Masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Yang diceritakan dibawah bahkan
belum lengkap kalau digali lebih jauh. Misalnya, tukang parkir preman itu
meminta pengemudi kendaraan mengembalikan karcis parkir kepadanya dan
menggunakan karcis bekas itu untuk pengemudi kendaraan lainnya lagi.
Ini adalah tanda bahwa Pemkot tidak berfungsi dalam memberi pelayanan dan
memajukan perekonomian daerah yang dipimpinnya.

Salam,

Andrinof A Chaniago (46, Depok)

On Wed, Oct 8, 2008 at 8:19 PM, Harman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> lah bamacet - macet ria berjam - jam tibo di bukitinggi, mukasuik ka
> malapeh panek
> eh malah palak parkir nan indak wajar.
>
> wassalam,
> harman St. Idris-36 (koto)
>
> 'Urang Bagak' Kuasai Parkir Jam Gadang
> Kamis, 09 Oktober 2008
>
> Bukittinggi-Areal parkir di kawasan Jam Gadang, Bukittinggi dikuasai oleh
> urang bagak, sehingga tarif parkir dipungut sesuka hatinya. Padahal tarif
> parkir yang resmi sesuai Perda hanya Rp500, untuk sepeda motor. Tapi
> kenyataannya di lapangan dipungut melebihi dari ketentuan yakni Rp2.000. Ini
> sudah melangar aturan yang ditetapkan Pemko Bukittinggi dan harus
> ditertibkan secepatnya, karena bisa merusak citra kota wisata itu.
>
> Bagi pengendara dipungut Rp1.00 satu kendaraan tidak jadi masa¬lah, tapi
> jangan kelewatan batas, karena bisa merusak objek wisata Jam Gadang yang
> ikonnya Kota Bukittinggi, kata Zulnadi, pengendara sepeda motor, kepada
> Singgalang, beberapa hari lalu.
>
> Anehnya, kata warga Pasaman ini, tarif parkir biasanya dipungut Rp1.000,
> tapi oleh petugas parkir di kawasan Jam Gadang tetap saja dipungut Rp2.000.
> "Bagaimana pula ini, ini bisa merusak citra Kota Bukittinggi yang terkenal
> dengan objek wisatanya," katanya lagi.
>
> Selain itu, petugas parkir juga tidak mengantongi karcis resmi dan tidak
> memakai pakaian resmi. Seharusnya sebagai objek wisata terkenal, di kawasan
> Jam Gadang itu, parkir kendaraannya harus punya karcis, sehingga jelas
> pendapatan hasil daerah.
>
> Menurut dia, perbuatan 'oknum' harus 'dibasmi' sehingga tidak merusak citra
> kota berhawa sejuk itu dengan melakukan penertiban oleh Pemko Bukittinggi,
> jika tidak citra Bukittinggi akan buruk di mata pengunjung gara-gara ulah
> urang bagak itu.
>
> Untuk itu ia mengharapkan pada Pemko agar menjaga nama objek wisata Jam
> Gadang, karena akibat ulah segelintir orang, tempat itu tidak dikunjungi
> orang lagi, karena masih banyak objek wisata di Kota Bukittinggi.
>
> Salah seorang petugas parkir ketika ditanya Singgalang, ia mengaku hanya
> menyalankan tugas saja, karena yang menetapkan tarif parkir Rp2.000 untuk
> sepeda motor ada orang-orang tertentu yang menguasai kawasan Jam Gadang
> tersebut.
>
> "Awak  hanya manjalankan tugas pak, dan memungut Rp2.000 per kendaraan,"
> ujar salah seorang petugas parkir di sekitar Jam Gadang itu yang enggan
> identitasnya diapungkan di koran.
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke