KACANG TUJIN DAN TELUR ASIN
Oleh : Dedi Yusmen Endah Kayo (DYEK) Dulu, teringat saya masa kanak, Apak punya kedai kecil menjual 'pnd', barang harian, didepan pasar ikan. Di Kota Bukittinggi jaman tahun 80-an pasar ikan masih terletak di tengah, 'pasa maco' agak keatas naik tangga atau lalu lewat lereng dekat orang menjual kompor 'patian', tepatnya dibawah sedikit pasar atas, pasar daging dibawah pasar ikan, semua itu termasuk area 'pasa lereang'. Selain pasar atas yang merupakan toko elit, menjual pakaian, buku, sepatu, emas dan barang mewah untuk ukuran kami orang pinggiran, yang belanja semacam itu sekali setahun pas mau hari raya, atau beli buku pas mulai tahun ajaran. Setelah itu 'peradakan saja apa yang ada', kata Apak kalau tak cukup setahun umur barang yang dibeli. Pernah suatu kali saya bertanya kenapa kedai kita namanya tidak pakai toko saja Pak, agak mentereng bila terdengar, kena pajak kita nanti kalau kedai ya tak jauhlah dari 'lapau', kata Apak. Masih ingat nama kedai itu, Kedai Semoga Jaya namanya, belakangan tidak lagi Jaya karena tergusur. Tapi nama Semoga Jaya tetap dipakai untuk usaha yang lain oleh Apak, kenangan katanya. Pasar atas termasuk kelas pedagang tinggi, ada lagi pasar bawah jaman itu sudah sebagai tempat jual beras yang berupa los, kelapa, sayur mayur seperti sekarang . Tahun 1986, 'komplek' pasar lereng yg menjual ikan, daging dan maco mulai dibongkar dipindah ke pasar bawah sekarang. Apak dipindahkan ke 'pasar putih' dilahan pasar maco dahulunya yang baru dibangun. Usaha tidak berkembang sehingga belakangan dilepaslah Kedai pengganti itu ke penjual baju 'vietnam' istilah jamak dipasar waktu itu yang maksudnya adalah penjual baju bekas. Saat ikut menunggu kedai, tiap waktu banyak makanan yang lewat, ingin rasanya memakan semua jajanan itu, tapi tentu tidak sembarangan Apak mau memberi belanja. Ada jajanan murah, dan unik: 'kacang tujin', ada juga yang menyebut kacang tojin. Kacang tujin ini dibeli dengan sendok, tepatnya sendok makan. Satu sendok makan berharga 25 perak (dua puluh lima rupiah), bila ingin dua sendok harus mengeluarkan 'sasuku', lima puluh rupiah, waktu itu penjualnya berdua perempuan, seorang tua dengan anaknya, dan ada lagi seorang laki-laki. Perempuan berdua itu dari Kampung Sianok dan ada pula penjual laki-laki kata Apak 'urang pasa juo'. Kacang tojin itu dijajakan dengan sendok langsung ketelapak tangan pembeli, kacangnya sendiri tersimpan dalam mangkok tentengan 'bertangan-tangan' yang ada gantungannya, dengan warna kurik-kurik hijau, warna kurik-kurik ini bagi yang masih ingat jaman itu adalah model yang umum untuk peralatan rumah tangga, seperti 'sia', mangkok, nampan maupun piring 'kanso' yang terbuat dari semacam belek campuran, sering pula dipakai untuk perhelatan dan acara 'mandoa' Lain lagi kalau kita berkehendak ke Padang jaman 80-an, dari Payakumbuh ke Padang naik Bus TES, Gagak Hitam, Bintang Kedjora, ANS, naik Bus bayar Rp. 1100. Kalau ke Padang waktu itu sudah terasa kerantau jauh, bisa 4-5 jam-an ditambah ngetem cari panumpang, harus dipersiapkan, harus ada sanak keluarga yang dituju, supaya bisa bermalam. Biasanya bus singgah sebentar di Sicincin menurun-naikkan penumpang, oleh pedagang lokal penumpang selalu 'dijojokan' Telur Asin, Pisang Rebus dan satu lagi buah Manggih Muda yang ditusuk-rangkai pakai lidi, isinya 4 yang besar dan biasanya 5 yang kecil-kecil . Sekarang 25 tahun kemudian, saya pulang lebaran, telah 10 tahun terakhir saya tak pulang saat hari raya Idul Fitri, waktu ini sudah tidak lagi saya sendiri, sudah beranak pinak. Ketemu lagi Telur Asin dan Buah Manggis, kali ini tidak di Sicincin tapi di lereng bukit kecil di bawah Tri Arga Gedung Istana Negara Bukitinggi arah Jam Gadang. Saya beli agak lima tangkai Buah Manggis dan berikan ke anak-anak di rumah neneknya yang kami tumpangi selama liburan hari raya, seketika anak-anak berteriak 'Sate Manggis'. Sate Manggis, nama yang pas rasa saya. Rasanya dulu susah menyebut Buah Manggis yang dirangkai itu, saya menjadi terinspirasi dari anak-anak untuk menyebut pula Sate Manggis. Satu hal yang khas dari 'sate manggis ' ini adalah bendera hijau, yaitu daun kelapa yang sedikit ditingggalkan di ujung lidi sebagai penahan supaya Sate Manggis tidak lepas-lepas. Ada yang tak berubah dari penjual telur asin itu, baik dulu 20 tahun lalu yang saya beli di Sicincin kalau mau ke Padang atau yang saya beli di lereng Gedung Tri Arga pas lebaran kemaren. Dijual tetap sama 'tiga serangkai', telur asin, pisang rebus dan sekarang saya pakai istilah anak-anak: 'sate manggis'. Satu lagi yang sama, si tiga serangkai ditempatkan di wadah berupa mangkok kurik-kurik hijau, satu lagi penjualnya tetap sama, Uni-Uni atau Amai-Amai dengan guratan semangat juang di wajah tanpa lelah. Kacang Tujin dan Telur Asin diwadahi oleh tempat yang sama mangkok kurik-kurik, tapi kacang tujin tamat riwayatnya sedang telur asin tetap berjaya dan penjualnya hampir rata-rata perempuan paroh baya. Jakarta, 23 Oktober 2008 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
