Sanak, sato saketek, walaupun bukan ahlinyo.
Di maso nan lampau memang ambo danga banyak urang-urang gadang di awak nan menonjol di kancah nasional. Karono agak ati Bahasa Melayu/Indonesia itu pas bana pronounciation-nyo (aa tu MakNgah?) di talingo urang-urang Indonesia ko. Jaan kan bicaro, jo tulisan pun urang Minang santiang; hinggo revolusi persuratkabaran pun alah dimulai di Minangkabau sajak pertengahan abad 19.
Nan mungkin menonjol dari caro berbahasa itu adolah vocabulary (aa lai tu MakNgah?) cukuik langkok nan melebihi dari kosakata Melayu sendiri. Sudah tu pandai mamainkan kato malereng, karono alah biaso bapitatah-patitih. Nan pokok manuruik ambo iyolah pronounciation itu : tadanga tegas dan lantang. Dek urang-urang lain langgam tu taraso tuahnyo, dirabo latar belakangnyo, nampak sado nan tuah di kehidupan urang Minang.
Sabananyo nan ambo raso, Bahaso Balando pun terkesan lugas dan tegas, iyo tu sanak Suryadi? Karono mereka mamakai juo suaro rongkong, raso ka kalua dahak tu sakali. Mungkin karono negeri dingin dan lai banyak pulo anginnyo. Jadi kalau indak kareh bunino, indak tadanga jo nan lain. Jadi urang Minang jo urang Balando tu sabananyo klop dalam babahaso, nan surang mamakai suaro rongkong nan lain mamakai urek ilie. Jadi indak pun saling mandanga, lah tantu curitonyo dari masiang-masiang maliek roman mukonyo.
Ambo raso hanyo Soekarno nan dapek menandingi kemampuan berbahaso urang Minang maso itu. Itu pun karono liau banyak bagaua jo urang Minang, dan banyak pulo menghabiskan maso di pengasingan. Banyak kepandaian awak nan dipakainyo.
Baa to kini, ambo lai sasuai jo Rahima, bahaso ado kesan cimeeh dalam satiok urang awak babahaso. Indak tahulah, mungkin ado pengalaman awak di maso lampau maubah caro itu, dan kini alah menjadi turun-temurun. Kok dapek cimeeh tu digantikan jo garah, itupun kalau pandai. Kok kini, maliek urang Minang babicaro Bahasa Indonesia pun taraso lucu. Maafkan ambo sanak. Rasonyo tuah tu alah habis.
Nan kini, nan nampak di kito iyolah urang Batak tu nan pandai ber-pronounciation. Posisi tukang ota pun lah banyak dikuasainyo, aa tu pengacara, politikus, pejabat, hinggo ka manggaleh. Baa gak ati, lai talawan liak jo kito, ado nan paralu awak benahi. Picayo diri, sadar kapado kebesaran sejarah awak, raso sahilie samudiak, cerdik namun tidak picik, hinggo dapek awak suarokan sucaro tegas dan lantang. Dimaalah tuah tu kini ka dicari. Tantu maharok awak ka nan mudo. Karono itu, sigilah sado nan gadang dan nan elok di awak. Mudah-mudahan babaliak li tuah babahaso Indonesia tu ka awak, saroman angku Dt. Kayo, pahlawan, dan pujangga terdahulu.
Baitu senyo, kok babaliak ka ambo tantu indak katajawek lai. Talabiah takurang mohon dimaafkan.
-datuk endang
--- On Thu, 8/28/08, Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Karena Saya Indonesier: KELAH SANG DEMANG JAHJA DATOEK KAJO PIDATO OTOKRITIK DI VOLKSRAAD 1927-1939 To: [email protected] Date: Thursday, August 28, 2008, 11:38 PM
Karena Saya Indonesier Minggu, 29 Juni 08 - oleh : admin

Judul:KELAH SANG DEMANG JAHJA DATOEK KAJO PIDATO OTOKRITIK DI VOLKSRAAD 1927-1939
Penulis: Azizah Etek, Mursyid A. M., Arfan B. R.
Penerbit: LkiS, Yogyakarta
Cetakan: 1, Mei, 2008
Tebal: xvi + 512 hal
Kita mulai perbincangan ini dengan sebuah kisah. Juni 1927. Didepan sidang Volksraad, Hadji Agus Salim berpidato dengan lantang. Pemimpin sidang, Vorzitter, memperingatkannya agar berbahasa Belanda. Namun Agus Salim mengelak sembari berargumen bahwa sekalipun ia mahir bahasa Belanda peraturan Dewan menjamin haknya untuk bicara dalam bahasa Indonesia . Majelis pun terdiam.
Baru beberapa jenak Agus Salim menyebut sebuah istilah yang tak mungkin dihindarinya: ekonomi. Mendadak Bergmeyer menyela
sambil mengolok-olok. "Apa kata ekonomi dalam bahasa melayu?" Tanpa pikir panjang, Agus Salim sontak membalas,"Coba, Tuan sebutkan apa kata ekonomi itu dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Indonesianya!"Bergmeyer tertohok keras. Ia baru tersadar bahasa Belanda tak punya padanan kata dengan istilah dari Yunani itu (Rahzen: 2007).
Potongan kisah dalam sejarah Volksraad itu menunjukan bahwa selain sebagai perantara wicara, bahasa adalah juga soal martabat, harga diri, cara berpikir, dan kebanggaan terhadap tanah air. Terlebih di muka persidangan Volksraad, bahasa menjadi persoalan yang amat sensitif. Saat itu, bahasa Indonesia masih sulit diterima sebagai bahasa resmi, sekalipun sejak 1918 Sri Ratu memperbolehkan penggunaannya dengan catatan bahasa Belanda tetap diutamakan.
Sebagai bangsa, kita berutang budi pada tokoh-tokoh Volksraad yang berupaya "merumahkan" bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan formal pemerintahan. Bersama Agus
Salim, Jahja Datoek Kajo secara efektif dan konsisten memelopori penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat kritik dan perlawanan di parlemen. Nama Jahja memang jarang disebut dalam kurikulum pelajaran sejarah di negeri ini. Kata Buya Syafi'i Maarif, pernik-pernik kecil dalam sejarah kita sebagai bangsa kerap dilupakan. Seolah-olah hal itu tidaklah penting dibicarakan dan diingat, meski sesungguhnya gerak pikir dan kesadaran kita dalam berbangsa sering ditentukan peristiwa-peristiwa kecil yang terlewatkan.
Jahja Datoek Kajo lahir di tanah Minang, Koto Gadang, pada 1 September 1874. Masa kecilnya dihabiskan di banyak tempat, berpindah-pindah merantau bersama mamaknya. Selesai membantu mamaknya yang menjadi kepala gudang kopi di Baso, Jahja magang di kantor Residen Padang Barat. Inilah momentum pertama pergesekannya dengan birokrasi kolonial. Mula-mula, sebab dianggap "berkondite" baik, kariernya terus menanjak. Dari sekadar juri tulis (1892),
melompat menjadi Tuanku Laras IV Koto (1895) dengan gelar Datoek Kajo. Pada 1913, ia ditugaskan merangkap jabatan sebagai Kepala Laras Banuhampu. Selanjutnya ia sempat menjabat sebagai Demang di Bukittinggi (1914-1915), Payakumbuh (1915-1919), dan Padang Panjang (1919-1928).
Titik kisar perlawanan Jahja terhadap kolonial terbaca ketika pada tahun 1915 Asisten Residen James memberinya rapor merah. Sebagai demang, Jahja dinilai kelewat lunak memerintah, tidak suka menghukum orang, slordig dalam surat-surat berharga, dan jalan-jalan di distriknya tak sebagus distrik lain. Di Koto Gadang, Jahja melambari kepemimpinannya dengan kearifan lokal yang banyak tertuang dalam pepatah-petitih Minangkabau. Khazanah Minangkabau ini pula yang kelak menghantarkannya menuju kesadaran berbahasa Indonesia .
Jahja akhirnya "dibuang" oleh pemerintah ke Volksraad untuk periode 1927-1931. Meskipun posisi itu adalah jabatan ambtenar tertinggi untuk ukuran
Minangkabau, pemerintah setempat lebih merasa aman jika Jahja dijauhkan dari tanah kelahirannya. Perseteruan terbukanya dengan Residen Whitlau beberapa waktu sebelumnya menimbulkan kekhawatiran akan munculnya konflik-konflik baru antara pemerintah dan masyarakat.
Menjadi anggota Volksraad berarti kemewahan menikmati fasilitas. Jahja memang mendapat itu semua, namun hati nuraninya tak bisa dibohongi. Jahja juga harus berhadapan dengan tradisi Volksraad lebih tampil sebagai penasihat pemerintah ketimbang penyalur aspirasi rakyat.
Bagi Jahja, seburuk apapun, keberadaan Volksraad menerbitkan harapan baru. Ia percaya bahwa Volksraad berada pada posisi yang tepat namun digunakan dengan cara dan tujuan yang keliru. Wajar jika ia menyesalkan penolakan Dr. Soetomo dan H.O.S Tjokroaminoto untuk diangkat menjadi anggota Volksraad bersamaan dengan dirinya. Kedua tokoh itu melihat ada ketidakberesan dalam konsep "mayoritas bumiputera" (Inlandsche
Meederheid) yang hendak diterapkan pemerintah Belanda dalam keanggotaan Volksraad.
Rumah Bahasa di Parlemen
Sejak Tirti Adhi Soerjo dengan Medan Priaji-nya (1908) merumahkan bahasa Indonesia , pengandaian tentang nasion menjadi dimungkinkan (Rahzen:2007). Rumah itulah yang kemudian dihuni banyak orang dari masa ke masa. Jahja Datoek Kajo tentu saja satu dari sekian banyak penghuni yang merawat baik-baik "rumah" itu.
Dalam hal berbahasa,Jahja dan Agus Salim memang segendang-sepenabuhan. Bedanya, jika Agus Salim cenderung blak-blakan, Jahja menempuh cara "menyerang" sambil "membelakangi". Otokritik sang demang dibalut dengan daya retorika yang lugas, sopan, dan terarah. Pada persidangan Juli 1938, misalnya, Jahja mengakui Belanda masih menuntun Indonesia menuju kemajuan. Namun, antara yang
memerintah dan diperintah tidak ada kesepahaman bahasa dan perasaan. "Saya ulangkan lagi, Tuan Vorizitter! Di Indonesia ini baik ambtenar, baik partikelir, belum 99.99 persen mengerti dan kenal bahasa Indonesia, sebaliknya bumiputra boleh jadi 0.001 persen yang mengerti bahasa Belanda."
Jahja berhasil membuktikan vitalitas bahasa Indonesia . Ia tak pernah disanggah seperti halnya Agus Salim. Koran-koran pribumi menyebutnya "Si Jago Berbahasa Indonesia di Volksraad". Julukan yang tak berlebihan karena di kemudian hari rintisannya itu memberi pengaruh besar pada Fraksi Nasional yang digawangi Soeroso, Thamrin, Iskandar Dinata, Abdoel Rasjid, Soangkoepon, dan Wirjopranoto. Fraksi ini konsisten mengangkat dan mengembangkan bahasa Indonesia di parlemen dan kancah politik.
Jahja sering mengungkap keburukan perilaku pejabat Belanda. Ia melihat bahwa alam keselarasan yang tadinya diterangi elok
kato dengan mufakat, buruk kato di luar mufakat tak lagi diindahkan. Masyarakat tak punya saluran berpendapat, tak punya kesempatan bersuara. Dalam situasi seperti ini, bagi Jahja, bahasa Indonesia bisa menjadi titik temu untuk mengatasi problem pemerintah dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik mendorong permufakatan yang baik pula. Dan mufakat, kerja sama (samenwerken) yang adil bisa diselenggarakan.
Nah, lagi-lagi kita nampaknya perlu mengaca pada masa lalu, pada Jahja, si demang, si djago, yang telah wafat 66 tahun lampau itu. Ada baiknya kita simak kutipan pidato bernada testimoni berikut:
"...Saya lebih suka didalam bahasa Indonesia , karena saya sendiri seorang Indonesier. Tuan tentu memaklumi bahwa sekalian bangsa dalam dunia ini lebih suka berbahasa dalam bahasanya sendiri. Sebabnya perasaan indonesier tinggal di
orang Indonesier, perasaan Belanda di Belanda."
Ah, bukankah kita kini kian merasa malu untuk mengucap,"karena saya Indonesier..."
Ahmad Musthofa Haroen, Pustakawan Cabeyan Scriptorium
Sumber" Koran Tempo/Ruang Baca/ Edisi 51/ Juni 2008
The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. |