Alah cocok Buya Mas'oed jo pak Aim tu mah. Ambo tingga maangguak-angguak sajo 
lai. 

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]






________________________________
From: Aim Zein <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, December 8, 2008 6:56:28 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU


Buya Mas’oed Yth,
 
Ambo satuju bana jo Buya. Memang pada dasarnya KUNCI atau ROH dari Pariwisata 
itu adalah semua yang berhubungan dengan INDERA manusia yang diterima sebagai 
RASA oleh para wisatawan yang kita kenal sebagai the real experience. Sebagus, 
seindah dan semewah apapun yang ada pada kita, namun apabila RASA tersebut 
belum tersentuh maka jangan harap bisa berkembang.
 
Manuruik ambo, RASA adalah sesuatu hal yang sangat manusiawi. Untuk itu 
pendekatannya juga adalah pendekatan Manusiawi.
Ambo sangat setuju dengan apa yang dikatakan Buya :  
 
"muluik manih, kucindan murah, pandai ba gaue samo gadang", atau kato syarak 
"man kana yukminu bil-laahi wal yaumil akhir fal yukrim dhayfahu = siapa saja 
yang percaya pada hari akhir hendaklah pandai memuliakan tamunya".
 
Kenyataan yang terjadi adalah, masyarakat Minangkabau secara umum dianggap 
sangat kurang dalam hal ini (budaya pelayanan – service minded) karena 
Pariwisata masih belum dianggap sebagai hal yang penting di masyarakat dan 
pemerintah lokal.
 
Orang masih menganggap perkebunan, hutan, dan industri-2 besar lainnya sebagai 
hal yang lebih prioritas. Namun kita sering lupa bahwa pemilik-2 modal dan 
mereka yang menguasai puluhan ribu hektar lahantersebut notabene kebanyakan 
adalah orang-orang yang tidak berdiam di ranah minang.
 
Mereka hanya menumpang berusaha mencari uang di Ranah Minang. Selebihnya uang 
penghasilan mereka tidak tinggal/berputar sebagai “economic driver” di Sumbar.  
Uang-uang murni hasil dari bumi ranah minang hanya singgah sebentar di Bank 
Lokal dan untuk seterusnya pindah ke Bank-bank pusat di Jakarta atau Luar 
Negeri. Maka terjadilah Capital Flight.  Memang benar terjadi penyerapan tenaga 
kerja lokal, namun masih belum sebanding antara INPUT dan OUTPUTnya. Makanya 
tingkat pertumbuhan ekonomi di Sumbar kecil dan cenderung stagnan. Celakanya, 
banyak Walikota dan Bupati didaerah kita yang cenderung untuk berpikir singkat. 
Yang penting “ADA INVESTASI dan ADA PEMBANGUNAN”.  
 
Mereka mengabaikan atau lupa bahwa yang paling penting adalah Membangun Ekonomi 
Kerakyatan. Artinya sesuatu yang dibangun dan diusahakan harus berbasis 
kerakyatan dan hasilnya jelas ada yang tinggal untuk rakyat.  
 
Ini memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena tentu saja para 
pengusaha / investor itu pada dasarnya mereka adalah KAPITALIS dan hanya 
berorientasi kepada PROFIT semata. Memang tidak semua seperti itu, tapi prinsip 
dasar pengusaha adalah demikian.
 
Oleh karena itu, strategi perlu dirubah. Pemerintah harus memilah-milah dan 
berani menentukan untuk memberi prioritas kepada usaha-usaha yang mendukung 
Ekonomi Kerakyatan tersebut.
 
Nah, disinilah nilai lebih dari PARIWISATA.  Jelas, Pariwisata sangat 
memberikan dampak positif baik secara langsung maupun tidak langsung kepada 
masyarakat. Saya ingin mencoba mengambil kasus dengan kembalinya MAK ITAM ke 
Sumbar dan Selancar Ombak Mentawai. Kira-kira apa yang terjadi dan dampaknya 
kepada masyarakat.  
 
Maaf, saya bukan menggurui tapi sekedar ingin memberikan ilustrasi saja dari 
kacamata seorang pelaku pariwisata.
 
Contoh real 1(wisatawan lokal)
 
Anak saya sangat terobsesi dengan KA. Oleh sebab itu semua atribut pakaiannya 
harus yang ada gambar KA. Dia suka karena adanya film-2 kartun ttg KA berjudul 
“THOMAS & HIS FRIENDS”.  Mendengar Mak ITAM mau datang, sejak sekarang dia 
sudah menodong Bapaknya untuk jalan-jalan dengan Mak Itam. Terpaksalah sang 
Bapak menabung dari sekarang.
Saya, istri saya, anak dan pendamping, plus teman/keluarga lain. Total menjadi 
kira-kira 10 orang. 1 orang akan menghabiskan kira-kira maksimum Rp.100.000,- 
pada hari wisata itu (makan, transport, oleh-oleh, beli bingkisan, etc). 
Artinya, saya harus siap-siap dengan uang Rp.1.000.000,- untuk bisa berwisata 
naik Mak Itam. Saya tidak tau berapa kapasitas Gerbong KA Wisata itu nantinya. 
Nah silakan saja berhitung berapa uang yang berputar di WISATA KA ini.  Kemana 
uang tersebut perginya ? Jelas, tidak ditransfer ke sbuah bank di Jakarta atau 
luar negeri seperti pada cerita saya tersebut diatas. Namun dia mengisi 
kantong-kantong urang nan manjua talua asin di sicincin atau lubuk alung. Urang 
nan manggaleh teh botol atau coca cola di Simpang haru bahkan dunsanak-dunsanak 
awak nan manggaleh durian di Kayutanam.
 
Contoh real 2 (wisatawan asing minat khusus)
 
Kebetulan saya mengurus AKSSB (Asosiasi Kapal Selancar Sumatera Barat) silakan 
lihat di www.akssb.org.  Ini adalah sebuah asosiasi yang mempunyai anggota 
kapal-kapal selancara yang mengangkut turis minat khusus untuk selancar di 
Mentawai.
Kita mempunyai 22 anggota (kapal). Musim selancar itu kira-kira dimulai pada 
bulan April dan selesai November (8 bulan).
Secara umum satu trip selancar rata-rata 10 hari dengan 8 orang penumpang. Tiap 
orang membayar bervariasi antara US 150,- s/d 400. Kita ambil saja batas tengah 
USD 200. Berarti 1 orang turis asing harus siap merogoh koceknya sebanyak 
USD.2000,- / sekali main selancar di Mentawai.  Statistik menunjukan ada kurang 
lebih 4000 – 5000 orang yang bermain selancar tiap tahunnya. Kalau kita 
mengambil jumlah minimumnya saja berarti ada devisa masuk kurang lebih sebanyak 
4000xUSD.2000 atau 8 Juta dollar dari sektor ini.  Dari jumlah ini kurang lebih 
60% tinggal di Sumbar untuk membeli solar, makanan, minuman, retribusi, dll. 
 
Dari contoh dua jenis wisata ini dapat dilihat bagaimana sebenarnya kontribusi 
pariwisata terhadap perekonomian Sumbar. Masih banyak lagi jenis wisata yang 
ada seperti wisata budaya, wisata agaman, wisata seni, wisata pendidikan, 
wisata konvensi, wisatawan nusantara, dll. 
 
Karena Pariwisata mempunyai multiplier effect untuk ekonomi yang kuat maka 
cenderung harus kita dukung secara serius. Disisi lain multiplier effect ini 
sulit dihitung atau dideteksi. Pemerintah cenderung melihat income pariwisata 
hanya bedasarkan pajak yng dipungut (pajak hotel dan restoran, dll) tapi 
acapkali melupakan faktor multiplier effect ini yang sebenarnya adalah 
mendukung ekonomi kerakyatan.
 
Lalu apa yang musti dikerjakan ? Kalau dilihat dari typenya yaitu jenis usaha 
yang memerlukan pendekatan manusiawi (RASA) maka langkah awal yg perlu 
dilakukan adalah SOSIALISASI dan PROMOSI tentang pemahaman arti Pariwisata yang 
benar dan jujur. Selama ini masyarakat sudah teracuni bahwa Pariwisata adalah 
Maksiat. Cewe-cewe Bule yang hanya memakai Bikini, Bar, Pub dll. Tetapi apa 
betul seperti itu ? Kalau mau jujur, tengoklah ke tampat-tempat yang dianggap 
maksiat itu. Kebanyakan justru orang-orang kita sendiri yang melakukannya. Ayo 
pergi ke Pantai, apakah ada disana ada cewe-cewe bule telanjang di Sumbar ini ? 
Jika ada, itupun satu atau dua saja dilokasi-lokasi yang jauh dari publik 
(pulau). Cilakanya, orang-orang yang senang menghujat ini, justru mereka 
pulalah yang senang menikmatinya.
 
Walaupun demikian, secara jujur saya juga harus mengakui, berdasarkan 
pengelaman berpuluh tahun di Pariwisata, tentu saja secara normal akan terjadi 
proses kohesi dan asimilasi disana. Itu adalah hal yang wajar dan tidak bisa 
dihindari. Dimana saja diatas dunia, terjadi hal tersebut. Siapkah kita ? 
Apakah hal tersebut berdampak negatif atau positip ?
 
Sekali lagi, berkaca pada makna kalimat yang disampaikan oleh Buya Mas’ud 
diawal cerita ini adalah: semua pada hakekatnya bergantung pada manusianya.  
Jika memang setuju mempromosikan pariwisata maka kita juga harus setuju untuk 
meningkatkan mutu, kwalitas dan iman masyarakat kita.  Untuk dapat bisa 
diterima dan dipahami oleh masyarakat, perlu adanya sosialisasi dan pendidikan 
yang tidak terputus. Hal ini harus dilakukan dengan metode GERAKAN.
 
Setelah itu, pengembangan Pariwisata di Sumbar ini menurut hemat saya tidak 
perlu dilakukan secara menyeluruh sekaligus namun bertahap dengan pola parsial. 
Artinya, kita memberikan priorias pada daerah-daerah tertentu yang benar-benar 
mempunyai potensi dan masyarakatnya memang sudah siap atau menyatakan siap 
untuk Pariwisata.
 
Lalu siapa yang melakukan semua ini ? (perencanaan, sosialisasi, pengembangan, 
promosi, kontrol, dst). :  Secara mudah kita akan dapat kita jawab bahwa 
PEMERINTAH lah yang harus melakukannya.. Namun pada kenyataannya Pemerintah 
tidak mampu melakukannya sendiri. Pariwisata adalah sektor unik karena dia 
adalah multi-intgerated sector. Semua terlibat disana.  Disinilah peran fungsi 
WSTB nantinya akan bermain sebagai think-thank / mitra kerja pemerintah. WSTB 
harus dari unsur swasta yang disupport oleh pemerintah. WSTB inilah yang akan 
menjadi koordinator komunikasi para pelaku, pengamat, pemerhati atau apapun 
namanya untuk melahirkan ide-ide dan gagasan-gagasan yang segar dan membangun.  
Meminjam istilah Uwan Zukri, WSTB harus berani out-of the box. Berkhayal dan 
menerawang kedepan. Berani mengambil langkah-langkah dan kreativitas baru, dll.
 
Nah, inilah kira-kira sumbangan pemikiran saya untuk saat ini. Terus terang 
saya minta maaf kalau ada salah janggalnya dalam penulisan ini, karena saya 
sangat jarang menulis karena tidakterbiasa. Entah kenapa, saat ini saya coba 
saja. Mungkin karena Minggu siang ini di kota Padang sedang hujan 
lebat-lebatnya sejak pagi tadi, sehingga membuat hati saya rusuh dan ingin 
bercakap-cakap melalui email dengan dunsanak-dunsanak awal.  Mohon maaf lahir 
bathin dan selamat hari raya Idul Adha untuk kita semua.
 
Salam,
Aim Zein
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Untuk mengatasi ini, rasanya perlulah kita bersama-sama memikirkan hal-hal apa 
saja yang harus kita lakukan untuk meminimalisasi Capital Flight tersebut.  
 
 
 
 
 
 
 
From:[email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Masoed 
Abidin
Sent: Saturday, December 06, 2008 5:36 PM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU
 
Pak Saaf Yth,

Manuruik buya indak dapek diabaikan bahwa "pariwisata" di mana saja hakikatnya 
adalah real experiences, yakni bagaimana pengalaman pertama dari taourist 
wisatawan mancanegara ataupun domestik ketika menjejakkan kaki pertama kali di 
tempat tujuan wisata itu.

Indah, cantik, baik, menarik, senang dan menarik itu senyatanya adalah satu 
pengalaman yang dinilai oleh hati (rasa). Tidak semata milik mata dan telinga 
saja.. Keduanya adalah alat penyambung rasa saja.

Maka modal awal paling utama adalah, "muluik manih, kucindan murah, pandai ba 
gaue samo gadang", atau kato syarak "man kana yukminu bil-laahi wal yaumil 
akhir fal yukrim dhayfahu = siapa saja yang percaya pada hari akhir hendaklah 
pandai memuliakan tamunya".

Modal itu doeloe ada di ranah kita, tapi kini alah hampie punah tagadai ka 
rantau. Bagaimana mengembalikannya, sebagaimana membawa pulang "mak itam" tu?

Rasanaya perlu pendidikan, kuncinya pengajaran dan pencontohan.

Selamat Id Mubarrak di Idul Qurban. 
Wassalam
Buya HMA
 

________________________________

From:Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Rantau Net <[email protected]>; "Gamawan FAUZI, SH, MM" <[EMAIL 
PROTECTED]>; Karo Human Pemprov SUMBAR <[EMAIL PROTECTED]>; Ir. Indra ARINAL 
<[EMAIL PROTECTED]>; Nuraini PRAPDANU <[EMAIL PROTECTED]>; Zarnifa ASMARA 
<[EMAIL PROTECTED]>; Aim Zein <[EMAIL PROTECTED]>; Ir. Yulnofrins NAPILUS 
<[EMAIL PROTECTED]>; Warni DARWIS <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, December 7, 2008 7:41:45 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU
Sanak Aslim dan Bung Ketut serta para sanak pegiat pariwisata,
Saya setuju, baik dengan pandangan Sanak Aslim yang menekankan agar perencanaan 
pariwisata Sumatera Barat berbasis budaya dan agar jangan terlalu bersandar 
kepada pemerintah; serta dengan Bung Ketut yang mengingatkan kita agar jangan 
khawatir bahwa pariwisata Sumatera Barat akan menjadi [duplikat] pariwisata 
Bali dan bahwa SDM pariwisata adalah kata kuncinya.
Sekedar tambahan, saya telah menghubungi Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan 
Budaya Sumatera Barat mengenai hal ini, dan kelihatannya beliau setuju dengan 
pandangan Sanak Aslim, bahwa WSTB biar menjadi lembaga yang independen saja dan 
tumbuh menjadi mitra pemerintah. Beliau menyatakan secara eksplisit bahwa dinas 
yang beliau pimpin tidak usah terlibat dalam WSTB ini. 
Itu baik juga, walaupun tentunya kita dapat -- dan harus -- terus mengadakan 
kontak langsung dengan komponen regulator pariwisata, khususnya dengan 
Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya, dengan Gubernur Provinsi Sumatera 
Barat, dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Barat, 
Kabupaten dan Kota,  dan dengan kepala-kepala dinas pariwisata tingkat 
kabupaten dan kota yang berada langsung di lapangan. Sudah tentu jangan lupa 
berhubungan dengan para stakeholders, yaitu tokoh-tokoh masyarakat, mulai dari 
tingkat provinsi, kabupaten dan kota dan pada tingkat nagari.
Dengan kepulangan MakItam, saya harapkan ada 'loncatan besar' dalam kegiatan 
kepariwisataan di Sumatera Barat. Kan hanya kita di Sumatera yang mempunyai 
MakItam yang gagah ini ? [P.S. tolong jangan diterjemahkan 'MakItam' jadi 
'Black Monster'. Kesannya benar-benar tak nyaman.]
Maju terus, pak Aim.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
 
 
 

________________________________

From:"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, December 6, 2008 11:07:32 PM
Subject: Re: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU

Jangan takut Pariwisata Ranah Minang  tidak akan pernah menjadi Pariwisata
Bali dan Pariwisata Bali tidak akan mungkin meniru Pariwisata Ranah
Minang, tetapi dimanapun SDM yang baik dan dikelola secara profesional
adalah modal yang paling utama bagi Tourism Industry dan "Raw Material"
Pariwisata tidak akan pernah habis.

To be honest, saya kagum dengan keindahan alam Sumatera Barat..........

Salam
Ketut



----- Original Message -----
From: Aslim Nurhasan
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, December 06, 2008 4:17 PM
Subject: PARIWISATA RANAH MINANGKABAU


Sebagai POTENSI TERBESAR RANAH MINANGKABAU (Sumatera Barat); Pariwisata
harus dirancang dan dioperasionalisasikan untuk kemaslahatan ANAK NAGARI,
dan pasti akan menjadi bagian integral dari Pembangunan RANAH MINANGKABAU;

Ketika ke-PARIWISATA-an RANAH MINANGKABAU, dipersepsikan sama dengan
pariwisata Bali, sebaiknya SEGERA BUBARKAN FORUM INI;

West Sumatera Tourism Board; seharusnya mengawali pemikiran dari Wisata
Budaya yang menjadi bagian utuh dari Eco Tourism; banyak PROSESI KEHIDUPAN
ANAK NAGARI yang sangat menarik untuk dijadikan objek dan/atau atraksi
wisata; banyak produk budaya (tengible dan intengible);

WSTB seharusnya tidak berfikir untuk membangun infrastruktur (Hotel, jalan
harus dilebarin dan/atau dibuat baru, Bus Wisata harus dibeli baru, dll
yang membutuhkan investasi gadang dan susah untuak diwujudkan); Wisata
Nagari sebagai BASIS KONSEP dan PROGRAM WSTB; mengoptimalkan SELURUH
POTENSI NAGARI; SURAU, RUMAH GADANG, sarato Rumah2 nan indak dihuni bisa
dijadikan sarana akomodasi.

Sekolah2 ke-pariwisata-an di Sumatera Barat bisa diadikan partner untuk
mendidik dan mengembangkan SDM ke-PARIWISATA-an RANAH MINANGKABAU;

Jan bapikia untuk basanda abih ka pemerintah, sahinggo akan bisa bajalan
kalau ado dana pemerintah; tapi, tantu sajo pemerintah harus dijadikan
partner, karano fungsinyo memang sebagai regulator dan fasilitator,
sekalian WSTB maingekkan kalau PEMERINTAH bukanlah OPERATOR.

Mudah2an, baguno;
Konsep Utuh WISATA NAGARI, bisa ambo sampikan dilain wakatu dan bisa pulo
qto diskusikan.
-- 
Aslim Nurhasan; +62811103234, +622195777925



--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.15/1833 - Release Date: 12/5/2008
7:08 PM


WEST SUMATRA TOURISM BOARD NETWORK
----------------------------------
You are registered as a member of WSTB Network

If you wish to unsubscribe, write an empty email to this address: [EMAIL 
PROTECTED] Fill in the subject with: Stop email please

If you want to register new email addresses and links, send an email contains 
the addresses to the [EMAIL PROTECTED] Fill in the subject with: Register please

more info: call 0811669988 - Aim Zein

Thank you 
let's go west sumatra

links:

www.akssb.org
www.pronewsfm.com
www.mpkas.west-sumatra.com
www.mappas.west-sumatra.com
www.nofrins.west-sumatra.com
www.phrisumbar.com



 


 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.9.15/1834 - Release Date: 12/6/2008 4:55 
PM

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke