Buya Mas’oed Yth,

 

Ambo satuju bana jo Buya. Memang pada dasarnya KUNCI atau ROH dari
Pariwisata itu adalah semua yang berhubungan dengan INDERA manusia yang
diterima sebagai RASA oleh para wisatawan yang kita kenal sebagai the real
experience. Sebagus, seindah dan semewah apapun yang ada pada kita, namun
apabila RASA tersebut belum tersentuh maka jangan harap bisa berkembang.

 

Manuruik ambo, RASA adalah sesuatu hal yang sangat manusiawi. Untuk itu
pendekatannya juga adalah pendekatan Manusiawi.

Ambo sangat setuju dengan apa yang dikatakan Buya :  

 

"muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaue samo gadang", atau kato syarak
"man kana yukminu bil-laahi wal yaumil akhir fal yukrim dhayfahu = siapa
saja yang percaya pada hari akhir hendaklah pandai memuliakan tamunya".

 

Kenyataan yang terjadi adalah, masyarakat Minangkabau secara umum dianggap
sangat kurang dalam hal ini (budaya pelayanan – service minded) karena
Pariwisata masih belum dianggap sebagai hal yang penting di masyarakat dan
pemerintah lokal.

 

Orang masih menganggap perkebunan, hutan, dan industri-2 besar lainnya
sebagai hal yang lebih prioritas. Namun kita sering lupa bahwa pemilik-2
modal dan mereka yang menguasai puluhan ribu hektar lahantersebut notabene
kebanyakan adalah orang-orang yang tidak berdiam di ranah minang.

 

Mereka hanya menumpang berusaha mencari uang di Ranah Minang. Selebihnya
uang penghasilan mereka tidak tinggal/berputar sebagai “economic driver” di
Sumbar.  Uang-uang murni hasil dari bumi ranah minang hanya singgah sebentar
di Bank Lokal dan untuk seterusnya pindah ke Bank-bank pusat di Jakarta atau
Luar Negeri. Maka terjadilah Capital Flight.  Memang benar terjadi
penyerapan tenaga kerja lokal, namun masih belum sebanding antara INPUT dan
OUTPUTnya. Makanya tingkat pertumbuhan ekonomi di Sumbar kecil dan cenderung
stagnan. Celakanya, banyak Walikota dan Bupati didaerah kita yang cenderung
untuk berpikir singkat. Yang penting “ADA INVESTASI dan ADA PEMBANGUNAN”.  

 

Mereka mengabaikan atau lupa bahwa yang paling penting adalah Membangun
Ekonomi Kerakyatan. Artinya sesuatu yang dibangun dan diusahakan harus
berbasis kerakyatan dan hasilnya jelas ada yang tinggal untuk rakyat.  

 

Ini memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena tentu saja para
pengusaha / investor itu pada dasarnya mereka adalah KAPITALIS dan hanya
berorientasi kepada PROFIT semata. Memang tidak semua seperti itu, tapi
prinsip dasar pengusaha adalah demikian.

 

Oleh karena itu, strategi perlu dirubah. Pemerintah harus memilah-milah dan
berani menentukan untuk memberi prioritas kepada usaha-usaha yang mendukung
Ekonomi Kerakyatan tersebut.

 

Nah, disinilah nilai lebih dari PARIWISATA.  Jelas, Pariwisata sangat
memberikan dampak positif baik secara langsung maupun tidak langsung kepada
masyarakat. Saya ingin mencoba mengambil kasus dengan kembalinya MAK ITAM ke
Sumbar dan Selancar Ombak Mentawai. Kira-kira apa yang terjadi dan dampaknya
kepada masyarakat.  

 

Maaf, saya bukan menggurui tapi sekedar ingin memberikan ilustrasi saja dari
kacamata seorang pelaku pariwisata.

 

Contoh real 1(wisatawan lokal)

 

Anak saya sangat terobsesi dengan KA. Oleh sebab itu semua atribut
pakaiannya harus yang ada gambar KA. Dia suka karena adanya film-2 kartun
ttg KA berjudul “THOMAS & HIS FRIENDS”.  Mendengar Mak ITAM mau datang,
sejak sekarang dia sudah menodong Bapaknya untuk jalan-jalan dengan Mak
Itam. Terpaksalah sang Bapak menabung dari sekarang.

Saya, istri saya, anak dan pendamping, plus teman/keluarga lain. Total
menjadi kira-kira 10 orang. 1 orang akan menghabiskan kira-kira maksimum
Rp.100.000,- pada hari wisata itu (makan, transport, oleh-oleh, beli
bingkisan, etc). Artinya, saya harus siap-siap dengan uang Rp.1.000.000,-
untuk bisa berwisata naik Mak Itam. Saya tidak tau berapa kapasitas Gerbong
KA Wisata itu nantinya. Nah silakan saja berhitung berapa uang yang berputar
di WISATA KA ini.  Kemana uang tersebut perginya ? Jelas, tidak ditransfer
ke sbuah bank di Jakarta atau luar negeri seperti pada cerita saya tersebut
diatas. Namun dia mengisi kantong-kantong urang nan manjua talua asin di
sicincin atau lubuk alung. Urang nan manggaleh teh botol atau coca cola di
Simpang haru bahkan dunsanak-dunsanak awak nan manggaleh durian di
Kayutanam.

 

Contoh real 2 (wisatawan asing minat khusus)

 

Kebetulan saya mengurus AKSSB (Asosiasi Kapal Selancar Sumatera Barat)
silakan lihat di www.akssb.org.  Ini adalah sebuah asosiasi yang mempunyai
anggota kapal-kapal selancara yang mengangkut turis minat khusus untuk
selancar di Mentawai.

Kita mempunyai 22 anggota (kapal). Musim selancar itu kira-kira dimulai pada
bulan April dan selesai November (8 bulan).

Secara umum satu trip selancar rata-rata 10 hari dengan 8 orang penumpang.
Tiap orang membayar bervariasi antara US 150,- s/d 400. Kita ambil saja
batas tengah USD 200. Berarti 1 orang turis asing harus siap merogoh
koceknya sebanyak USD.2000,- / sekali main selancar di Mentawai.  Statistik
menunjukan ada kurang lebih 4000 – 5000 orang yang bermain selancar tiap
tahunnya. Kalau kita mengambil jumlah minimumnya saja berarti ada devisa
masuk kurang lebih sebanyak 4000xUSD.2000 atau 8 Juta dollar dari sektor
ini.  Dari jumlah ini kurang lebih 60% tinggal di Sumbar untuk membeli
solar, makanan, minuman, retribusi, dll. 

 

Dari contoh dua jenis wisata ini dapat dilihat bagaimana sebenarnya
kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Sumbar. Masih banyak lagi jenis
wisata yang ada seperti wisata budaya, wisata agaman, wisata seni, wisata
pendidikan, wisata konvensi, wisatawan nusantara, dll. 

 

Karena Pariwisata mempunyai multiplier effect untuk ekonomi yang kuat maka
cenderung harus kita dukung secara serius. Disisi lain multiplier effect ini
sulit dihitung atau dideteksi. Pemerintah cenderung melihat income
pariwisata hanya bedasarkan pajak yng dipungut (pajak hotel dan restoran,
dll) tapi acapkali melupakan faktor multiplier effect ini yang sebenarnya
adalah mendukung ekonomi kerakyatan.

 

Lalu apa yang musti dikerjakan ? Kalau dilihat dari typenya yaitu jenis
usaha yang memerlukan pendekatan manusiawi (RASA) maka langkah awal yg perlu
dilakukan adalah SOSIALISASI dan PROMOSI tentang pemahaman arti Pariwisata
yang benar dan jujur. Selama ini masyarakat sudah teracuni bahwa Pariwisata
adalah Maksiat. Cewe-cewe Bule yang hanya memakai Bikini, Bar, Pub dll.
Tetapi apa betul seperti itu ? Kalau mau jujur, tengoklah ke tampat-tempat
yang dianggap maksiat itu. Kebanyakan justru orang-orang kita sendiri yang
melakukannya. Ayo pergi ke Pantai, apakah ada disana ada cewe-cewe bule
telanjang di Sumbar ini ? Jika ada, itupun satu atau dua saja
dilokasi-lokasi yang jauh dari publik (pulau). Cilakanya, orang-orang yang
senang menghujat ini, justru mereka pulalah yang senang menikmatinya.

 

Walaupun demikian, secara jujur saya juga harus mengakui, berdasarkan
pengelaman berpuluh tahun di Pariwisata, tentu saja secara normal akan
terjadi proses kohesi dan asimilasi disana. Itu adalah hal yang wajar dan
tidak bisa dihindari. Dimana saja diatas dunia, terjadi hal tersebut.
Siapkah kita ? Apakah hal tersebut berdampak negatif atau positip ?

 

Sekali lagi, berkaca pada makna kalimat yang disampaikan oleh Buya Mas’ud
diawal cerita ini adalah: semua pada hakekatnya bergantung pada manusianya.
Jika memang setuju mempromosikan pariwisata maka kita juga harus setuju
untuk meningkatkan mutu, kwalitas dan iman masyarakat kita.  Untuk dapat
bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat, perlu adanya sosialisasi dan
pendidikan yang tidak terputus. Hal ini harus dilakukan dengan metode
GERAKAN.

 

Setelah itu, pengembangan Pariwisata di Sumbar ini menurut hemat saya tidak
perlu dilakukan secara menyeluruh sekaligus namun bertahap dengan pola
parsial. Artinya, kita memberikan priorias pada daerah-daerah tertentu yang
benar-benar mempunyai potensi dan masyarakatnya memang sudah siap atau
menyatakan siap untuk Pariwisata.

 

Lalu siapa yang melakukan semua ini ? (perencanaan, sosialisasi,
pengembangan, promosi, kontrol, dst). :  Secara mudah kita akan dapat kita
jawab bahwa PEMERINTAH lah yang harus melakukannya. Namun pada kenyataannya
Pemerintah tidak mampu melakukannya sendiri. Pariwisata adalah sektor unik
karena dia adalah multi-intgerated sector. Semua terlibat disana.  Disinilah
peran fungsi WSTB nantinya akan bermain sebagai think-thank / mitra kerja
pemerintah. WSTB harus dari unsur swasta yang disupport oleh pemerintah.
WSTB inilah yang akan menjadi koordinator komunikasi para pelaku, pengamat,
pemerhati atau apapun namanya untuk melahirkan ide-ide dan gagasan-gagasan
yang segar dan membangun.  Meminjam istilah Uwan Zukri, WSTB harus berani
out-of the box. Berkhayal dan menerawang kedepan. Berani mengambil
langkah-langkah dan kreativitas baru, dll.

 

Nah, inilah kira-kira sumbangan pemikiran saya untuk saat ini. Terus terang
saya minta maaf kalau ada salah janggalnya dalam penulisan ini, karena saya
sangat jarang menulis karena tidakterbiasa. Entah kenapa, saat ini saya coba
saja. Mungkin karena Minggu siang ini di kota Padang sedang hujan
lebat-lebatnya sejak pagi tadi, sehingga membuat hati saya rusuh dan ingin
bercakap-cakap melalui email dengan dunsanak-dunsanak awal.  Mohon maaf
lahir bathin dan selamat hari raya Idul Adha untuk kita semua.

 

Salam,

Aim Zein

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk mengatasi ini, rasanya perlulah kita bersama-sama memikirkan hal-hal
apa saja yang harus kita lakukan untuk meminimalisasi Capital Flight
tersebut.  

 

 

 

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Masoed Abidin
Sent: Saturday, December 06, 2008 5:36 PM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU

 

Pak Saaf Yth,

Manuruik buya indak dapek diabaikan bahwa "pariwisata" di mana saja
hakikatnya adalah real experiences, yakni bagaimana pengalaman pertama dari
taourist wisatawan mancanegara ataupun domestik ketika menjejakkan kaki
pertama kali di tempat tujuan wisata itu.

Indah, cantik, baik, menarik, senang dan menarik itu senyatanya adalah satu
pengalaman yang dinilai oleh hati (rasa). Tidak semata milik mata dan
telinga saja. Keduanya adalah alat penyambung rasa saja.

Maka modal awal paling utama adalah, "muluik manih, kucindan murah, pandai
ba gaue samo gadang", atau kato syarak "man kana yukminu bil-laahi wal
yaumil akhir fal yukrim dhayfahu = siapa saja yang percaya pada hari akhir
hendaklah pandai memuliakan tamunya".

Modal itu doeloe ada di ranah kita, tapi kini alah hampie punah tagadai ka
rantau. Bagaimana mengembalikannya, sebagaimana membawa pulang "mak itam"
tu?

Rasanaya perlu pendidikan, kuncinya pengajaran dan pencontohan.

Selamat Id Mubarrak di Idul Qurban. 
Wassalam
Buya HMA

 

  _____  

From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Rantau Net <[email protected]>; "Gamawan FAUZI, SH, MM"
<[EMAIL PROTECTED]>; Karo Human Pemprov SUMBAR
<[EMAIL PROTECTED]>; Ir. Indra ARINAL <[EMAIL PROTECTED]>; Nuraini
PRAPDANU <[EMAIL PROTECTED]>; Zarnifa ASMARA <[EMAIL PROTECTED]>; Aim
Zein <[EMAIL PROTECTED]>; Ir. Yulnofrins NAPILUS <[EMAIL PROTECTED]>;
Warni DARWIS <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, December 7, 2008 7:41:45 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU

Sanak Aslim dan Bung Ketut serta para sanak pegiat pariwisata,

Saya setuju, baik dengan pandangan Sanak Aslim yang menekankan agar
perencanaan pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya dan agar jangan
terlalu bersandar kepada pemerintah; serta dengan Bung Ketut yang
mengingatkan kita agar jangan khawatir bahwa pariwisata Sumatera Barat akan
menjadi [duplikat] pariwisata Bali dan bahwa SDM pariwisata adalah kata
kuncinya.

Sekedar tambahan, saya telah menghubungi Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan
Budaya Sumatera Barat mengenai hal ini, dan kelihatannya beliau setuju
dengan pandangan Sanak Aslim, bahwa WSTB biar menjadi lembaga yang
independen saja dan tumbuh menjadi mitra pemerintah. Beliau menyatakan
secara eksplisit bahwa dinas yang beliau pimpin tidak usah terlibat dalam
WSTB ini. 

Itu baik juga, walaupun tentunya kita dapat -- dan harus -- terus mengadakan
kontak langsung dengan komponen regulator pariwisata, khususnya dengan
Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya, dengan Gubernur Provinsi Sumatera
Barat, dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera
Barat, Kabupaten dan Kota,  dan dengan kepala-kepala dinas pariwisata
tingkat kabupaten dan kota yang berada langsung di lapangan. Sudah tentu
jangan lupa berhubungan dengan para stakeholders, yaitu tokoh-tokoh
masyarakat, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten dan kota dan pada tingkat
nagari.

Dengan kepulangan MakItam, saya harapkan ada 'loncatan besar' dalam kegiatan
kepariwisataan di Sumatera Barat. Kan hanya kita di Sumatera yang mempunyai
MakItam yang gagah ini ? [P.S. tolong jangan diterjemahkan 'MakItam' jadi
'Black Monster'. Kesannya benar-benar tak nyaman.]

Maju terus, pak Aim.
 

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(L, masuk 72 th, Jakarta)

Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];

[EMAIL PROTECTED]

 

 

 

  _____  

From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, December 6, 2008 11:07:32 PM
Subject: Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU

Jangan takut Pariwisata Ranah Minang  tidak akan pernah menjadi Pariwisata
Bali dan Pariwisata Bali tidak akan mungkin meniru Pariwisata Ranah
Minang, tetapi dimanapun SDM yang baik dan dikelola secara profesional
adalah modal yang paling utama bagi Tourism Industry dan "Raw Material"
Pariwisata tidak akan pernah habis.

To be honest, saya kagum dengan keindahan alam Sumatera Barat..........

Salam
Ketut



----- Original Message -----
From: Aslim Nurhasan
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, December 06, 2008 4:17 PM
Subject: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU


Sebagai POTENSI TERBESAR RANAH MINANGKABAU (Sumatera Barat); Pariwisata
harus dirancang dan dioperasionalisasikan untuk kemaslahatan ANAK NAGARI,
dan pasti akan menjadi bagian integral dari Pembangunan RANAH MINANGKABAU;

Ketika ke-PARIWISATA-an RANAH MINANGKABAU, dipersepsikan sama dengan
pariwisata Bali, sebaiknya SEGERA BUBARKAN FORUM INI;

West Sumatera Tourism Board; seharusnya mengawali pemikiran dari Wisata
Budaya yang menjadi bagian utuh dari Eco Tourism; banyak PROSESI KEHIDUPAN
ANAK NAGARI yang sangat menarik untuk dijadikan objek dan/atau atraksi
wisata; banyak produk budaya (tengible dan intengible);

WSTB seharusnya tidak berfikir untuk membangun infrastruktur (Hotel, jalan
harus dilebarin dan/atau dibuat baru, Bus Wisata harus dibeli baru, dll
yang membutuhkan investasi gadang dan susah untuak diwujudkan); Wisata
Nagari sebagai BASIS KONSEP dan PROGRAM WSTB; mengoptimalkan SELURUH
POTENSI NAGARI; SURAU, RUMAH GADANG, sarato Rumah2 nan indak dihuni bisa
dijadikan sarana akomodasi.

Sekolah2 ke-pariwisata-an di Sumatera Barat bisa diadikan partner untuk
mendidik dan mengembangkan SDM ke-PARIWISATA-an RANAH MINANGKABAU;

Jan bapikia untuk basanda abih ka pemerintah, sahinggo akan bisa bajalan
kalau ado dana pemerintah; tapi, tantu sajo pemerintah harus dijadikan
partner, karano fungsinyo memang sebagai regulator dan fasilitator,
sekalian WSTB maingekkan kalau PEMERINTAH bukanlah OPERATOR.

Mudah2an, baguno;
Konsep Utuh WISATA NAGARI, bisa ambo sampikan dilain wakatu dan bisa pulo
qto diskusikan.
-- 
Aslim Nurhasan; +62811103234, +622195777925



----------------------------------------------------------------------------
----


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.15/1833 - Release Date: 12/5/2008
7:08 PM


WEST SUMATRA TOURISM BOARD NETWORK
----------------------------------
You are registered as a member of WSTB Network

If you wish to unsubscribe, write an empty email to this address:
[EMAIL PROTECTED]  Fill in the subject with: Stop email please

If you want to register new email addresses and links, send an email
contains the addresses to the [EMAIL PROTECTED]  Fill in the subject
with: Register please

more info: call 0811669988 - Aim Zein

Thank you 
let's go west sumatra

links:

www.akssb.org <http://www.akssb.org/> 
www.pronewsfm.com <http://www.pronewsfm.com/> 
www.mpkas.west-sumatra.com <http://www.mpkas.west-sumatra.com/> 
www.mappas.west-sumatra.com <http://www.mappas.west-sumatra.com/> 
www.nofrins.west-sumatra.com <http://www.nofrins.west-sumatra.com/> 
www.phrisumbar.com <http://www.phrisumbar.com/> 




 




 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.9.15/1834 - Release Date: 12/6/2008
4:55 PM


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke