Kanda, kalau ambo maliek iko ndak labiah masalah kurangnyo pendidikan dan 
moral. Pemerintah lebiah banyak mamakai kosmetik sajo, ndak do pendalaman 
masalah, mereka terlalu menyerderhanakan setiap masalah, kenapa: karano yo 
ampai disitu lo pengetahuan mereka. Ditambah urang awak ko nan sok santiang, 
ado urang nan tau labiah dari inyo, bingik ko langsuang marasoki hati. Tidak 
ada bakuan kopetensi seseorang nan diperlukan, iko lah salah gadang penguasa di 
nagari awak ko.

ambo maliek preman nan ado ko ndak lapeh dari peliharoan dari oknum aparat. Iko 
lah masalah moralitas. Tapi diluar itu, bukittinggi ko sudah sembraut bana, 
efek psikologi terhadap urang nan barado di lokasipun akan berdampak negatif. 
Sumpek tidak terencana dengan matang apo lai ambo kecewa berat malieh ruko baru 
nan di subalah KFC dakek jam gadang itu. Ba a bisa lolos perijinannyo. Yo 
nanpaknyo ndak paham penguasa kota jo kekayaan bangunan tua dikota.  antah lah, 
mudah2 calon walikota ka muko lai urang nan mangarati jo potensi kota serta 
taat akan aturan nan dapat menjaga pelestarian kota. Jan bapasokan perda 
sariat, nan maaksiat kancang juo he....he......munafik ko nan dak tahan.



Nanang, jkt
kecewa berat maliek Bukittinggi kini
Sent from my BlackBerry® wireless device from XL GPRS/EDGE/3G network

-----Original Message-----
From: "Andrinof A Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Wed, 8 Oct 2008 22:15:36 
To: <[email protected]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: 'Urang Bagak' Kuasai Parkir Jam Gadang


Masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun. Yang diceritakan dibawah bahkan
belum lengkap kalau digali lebih jauh. Misalnya, tukang parkir preman itu
meminta pengemudi kendaraan mengembalikan karcis parkir kepadanya dan
menggunakan karcis bekas itu untuk pengemudi kendaraan lainnya lagi.
Ini adalah tanda bahwa Pemkot tidak berfungsi dalam memberi pelayanan dan
memajukan perekonomian daerah yang dipimpinnya.

Salam,

Andrinof A Chaniago (46, Depok)

On Wed, Oct 8, 2008 at 8:19 PM, Harman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> lah bamacet - macet ria berjam - jam tibo di bukitinggi, mukasuik ka
> malapeh panek
> eh malah palak parkir nan indak wajar.
>
> wassalam,
> harman St. Idris-36 (koto)
>
> 'Urang Bagak' Kuasai Parkir Jam Gadang
> Kamis, 09 Oktober 2008
>
> Bukittinggi-Areal parkir di kawasan Jam Gadang, Bukittinggi dikuasai oleh
> urang bagak, sehingga tarif parkir dipungut sesuka hatinya. Padahal tarif
> parkir yang resmi sesuai Perda hanya Rp500, untuk sepeda motor. Tapi
> kenyataannya di lapangan dipungut melebihi dari ketentuan yakni Rp2.000. Ini
> sudah melangar aturan yang ditetapkan Pemko Bukittinggi dan harus
> ditertibkan secepatnya, karena bisa merusak citra kota wisata itu.
>
> Bagi pengendara dipungut Rp1.00 satu kendaraan tidak jadi masa¬lah, tapi
> jangan kelewatan batas, karena bisa merusak objek wisata Jam Gadang yang
> ikonnya Kota Bukittinggi, kata Zulnadi, pengendara sepeda motor, kepada
> Singgalang, beberapa hari lalu.
>
> Anehnya, kata warga Pasaman ini, tarif parkir biasanya dipungut Rp1.000,
> tapi oleh petugas parkir di kawasan Jam Gadang tetap saja dipungut Rp2.000.
> "Bagaimana pula ini, ini bisa merusak citra Kota Bukittinggi yang terkenal
> dengan objek wisatanya," katanya lagi.
>
> Selain itu, petugas parkir juga tidak mengantongi karcis resmi dan tidak
> memakai pakaian resmi. Seharusnya sebagai objek wisata terkenal, di kawasan
> Jam Gadang itu, parkir kendaraannya harus punya karcis, sehingga jelas
> pendapatan hasil daerah.
>
> Menurut dia, perbuatan 'oknum' harus 'dibasmi' sehingga tidak merusak citra
> kota berhawa sejuk itu dengan melakukan penertiban oleh Pemko Bukittinggi,
> jika tidak citra Bukittinggi akan buruk di mata pengunjung gara-gara ulah
> urang bagak itu.
>
> Untuk itu ia mengharapkan pada Pemko agar menjaga nama objek wisata Jam
> Gadang, karena akibat ulah segelintir orang, tempat itu tidak dikunjungi
> orang lagi, karena masih banyak objek wisata di Kota Bukittinggi.
>
> Salah seorang petugas parkir ketika ditanya Singgalang, ia mengaku hanya
> menyalankan tugas saja, karena yang menetapkan tarif parkir Rp2.000 untuk
> sepeda motor ada orang-orang tertentu yang menguasai kawasan Jam Gadang
> tersebut.
>
> "Awak  hanya manjalankan tugas pak, dan memungut Rp2.000 per kendaraan,"
> ujar salah seorang petugas parkir di sekitar Jam Gadang itu yang enggan
> identitasnya diapungkan di koran.
>
>
> >
>




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke