Sanak Jupardi,
Manuruik pandapek ambo, kok kito urang Minang nak survive dalam dunia nan gilo 
ko, ado duo hal nan paralu dikarajokan: 1)   konsolidasi kadalam, mampaarek 
hubungan antaro awak samo awak badasar ABS SBK -- kalau bisa  didukuang jo 
Ranji ABS SBK -- supayo jan ado juo nan jadi 'incek jambu monyet' dalam 
masyarakat Minang kito; dan 2)   untuak mamajukan Ranah dan nasib kito para 
parantau, sato sacaro aktif dalam kancah parjuangan nasional, mangikuti 
pakambangan kaadaan di sakuliliang kito sambia mampabanyak kawan dan mangurangi 
lawan. Kan banyak urang awak dalam limbago-limbago negara, tapi baliau-baliau 
umumnya bakarajo surang-surang sajo, Namun alun kito hubungi dan kito 
manfaatkan sacaro baiyo bana, sarupo nan alah rutin dilakukan dek urang Batak 
dalam pola 'dalihan na tolu'.
Karano kito alun baitu lai, mako nan dapek dikarajokan sampai kini, iyolah : 
1)  banostalgia bakapanjangan tantang kabasaran tokoh-tokoh Minang maso 
saisuak, dan 2) bamain-main 'di bawah tampuruang' sajo, saakan-akan memang 
itulah dunia kito kasaluruahannyo, lupo ka masyarakat dan daerah lain, lupo ka 
Indonesia, lupo ka dunia laweh. Sakadar manjago-jagokan dan maingek-ingekkan 
itulah ambo posting seri 'Nan Di Lua Tampuruang' ko, nan kini alah sampai seri 
34. 
Ambo satuju jo panilaian Sanak tantang politisi kito. Nampaknyo 
paralu dipakuaik barisan kito-kito nan bukan politisi, supayo jan taruih 
manaruih kito kanai kicuah dek baliau-baliau tu. Kamungkinannyo gadang, antaro 
lain maadokan jejaring -- network -- antaro sagalo LSM dan bamacam-macam 
'watch' nan alah ado, jan bajuang nafsi-nafsi juo lai.
Kok iko disatujui, ado syaratnyo ciek : ado babarapo urang di antaro kito nan 
basadio baiyo bana, indak 'angguak anggak geleang amuah, dalam duo tangah tigo, 
unjuak nan tidak babarikan.' Nan iyo tu iyo, nan indak tu indak.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]






________________________________
From: Jupardi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, December 5, 2008 9:21:58 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 34 : GILANYA APBD 
JAKARTA


Pak Saaf Yth
 
Iko yo asli mah dilua tampuruang bana,,dunia  nan indak “masuak aka” nan indak 
baraja ka Alam takambang jadi Guru, baa lai bantuak itu gonjang ganjing dugem 
dunia Politik awak, lah banyak juo ambo tulih dan bahas, yo subana banyak 
permainan para politisi jo anggaran APBD ko…banyak tahu ambo dari sumber nan 
dipijayo..yo itu tadi kawan salapiak sakatiduran ambo nan jadi anggota 
Dewan…baa permainan Politisi ko…nan ibaraik pisau tapacik ditampuak mambahas 
APBD sabalun di syahkan..apolai ka berakhir maso jabatannyo 2008..”Alun tantu 
waden ka duduak lai”…yo sansai
 
Jepe
 

________________________________

From:[email protected] [mailto: [email protected] ] On Behalf 
Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Friday, December 05, 2008 8:53 AM
To: Rantau Net
Subject: [EMAIL PROTECTED] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 34 : GILANYA APBD JAKARTA
 
    
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Sambil terus berminang-minang, kita jangan lupa bahwa kita adalah suku 
perantau, yang berpegang pada semboyan :"dimana bumi dipijak, di sana langit 
dijunjung'. Untuk para sanak yang bermukim di Jakarta kini saya angkat berita 
menarik tentang Pemerintah dan DPRD DKI. Jangan lupa bahwa di DKI ini urang 
awak kelihatannya cenderung terdesak terus menerus, juga sewaktu sebagian kita 
mengangkat Sutiyoso sebagai 'mamak'. Lucu. 
Sewaktu saya masih menjadi komisioner Komnas HAM, saya penah menerima pengaduan 
dari para sanak kita yang penjadi pedagang di Tanah Abang yang digusur dan 
ditipu, berhadapan dengan pengembang yang dibela oleh bung Adnan Buyung 
Nasution,SH yang kini jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Namun karena para sanak kita itu tidak bersatu -- ini 'penyakit turunan orang 
Minang' -- serta kurang gigih berjuang, dan karena di belakang si pengembang 
ada pengusaha kuat yang mampu membayar banyak siapa saja, maka nasib pedagang 
urang awak di Tanah Abang tak tentu ujung pangkalnya.
Mengapa tak berjuang di DKI melalui 'Bung Foke' dan DPRD DKI ? Kan sudah 
pernah, sewaktu pencalonan dua purnawirawan jenderal kita tercalon/mencalonkan 
diri jadi wagub DKI. Bung Foke ini ternyata memilih assisten teritorial KSAD 
sebagai pendampingnya. Memang itulah politik. 
Jadi sambil tetap berminang-minang, lihat jugalah ke kiri dan ke kanan, ke atas 
dan ke bawah, agar kita jangan bagaikan ' di bawah tempurung'. 
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta )
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
 
Detik.com. Senin, 01/12/2008 13:27 WIB
Gilanya APBD DKI Jakarta
Banyak Cara Mengeruk Dana
Deden Gunawan- detikNews
Jakarta - Harga  Laptop yang bakal dibeli Pemprov DKI Jakarta dianggap tidak 
masuk akal. Harganya mencapai Rp 35 juta, menggelembung hingga 57% dari harga 
pasaran. Hal itu tentu menjadi pertanyaan sejumlah kalangan. Sebab hanya dengan 
Rp 15 juta, laptop dengan spesifikasi caggih bisa didapat.

Bukan hanya anggarannya yang tidak logis.. Laptop yang nanti dibeli juga tidak 
diketahui akan masuk dalam mata anggaran mana. Bila disebut belanja modal, 
tentu harus jelas berapa yang bisa dihasilkan dari membeli laptop. Bila untuk 
pelayanan, sejauh mana laptop itu berfungsi langsung terhadap pelayanan publik. 
Begitupun jika dimasukan dalam nilai aset.

Dari catatan yang dirilis Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) 
pada Anggaran Pendapan dan Belanja Daerah (APBD) 2008, Pemprov  DKI Jakarta 
juga pernah membeli sebanyak 313 laptop yang memakan anggaran mencapai Rp 5,73 
miliar. Namun aset-aset tersebut hingga kini tidak tahu di mana rimbanya.

"Kalau laptop tersebut masuk dalam kategori aset, harusnya masuk dalam daftar 
aset pemprov. Jadi jelas laptop-laptop itu hanya untuk dimiliki secara pribadi 
oleh para pejabatnya dengan menggunakan uang negara," jelas analis politik 
anggaran Fitra Roy Salam kepada detikcom.

Raibnya 313 laptop dari daftar aset, menurut Roy , disebabkan lemahnya 
pengawasan dari DPRD.  Para politisi tersebut dituding telah melakukan 
pembiaran. Akibatnya, dari inventarisasi anggaran yang dipantau Fitra di APBD 
2008, telah terjadi pemborosan dan indikasi mark up sebesar Rp 143 miliar.

Kini niat pemborosan itu kembali nyelonong masuk ke RAPBD 2009. Sejumlah 
anggaran yang tidak logis tersebut dikhawatirkan tidak akan menghadapi kendala 
di DPRD. Seperti yang sudah-sudah para politisi Kebon Sirih, alamat DPRD DKI 
Jakarta, akan turut mencari untung dari APBD untuk biaya politik. Apalagi saat 
ini menjelang
pemilu.

Sikap pesimis terhadap ketatnya pengawasan DPRD juga muncul dari Ketua Forum 
Warga Jakarta  (FWJ) Azas Tigor Nainggolan. Soalnya nilai pembelian barang dan 
jasa selama ini sengaja digelembungkan dalam  RAPBD. Sehingga kelebihan 
anggaran tersebut bisa masuk ke kantong para politisi tersebut.

"Bagi pejabat Pemprov dan DPRD, pengesahan APBD adalah ajang masa panen uang. 
Bagaimana serius mengawasi kalau eksekutif dan legislatifnya memang berharap 
dana segar dari APBD?" tanya Tigor saat berbincang-bincang dengan detikcom.

Menurut data yang dimiliki FWJ, salah satu bentuk konspirasi antara Pemprov dan 
DPRD adalah dengan cara memotong beberapa anggaran yang mejadi sorotan publik, 
namun memasukan mata anggaran baru yang nilainya jauh lebih besar dari mata 
anggaran yang dipotong. Praktik semacam ini, kata Tigor, terjadi dalam 
penyusunan  APBD 2008.

Awalnya, APBD 2008  disusun oleh Pemprov sebesar Rp 20,01 triliun. Tapi 
kemudian diubah DPRD menjadi Rp 20,59 triliun. Penambahannya seolah-olah hanya 
terjadi sekitar Rp 590 miliar. Tapi sebenarnya itu hanya akal-akalan saja. 
Sebab perubahan APBD itu dilakukan anggota DPRD dengan mengurangi usulan 
sebesar Rp 444,37 miliar, namun menambahkan proyek baru lagi sebesar Rp 2,943 
triliun oleh DPRD. Sehingga terkoreksi menjadi Rp 3,381 triliun. Anggaran 
tersebut diduga menjadi proyek pribadi sejumlah anggota DPRD.

Adapun modus yang dilakukan DPRD untuk mengeruk APBD 2008 dengan cara 
menambahkan anggaran pada pos-pos yang tidak diajukan oleh pemprov karena 
dipandang belum saatnya diajukan pada tahun 2008. Cara lainnya, dengan 
menambahkan besaran anggaran yang sudah diajukan Pemprov menjadi lebih besar. 
Ada juga dengan jalan mengurangi anggaran kemudian DPRD mengalihkan anggaran 
tersebut  dengan membuat pos anggaran
baru.

Penambahan pos-pos anggaran baru yang diajukan oleh anggota Komisi A DPRD yang 
mengurusi bidang pemerintahan, terjadi dalam proyek pengadaan papan nama Ketua 
RT se-Jakarta sebesar Rp 7 miliar. Padahal selama ini para Ketua RT umumnya 
mengadakan papan nama tersebut  secara swadaya. Begitu juga dengan proyek 
pengadaan proyek alat absensi (Finger Print) untuk setiap  kelurahan sebesar Rp 
11 miliar. Padahal tiap
kelurahan pegawainya hanya 8 orang.

Adapun pos anggaran baru yang diajukan Komisi B DPRD, yang mengurusi bidang 
perekonomian, adalah proyek pembebasan lahan untuk hutan kota di RT 001 RW 004 
Kelurahan Cilangkap sebesar Rp 34 miliar. Proyek lainnya adalah penyediaan 
sarana dan prasarana penanggulangan penceraman minyak di laut sebesar Rp 23 
miliar

Sementara Komisi C DPRD, yang mengurusi masalah keuangan, mengajukan proyek 
asuransi gedung-gedung pemprov sebesar Rp 26 miliar, dan proyek pengembangan 
alat komunikasi radio UHF Tetra Pemprov tahap 2. Anggaran yang digunakan 
sebesar Rp 40 miliar.

Komisi D DPRD, yang menangani masalah pembangunan, juga mengajukan proyek 
pengadaan dan pembangunan Waduk Kelapa Gading sebesar Rp 80 miliar, serta 
proyek pengolahan pencemaran air pada Kali Besar  di Kota Tua dengan anggaran 
sebesar Rp 74 miliar.

Sedangkan penambahan jumlah anggaran dari yang diajukan oleh pemprov,  antara 
lain terjadi dalam pembebasan Tanah Kali Cakung Lama yang sebelumnya  Rp 36,15 
miliar kemudian  ditambah Rp 25 miliar sehinga menjadi Rp 61,15 miliar, serta 
anggara Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi yang sebelumnya diusulkan Rp 500
Juta meloncak hingga Rp 77 miliar.

Modus-modus tersebut diduga sebagai cara bagi DPRD dan pemprov untuk mengeruk 
uang di APBD.  Cara-cara semacam itu diprediksi Roy Salam maupun Azas Tigor 
Nainggolan  bakal terjadi di APBD 2009. Pasalnya, para politisi tersebut  butuh 
banyak uang untuk biaya politik jelang Pemilu 2009.(ddg/iy)  
      
  
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke