Sanak Hanifah,

Walaupun ambo ndak tamasuak list Bapak2 dan Ibu2 nan dimintakan kritik/
saran, kalau buliah ambo sato saketek jo pandapek ambo. Iko bukan kritik
atau saran, tapi cuma tambahan catatan.

Kalau tentang "krisis" itu sendiri, rasonyo ambo no comment, karano lah
banyak dibahas di berbagai media.

Ambo cuma ingin mengomentari tentang "buy back", yaitu kalimat: *Perlu
dipikirkan juga bagaimana tehnis pembukuan transaksi buy back ini dalam
neraca BUMN tersebut*.

Yang saya baca2 dari media, ada dua macam "pembelian kembali saham" BUMN
yang tercakup dalam kebijakan pemerintah. *Yang pertama,* BUMN membeli
sahamnya sendiri (dengan uangnya sendiri); dan *yang kedua*, Pemerintah yang
membeli pakai uang APBN.

Kalau menurut literatur (accounting terutama), yang disebut buy back adalah
type pertama, perusahaan/ BUMN membeli sahamnya yang sudah beredar.
Konsekuensinya jumlah saham beredar berkurang. Ada aturan Kepala Bappepam
yang dikeluarkan, yang menyatakan buy back boleh 20% ... dst. Cuma saya
ragu, apa BUMN2 akan melakukannya. Dan ini sah2 saja, seperti di katakan
oleh Erinos Tanjung, di artikelnya  - itu pilihan, terserah BUMN nya.

Tapi yang "rame" dibicarakan bukan ini, tapi pembelian saham oleh pemerintah
(menurut saya, ini bukan buy back, saya tidak tahu kenapa beberapa kalangan
menggunakan istilah "buy back" untuk transaksi ini). Ini yang katanya
pemerintah menyediakan dana 4-10.

Kalau type ini, karena ini adalah transaksi antara pemerintah dengan pihak
ketiga, dimana manajemen BUMN -mungkin- cuma dimintai pendapat, sedangkan
yang membayar adalah pemerintah, maka transaksi ini sama sekali tidak
dibukukan oleh BUMN.

Terimakasih


RIri
Bekasi, L 46



istilah "standard", buy back adalah pembelian kembali saham oleh perusahaan
ybs - jadi bukan oleh pemilik. Jadi dalam hal ini, biasanya (terutama di
accounting) yang disebut buy back adalah kalau BUMN2 itu membeli sahamnya
sendiri. Dengan demikian, jumlah saham beredar menjadi berkurang.

Tapi kalau pembelian itu dilakukan oleh eks pemegang saham (dalam hal ini
Pemerintah), ini tidak disebut buy back.

Kebijakan pemerintah sekarang kelihatannya menyentuh kedua hal tersebut,
yang

2008/10/12 hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]>

>   Assalammualaikum Wr Wb teman-teman dan dunsanak-dunsanak dimanapun
> berada yth
>
> Semoga semua berda dalam keadaan sehat walafiat dan tak kurang satu apapun
> hendaknya. Amin.
>
> Pak Heru, pak Edwin,  pak Sulis dan pak Heri di Jakarta, kalau tidak
> keberatan mohon di kritik dan di beri saran untuk tulisan berikut ini.
> Makasih atas perhatiannya.
>
> Mamak Mufni, Mak Ad, minda dan suami (ad), bantuin juga dong.
>
> Wass
>
> Hanifah
>
> --- On *Sun, 10/12/08, Eri Bagindo Rajo <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> From: Eri Bagindo Rajo <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Trs: Bls: naskah opini untuk dikoreksi
> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [email protected],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "hanifah damhuri" <
> [EMAIL PROTECTED]>, "muhammad syahreza" <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Sunday, October 12, 2008, 11:17 AM
>
>   Opini
>
>
>
> 1 halaman, dengan foto dan ilustrasi
>
>
>
> *FAKTA di Balik Krisis Keuangan *
>
>
>
> Oleh: Erinos Muslim Tanjung*
>
>
>
> Banyak anggota masyarakat dan pemangku kepentingan yang bingung dengan
> terjadinya hiruk pikuk akan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, sebagai
> pengaruh dan impact dari krisis di sektor keuangan dan pasar modal yang
> bermula di amerika serikat oleh datangnya gelombang krisis yang mendadak
> dari Amerika.
>
> Hampir semua orang meraba raba apa yang sebenarnya terjadi dan seberapa
> besar dampaknya terhadap roda perekonomian Indonesia, dan bagaimana
> pengaruhnya pada rakyat. Akibat tidak tersedianya informasi dan analisa yang
> jelas, terjadi kekhawatiran berlebihan, cendrung panik tanpa mengetahui apa
> yang sebenarnya terjadi.
>
>
>
> Padahal, sebenarnya yang terjadi  adalah krisis di sektor keuangan, dimana
> Bank Bank besar yang mendanai kredit sektor property terseret kredit macet
> kemudian merontokkan pasar uang dan pasar modal, merambat pada Investment
> House, dan Bank bank yang mendanai atau memberi kredit pada Investment House
> dan memberi kredit pada investor pelaku pasar modal (Stock Exchange Market &
> Financial Sector).
>
>
>
> Bagaimana  kondisi saat ini? Menggoreng Harga Saham, Obligasi Sampah,
> hybrid monetary securities instrument serta forward trading (mempermainkan
> harga future commodities seperti gandum, rice, oil, cpo, copper, tin dll).
> merupakan fakta sehari hari dalam pasar keuangan dunia. Peraturan yang
> longgar, etika yang sudah tidak dihormati, mis informasi keuangan, sangat
> mewarnai pasar keuangan. Keinginan untuk mendapatkan Quick yielding dan high
> profit, dengan mengabaikan sound risk asset management .  Akhirnya berubah
> menjadi bencana pasar keuangan di AS yang juga mempengaruhi pasar keuangan
> Negara-negara  di Timur Tengah, Eropa, Asia dll.  Dampaknya juga terasa
> oleh Negara-negara kecil yang pasar keuangannya seperti Indonesia. Sebab,
> uang investor itu juga bermain di pasar keuangan domestik Indonesia.
>
>
>
> Jadi krisis ini tidak terjadi pada sektor-sektor produksi barang dan jasa
> pada sektor ekonomi riil (Real Economic Sector).
>
>
>
> Dalam jangka waktu tertentu memang akan ada imbas pengaruh krisis setor
> keuangan pada sektor riil.  Pengaruhnya pada sektor riil antara lain,
> gonjang ganjing nilai kurs, ketatnya kredit perbankan dan menurunnya ekspor
> akibat negara-negara tujuan ekspor mengurangi importnya. Namun besarnya
> impact ini terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan tergantung
> kepada factor ketahanan ekonomi domestic. Pengaruh ini hanya akan membawa
> dampak besar terhadap negera-negara yang sebagian besar mengandalkan
> pendapatannya melalui ekspor ke Amerika, atau negara-negara yang ekonominya
> sangat tergantung pada jasa dan kegiatan ekonomi sektor keuangan (Singapura
> misalnya).
>
> Negara-negara seperti Indonesia, China, Thailand yang pasar domestiknya
> besar, tidak perlu terlalu kuatir, karena sector sector ekonomi riil akan
> tetap survive.
>
>
>
> Oleh karena itu Pemerintah RI dan penjabat2nya serta masyarakat umum
> seharusnya tidak perlu panik berkelebihan. Karena yang langsung terpengaruh
> pada gonjang ganjing pasar modal ini adalah para investor yang bermain saham
> dan produk reksadana turunannya. Meski pun ada kecenderungan,  terkesan
> IMF memaksa dan menyeret semua negara ikut panik.
>
>
>
>
>
> Saat ini pemberitaan  makro ekonomi kita terlalu didominasi  oleh
> pemberitaan makro sector financial advanced (nilai kurs, margin trading,
> spekulasi harga saham dan securitisasi asset financial). Sehingga memberi
> kesan bahwa itulah Perekonomian Nasional Indonesia. Pemberitaan berimbang
> mengenai STRUKTUR PEREKONOMIAN NASIONAL INDONESIA jarang kita temui.
> Apalagi pemberitaan dan pemahaman atas kuatnya pasar domestic Indonesia
> dengan fenomena pedagang dan industri kecilnya
>
> yang sangat banyak membantu Indonesia melewati krisis ekonomi 1998/1999.
>
>
>
> Kekurangan informasi ini menyebabkan krisis keuangan dipasar modal yang
> berlangsung saat ini yang terjadi   akibat kecerobohan sistem dan
> kebijakan yang kurang terkontrol ( menggoreng harga saham, praktek2 short
> selling), langsung dianggap sebagai krisis perekonomian.
>
>
>
> Seharusnya kenyataan ini menyadarkan pemerintah di banyak negara, bahwa
> ekonomi konvensional ternyata jauh lebih sehat dan stabil serta bermanfaat
> untuk kemajuan negara dalam jangka panjang, ketimbang menciptakan sistem
> baru yang justru membawa kita semua ke jurang krisis.
>
>
>
> Rencana pemerintah yang akan melakukan buyback saham-saham BUMN, adalah
> tindakan yang perlu dipikirkan dengan matang.  Apalagi  untuk membeli
> kembali saham-saham yang sudah anjlok itu dengan menggunakan dana APBN
> ataupun dana-dana lain yang di arahkan untuk itu . Harus jelas dan perlu
> pertanggung jawaban pelaksana, KAPAN dan PADA  tingkat harga berapa BUY
> BACK dilaksanakan. Investor siapa yang akan di beli portofolionya. Jangan
> sampai skenario BUY BACK SAHAM  BUMN / penyelamatan pasar modal ini hanya
> akal-akalan untuk menyelematkan Individu investor tertentu atau Dana Pensiun
> tertentu atau lembaga tertentu dari kerugian besar. Perlu dipikirkan juga
> bagaimana tehnis pembukuan transaksi buy back ini dalam neraca BUMN
> tersebut.
>
>
>
> BUMN adalah legal entity yang bisa melakukan  transaksi apapun sesuai
> wewenang dan company objectivenya. Jadi BUMN mau buyback sahamnya di pasar
> modal atau tidak, semua adalah pilihan bisnis. Jika tindakan buy back ini
> menyebabkan kerugian pada BUMN terkait siapa yang harus bertanggung jawab?
> Menteri BUMN, Menkeu, Direksi dan Komisaris BUMN, atau kembali menjadi
> tanggung jawab rakyat ala BPPN masa lalu?
>
> Tetapi kalau Menteri atau Presiden memerintahkan BUMN untuk buyback
> sahamnya, itu adalah suatu keputusan publik pemerintah (Public Policy) yang
>   harus menjadi concern semua pihak dan sebaiknya  seijin DPR.
>
>
>
> Boleh-boleh saja pemerintah bermaksud menyelamatkan pasar saham di
> Indonesia, tapi tidak dengan menggunakan APBN. Jika dilakukan, ini sama
> saja artinya mengorbankan rakyat kecil untuk kepentingan segelintir
> investor. Membela spekulan saham di BEI bukan tindakan tepat sasaran.
> Langkah ini sama saja dengan membela "penjudi" bermain harga saham di
> secondary market.
>
>
>
> Kita perlu waspada terhadap hipotesa-hipotesa dan skenario-skenario
> penanganan dampak krisis yang memaksa menyeret pemerintah kita memberikan
> advantage berlebihan pada pihak pihak tertentu .
>
>
>
> Pengalaman  tahun 1998 membuktikan, Negara Indonesia telah tertipu oleh
> konspirasi pengutang dalam negeri, IMF serta pihak-pihak yang ingin merebut
> kekuasaan politik dari Soeharto. Banyak bukti dan indikasinya menunjukkan
> bahwa BLBI dan pemberian dana talangan pada bank-bank tertentu, penghapusan
> hutang konglomerat, penjualan asset BPPN dengan membabi buta, adalah bukti
> kebijakan pemerintah yang kurang tepat dan tidak memikirkan effek jangka
> panjang.
>
>
>
> Kesalahan ini memang telah terjadi ,  rakyat dan Negara telah dikorbankan
> untuk membayar utang debitur-debitur perbankan yang  sangat besar. Tapi
> jangan terualang kembali.
>
>
>
> Jadi, ini  bukan economic disaster, tapi disaster of greedy
> capital/financial players that induced national economy of other nations
> around the world.
>
>
>
> *Penulis adalah mantan direksi bank dan pemerhati masalah ekonomi
>
>
> Yth.
> Bapak/Ibu, Rekan dan Sahabat
>
> Bersama ini saya attached opini mengenai krisis keuangan yang menjadi issue
> utama saat ini
> Semoga bermanfaat bagi kita semua
>
> wassalam
> Erinos
> --
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke