Pak Saaf.
Tiap propinsi pasti punya kota yang
termasuk kategori pusaka.
Karena itu, perlu dijelaskan apa kriteria "kota pusaka".
Sebagai contoh, mengapa Pekalongan yang
dijadikan kota pusaka, bukan Semarang?
Peninggalan kuno lebih banyak Semarang
dari pada Pekalongan.
Juga mengapa "Betawi" sendiri tidak masuk
kota pusaka.
Dalam urusan "kota pusaka" para sejarawan
mungkin perlu dilibatkan.
Wassalam, Jacky Mardono.
--- Pada Sab, 25/10/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> Topik: [EMAIL PROTECTED] Padang, Sawah Lunto, dan Bukit Tinggi Belum Terdaftar dalam jaringan Kota Pusaka Indonesia. Kepada: "Rantau Net" <[email protected]> Cc: "Ir. Yulnofrins NAPILUS" <[EMAIL PROTECTED]>, "Warni DARWIS" <[EMAIL PROTECTED]>, "Prof Dr. James HELLYWARD,M.Sc." <[EMAIL PROTECTED]>, "Gamawan FAUZI, SH, MM" <[EMAIL PROTECTED]> Tanggal: Sabtu, 25 Oktober, 2008, 3:17 PM
|
|
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Rada-rada kaget juga saya membaca bahwa dalam jaringan 12 Kota Pusaka Indonesia yang diresmikan oleh Menteri Jero Wacik belum termasuk Padang, Sawah Lunto, dan Bukit Tinggi.
Bagaimana komentar sanak ?
Wassalam, Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
[EMAIL PROTECTED]
Detik.com. Sabtu, 25/10/2008 20:50 WIB Menbudpar Resmikan Jaringan Kota Pusaka Indonesia Muchus Budi R. - detikNews
Jakarta - Menteri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik, meresmikan jaringan kota pusaka. Wacik berpesan kepada para walikota agar mencari jalan terbaik untuk pelestarian aset warisan budaya dalam melakukan pembangunan pengembangan kota.
Peresmian jaringan kota pusaka diresmikan di rumah dinas Walikota Surakarta di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Sabtu (25/10/2008) petang. Walikota Surakarta, Joko Widodo, yang ditunjuk sebagai koordinator pembentukan jaringan melaporkan bahwa sebagai embrio telah terdaftar 12 kota sebagai anggota.
12 kota tersebut adalah Ternate, Pekalongan, Pangkal Pinang, Pontianak, Yogyakarta, Medan, Ambon, Denpasar, Surabaya, Palembang, Blitar dan Surakarta.
Jero
Wacik dalam sambutan peresmian meminta kepada para walikota mempertimbangkan berbagai hal dalam melaksanakan pembangunan kota.
"Kalau pembangunan mall menggusur bangunan bersejarah, itu tidak benar karena akan menghilangkan identitas bangsa. Kalau mempertahankan bangunan warisan lalu mengabaikan pengembangan kota, juga tidak benar karena kita harus menciptakan lapangan kerja demi kesejahteraan rakyat," ujarnya.
Lebih lanjut dia menyontohkan solusi pembangunan kota yang mempedulikan aset budaya. Misalnya, bangunan warisan kuno tetap dipertahankan berada di tengah bangunan modern yang dibangun. Bangunan kuno tersebut tetap dipertahankan bentuk fisiknya dan bisa difungsikan sebagai perpustakaan.
"Cara seperti ini nantinya sangat membantu anak cucu kita melacak sejarah bangsanya. Mereka akan menghargai kita sebagai orang tua yang mampu menghargai warisan budaya tapi tanpa menghambat pembangunan perkotaan," lanjut
Wacik.
(mbr/rdf) |
| |
| |
| |