Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sudah lama saya tidak menonton film Indonesia, yang karena kesal pada mutunya,
saya namakan sebagai film mancik-mancik, karena ceritanya murahan, pemainnya
tak bermutu – walau cantik dan ganteng -- dan temanya berkisar dari itu ke itu
saja. Seiring dengan itu, untuk melihat film yang bagus-bagus, saya terpaksa
berlangganan dengan TV kabel, HBO atau Cinemax untuk film cerita, dan
‘Discovery Channel’ untuk pengetahuan.
Hari Jumat tanggal 29 Agustus yang lalu, sewaktu membeli buku “Para
Pencuri Uang Rakyat: Daftar 59 Koruptor Versi KPK 2003-2009” di Toko Buku
Gunung Agung di Kwitang, Jakarta, secara berkebetulan saya melihat DVD
berjudul; “Ayat-ayat Cinta” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan
diproduksi oleh Dhamoo dan Manoj Punjabi. Sebenarnya sudah lama mendengar novel
dengan judul yang sama, tetapi belum sempat membacanya. Setelah menemukan DVD
itu, saya fikir melihat versi DVD-nya mungkin akan sama asyiknya.
Demikianlah, hari Minggu sore tanggal 31 Agustus 2008 saya putar DVD
itu di laptop saya. Betul saja, saya sungguh terpaku menyaksikan jalannya
cerita, tentang kisah cinta Fahmi Abdullah seorang mahasiswa S2 Universitas Al
Azhar, Cairo, asal Indonesia, dengan Maria Girgis, seorang gadis Kristen Koptik
Mesir yang tinggal di satu rumah bertingkat yang sama tapi berbeda lantai, dan
dengan dua gadis lain Aisha dan Nurul, yang dibungkus dengan sangat indah dan
penuh semangat religieus dan islami.Pesan-pesan keagamaan disampaikan secara
halus.
Berlinang-linang air mata saya menyaksikannya. Kecuali satu dua
pemain senior -- seperti Marini -- hampir seluruh peran dimainkan oleh para
mahasiswa Indonesia di Cairo. Bukan main. Walau berakhir sedih, dengan
meninggalnya Maria dan diperkosanya Nurul oleh ayah angkatnya, namun secara
menyeluruh film ini cukup mendidik. Secara pribadi izinkan saya menganjurkan
agar kita menonton DVD ini beserta keluarga.
Setelah melifat DVD itu, saya teringat pada buku karangan Buya Hamka:
“Tenggelamnya Kapal van der Wijk”, tentang kisah tak sampai antara Zainuddin,
yang berbapak Minang dan beribu Bugis,dengan Hayati, seorang dara yang
sepenuhnya Minang. Saya tidak tahu apakah Bung Hanung Bramantyo – atau bung
Afrizal – berminat untuk mengangkatnya ke layar putih. Jika ya, saya percaya
akan sama indahnya.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---