Suatu reportase impressif yang dapat kita banggakan dalam menelaah bayangan hidup seorang putra Kampung Halaman. Selama duduk di Lapau (Rantaunet) kita mengenal anggota kita Angku Lies Suryadi yang unik penuh surprise dengan galian lama dipersembahkan dengan gaya baru yang dapat dicerna Rang Lapau serta masyarakat akademia di Luarnya.
Bermukimnya beliau di Leiden menimba menggali sumur lama penuh timbunan kata-kata lapuk yang perlu ditarik hati-hati ditelusuri dengan penuh kuriositi, menelungkup menelentangkannya dengan pandangan lama dan mengetengahkannya untuk masa baru untuk dihayati angkatan kemudian. Pekerjaan itu tidak mudah. Sumur-sumur lama itu sudah menjadi perhatian pencari data sejak semula. Namun, sebanyak yang dapat sebanyak itu pula yang "terkusai" mungkin dianggap tidak bernilai. Namun, dari kusai-kusaian dan kairai-kiraian barang antik ini, Angku Suryadi menemukan sebingkah-sebingkah benda lapuk rekah yang dapat dibawanya ke tengah. Kita merasa bersyukur adanya seorang Putra Kampung Halaman dengan keinginan dan keuletan hati tak terhingga dapat membangkit kisah terpendam mengetengahkannya untuk kita semua. Keuletan itu perlu mendapat tempat pengenalan beliau di lapangan akademia dunia. Ketekunan beliau menjadi kebanggan Kita Bersama. Salam, -- Sjamsir Sjarif Santa Cruz, California, USA www.usindo.net/hambo <http://www.usindo.net/hambo> --- In [EMAIL PROTECTED], israr iskandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kompas, Jumat, 17 Oktober 2008 (Rubrik Sosok) > > Suryadi, > Pengelana dari Pariaman > > > Dia percaya pada takdir. Jalan hidupnya yang penuh onak dan duri diyakini > bukanlah kebetulan. Ada semacam garis nasib yang membentang antara kampung > halaman di pedalaman Pariaman, Sumatera Barat, hingga Leiden, Belanda, tempat > ia bermukim sejak 10 tahun terakhir. > > Suryadi memang tipikal perantau Minang. Ulet dan tahan banting. Hanya saja, > sebagai perantau, ia tak menekuni sektor informal, sebagaimana profesi urang > awak perantauan umumnya. Ia memilih jalur keilmuan melalui dunia akademik. > Bidang yang ia tekuni pun tak terlalu umum: naskah-naskah lama! > > Menjadi penelaah naskah dan buku klasik (bahasa kerennya filolog) memang > bukan profesi yang bisa mengantarkannya menjadi selebritas, seperti fenomena > para "komentator" bidang ekonomi, politik, dan hukum di Tanah Air. Dari aspek > ekonomi pun, profesi ini jauh dari menjanjikan kehidupan mewah dan > berkecukupan. > > Namun, di balik dunia yang sepi itu, ketika larut bersama naskah tua yang ia > kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa, Suryadi > mengaku menemukan "dunia kecil"-nya itu justru luas membentang. Jalan kehidupan > dia kian terbuka lebar. > > "Ternyata saya tidak sendiri. Ada > juga orang lain yang menyukai bidang ini, yang bisa menjadi teman dalam satu > network keilmuan," tuturnya. > > Hasil penelitian yang ia publikasikan di sejumlah jurnal internasional > banyak mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, > dan Minangkabau, misalnya, dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance > Project) yang berpusat di Australian National University, Camberra, Australia. > > Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang > menjadi pemakalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya memimpin > satu proyek pernaskahan yang didanai the British Library. > > Kajian komprehensif atas Syair Lampung Karam—satu-satunya sumber pribumi > tentang letusan Gunung Krakatau tahun 1883, yang diikuti gelombang tsunami dan > memorak-porandakan wilayah sekitar Selat Sunda (Kompas, 12 September > 2008)—hanya satu dari sekian banyak teks Melayu klasik yang sudah ia teliti. > > Syair dalam tulisan Arab-Melayu alias Jawi itu kemudian ia transliterasikan > ke teks beraksara Latin, sebelum dibandingkannya dengan pandangan para penulis > asing (baca: Eropa). > > Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik mengenai Nusantara ternyata > memberi keasyikan tersendiri bagi Suryadi. Perpustakaan KITLV dan > Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia "bersemedi", > intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial diangkut > ke negeri Belanda. > > "Saya seperti menyelam ke masa lalu. Banyak hal menarik dari bangsa kita > yang terekam dari naskah-naskah lama. Kadang, sewaktu membaca, saya tertawa > sendiri," ujarnya. > > Honor seadanya > > Tahun 1998 menjadi semacam titik balik bagi Suryadi. Sejak September 1998 ia > menetap di Belanda, negeri tempat naskah-naskah lama tentang Nusantara > menumpuk. Ia memulai bekerja sebagai pengajar di Universiteit Leiden > untuk penutur asli bahasa Indonesia. > > Jalan menuju ke Leiden > penuh tikungan. Setelah menunggu tanpa kepastian sebagai asisten dosen di > Universitas Indonesia (UI, 1994-1998), pada pertengahan 1998 lowongan > (vacature) mengajar di Universiteit Leiden datang. Peluang itu langsung ia > tangkap. Lamarannya diterima. > > "Ini sebenarnya soal jalan hidup saja. Soal pilihan," kata Suryadi terkait > kepergiannya dari UI. > > Menunggu tanpa kepastian—juga tanpa masa depan yang jelas—seperti > dilakoninya semasa menjadi asisten dosen di UI, bukan hal baru. Sebelumnya, > saat diajak Lukman Ali (alm)—dan didukung filolog senior Achadiati Ikram—untuk > merintis pengembangan studi Bahasa dan Sastra Minangkabau di UI, Suryadi sudah > tiga tahun diterima sebagai asisten dosen di almamaternya: Universitas Andalas > (Unand) di Padang. > > Seperti halnya saat meninggalkan UI, di Unand pun ia menunggu tanpa > kepastian kapan diangkat menjadi dosen tetap. Tentang hal ini, ia hanya > berkata, "Konon, kata mereka, karena tak ada posisi. Tapi anehnya, yang > belakangan lulus dari saya diangkat jadi dosen. Saya tidak tahu kenapa?" > > Begitu pun di UI. Hidup di Jakarta dari honor sebagai asisten dosen tentu > sulit dibayangkan. Di tahun terakhirnya di > UI, ia menerima Rp > 70.000-an sebulan. Ini pun jauh lebih baik mengingat pada tahun awal ia > mendapat honor Rp 35.000 sebulan. > > Untuk biaya kontrak rumah saja tak cukup. Menyiasati keadaan ini, Suryadi > mendekati teman-teman sesama asisten dosen. Dengan semangat gotong royong ia > bersama empat teman bisa menyewa rumah kontrakan di Gang Fatimah, Depok, Jawa > Barat. > > Bagaimana untuk hidup sehari-hari? "Saya terpaksa mencari obyekan. Misalnya, > selama beberapa tahun saya membantu Ibu Pudentia di Asosiasi Tradisi Lisan. > Barangkali memang tidak ada suratan tangan saya menjadi pegawai negeri," > katanya. > > Masa kecil > > Hidup di tengah penderitaan bukan hal baru baginya. Terlahir sebagai anak > petani kebanyakan di Nagari Sunur, Pariaman, sejak kecil Suryadi hidup hanya > dengan ibunya, Syamsiar. Orangtuanya bercerai. Ibunya kawin lagi, tetapi > perkawinan itu pun bubar setelah memberi Suryadi satu adik lelaki bernama > Mulyadi. > > Di tengah kondisi serba pas-pasan, ia menamatkan SD di Sunur (1977). > Kesulitan hidup juga menyertainya saat di SMP Negeri 3 Pariaman di Kurai Taji > (1981). Begitu pun ketika menyelesaikan pendidikan lanjutannya di SMA Negeri 2 > Pariaman (1985). > > Akibat kesulitan biaya hidup, setamat SMA Suryadi tak bisa langsung kuliah. > Setahun ia menganggur, sebelum masuk Unand di Padang. "Saya masih ingat, Ibu > menjual cincin satu-satunya untuk membayar uang masuk kuliah saya." > > Selama kuliah, ia mondok di rumah saudara ibunya, Emi. Suami Emi, Duski > Sirun—yang dipanggil Suryadi dengan sebutan Apak—punya beberapa toko kain di > Pasar Raya Padang. > Di sinilah Suryadi kerja, membantu Apak-nya sambil kuliah. Tak ada gaji, > kecuali imbalan tinggal dan makan gratis di rumah sang Apak, serta dibayarkan > uang kuliah. > > Begitulah selama lima > tahun ia kerja siang-malam, termasuk kuliah. Pagi sekitar pukul 05.00 ia bangun > dan segera ke pasar untuk membuka toko. "Kalau ada kuliah, saya 'lari' ke > kampus, lalu kembali ke toko. Malam hari, di tengah rasa capek, saya ulangi > pelajaran. Kadang sampai larut, padahal pagi-pagi saya harus bangun dan ke > pasar membuka toko," ujarnya. > > Hidup memang butuh perjuangan. Pengelanaannya hingga bermukim di Leiden, meretas >tradisi pengajar tamu bagi penutur asli > bahasa Indonesia di Leiden yang maksimal lima > tahun, tetap saja membutuhkan perjuangan baru. Ia merasa seperti pengelana > (wanderer) yang tak punya rumah tetap, tempat berdiam. > > Tak ingin pulang? "Pasti saya tidak selamanya di Leiden. Suatu saat saya dan keluarga tentu > pulang ke Indonesia, > atau mungkin pindah rantau ke negara lain. Biasanya seorang wanderer selamanya > akan jadi wanderer," tambahnya. > > Itulah Suryadi. Berbeda dengan slogan seorang politisi masa kini bahwa hidup > adalah perbuatan, ia masih dibelenggu masa lalu: hidup adalah perjuangan! Entah > sampai kapan.... (ken) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
