Waalaikumsalam wr.wb.
Sanak Kurnia,
Sebetulnya harus dibedakan antara Dephub yang regulator dengan PT KAI yang
operator. Kalau dulu - waktu kereta masih diurus oleh DKA, Perjan, dan
Perum, simpulan sanak Kurnia itu tentang surplus - minus itu benar. Tapi
karena sekrang PT (Persero), ceritanya lain. Keduanya terpisah. Kalau
pemerintah berinvestasi, itu masuk ke PT KAI sebagi modal pemerintah. Kalau
di APBN ada belanja untauk keretaapi, seharusnya juga ada pos "bagian laba"
dari PT KAI - walaupun saya tidak tahu apakah PT KAI pernah menyetor bagian
labanya atau belum
Tapi begini, mungkin terlalu rumit kalau kita bahas tentang untung-rugi
pengoperasian kereta ini.
Jangankan kita yang di palanta, antara Komisaris dengan Direksi PT KAI saja
pernah "berseteru" mengenai "apakah KAI rugi atau laba". Setidaknya itu
terjadi untuk laporan keuangan tahun 2005. Komisaris nya - kebetulan -
adalah seorang berpendidikan PhD Akuntansi, dan menjabat sebagai Direktur
Informasi Akuntansi, Departemen Keuangan.
Jadi, mungkin yang lterpenting buat kita adalah, bagaimana supaya usaha
Kurnia, da Nofrins dll untuak "menghidupkan kereta" itu langgeng
Riri
Bekasi, L 46
2008/11/24 Kurnia Chalik <[EMAIL PROTECTED]>
> AssWW Mak Sati,kanda Riri sarato dunsanak kasadonyo,
>
> Kalau kita mau sederhanakan dan memakai Kaca mata Pemerintah,Investasi
> Kereta Api yang kita bicarakan ini sebetulnya masuk dalam kerangka garis
> besar APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
>
> Pajak (Pajak dari Migas,Pajak Penghasilan,PBB dsb) ----> Komponen
> Pendapatan Negara
> Sarana transportasi (jalan raya,Kereta Api,Pelabuhan,bandara udara dsb),
> energi (BBM,Listrik,etc) ----> Komponen Belanja Negara.
> Jadi yang namanya belanja memang komponen *"Pitih Kalua* (non Profitable
> )" bukan komponen *"Pitih Masuak* (Profitable)".
> Tinggal di akhir tahun Pemerintah menghitung apakah anggaran tahun ini *
> defisit* atau *surplus*.
>
> Samo lah kiro2 analoginyo jo rumah tangga.
>
> Gaji orang tua adalah komponen Pendapatan ("Pitih Masuak").
>
> Belanja anak ke sekolah,biaya sakolahnyo,ongkos anak ke sekolah adalah
> Komponen Belanja ("Pitih Kalua").Tapi syukur2 kalau isuak anak ko alah
> gadang, bisa jadi urang nan baguno dan bisa menolong dirinyo sendiri dan
> bisa pulo menolong urang gaeknyo nan alah tuo...kan baitu harapan kito...yo
> ndak?.
>
> *Kesimpulan :*
>
> Investasi di kereta api sebetulnya kira2 seperti itu juga lah,komponen
> pitih kalua baru kini,tapi syukur2 kalau suatu saat nanti Kereta Api di
> Sumbar bisa mandiri dan maju di belakang hari, tentunya akan dapat berdaya
> guna, membantu dunia transportasi dan mengurangi kemacetan serta mendorong
> kemajuan pariwisata Sumbar.
>
> Wassalam,
> Kurnia Chalik
>
>
>
>
>
>
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---