Saya cuma mau Meramal saja. Namanya ramalan bisa salah bisa bener... Tapi 
sering2 ramalan saya lebih banyak yang bener nya.

Bahwa
ditilik dan dilirik dari cara penulisan dan pemilihan pokok2 pikiran yg
terkandung dalam tulisan di bawah ini, maka aura sang penulis masihlah
menggambarkan seorang akademisi yg sederhana dan bersahaja serta citra
seorang satrawan spiritualist yang masih menaruh dendam dan amarah pada
kehidupan yg belum juga sesuai pengharapan. Maka dari itu saya duga
masih lebih bagus berkarir di dunia akademi dan sosial kemasyarakatan.
Karena politik membutuhkan kharisma dan energi yg lebih besar.

Ini hanyalah ramalan. Belum tentu benar walaupun tak mungkin salah2 amat.

--- On Wed, 9/10/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kembali ke Ranah Menuju Akar
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 10, 2008, 1:06 PM




 
 






Kembali Ke Ranah Menuju Akar 

   

Biasanya saya menulis judul
dulu pada sebuah tulisan. Kali ini tidak. Saya menulis dulu, baru kemudian
menulis judulnya.  

   

Apa yang mau saya tulis?
Belum jelas juga. Yang ingin saya sampaikan adalah seputar catatan-catatan yang
diberikan kepada politisi. Boleh, dong, saya menjadi pengamat dari pengamat
politisi?  

   

Media massa di Indonesia,
sama dengan orang di kampung saya, bisa dengan sangat terlena menganalisa
apa-apa yang terjadi dengan Obama. Kini, berpindah ke Palin. Obama dan Palin
seakan menjadi anak kandung dalam pemberitaan dan analisa, sementara politisi
Indonesia seakan terus menjadi anak tiri dan tersangka dari apa-apa yang belum
dia kerjakan.  

   

Sebagai contoh, politisi
seperti Obama dan Paling pandai berpidato. Saya juga yakin bahwa saya bisa
berpidato dengan baik, begitupula dengan para calon anggota legislatif yang
lain. Tetapi, apakah pidato itu yang ditunggu orang, ketika hidup adalah
perbuatan? Beberapa penulis yang hidup dari honor-honor di media massa,
khususnya dengan cara menulis soal-soal politik, dengan mudah memuntahkan
sumpah-serapah seolah politikus itu sampah. Eh, keliru, seolah politikus
Indonesia itu sampah. Sementara, politikus di Amerika sana adalah berlian yang
layak disimak.  

   

Barangkali inilah mentalitas
pasca-kolonial itu yang hidup dalam benak kaum intelektual pasca-kolonial juga.
Apa yang diucapkan oleh politikus Indonesia tidak benar-benar disimak. Belum
lagi dengan detil seluruh dimensi kehidupan seorang politikus. Yang diucapkan
dan ditulis lebih banyak sisi idealitas yang belum tentu para penulisnya bisa
menjalankan itu.  

   

Istilah-istilah teknis dalam
politik praktispun tidak diketahui dengan baik. Misalnya, soal daerah
pemilihan. Juga persoalan-persoalan di daerah pemilihan masing-masing. Selain
itu tentang tugas seorang anggota legislatif yang terbatas hanya kepada
pengawasan atas eksekutif, penyusunan anggaran dengan eksekutif dan penyusunan
undang-undang atau regulasi bersama eksekutif. Tiga tugas pokok itu diabaikan
ketika memberikan penilaian atas seorang politikus.  

   

Yang dikobar-kobarkan adalah
dendam atas masa lalu. Saya beruntung tidak memiliki dendam apapun atas masa
lalu, termasuk terhadap orang-orang yang mungkin pernah mengkhianati saya,
mengejek saya, ataupun pernah dengan terang-terangan menyebarkan fitnah bohong
atas diri saya. Tetapi saya melihat, sejumlah politisi lain, terutama dari
angkatan muda, yang belum pernah berkuasa, yang bercita-cita atas masa depan
mereka, selalu saja dicecoki dengan persoalan-persoalan masa lalu yang mestinya
itu urusan kaum tua.  

   

Sejak memutuskan menjadi
politisi, saya memutuskan mengambil posisi dan mentalitas politisi. Saya mulai
menyesuaikan diri dengan Partai Golkar, menikmati denyut persoalan yang muncul,
termasuk di tingkat ranting, desa, nagari, kecamatan, kabupaten dan kota,
propinsi dan tentu juga pusat. Golkar telah berubah menjadi partai tradisional
di beberapa tempat. Tidak jarang saya bertemu dengan kader-kader tua yang
militan, namun kecewa dengan keadaan. Mereka dulu barangkali menikmati betul
sebagai satu-satunya partai penguasa, sementara sekarang sama saja dengan
partai lain yang harus berjuang secara harian, mingguan, bulanan, tahunan dan
puluhan tahun. Partai yang harus mempertahankan dirinya sebagai kekuatan
demokrasi yang besar, bukan pelanjut dari sejumlah kesalahan di masa lalu.  

  ..................




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke