Pak Zen,

Memang postingan Saudara Indra Piliang ini nuansa sentimentilnya sangat terasa. 
 Sehingga ia agak melupakan realita orang kampung halaman dalam melihat 
calegnya.  Mungkin saudara Indra Piliang perlu menapak ulang langkah 
politiknya.  Terlalu sentimen hanya membuat kita terlalu sibuk dengan "need" 
kita.  Kesederhanaan yang Indra tawarkan tampak belum mampu dibeli dengan baik. 
 Ia tak perlu menjadi seorang Raam Punjabi, cukuplah ia menjadi seorang 
Arswendo ketika mengeluarkan keluarga cemara.

Salam kenal Pak Zen..


Mantari/29


----- Original Message ----
From: zen nez <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, September 11, 2008 1:10:51 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kembali ke Ranah Menuju Akar


Saya cuma mau Meramal saja. Namanya ramalan bisa salah bisa bener... Tapi 
sering2 ramalan saya lebih banyak yang bener nya.

Bahwa
ditilik dan dilirik dari cara penulisan dan pemilihan pokok2 pikiran yg
terkandung dalam tulisan di bawah ini, maka aura sang penulis masihlah
menggambarkan seorang akademisi yg sederhana dan bersahaja serta citra
seorang satrawan spiritualist yang masih menaruh dendam dan amarah pada
kehidupan yg belum juga sesuai pengharapan. Maka dari itu saya duga
masih lebih bagus berkarir di dunia akademi dan sosial kemasyarakatan.
Karena politik membutuhkan kharisma dan energi yg lebih besar.

Ini hanyalah ramalan. Belum tentu benar walaupun tak mungkin salah2 amat.

--- On Wed, 9/10/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kembali ke Ranah Menuju Akar
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 10, 2008, 1:06 PM


 
Kembali Ke Ranah Menuju Akar
 
Biasanya saya menulis judul
dulu pada sebuah tulisan. Kali ini tidak. Saya menulis dulu, baru kemudian
menulis judulnya. 
 
Apa yang mau saya tulis?
Belum jelas juga. Yang ingin saya sampaikan adalah seputar catatan-catatan yang
diberikan kepada politisi. Boleh, dong, saya menjadi pengamat dari pengamat
politisi? 
 
Media massa di Indonesia,
sama dengan orang di kampung saya, bisa dengan sangat terlena menganalisa
apa-apa yang terjadi dengan Obama. Kini, berpindah ke Palin. Obama dan Palin
seakan menjadi anak kandung dalam pemberitaan dan analisa, sementara politisi
Indonesia seakan terus menjadi anak tiri dan tersangka dari apa-apa yang belum
dia kerjakan. 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke