pak peramal yang budiman... selamat pagi... 
saya mau bertanya...

gimana peruntungan saya? setalah indonesia umumnya, sumbar khususnya, berubah 
atau stagnan atau bahkan bisa jadi lebih buruk oleh politikus-politikus 
sekarang... apa saya masih bisa makan?

nah itu dia yang membuat saya tertegun, kalkulasi biaya dengan cashflow dan 
BEP, biaya-biaya besar yang dikeluarkan oleh caleg, dan sudah umum, apakah ini 
menandakan sebuah korelasi relevan, no money no game... apa artinya memindahkan 
gaji parlemen ke sebuah kampung??? apakah ini yang menjadikan parlemen kita 
termasuk sangat-sangat tidak effisien...

saya sebenarnya mau simpatik dengan Tuan IJP, tapi saya ingat kata mamak saya, 
terhadap pejuang tak boleh kasihan, hanya akan membuatnya lemah... 

tapi kalau saya boleh komentar tentang mekanisme, mekanisme apa yang bisa 
membuat seorang caleg atau beberapa orang caleg mendirikan atau menciptakan 
kesempatan pembangungan Universitas atau dalam hal ini pendidikan. GBHN sudah 
dicoret, Repelita???, menciptakan atau merubah perundangan karena legislatif 
ini berada dalam level nasional artinya semua DATI II Indonesia berdiri sebuah 
universitas. hmmm, saya takut ini berat...

--
tanJabok





--- On Thu, 9/11/08, syehann <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: syehann <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kembali ke Ranah Menuju Akar
To: [email protected]
Date: Thursday, September 11, 2008, 3:06 AM

Ha?? apa memang betul saudara jaya itu menjadi caleg?
Tentu dia itu org kaya. Atau setidak org dengan berbagai bakat dan
kebisaan yang membanggakan tentunya. 

Namun saya tetaplah hanya peramal. Tak paham dg akar-akaran spt yg di
tulis di subject ini. Apapun kebisaan dan kekayaan saudara jaya ini,
maka sebaik2 dan seuntung jalan yg mesti dia tempuh adalah menjadi
dosen sastra atau penjaga museum. Kalau tidak segala yg dia miliki
hanya akan menjadi sia-sia. Tidak tumbuh dalam perjalanan nya namun
hanya menghabiskan diri dalam sisa hidup yg tak seberapa itu. 

Dan saya juga tak paham masalah kampang-perkampungan sdr mantari. Yang
saya paham kampung memang tempat org banyak menderita bersama. saya
menduga, bahkan seribu caleg pun tak akan menyingkirkan derita dari
sebuah kampung. apalagi kalo kampung itu dikuti imbuhan halaman. maka
satu2nya cara tak menderita hanyalah jgn menetap. terus lah berjalan.
Berjalan dalam angan2 menjadi legislatifpun adalah sebuah cara
menghindari penderitaan.

Begitu dari saya mantari.... semoga anda tak sedang menjadi caleg juga.



--- In [EMAIL PROTECTED], Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Pak Zen,
> 
> Memang postingan Saudara Indra Piliang ini nuansa sentimentilnya
sangat terasa.  Sehingga ia agak melupakan realita orang kampung
halaman dalam melihat calegnya.  Mungkin saudara Indra Piliang perlu
menapak ulang langkah politiknya.  Terlalu sentimen hanya membuat kita
terlalu sibuk dengan "need" kita.  Kesederhanaan yang Indra tawarkan
tampak belum mampu dibeli dengan baik.  Ia tak perlu menjadi seorang
Raam Punjabi, cukuplah ia menjadi seorang Arswendo ketika mengeluarkan
keluarga cemara.
> 
> Salam kenal Pak Zen..
> 
> 
> Mantari/29
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: zen nez <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Thursday, September 11, 2008 1:10:51 PM
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kembali ke Ranah Menuju Akar
> 
> 
> Saya cuma mau Meramal saja. Namanya ramalan bisa salah bisa bener...
Tapi sering2 ramalan saya lebih banyak yang bener nya.
> 
> Bahwa
> ditilik dan dilirik dari cara penulisan dan pemilihan pokok2 pikiran yg
> terkandung dalam tulisan di bawah ini, maka aura sang penulis masihlah
> menggambarkan seorang akademisi yg sederhana dan bersahaja serta citra
> seorang satrawan spiritualist yang masih menaruh dendam dan amarah pada
> kehidupan yg belum juga sesuai pengharapan. Maka dari itu saya duga
> masih lebih bagus berkarir di dunia akademi dan sosial kemasyarakatan.
> Karena politik membutuhkan kharisma dan energi yg lebih besar.
> 
> Ini hanyalah ramalan. Belum tentu benar walaupun tak mungkin salah2
amat.
> 
> --- On Wed, 9/10/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Kembali ke Ranah Menuju Akar
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, September 10, 2008, 1:06 PM
> 
> 
>  
> Kembali Ke Ranah Menuju Akar
>  







      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke