Suryadi, Pengelana dari Pariaman

      

        
        function Big(me)
        {
        me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;
        }
        function Small(me)
        {
        me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;
        }
               
         
        
                
                  
                                
                        
                
                  
                  
                        
                                        
                        
                        DOK PRIBADI / Kompas Images
                        

                        Suryadi                 
                        
                        
                  
                 
                

Jumat, 17 Oktober 2008 | 03:00 WIB



Dia percaya pada takdir. Jalan hidupnya yang
penuh onak dan duri diyakini bukanlah kebetulan. Ada semacam garis
nasib yang membentang antara kampung halaman di pedalaman Pariaman,
Sumatera Barat, hingga Leiden, Belanda, tempat ia bermukim sejak 10
tahun terakhir.Suryadi memang tipikal perantau Minang. Ulet dan
tahan banting. Hanya saja, sebagai perantau, ia tak menekuni sektor
informal, sebagaimana profesi urang awak perantauan umumnya. Ia memilih
jalur keilmuan melalui dunia akademik. Bidang yang ia tekuni pun tak
terlalu umum: naskah-naskah lama!Menjadi penelaah naskah dan
buku klasik (bahasa kerennya filolog) memang bukan profesi yang bisa
mengantarkannya menjadi selebritas, seperti fenomena para ”komentator”
bidang ekonomi, politik, dan hukum di Tanah Air. Dari aspek ekonomi
pun, profesi ini jauh dari menjanjikan kehidupan mewah dan berkecukupan.Namun,
di balik dunia yang sepi itu, ketika larut bersama naskah tua yang ia
kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa,
Suryadi mengaku menemukan ”dunia kecil”-nya itu justru luas membentang.
Jalan kehidupan dia kian terbuka lebar.”Ternyata saya tidak
sendiri. Ada juga orang lain yang menyukai bidang ini, yang bisa
menjadi teman dalam satu network keilmuan,” tuturnya.Hasil
penelitian yang ia publikasikan di sejumlah jurnal internasional banyak
mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat raja-raja Buton, Bima, Gowa,
dan Minangkabau, misalnya, dimasukkan dalam satu proyek (Malay
Concordance Project) yang berpusat di Australian National University,
Camberra, Australia.Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama
itu pula ia kerap diundang menjadi pemakalah seminar di mancanegara.
Suryadi bahkan dipercaya memimpin satu proyek pernaskahan yang didanai
the British Library.Kajian komprehensif atas Syair Lampung
Karam—satu-satunya sumber pribumi tentang letusan Gunung Krakatau tahun
1883, yang diikuti gelombang tsunami dan memorak-porandakan wilayah
sekitar Selat Sunda (Kompas, 12 September 2008)—hanya satu dari sekian
banyak teks Melayu klasik yang sudah ia teliti.Syair dalam
tulisan Arab-Melayu alias Jawi itu kemudian ia transliterasikan ke teks
beraksara Latin, sebelum dibandingkannya dengan pandangan para penulis
asing (baca: Eropa).Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik
mengenai Nusantara ternyata memberi keasyikan tersendiri bagi Suryadi.
Perpustakaan KITLV dan Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah
kedua, tempat ia ”bersemedi”, intens menekuni ribuan naskah tentang
Indonesia yang pada zaman kolonial diangkut ke negeri Belanda.”Saya
seperti menyelam ke masa lalu. Banyak hal menarik dari bangsa kita yang
terekam dari naskah-naskah lama. Kadang, sewaktu membaca, saya tertawa
sendiri,” ujarnya.Honor seadanyaTahun
1998 menjadi semacam titik balik bagi Suryadi. Sejak September 1998 ia
menetap di Belanda, negeri tempat naskah-naskah lama tentang Nusantara
menumpuk. Ia memulai bekerja sebagai pengajar di Universiteit Leiden
untuk penutur asli bahasa Indonesia.Jalan menuju ke Leiden penuh
tikungan. Setelah menunggu tanpa kepastian sebagai asisten dosen di
Universitas Indonesia (UI, 1994-1998), pada pertengahan 1998 lowongan
(vacature) mengajar di Universiteit Leiden datang. Peluang itu langsung
ia tangkap. Lamarannya diterima.”Ini sebenarnya soal jalan hidup saja. Soal 
pilihan,” kata Suryadi terkait kepergiannya dari UI.Menunggu
tanpa kepastian—juga tanpa masa depan yang jelas—seperti dilakoninya
semasa menjadi asisten dosen di UI, bukan hal baru. Sebelumnya, saat
diajak Lukman Ali (alm)—dan didukung filolog senior Achadiati
Ikram—untuk merintis pengembangan studi Bahasa dan Sastra Minangkabau
di UI, Suryadi sudah tiga tahun diterima sebagai asisten dosen di
almamaternya: Universitas Andalas (Unand) di Padang.Seperti
halnya saat meninggalkan UI, di Unand pun ia menunggu tanpa kepastian
kapan diangkat menjadi dosen tetap. Tentang hal ini, ia hanya berkata,
”Konon, kata mereka, karena tak ada posisi. Tapi anehnya, yang
belakangan lulus dari saya diangkat jadi dosen. Saya tidak tahu kenapa?”Begitu
pun di UI. Hidup di Jakarta dari honor sebagai asisten dosen tentu
sulit dibayangkan. Di tahun terakhirnya di UI, ia menerima Rp 70.000-an
sebulan. Ini pun jauh lebih baik mengingat pada tahun awal ia mendapat
honor Rp 35.000 sebulan.Untuk biaya kontrak rumah saja tak
cukup. Menyiasati keadaan ini, Suryadi mendekati teman-teman sesama
asisten dosen. Dengan semangat gotong royong ia bersama empat teman
bisa menyewa rumah kontrakan di Gang Fatimah, Depok, Jawa Barat.Bagaimana
untuk hidup sehari-hari? ”Saya terpaksa mencari obyekan. Misalnya,
selama beberapa tahun saya membantu Ibu Pudentia di Asosiasi Tradisi
Lisan. Barangkali memang tidak ada suratan tangan saya menjadi pegawai
negeri,” katanya.Masa kecilHidup di
tengah penderitaan bukan hal baru baginya. Terlahir sebagai anak petani
kebanyakan di Nagari Sunur, Pariaman, sejak kecil Suryadi hidup hanya
dengan ibunya, Syamsiar. Orangtuanya bercerai. Ibunya kawin lagi,
tetapi perkawinan itu pun bubar setelah memberi Suryadi satu adik
lelaki bernama Mulyadi.Di tengah kondisi serba pas-pasan, ia
menamatkan SD di Sunur (1977). Kesulitan hidup juga menyertainya saat
di SMP Negeri 3 Pariaman di Kurai Taji (1981). Begitu pun ketika
menyelesaikan pendidikan lanjutannya di SMA Negeri 2 Pariaman (1985).Akibat
kesulitan biaya hidup, setamat SMA Suryadi tak bisa langsung kuliah.
Setahun ia menganggur, sebelum masuk Unand di Padang. ”Saya masih
ingat, Ibu menjual cincin satu-satunya untuk membayar uang masuk kuliah
saya.”Selama kuliah, ia mondok di rumah saudara ibunya, Emi.
Suami Emi, Duski Sirun—yang dipanggil Suryadi dengan sebutan Apak—punya
beberapa toko kain di Pasar Raya Padang. Di sinilah Suryadi kerja,
membantu Apak-nya sambil kuliah. Tak ada gaji, kecuali imbalan tinggal
dan makan gratis di rumah sang Apak, serta dibayarkan uang kuliah.Begitulah
selama lima tahun ia kerja siang-malam, termasuk kuliah. Pagi sekitar
pukul 05.00 ia bangun dan segera ke pasar untuk membuka toko. ”Kalau
ada kuliah, saya ’lari’ ke kampus, lalu kembali ke toko. Malam hari, di
tengah rasa capek, saya ulangi pelajaran. Kadang sampai larut, padahal
pagi-pagi saya harus bangun dan ke pasar membuka toko,” ujarnya.Hidup
memang butuh perjuangan. Pengelanaannya hingga bermukim di Leiden,
meretas tradisi pengajar tamu bagi penutur asli bahasa Indonesia di
Leiden yang maksimal lima tahun, tetap saja membutuhkan perjuangan
baru. Ia merasa seperti pengelana (wanderer) yang tak punya rumah
tetap, tempat berdiam.Tak ingin pulang? ”Pasti saya tidak
selamanya di Leiden. Suatu saat saya dan keluarga tentu pulang ke
Indonesia, atau mungkin pindah rantau ke negara lain. Biasanya seorang
wanderer selamanya akan jadi wanderer,” tambahnya.Itulah
Suryadi. Berbeda dengan slogan seorang politisi masa kini bahwa hidup
adalah perbuatan, ia masih dibelenggu masa lalu: hidup adalah
perjuangan! Entah sampai kapan.... (ken)

Selamat dan sukses ya.....

Wassalam,


  3vy nizhamul 
Kawasan Puspiptek, Serpong Tangerang
http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com
  

   
  





      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke