Saya baru melihat liputan di acara infotainment atis yang jalan-jalan..kebetulan ada artis, Dimas dan Zora (nama panjangnya saya ga tau, tapi keduanya sering terlihat di sinetron), yang kebetulan diundang pemda Solok untuk memeriahkan acaa FSDK... Saya meinding meilaht keramaian danindahnya alam Danau Kembar waktu itu. Tapi sayang, kenapa tidak ada gaungnya di kancah nasional, tidak ada publikasi di pers nasional. Sehingga rekor muri dan semua acara yang sangat bagus tersebut hanya terdengar disekitaran Sumatera barat saja. PAdahal targetnya kan mau menarik wisatawan luar Sumbr, khususnya JAkarta dan Bandung. Saya masih berharap ada tayangan ditelevisi swasta nasional atau TVRI tentang festival ini...mudah-mudahan ya..;)
Salam Bot SP Denpasar jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Batanyo ambo ciek Pak ZAP lai dibukukan atau ado catatan apo sajo jenis 74 masakan dari bilih ko caro mambueknyo (resep jo bumbu) dima ambo bisa mandapekannyo...lai ado Link nyo basuo dek Pak Zul didunia maya ko..kok dapek Linknyo tolong lewakan disiko Yo ambo tamasuak tertarik jo seni kuliner ranah minang tarimo kasih Salam-Jepe (43) --- On Fri, 8/29/08, zul amry piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: zul amry piliang <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] FSDK : Memecahkan Rekor MURI To: [email protected] Date: Friday, August 29, 2008, 4:47 AM Luar biasa , pelaksana FSDK telah berhasil memecahkan 3 rekor MURI dan salah satunya berhasil memecahkan rekor skala dunia yakni penampilan masakan ikan bilih terbanyak dalam variasi masakan yakni ada 74 macam masakan ikan bilih . Yang saya tahu selama ini masakan yang dibuat dari bilih hanya : pangek bilih , palai bilih, salai bilih , bilih balado ,sampadeh bilih , goreng bilih , abon bilih . Rupanya bisa diproses lebih dari itu , dan mencapai 74 macam Wassalam : zul amry piliang di solok . Jumat, 08 Agustus 2008 ( Harian Singgalang ) ImageKabupaten Solok punya keinginan memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) melalui Festival Singkarak Danau Kembar (FSDK). Keinginan ini perlu kita dukung bersama. Bukankah selama ini FSDK belum pernah digelar. Begitu digelar ada keinginan memecahkan rekor MURI. Ini bukan sekadar keinginan, tetapi di dalamnya ada tekad yang bulat untuk menyelenggarakan ajang wisata ini dengan sesungguh hati dan melibatkan banyak pihak. Siapa yang tidak kenal dengan Danau Singkarak. Danau terluas di Sumatra Barat. Danau yang sejak lama sudah dikenal sebagai daerah pariwisata. Danau yang memiliki species ikan bilih. Begitu species dan spesialnya, konon hanya danau Singkarak di dunia yang memiliki ikan bilih. Dari sisi ini tidak ada yang ragu dengan keinginan panitia menyelenggarakan festival bertaraf nasional di Danau Singkarak. Sebagai objek wisata, Singkarak memiliki beberapa lokasi persinggahan, ada Tanjung Mutiara, ada dermaga, teluk indah, dan beberapa lokasi wisata yang dikelola secara pribadi. Selama ini objek wisata tersebut selalu disinggahi wisatawan, dalam dan luar negeri. Mereka tampak menikmati keindahan yang disajikan oleh Danau Singkarak. Karena itu dengan adanya festival diharapkan kunjungan wisatawan akan semakin meningkat dan semakin berkualitas. Danau Kembar tidak kalah menarik dan uniknya. Bagaimana tidak menarik dan unik, jika Danau Diatas justru terlihat dengan jelas ketika dilihat dari Danau Bawah. Apalagi Danau Diatas dan Danau Dibawah ini juga dilengkapi dengan Danau Talang. Jarang ada di dunia Danau Kembar tiga. Danau ini bukan saja menarik karena kekembarannya, tetapi ada daya tarik lain yang tidak kalah menariknya. Danau Kembar sudah memiliki panorama yang indah. Danau ini memiliki cottage yang bisa menampung wisatawan untuk menginap sambil menikmati sejuknya udara di Danau Kembar. Dibandingkan dengan Festival Danau Kerinci yang sudah menggaung secara nasional, FSDK tentu akan lebih menarik karena dalam waktu bersamaan digelar festival di dua danau sekaligus. Jarak kedua danau itupun lebih dari 80 km. Apalagi letaknya di utara Kabupaten Solok dan satunya lagi di selatan Kabupaten Solok. Festival di dua danau ini justru dikelola oleh satu panitia. Dari segi ini saja Kabupaten Solok bisa mendapatkan rekor MURI. Namun jika FSDK perdana ini gagal mencetak rekor MURI karena prestasi yang ditorehkannya, kita berharap tidak ada rekor MURI karena nekad menggelar festival berskala besar dengan persiapan yang pendek. Keinginan untuk menggelar FSDK memang bukan baru muncul. Program ini sudah ada sejak tahun lalu, tetapi gagal dilaksanakan. Kini FSDK tinggal menghitung hari, masyarakat masih bertanya benarkah FSDK akan digelar. Di Singkarak belum terlihat kesemarakan FSDK, selain sebuah spanduk yang terpajang di pintu masuk dermaga Singkarak, belum ada terlihat pembenahan lokasi. Hal ini perlu menjadi bahan renungan kita semua, apakah kita akan mencatat rekor MURI karena berhasil membuat program yang prestisius atau karena apa? oWaitlem --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
