Sahabat Indra,

Sangat menarik apa yang sahabat tulis, saya menikmatinya. Sedikit saya
tanggapi apa yang tertulis:

politisi seperti Obama dan Paling pandai berpidato.

Memang itulah skill yang dimiliki oleh seorang politisi. Selama ini saya
belum melihat Orator ulung dari kalangan politisi yang sanggup
menghipnotis audiens. Mudah2an dikemudian hari Sahabat Indra mampu
melakukan ini.

Yang kedua: Paradigma yang ada dimasyarakat terhadap kaum politisi lebih
banyak sisi negatifnya dibanding positifnya. Masih banyak para politisi
yang hidup jauh dari masayarakat kebanyakan. (Lihat gap gaji/fasilatas
yang diterima dibanding UMR yang diterima rakyat). Sangat sedikit
politisi yang merakyat. Merubah paradigma seprti ini bukan pekerjaan
mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras. Semoga
sahabat Indra, kalonanti ke Senayan tetap bersahaja.

Yang ketiga: Image masyarakat terhadap partai GOLKAR adalah partai
penguasa (walau Presidennya dari PD), masih tetap sarangnya KKN krn
hampir semua yang ada di pemerintahan adalah (ex) orang GOLKAR. Artinya
kalo mau merubah image, mereka2 ini harusnya bekerja melayani rakyat,
mendatangi rakyat kebanyakan, mempermudah segala urusan masayarakat
mulai dari hal yang kecil-kecil. 

Rakyat badarai subanyo rindu pada pimpinan yang bersahaja, yang amanah,
dll. Semoga sahabat bisa melaksanakannya.

Selamat berjuang sahabat Indra.

 

Aryandi, 35 th, Suku Sumpu (Jambak), V Kaum Bt Sangkar

Tingkatkan Integritas Diri, Jalin Silahturrahmi, Mari Bersinergi, Ayo
Jemput Rezeki, Bantu Anak Negeri

________________________________

From: Indra Jaya Piliang [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, September 11, 2008 12:06 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kembali ke Ranah Menuju Akar

 

Kembali Ke Ranah Menuju Akar

 

Sebagai contoh, Saya juga yakin bahwa saya bisa berpidato dengan baik,
begitupula dengan para calon anggota legislatif yang lain. Tetapi,
apakah pidato itu yang ditunggu orang, ketika hidup adalah perbuatan?
Beberapa penulis yang hidup dari honor-honor di media massa, khususnya
dengan cara menulis soal-soal politik, dengan mudah memuntahkan
sumpah-serapah seolah politikus itu sampah. Eh, keliru, seolah politikus
Indonesia itu sampah. Sementara, politikus di Amerika sana adalah
berlian yang layak disimak. 

 

Barangkali inilah mentalitas pasca-kolonial itu yang hidup dalam benak
kaum intelektual pasca-kolonial juga. Apa yang diucapkan oleh politikus
Indonesia tidak benar-benar disimak. Belum lagi dengan detil seluruh
dimensi kehidupan seorang politikus. Yang diucapkan dan ditulis lebih
banyak sisi idealitas yang belum tentu para penulisnya bisa menjalankan
itu. 

 

Istilah-istilah teknis dalam politik praktispun tidak diketahui dengan
baik. Misalnya, soal daerah pemilihan. Juga persoalan-persoalan di
daerah pemilihan masing-masing. Selain itu tentang tugas seorang anggota
legislatif yang terbatas hanya kepada pengawasan atas eksekutif,
penyusunan anggaran dengan eksekutif dan penyusunan undang-undang atau
regulasi bersama eksekutif. Tiga tugas pokok itu diabaikan ketika
memberikan penilaian atas seorang politikus. 

 

Yang dikobar-kobarkan adalah dendam atas masa lalu. Saya beruntung tidak
memiliki dendam apapun atas masa lalu, termasuk terhadap orang-orang
yang mungkin pernah mengkhianati saya, mengejek saya, ataupun pernah
dengan terang-terangan menyebarkan fitnah bohong atas diri saya. Tetapi
saya melihat, sejumlah politisi lain, terutama dari angkatan muda, yang
belum pernah berkuasa, yang bercita-cita atas masa depan mereka, selalu
saja dicecoki dengan persoalan-persoalan masa lalu yang mestinya itu
urusan kaum tua. 

 

Sejak memutuskan menjadi politisi, saya memutuskan mengambil posisi dan
mentalitas politisi. Saya mulai menyesuaikan diri dengan Partai Golkar,
menikmati denyut persoalan yang muncul, termasuk di tingkat ranting,
desa, nagari, kecamatan, kabupaten dan kota, propinsi dan tentu juga
pusat. Golkar telah berubah menjadi partai tradisional di beberapa
tempat. Tidak jarang saya bertemu dengan kader-kader tua yang militan,
namun kecewa dengan keadaan. Mereka dulu barangkali menikmati betul
sebagai satu-satunya partai penguasa, sementara sekarang sama saja
dengan partai lain yang harus berjuang secara harian, mingguan, bulanan,
tahunan dan puluhan tahun. Partai yang harus mempertahankan dirinya
sebagai kekuatan demokrasi yang besar, bukan pelanjut dari sejumlah
kesalahan di masa lalu. 

 

Dari sisi pendanaan, hampir semua politisi yang saya kenal di Golkar
terlihat bekerja secara sendiri-sendiri dulu, lalu membangun
kolektifitas secara bersama-sama. Barangkali inilah masalah terbesar
yang dihadapi oleh politisi, yakni semakin besarnya biaya untuk
melakukan kegiatan-kegiatan politik. Bagi politisi yang hanya
mengandalkan dukungan tradisional, biasanya bertumpu kepada organisasi
primordial yang dimiliki, termasuk ormas-ormas yang dimasuki. Tetapi itu
saja tidak cukup. Bagaimana anda bersaing mendapatkan pemilih, katakan
sebanyak 1000 atau 2000 suara untuk mendapatkan kursi DPRD kabupaten dan
kota, sementara di daerah pemilihan anda harus bersaing sesama politisi
dan dengan politisi partai lain?

 

Apalagi, masyarakat sudah semakin menunjukkan kekuatannya. Politisi yang
muncul sebagai calon anggota legislatif dianggap memiliki cukup uang
untuk memajukan dirinya, sehingga segala jenis permintaan bantuan datang
setiap hari. Beruntung saya maju di Sumatera Barat yang menurut riset
Lembaga Survei Indonesia (Mei 2008) masyarakatnya tidak terpengaruh
dengan politik uang. Di beberapa daerah memang ada permintaan yang
berlebih kepada politisi, tetapi di sebagian besar daerah sama sekali
hanya membutuhkan kehadiran politisi untuk sekadar berkenalan dan
berdiskusi dengan keras. 

 

Kemampuan politisi mensiasati daerah pemilihannya sungguh diuji. Ada
yang datang menyebarkan spanduk ucapan selamat melaksanakan Ibadah Puasa
atau nanti selamat merayakan Idul Fitri, ada yang menyebarkan kalender
dan stiker, tidak sedikit yang memasang iklan di media massa, sementara
yang lain menunjukkan kekuatan dengan cara dekat dengan para
penyelenggara pemerintahan daerah dalam segala bentuk kegiatan formal. 

 

Kalau saya ditanya tentang kiat dan strategi yang saya usung, tentu
sulit saya ungkapkan secara terbuka. Bukan takut ditiru oleh orang lain,
tetapi belum merasa yakin apakah strategi itu benar-benar tepat. Tetapi
intinya adalah saya harus pertama sekali merasakan hawa di tengah-tengah
masyarakat itu sendiri dengan sedikit atau banyak pancingan. Biasanya
saya mengandalkan jaringan pertemanan yang sudah terbentuk, baik
teman-teman sekolah di tingkat dasar, menengah dan universitas, atau
keluarga terdekat saya yang bertempat tinggal di Sumatera Barat, serta
tentu saja jaringan Partai Golkar yang sebetulnya belum sepenuhnya saya
kenali dan yakini bisa mendorong suara untuk saya. Kenapa? Karena
masing-masing calon anggota legislatif juga mengandalkan Partai Golkar.
Jadi, terdapat semacam persaingan internal yang menurut saya sangatlah
santun. 

 

Dan ketika di lapangan, saya harus berani untuk mengambil keputusan
untuk mengerjakan apa, dengan alat-alat sosialisasi yang saya bawa dan
anggaran terbatas yang saya punyai. Sudah dua kali saya "turun" ke
lapangan. Pertama selama tiga hari, kedua selama lima hari. Kedatangan
pertama saya membawa uang sebanyak Rp. 5 Juta dan habis tepat ketika
saya harus naik pesawat ke Jakarta. Kedatangan kedua saya membawa uang
sebanyak Rp. 7,5 Juta dan tentu mobil yang disopiri oleh kakak saya dari
Jakarta. Uang itu juga habis ketika saya menginjakkan kaki di bandara
untuk kembali ke Jakarta. 

 

Saya beruntung telah ditanggung ongkos naik pesawat pulang dan pergi
oleh teman baik saya. Berapa kalipun saya pulang-pergi ke daerah
pemilihan saya. Seorang teman saya yang mencalonkan diri di Sumatera
Utara dan bertempat tinggal di Jakarta dari partai lain dengan penuh
rasa iri mengatakan: "Wah, gua belum punya sponsor. Padahal, gua hanya
membutuhkan sepuluh kali pulang-pergi ke dapil gua. Itupun gua belum
punya sponsor." Tentu saya prihatin atas "nasib" teman saya itu, tetapi
sayapun tidak bisa berbuat apa-apa. 

 

Tentu uang yang saya bawa di luar logistik yang dicetak di Jakarta.
Lagi-lagi saya beruntung, karena stiker dan kartu nama yang saya bawa
dicetak oleh saudara saya dengan mengandalkan printer besar di Jakarta.
Bantuan terbesar saya terima dari teman di Gorontalo yang mencetakkan
5000 stiker di Surabaya. Alasan teman ini sederhana: karena Gorontalo
dan Sumatera Barat memiliki filosofi yang sama, yakni Adat Bersendi
Syara dan Syara Bersendi Kitabullah. Seorang teman lama yang bekerja di
luar Jakarta mengirimkan uang sebesar Rp. 1 Juta untuk dibelikan buku,
karena tahu saya juga membeli buku-buku di Kwitang untuk dibagikan ke
sekolah-sekolah. Saya sungguh terharu atas sambutan kepala sekolahnya,
lalu langsung menjadwalkan buka puasa. Saya tidak datang mengantarkan
buku itu, hanya mengantar ke rumah seorang adik HMI yang saya kenal
lewat internet. Dua perempuan HMI inilah yang datang mengantarkan ke
sekolah itu. 

 

Dan setiap kali kembali ke Jakarta saya harus memikirkan lagi, apakah
masih bisa menyisakan uang untuk kembali lagi ke dapil saya? Semakin
lama di dapil, semakin banyak permintaan, entah spanduk, kaos atau
apapun. Tetapi yang paling banyak adalah kehadiran saya untuk bertatap
muka. Pernah malam setelah pukul 12 malam, ketika saya kelelahan di
rumah, datang telepon dengan nada intimidatif: "Saya sudah edarkan
stikermu, tetapi mana wajahmu? Kami menunggumu di sini." Dengan nada
memelas, saya menjanjikan hari yang lain. Tidak mungkin saya harus
mengganti lagi baju dan celana yang sudah basah, karena untuk sampai di
rumah saya harus melewati sungai yang dalamnya sepaha, tanpa ada
jembatan penyeberangan. 

 

Setiap hari saya memastikan untuk hadir dalam acara-acara "resmi" yang
dihadiri oleh lebih dari 50 orang sampai 500 orang. Setiap hari. Lalu,
di sela-sela menunggu acara resmi, saya datangi tempat-tempat yang saya
bisa datangi, dari rumah ke rumah, dengan mengandalkan informasi dari
keluarga, teman, partai atau insting saya semata. Maka, saya menghindari
bertemu dua kali dengan orang yang sama dalam sehari, karena hanya akan
berputar-putar dengan persoalan-persoalan yang sama saja. 

 

Dan anehnya, saya semakin merindukan untuk kembali dan kembali, bertemu
dengan lebih banyak lagi orang, sebagian besar hanya untuk mengetahui
persoalan mereka dan mendiskusikan solusi yang mungkin paling tepat.
Saya semakin melupakan begitu banyak seminar dan diskusi yang saya
pernah hadiri. Beberapa kali saya harus menelepon teman-teman saya di
Jakarta atau di manapun, dari partai apapun dan profesi apapun, untuk
bertanya hal-hal yang saya tidak ketahui. Untunglah saya memiliki
database yang lengkap di otak saya tentang kemampuan-kemampuan spesifik
yang saya punyai. 

 

Tentu, saya lelah dan lelah. Untuk itu, saya memiliki tukang pijit
khusus. Namanya Syahrul. Dialah teman saya. Dia dulu sama-sama satu SMA
dengan saya di Jurusan Fisika SMA 2 Pariaman. Kalau saya ke Padang,
dulu, saya suka memanggilkan untuk menemani saya tidur bersama yang
lain, lalu dia dengan kemampuannya bisa memijit saya dan teman-teman
lain. Dia memang menjadi tukang pijit. Pikirannya cerdas, profesinya
juga luar biasa. Sosok Syahrul sering saya ledek sebagai "Suwondo"-nya
Gus Dur. Di mata keluarga saya, Syahrul adalah teman saya yang paling
tulus dan ikhlas. Wajahnya bersih, hatinya lebih bersih lagi. Jarang
bicara, lebih banyak melayani. Pendapat Syahrul mungkin sangat tepat
untuk menggambarkan saya: "Dulu, saya selalu berpikir, kau itu tenggelam
dengan dirimu, pekerjaanmu, di berbagai media massa, di berbagai forum,
lalu melupakan kampungmu, seperti yang lain. Nyatanya saya terkejut,
sebagaimana juga orang lain, atas keputusan yang kau ambil di usia
emasmu, dalam kemapanan yang kau nikmati!" 

 

Cita-cita Syahrul seluhur dirinya: ingin belajar akupuntur di Jakarta,
lalu mengembangkannya di Sumatera Barat! Beruntung di Jakarta saya juga
mempunyai seorang dokter langganan saya, ahli akupuntur lulusan China
dan Korea Selatan. Biasanya, kalau saya benar-benar kolaps, sakit,
apapun penyakitnya (batuk, kolekterol, asam urat atau perasaan saja
tentang itu), saya datang ke dia. Dia akan menaruh bebeberapa jarum di
tubuh saya, lalu setelah itu saya kembali segar. Suatu hari, saya ingin
memperkenalkan Syahrul dengan Dr Tjahyo. Mudah-mudahan mereka bisa
bekerjasama dengan baik. 

 

Apa yang saya lakukan dan kerjakan, barangkali hanya semata-mata demi
sebuah ketenangan batin dalam menjalankan profesi sebagai seorang
politisi. Di hadapan hampir 100 orang di kampung saya, dalam cahaya
temaran lampu surau Lembah Aur, surau masa kecil saya ketika saya harus
tidur di sana (lelaki Minang tang belum menikah pantang tidur di rumah),
saya mengatakan dengan nada terbata: "Denai hanya ingin pulang,
membangun kampung, bersama sanak keluarga. Denai tidak mau kampung ini
hancur, masyarakatnya hancur, ekonominya hancur, karena dunia berubah
dan terus-menerus mencoba menghancurkan kampung dan masyarakatnya. Kalau
kali ini Denai gagal, izinkan denai menjadi petani, menggarap tanah
milik keluarga, bersama Ajo Ir dan lain-lain." 

 

Hanya "pidato" saya yang tidak ditepuk-tangani, di tengah tepuk tangan
atas pidato-pidato lain yang begitu indah dan mendirikan bulu roma.
Dalam hati, saya menangis atas kemampuan olah kata yang masih tersisa,
di tengah kemiskinan, ketidaktahuan, dan segala macam persoalan yang
melanda orang-orang kampung saya. 

 

Minggu depan, saya mungkin akan kembali, memenuhi sejumlah janji untuk
bertemu muka dengan masyarakat di kampung saya. Tetapi, saya belum yakin
itu kapan. Yang jelas, setelah tanggal 20 September, saya dan istri dan
anak naik kendaraan pribadi, lewat jalur darat, menuju kampung. Istri
saya ingin menikmati perjalanan panjang ini lewat jalur darat, 38 jam
perjalanan. Dan tepat pada tanggal 1 Januari 2009 nanti, seluruh
kehidupan kami akan berada di kampung. Saya sudah memutuskan mundur dari
CSIS tanggal 1 Januari itu, juga mundur dari pekerjaan saya sebagai
Analis Senior pada sebuah perusahaan konsultan. 

 

Kembalikan, Kampung Halamanku!!!

 

Jakarta, 10 September 2008. 

(Belum sempat mandi, setelah mendarat di Cengkareng pukul 20.30 tadi.) 

 

www.indrapiliang.com  

 

 

 





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke