakan dia berkata 
“saya juga manusia (baca:binatang) yang
perlu dikasihi, disayang dan dimanja berikan saya makan yang lezat dan bergizi
maka akan saya berikan seluruh tenaga saya buatmu Tuanku, jangan paksa saya
bekerja melebihi kemampuan tenaga saya, perjayalah jika tuan memaksa saya tanpa
asupan energi, saya akan letih, lelah dan sakit akibatnya tuan tidak bisa lagi
memproduksi gulo saka sebagai sumber mata pencaharian”.

 

Air tebu yang dimasak dalam kuali
tadi mulai mengental berwarna coklat, cairan kental ini dikenal dengan nama 
tengguli, saat berada dikuali tengguli
ini setiap saat diaduk sampai dingin mencapai suhu kamar lalu disendok dan
dimasukan kedalam cetakan yang terbuat dari tempurung kelapa. Akhirnya tengguli
yang berada dibatok kelapa ini dengan sendirinya mengeras inilah yang disebut
dengan GULO SAKA.

 

Gulo saka ini dikeluarkan dalam
tempurung kelapa dan siap untuk dipasarkan, saat saya berkunjung harga
ditingkat petani gulo saka sekitar 7.500 per kilogram. Rata-tara perhari orang
tua Doni memproduksi sekitar 100 – 120  kilogram Gulo Saka atau setara dengan 
empat
kali memasak air tebu dalam kuali (waktu efektif rata-rata 15 hari per bulan
tergantung persediaan tebu siap panen).Tenaga kerja yang terlibat adalah 1
orang pemanen tebu,  memotong dan
membersihkannya, 1 orang operator kerbau, kedua orang tua Doni di dapur tempat
air tebu diolah menjadi saka tentunya 1 ekor kerbau yang siap berputar-putar
membentuk lingkaran dengan menempuh jalan yang sama (waduh..pusing dan capek 
deh).

 

Gulo saka ini sudah merupakan
bagian dari kuliner dari berbagai makanan , kue serta panganan khas orang
minang untuk memberikan sentuhan rasa manis alami  yang khas layaknya gula 
butiran yang juga
terbuat atau berbahan dasar tanaman tebu. Sebut saja panganan seperti kolak,
kuah serabi, kue mangkok, bika  serta
kue-kue basah atau kering lainnya khas ranah Minang.

 

Setelah puas melihat cara
pembuatan gulo saka secara tradisional dan berkeliling diseputar lereng gunung
merapi saya dan Doni pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Pekanbaru.
Apaboleh buat dalam diri saya tidak ada “Ilmu penolak rejeki”, orang tua Doni
dengan “penuh paksaan” agar saya bersedia membawa oleh-oleh beberapa potong
gulo saka sambil berpesan “Kami titipkan
Doni sama Bapak ya, bimbinglah Doni dalam bekerja Pak” serta tidak lupa
menasehati anaknya Doni agar dalam membawa mobil selalu berhati-hati serta
penuh kesabaran jangan ugal-ugalan dijalan raya, ini dapat dimaklumi karena
Doni masih berusia muda belia (23 Tahun).

 

Sebelum mobil kami bergerak
meninggalkan Bukit Batabuah dari jauh adik Doni berlari-lari kecil sambil
berteriak, sejenak kami menoleh kebelakang rupanya masih ada oleh-oleh yang
harus dibawa yaitu seikat tebu kualitas super bagian pangkalnya untuk dibawa ke
Pekanbaru. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala perhatian dan
keramahan keluarga Doni, sebuah keramahan khas orang Desa, sebuah keramahan
dari hati yang tulus bukan karena factor anaknya Doni yang menjadi sopir saya.

 

Mobil kami meluncur dari lereng
gunung merapi menuju jalan utama ke Bukit Tinggi, sebuah pengalaman singkat
tapi penuh arti yang saya rasakan dan saya berjanji dalam hati suatu saat saya
akan kembali lagi kesini tentunya bukan kunjungan singkat dan mendadak seperi
ini tapi kalau perlu menginap beberapa hari sambil larut dengan kehidupan
petani tebu yang berada di lereng gunung merapi yang indah, sejuk, alami penuh
dengan segala limpahan alamnya yang subur. Maha besar Allah Swt dengan segala
ciptaannya.

 

Pekanbaru, 26 Agustus 2008

 

Foto2 silahkan kunjungi 
http://jupardi.multiply.com/photos/album/29



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke